Kalau hal ini dibiarkan, maka kondisi semakin runyam. Maka perlu diadakan
gerakan total untuk mendudukkan masalah pada proporsinya. Istilah-istilah
yang tidak jelas, seperti halnya Kiyai, perlu dibersihkan, dan kalau perlu
dienyahkan dari terminologi Islam, supaya Islam tidak dikotori dengan
pemahaman-pemahaman yang tidak jelas. Tetapi, maukah mereka? Dan maukah
masyarakatnya? Justru hal-hal yang tidak jelas itulah yang mereka cari,
kadang-kadang. Itulah persoalannya pula

Kutipan di atas saya ambil dari Hartono Ahmad Jaiz. Jelas sekali kalau kita
baca paragraf demi paragraf, dia sedang mengejek Kyai NU sama dengan dukun,
kerbau, keris, dsb. Sebagai orang NU, saya harus militan melawan dia yang
mengejek para kyai. Orang seperti dia halal darahnya, karena sudah
memprovokasi dengan kebencian sehingga semua bukunya berjudul "Bahaya". Ada
bahaya pemikiran Gus Dur, ada bahaya pemikiran Amien Rais, ada Bahaya
pemikiran Cak Nur", Kesannya hanya dia yang tidak berbahaya. Kalau ada 1000
orang seperti di di Indonesia, sudah hancur bangsa ini.Sayangnya, masih
banyak orang NU yang tidak tahu kelakuan Hartono yang suka mengejek para
kyai NU. Padahal, dia ini sedang "jualan", bisnis melalaui bukunya. Ya
itulah pedagang yang buas dengan menjelek-jelekna, mengkafirkan, dan
menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang.

Khamami Zada
Lakpesdam NU

----- Original Message -----
From: "Ahmad Fawaid Sjadzili" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>
Sent: Friday, June 30, 2006 3:11 PM
Subject: [kmnu2000] Kiai Pun Dihina Hartono Ahmad Jaiz


*Masih ingatkah Anda dengan Hartono Ahmad Jaiz? Tokoh yang rajin menghujat
itu pun menghujat kiai-kiai NU. Ini salah satu bagian dari bukunya yang
lawas tapi masih merelevan untuk ditanggapi: **Bila Kiyai Menjadi
Tuhan: **Membedah
Faham Keagamaan NU & Islam Tradisional*.
*
*

*
*

*Kiyai Itu Apa?*
------------------------------

 Julukan Kiyai untuk Ulama Perlu Dihapus

    Julukan atau sebutan Kiyai atau Kiai atau Kiyahi ( ßíÇåí)  ) sering
menjadi pertanyaan orang. Apa sebenarnya makna Kiyai itu. Dari mana asal
muasal nama Kiyai itu. Dan apa sebenarnya ciri-ciri serta hal-hal yang harus
dilakukan oleh para Kiyai.

   Pertanyaan itu lebih mencuat lagi ketika orang-orang yang disebut Kiyai
atau para Kiyai ada yang dinilai berbuat yang di luar jalur kebiasaan,
misalnya ada yang  patut diduga sebagai provokator, ada yang jadi
pengipas-ngipas suasana dengan memanasi anak buah untuk melawan terhadap
lawan-lawan politik, ada yang memanas-manasi untuk mendukung Presiden Gus
Dur / Abdurrahman Wahid karena presidennya dari golongan sang Kiyai itu,
yaitu Nahdlatul Ulama dengan partainya PKB (Partai Kebangkitan Bangsa).
Tidak jarang pula ada Kiyai yang suka kumpul-kumpul sesamanya, hingga
disebut Kiyai khos (khusus) yang kaitannya erat dengan soal dukung mendukung
terhadap kursi presiden yang sedang diduduki oleh golongannya.

    Tetapi di balik itu ada Kiyai *dogdeng* (kebal) yang suka sesumbar bahwa
wadyabalanya rata-rata *jadug* (sakti, tidak mempan senjata tajam). Ada juga
Kiyai yang dari zaman Orde Baru pimpinan Presiden Soehartosukanya
mendekat-dekat dengan penguasa, bahkan pernah bersama-sama puluhan Kiyai
dipimpin Nur Iskandar SQ menghadiahi emas beberapa kilogram kepada Presiden
Soeharto dengan dalih untuk mengatasi krisis ekonomi/ moneter. Setelah para
Kiyai itu *sowan* (hadir dengan penuh ketundukan) ke tempat Presiden
Soeharto, justru tak lama kemudian sang Presiden dipaksa turun dengan
didemonstrasi oleh puluhan ribu mahasiswa selama dua minggu, hingga ia
menyatakan turun dari kursi kepresidenan 1998.

   Ada juga Kiyai yang mempelopori untuk disahkannya asas tunggal pancasila
hingga kumpulan para Kiyai itu berbangga diri bahwa pihak mereka dengan
Jam'iyah NU-nya adalah orang-orang yang nomor satu dalam hal menggulkan
(mensukseskan untuk dipaksakannya) asas tunggal pancasila terhadap Ummat
Islam. Padahal, Ummat Islam pada umumnya sangat kesulitan menghadapi tekanan
Soeharto yang semakin terasa berpihak kepada palangis atau kaum Salib yang
makin menjadi tirani minoritas dengan pengaruh Jendral Leonardo Benny
Murdani saat itu dan menekan Islam selama hampir 30-an tahun. Sedang asas
tunggal pancasila itu dinilai oleh kalangan Islam non NU dan Golkar sebagai
salah satu jenis tekanan Soeharto terhadap Islam.  Kiyai-Kiyai NU yang
menggulkan asas tunggal pancasila itu di antaranya dipimpin Kiyai Haji Ahmad
Siddiq (mendiang yang dulunya suka musik rock barat, satu kebiasaan yang
jauh dari adab orang alim Islam, yang kitab-kitabnya menyebut
*sankres*alias musik itu haram). Kemudian "jasanya" itu dibawa mati.
Dan mereka yang
masih hidup, mereka tidak merasa malu apalagi minta maaf kepada umat ketika
Umat Islam bersyukur dan  merasa lega saat asas tunggal pancasila itu
ditendang oleh MPR dalam sidangnya 1998, setelah pemerintahan Soeharto
jatuh, dan pemerintahan diserahkan kepada wakilnya, Prof Ir Baharuddin Jusuf
Habibie. Sikap para Kiyai itu kalau diperbandingkan, masih agak mending
Amien Rais (Ketua MPR) yang walaupun tanpa menyandang gelar Kiyai namun
secara jantan dia meminta maaf kepada bangsa Indonesia atas "ijtihad
politiknya" (menurut istilah dia) yang salah ketika dulunya memprakarsai
untuk memilih Gus Dur/ Abdurrahman Wahid sebagai calon presiden yang
ternyata setelah dijalani, kepemimpinan Gus Dur menurut Amien Rais
menyebabkan Amien minta maaf kepada bangsa atas salah pilihnya itu. Hingga
Amien Rais pun tampak bertanggung jawab terhadap bangsa Indonesia untuk
berupaya bagaimana agar Gus Dur turun dari jabatan presiden. Sekalipun sikap
Amien Rais itu jelas sikap politik, namun di situ tampak terus terang
mengaku bahkan minta maaf atas kesalahannya, dan pula mau berusaha untuk
menambal kesalahannya.

(Dalam hal ini para pembaca tidak usah buru-buru menyangka bahwa penulis pro
Amien Rais, hingga membela-bela dia. Tidak. Karena, buku yang mengkritik
Amien Rais berjudul *Kekeliruan Logika Amien Rais *pun telah penulis ujudkan
dan cetak serta edarkan sebelum kami tulis buku *Bahaya Pemikiran Gus Dur*.
Jadi tidak ada itu membela-bela Amien Rais segala.  Kepentingan menampilkan
sikap Amien Rais itu hanya untuk perbandingan antara sikap para Kiyai NU
pendukung asas tunggal pancasila yang sampai dikenal sebagai nomor wahid,
yang kemudian tidak mau mengakui kesalahan apalagi minta maaf, dan sikap
Amien Rais yang terang-terangan secara jantan mengakui kesalahan dan minta
maaf  kepada bangsa Indonesia dalam kasus keterlanjurannya menjagokan Gus
Dur sebagai presiden. Padahal resikonya jauh lebih berat bagi Amien Rais,
sampai-sampai dihalalkan darahnya oleh Nur Iskandar SQ dan sering diboikot
di Jawa Timur. Sementara itu, seandainya para Kiyai NU meminta maaf atas
kengototannya menjadi pendukung pertama dipaksakannya asas tunggal
pancasila, sebenarnya tidak ada resiko apa-apa, toh orang yang dijilati
yaitu Presiden Soeharto sudah tidak berkuasa lagi. Itu saja persoalannya.
Tapi Pak Amien Rais tidak usah bangga dengan perbandingan ini).

*   Pengertian Kiyai*

*    *Dalam buku *Kiai Penghulu Jawa, Peranannya di Masa Kolonial,* Drs H
Ibnu Qoyim Isma'il MS menjelaskan sebagai berikut:

   Di tengah perkembangan masyarakat Indonesia pada umumnya dijumpai
beberapa gelar sebutan yang diperuntukkan bagi ulama. Misalnya, di daerah
Jawa Barat (Sunda) orang menyebutnya *Ajengan*, di wilayah Sumatera Barat
disebut *Buya*, di daerah Aceh dikenal dengan panggilan *Teungku*, di
Sulawesi Selatan dipanggil dengan nama *Tofanrita, *di daerah Madura disebut
dengan *Nun *atau *Bendara* yang disingkat *Ra, *dan di Lombok atau seputar
daerah wilayah Nusa Tenggara orang memanggilnya dengan* Tuan Guru.*

*   *Khusus bagi masyarakat Jawa, gelar yang diperuntukkan bagi ulama
anatara lain *Wali. *Gelar ini biasanya diberikan kepada  ulama yang sudah
mencapai tingkat yang tinggi, memiliki kemampuan pribadi yang luar
biasa.[1]<#_ftn1>
Sering pula para wali ini dipanggil dengan *Sunan*[2] <#_ftn2> (Susuhunan),
seperti halnya para raja. Gelar lainnya ialah *Panembahan, *yang diberikan
kepada ulama yang lebih ditekankan pada aspek spiritual, juga menyangkut
segi kesenioran, baik usia maupun *nasab* (keturunan). Hal ini untuk
menunjukkan bahwa sang ulama tersebut mempunyai kekuatan spiritual yang
tinggi.[3] <#_ftn3>

   Selain itu, terdapat sebutan *Kiai*, yang merupakan gelar kehormatan bagi
para ulama pada umumnya. Oleh karena itu, sering dijumpai di pedesaan Jawa
panggilan *Ki Ageng* atau *Ki Ageng/ Ki Gede,* juga *Kiai Haji*.[4] <#_ftn4>

    Gelar Kiai sebenarnya cukup terhormat. Namun di zaman kini, di saat buku
ini ditulis, Maret 2001M/ Dzulhijjah 1421H, banyak para Kiai yang terjun ke
dunia politik praktis, serta tersebar di masyarakat berbagai ucapan bahkan
lakon Kiyai yang sebenarnya kurang sesuai dengan gelar kehormatan itu. Maka
akibatnya timbul pertanyaan, apa sebenarnya Kiyai itu, dan apa pula
kriterianya.

    Untuk menjawab pertanyaan semacam itu, di samping sudah kita ketahui
uraian di atas, perlu pula kita simak jawaban yang muncul dari kalangan
ulama sendiri tentang julukan Kiai itu. Di antaranya apa yang dikemukakan
oleh Prof Dr Hamka dalam menjawab pertanyaan orang tentang Kiyai Dukun. Di
dalam hal ini Hamka menulis:

     "...kami menyerukan kepada penanya dan saudara-saudara yang berminat
supaya dicarilah Kiyai-kiyai yang benar-benar mengerti soalnya (soal agama
Islam dengan aneka rangkaian ajarannya, di antaranya tentang ayat-ayat yang
boleh dijadikan do'a-doa untuk menolak penyakit, pen) lalu pelajari
sehingga bisa jadi tabib untuk diri sendiri. Karena kalimat Kiyai itu
bukanlah artinya semata-mata untuk orang yang benar-benar telah mengerti
Agama Islam dengan segala cabangnya.

   Ada Kiyai berarti Guru Agama Islam yang telah luas pandangannya.

   Ada Kiyai berarti pendidik, walaupun pendidik Nasional. (Kalau yang
dimaksud Hamka itu misanya Hajar Dewantara, maka biasanya disebut Ki, bukan
Kiyai; tetapi sebutan Ki itu kadang juga sama dengan Kiyai, seperti Ki
Dalang itu sama dengan Kiyai Dalang, pen).

    Ada Kiyai berarti Pak Dukun.

    Di Kalimantan, Kiyai (sebelum perang) berarti *District-hoofd *(Wedana).

   Di Padang (sebelum perang), Kiyai artinya "Cino Tuo" (Orang Tionghoa yang
telah berumur).

   Gamelan Sekaten di Yogya bernama Kiyai Sekati dan Nyi Sekati.

   Dalang  yang ahli disebut Ki Dalang, atau Kiyai Dalang.

   Bendera Keramat yang dikeluarkan setiap ada bala bencana mengancam dalam
negeri Yogyakarta bernama Kiyai Tunggul Wulung.[5] <#_ftn5>

    Meskipun Hamka mampu menjelaskan kegunaan kata Kiyai seperti tersebut,
namun dia terus terang mengungkapkan, "kami tidak tahu dari Bahasa apa
asalnya kata Kiyai. Tetapi kami dapat memastikan bahwa kata itu menyatakan *
Hormat* kepada seseorang. Cuma kepada siapa penghormatan Kiyai itu harus
diberikan, itulah yang berbeda-beda menurut kebiasaan satu-satu negeri.

A.     Di seluruh pulau Jawa yang terdiri dari tiga suku besar, yaitu Jawa,
Sunda, dan Madura ditambah dengan Palembang, kata Kiyai digunakan untuk
menghormati seseorang yang dianggap Alim, Ahli Agama dan disegani.

B.     Di Kalimantan Selatan (Banjarmasin dan sekitarnya) sebelum perang,
gelar Kiyai adalah pangkat yang tertinggi bagi Ambtenaar Bumiputera. Sama
dengan pangkat Demang di Sumatera. Ada Kiyai kelas I, kelas II dan ada yang
disebut Asisten Kiyai yang sama dengan Asisten Demang.

Bertahun-tahun lamanya Almarhum Bapak Kiyai Haji Hasan Corong jadi ketua
Wilayah (Consul) Muhammadiyah daerah Kalimantan Selatan; umumnya orang di
Jawa menyangka bahwa beliau adalah seorang Ulama besar, sebab di pangkal
namanya ada titel "Kiyai", padahal beliau adalah pensiunan Kiyai
(District-hoofd), yaitu pangkat Bumiputera yang tertinggi di Kalimantan
Selatan (Banjarmasin dan sekitarnya) pada masa sebelum perang.

C.     Tetapi di Sumatera Barat, yaitu di kota-kota yang banyak didiami
orang Cina (Padang, Pariaman, Padang Panjang, Bukittinggi, Payakumbuh) dan
pesisir Selatan, gelar Kiyai diberikan kepada Cina yang telah tua dan
dihormati. Biasanya janggut beliau dipanjangi. Di tahun 1916 kami masih
mendapati seorang Cina tua di kampung Cina Padang Panjang disebut orang
Kiyai Makh Thong.

D.     Rupanya kata-kata ini terdapat juga di Thailand (Siam), Ulama yang
besar-besar dihormati di sana dalam kalangan orang Islam dalam menyebutnya
(Guru Kriyai).[6] <#_ftn6>

Setelah kita mengetahui penjelasan Hamka itu, perlu disebutkan pula di sini
bahwa masih ada pula sebutan Kiyai untuk hal-hal lain, di antaranya adalah
keris atau tombak di Kraton Solo, bahkan Kiyai itu untuk menjuluki kerbau.
Di Kraton Solo Jawa Tengah ada kerbau yang disebut Kiyai Slamet, yaitu
kerbau yang dianggap keramat oleh orang-orang (yang tentu saja batil menurut
Islam). Kebo (kerbau) yang dijuluki Kiyai Slamet itu dilepaskan secara bebas
ke mana-mana setiap malam 1 Muharram, yang disebut tanggal satu Syuro.
(Bulan Muharram di Jawa disebut Syuro, mungkin karena di dalam bulan
Muharram itu ada hari yang penting pada hari kesepuluh, namanya '*Asyuro*,
hari kesepuluh Muharram, yang dalam Islam termasuk hari disunnahkannya
puasa). Hingga kerbau yang dinamai Kiyai Slamet itu ke mana saja tidak
diusik, bahkan sampai memakan dagangan sayuran dan sebagainya pun tidak
diapa-apakan, karena menurut kepercayaan *takhayul* (yang menyimpang dari
Islam), kerbau itu ketika makan dagangan tersebut dianggap justru akan *
ngrejekeni* (memberi rizki atau memberkahi). Jadi Kiyai yang berupa kerbau
itu telah dianggap sebagai makhluk keramat, yang tentu saja hal itu
merupakan satu jenis penyimpangan yang nyerempet-nyerempet kemusyrikan.

Sementara itu upacara di Solo pula pada malam satu Syuro itu adalah "thawaf"
mengelilingi benteng Mangkunegaran,  Jalan raya melingkar di sekeliling
benteng Mangkunegaran (kira-kira kelilingnya sepanjang 1,5 KM) itu berubah
jadi tempat orang berjalan kaki mengitari benteng dengan mulut membisu. Jadi
bagai thawaf di Ka'bah, tetapi membisu. Hanya saja kalau thawaf itu waktunya
kapan saja, dan yang dikelilingi adalah Ka'bah Baitulllah di Makkah, 7 kali
keliling, dalam keadaan suci dari hadats sebagaimana sucinya orang yang mau
shalat. Sedang "thawaf" di Mangkunegaran ini mengelilingi benteng, dan
bentengnya itu di sebelah kanan (kalau Thawaf, Ka'bahnya di sebelah kiri,
berputarnya berlawanan dengan jarum jam) dan berputarnya searah dengan jarum
jam, waktunya hanya malam satu Syuro., dan harus "puasa" bisu, tidak
berkata-kata. Kesempatan berdesakan di tengah malam itu konon digunakan pula
oleh muda-mudi untuk main senggol. Antara upacara mengelilingi benteng dan
dilepasnya Kerbau Kiyai Slamet ini waktunya sama, yaitu malam satu Syuro.

   Jadi ada kerbau yang dikeramatkan dengan dijuluki Kiyai Slamet, dan ada
acara bid'ah menthawafi  (mengelilingi) benteng dengan mulut membisu pada
malam satu Syuro. Demikianlah menurut pengamatan penulis.

   Lantas, siapa yang menjuluki Kiyai itu?

Hamka pun tidak menentukan, siapa yang berhak menjuluki Kiyai terhadap aneka
macam tersebut di atas. Hamka menjawab pertanyaan orang yang ingin tahu,
siapa yang berwenang menjuluki Kiyai,  sebagai berikut:

"Nampaknya tidak ada suatu ketentuan tentang siapa yang berwenang memberikan
gelar Kiyai. Nampaknya apabila telah bisa disebut Kiyai, lekat sajalah gelar
itu. Lantikannya yang tertentu tidak ada. Oleh sebab memberi gelar Kiyai itu
tidak ada peraturannya yang tertentu dan hanya menurut kesukuan orang saja
dan diterima masyarakat, maka dipanggil orang Kiyai juga menurut kebiasaan
orang Jawa."[7] <#_ftn7>

   Jawaban Hamka itu dikemukakan pada tahun 1963. Pada tahun-tahun itu dan
sebelumnya, ulama Jakarta atau Betawi biasanya disebut dengan Guru, misalnya
Guru Mughni di Kuningan Jakarta, Guru Marzuki di Jatinegara, Guru Udin
(Zainuddin) di Kalibata Pulo, Guru Amin di Kalibata dan sebagainya. Baru
belakangan terbiasa menyebut ulama dengan nama Kiyai yang kadang-kadang
disingkat jadi Kaha (KH, Kiyai Haji) di antaranya Kiyai Abdullah Syafi'i,
menurut orang kampung Bali (Matraman) sebutannya Kiyai Duloh., yang
kemudian  terkenal lewat radionya-As-Syafi'iyah, demikian pula Kiyai Thahir
Rahili dengan radionya At-Thahiriyah di Kampung Melayu, kedua-duanya
memiliki pesantren dan perguruan Islam. Selanjutnya ulama Betawi juga
disebut Kiyai, di antaranya Kiyai Syafi'i Hazami, yang memang ulama
terkemuka di kalangan masyarakat Betawi. Hanya saja sebutan Kiyai belum
tentu lekat pula pada ulama Betawi. Contohnya, seorang ulama alumni Timur
Tengah, yang kitab-kitabnya di antaranya tentang Madzhab Imam Syafi'i
menjadi rujukan di Universitas Al-Azhar Mesir,  yaitu Dr HA Nahrawi Abdus
Salam (rumahnya dekat Masjid Al-Munawar Jl Raya Pasr Mingu Pancoran Jakarta
Selatan) jarang disebut Kiyai. Bahkan lebih sering dipanggil Doktor saja.
Sebagaimana penulis kawakan dan budayawan Betawi H Ridwan Saidi tidak
mengembel-embeli titel Kiyai dalam mengisahkan DR HA Nahrawi Absus Salam
pada buku *Orang Betawi dan Modernisasi Jakarta, *1994. Justru gelar Syaikh
lah yang dikenakan pada ulama Betawi, walaupun memang adanya di Makkah,
sebagaimana dipaparkan oleh Ridwan Saidi:

   "Jika seluruh bangsa Indonesia yang tinggal merantau di Jakarta di zaman
penjajahan itu berkejar mencari kemegahan di sisi bangsa Belanda yang
menjajah, mengembara ke negari Belanda, namun si anak Betawi berduyun-duyun
pergi ke Mekah. Bukan berduyun ke negeri  Belanda. Sampai di Mekah mereka
bukan semata-mata jadi babu atau *khadam*  yang duduk di tingkat bawah,
melainkan  --sekurang-kurangnya-menjadi orang menengah (*middenstand)* yang
berpengaruh. Saya teringat ketika perjanjian penyerahan Raja Ali anak Raja
Husin, raja negeri Mekah yang diserang oleh Raja Ibnu Saud tahun 1925,
ketika kota Jeddah sudah dikepung lama sekali, akhirnya Raja Ali mengaku
kalah dan diadakan delegasi pendamai kedua belah pihak. Setengah dari
syarat-syarat yang dikemukakan oleh Raja Ali ialah supaya beberapa orang
besar dan ternama yang jadi hidup bertalian erat dengan Baginda (Raja Ali,
pen) dibebasakan. Di antaranya ialah beberapa nama yang di ujung nama itu
disebut ":Betawi": Syaikh Abdullah Betawi, Syaikh Ahmad Betawi, Syaikh Sa'id
Betawi. Keturunan keluarga Betawi itu masih ada sampai sekarang (1994, pen)
dalam perlindungan Kerajaan Saudi Arabi, baik di Mekah maupun
Jeddah.[8]<#_ftn8>
    Dari sini bisa difahami bahwa sebutan Kiyai untuk ulama sebenarnya di
kalangan kaum Betawi kurang membudaya. Hanya saja dalam perkembangannya
sebutan Kiyai itu memasyarakat pula sejak pemerintahan Soeharto yang sejak
awal tampak menonjolkan budaya Jawa terutama yang berbau Kejawen, hingga
nama ruangan-ruangan di gedung DPR/MPR pun diganti dengan nama dari bahasa
Jawa Kuno atau bahkan Sansekerta dari India atau Hindu. Misalnya ruang
Wirashaba dan sebagainya yang sulit dimengerti oleh masyarakat. Maka istilah
Kiyai  untuk sebutan ulama pun yang asalnya hanya dipakai di Jawa lalu
dinasionalkan atau menjadi istilah nasional. Dan tampaknya budaya *
munduk-munduk* (sangat hormat bahkan takut) terhadap Kiyai yang budaya itu
merata di Jawa rupanya menular pula kepada masyarakat selain Jawa, termasuk
Betawi, sehingga julukan Kiyai itu tidak ditolak oleh ulama yang
dijulukinya.

    Setelah julukan Kiyai itu memasyarakat pula di masyarakat selain Jawa,
termasuk pula Betawi, lalu tumbuh gejala, keturunan Kiyai yang kemudian
mengimami masjid atau apalagi memimpin pesantren maka disebut Kiyai pula,
walaupun ketika bapaknya dulu masih hidup, si anak Kiyai itu tidak pernah
disebut Kiyai muda, tetapi begitu bapaknya wafat, maka dia langsung
dipanggil atau suka dipanggil dengan sebutan Kiyai, walaupun dari segi
keilmuan maupun kegiatannya berjama'ah ke masjid tidak sebanding dengan
bapaknya.

   Adapun ulama ataupun da'i yang dari keturunan Arab dan menisbatkan diri
sebagai keturunan Nabi saw maka mereka bukan disebut Kiyai, tetapi Habib
yang sering dijamakkan (bentuk banyak, plural) menjadi habaib. Sehingga ada
istilah "ulama dan habaib". Ulama dalam hal ini untuk para alim, guru agama
yang ilmunya cukup tinggi (termasuk di dalamnya, Kiyai), namun bukan orang
Arab "keturunan" Nabi saw. Sedang habib atau bentuk jamaknya (plural) Habaib
adalah guru agama atau alim agama atau bahkan ulama dan "keturunan" Nabi
saw. Hanya saja di kampung-kampung, asal dia bisa membaca sepotong do'a,
maka sudah bisa disebut Kiyai atau kalau "keturunan" Nabi saw maka disebut
Habib, dan kalau bersalaman dengan mereka maka masyarakat Betawi/ Jakarta
pun menciumi tangannya.

    (Menurut Habib Abdurrahman Bukit Duri Manggarai Jakarta Selatan, untuk
diciumi tangannya itu juga pakai modal, yaitu minyak wangi. Dan kadang rugi
juga, kalau yang mencium tangannya itu kebetulan ingusan. Jadi sang Habi itu
sudah mengeluarkan modal berupa minyak wangi, masih kena ingus pula, ucap
Habib Abdurrahman Assegaf di depan para Ulama, Habaib, Kiyai, dan tokoh
Islam. Ucapan itu dalam rangka marah terhadap pidato Pak Prof Dr HM Rasjidi
(almarhum, wafat Januari 2001) yang menguraikan sesatnya Syi'ah, dalam
pertemuan di Pesantren As-Syafi'iyah (belakangan disebut Pesantren Al-Qur'an
Kiyai Haji Abdullah Syafi'i) di Pulo Air Sukabumi, Jawa Barat, 1989.
Kemarahan Habib Abdurrahman itu mengagetkan para ulama yang hadir, karena
tampaknya Sang Habib itu mengira bahwa Prof Rasjidi membidik para habaib
dengan cara menghantam Syi'ah. Kesalah fahaman itu bermula dari pidato
singkat Dr HA Nahrawi Abdus Salam yang mengira Prof Rasjidi menghantam
Syi'ah itu untuk menyindir orang yang mengukuhi madzhab, dalam hal ini
Syafi'iyah. Akibatnya pertemuan itu jadi kacau balau suasananya secara
persaaan. Wajah-wajah para ulama itu tampak saling kikuk, dan sampai
menjelang wafatnya pun Prof Rasjidi masih terkenang dan  mengaku kepada
penulis bahwa dirinya *diplengosi* (dihadapi dengan berpaling) oleh tuan
rumah saat itu, setelah adanya pidato-pidato yang salah faham itu).

   Tampaknya tradisi *munduk-munduk *(sangat hormat dan sangat patuh)
terhadap Kiyai di Jawa tidak jauh berbeda dengan yang terjadi terhadap guru
/ ulama dan habib/ habaib di Betawi/ Jakarta. Maka orang Betawi yang tadinya
tidak mengenal atau masyarakat kurang kenal dengan istilah Kiyai, kemudian
sejak tahun 1970-an sebagian ulamanya tampaknya ridho' untuk disebut Kiyai.
Sementara itu untuk para habaib tetap bernama habib, sebagai pembeda antara
yang "keturunan" Nabi saw dan yang 'ajam (non Arab). Sedang tradisi cium
tangan dan *munduk-munduk*nya tetap "dikukuhkan".

    Kini, setelah muncul Kiyai-kiyai yang dipandang oleh masyarakat sebagai
provokator dan sebagainya, bahkan ada yang kena skandal, apakah julukan
Kiyai yang tadinya tidak melekat di kalangan Ulama Betawi/ Jakarta itu harus
mereka kembalikan ke asalnya yaitu Guru atau bahkan Ulama atau Alim saja?
Istilah "Ulama Betawi" sebenarnya sudah melekat dalam bahasa masyarakat.
Sedang istilah Kiyai sebenarnya selalu jadi tanda tanya. Karena, di samping
munculnya itu dari Jawa (biasanya di Jakarta, yang disebut Jawa itu tidak
termasuk Jakarta), juga istilah Kiyai itu mengandung aneka macam makna, dari
kerbau yang dianggap keramat sampai bendera yang dikeramatkan, atau bahkan
dukun santet ataupun tukang sihir. Walaupun memang masih diakui pula istilah
Kiyai itu ada yang untuk ulama betulan.

   * **Sebutan Kiyai mungkin lebih diminati dan ni'mati*

    Kalau ditilik dari segi praktis dan pragmatisnya, bahwa Kiyai itu yang
di-*munduk-munduki atau* sangat dihormati dan ditaati serta ditakuti, maka
tampaknya justru sebutan Kiyai itulah yang  lebih mereka minati. Di samping
masyarakat sudah bisa diharapkan akan tunduk lagi hormat kepada Sang Kiyai,
toh pada masa akhir-akhir ini sosok-sosok Kiyai itu seolah telah bebas
berbuat, termasuk dalam berbuat cabul  dan berbohong sana sini atau
berakhlaq tidak *nggenah*. (Kadang keburukan-keburukannya itu bahkan ada
pihak-pihak yang membelanya dengan dalih maqomnya/ tingkatnya sudah mencapai
derajat wali, yang menurut faham sesat mereka adalah terbebas dari segala
hukum dan hukuman). Sehingga Kiyai model itu walaupun sudah sedemikian
buruknya menurut agama, namun penghormatan tetap didapat, sedang penjagaan
diri sebagai orang yang *wara'* (sangat hati-hati terhadap yang makruh,
apalagi yang haram) sudah tercabut dari "keharusan". Kan malah lebih
gampang. Kenapa repot-repot harus mengembalikan Istilah Kiyai kepada istilah
yang berat-berat yaitu "Guru" apalagi Ulama/ Alim ataupun Syaikh. Kan itu
bikin capek (payah) saja.

    Begitulah kira-kira, kalau kita mau ber-*suud dhon* (buruk sangka)
kepada mereka*. *Walaupun tentu saja hal itu hanya berlaku bagi Kiyai-kiyai
gadungan, yang istilah terkenalnya dalam terminologi Islam adalah *ulama
suu' *(yaitu ulama yang jahat), yang banyak dikecam oleh ulama salaf
(terdahulu). Ulama *Suu'* itu di antaranya adalah ulama-ulama yang suka
masuk keluar ke istana atau pintu penguasa, bahkan ulama seperti itu mereka
sebut sebagai maling (*lisshun **-* áÕ *).* Tetapi rupanya kini jumlahnya
makin banyak, padahal kitab-kitab yang mengecam tingkah polah itu masih
berada pada tangan-tangan mereka pula, sekalipun tidak lagi diajarkan kepada
para santrinya, karena ulama tersebut cukup mengajari berdemo bersama
antek-antek komunis untuk merusak dan menghancurkan  masjid, madrasah, panti
asuhan milik Muslimin yang dulunya ketika memberantas Bid'ah, Khurofat, dan
syirik yang jadi "kareman" (kegemaran) si perusak ini, dulu  tidak punya
alasan  untuk menolak pemberantasan bid'ah itu dengan cara menghancurkan
masjid-masjid pemberantas bid'ah. Nah sekarang mumpung kelompok perusak ini
sedang ada setitik alasan yang dibuat-buat, yakni membela Kiyainya yang jadi
presiden namun ingin didongkel oleh orang-orang yang di antaranya adalah
kelompok anti Bid'ah, maka masjid ataupun sarana da'wah Islam yang dimiliki
kelompok anti Bid'ah pun kesempatan untuk dihancurkan oleh mereka yang
"karem" (gemar) bid'ah itu bersama kelompok anti Islam bahkan anti Tuhan.
Lalu mereka ramai-ramai cuci tangan dengan ucapan-ucapan yang mereka
bikin-bikin. Padahal sebelumnya, santer terdengar, kalau Gus Dur diturunkan
dari jabatan Presiden maka mereka mau mengerahkan massa. Namun setelah Gus
Dur benar-benar digoyang oleh DPR, lalu massa benar-benar terkerahkan dan
sampai mengadakan perusakan di mana-mana, lalu secepatnya mereka cuci tangan
dengan ucapan. Misalnya ucapan, Kami bersedia membantu satu miliar Rupiah
kepada gedung-gedung atau sarana milik Muhammadiyah apabila benar-benar
terbukti bahwa yang merusaknya itu dari kalangan NU kami. Keruan saja pihak
Muhammadiyah menolak sumbangan yang bersyarat itu. Karena, menurut
Muhammadiyah, kalau memang mau menyumbang ya tidak usah bersyarat seperti
itu. Karena yang namanya pembuktian itu harus lewat pengadilan.

    Tidak puas hanya merusak masjid dan sebagainya, mereka juga
beramai-ramai menebangi ratusan pohon pinggir jalan untuk ditaruh di
jalan-jalan guna menghalangi orang lewat, agar para santri-santri dan
masyarakat yang dikerahkan untuk menghalangi jalan itu imannya habis punah,
Tidak cukup hanya dicekoki bid'ah, khurofat, dan takhayul, tapi imannya
perlu dikikis benar-benar. Soalnya dalam Islam, justru bagian dari iman itu
di antaranya adalah menyingkirkan gangguan dari jalan, namun kini di antara
ulama *suu'* atau orang-orang yang belajarnya kepada ulama *suu'*, mereka
ramai-ramai menebangi ratusan pohon di Jawa Timur untuk ditlalangkan guna
menghalangi jalan-jalan raya. Peristiwa yang merusak dan merugikan bagi umum
itu terjadi di Jawa Timur dalam rangka '*ashobiyah* (fanatik buta), yaitu
membela Presiden Gus Dur, agar tidak diturunkan dari jabatannya, Februari
2001M. Dalam Islam, membuang gangguan yang ada di jalan adalah termasuk
bagian dari iman. Lantas perlu ditanyakan kepada para Kiyai pendukung Gus
Dur terutama di Jawa Timur, bukankah membuat halangan besar-besaran di jalan
raya serta merusak pohon dengan menebanginya; itu berarti membuang iman?
Bukankah demikian?

   * *   Antara ajaran Islam dan kepentingan orang-orang yang mengerti Islam
yaitu ulama atau Kiyai yang berkendaraan hawa nafsu, memang kadang ada
jaraknya yang sangat jauh, bahkan kadang sangat berbalikan. Selama
kepentingan-kepentingan nafsu bahkan *ashobiyah*/ fanatik golongan itu masih
lebih diunggulkan dibanding ajaran Islam itu sendiri, maka apa saja bisa
dikorbankan demi kepentingan, demi golongan, demi perintah syetan, bukan
demi Islam. Termasuk di dalamnya, kalau hanya masalah nama, yaitu ulama atau
guru agama atau da'i, yang ketiga-tiganya tidak mendatangkan "manfaat" dari
segi kepentingan untuk "*dimunduk-munduki*", maka tentu saja mereka lebih
pilih julukan Kiyai, yang walaupun sebutan itu juga dipakai untuk kerbau
namun mengandung unsur adanya "kebiasaan *munduk-munduk*" dari santri dan
masyarakat terhadap Kiyai. Maka bisa diperkirakan, mereka tidak rela apabila
julukan Kiyai itu diganti dengan Guru atau bahkan Ulama atau Syaikh
sekalipun. Walaupun mereka sering menonjol-nonjolkan Hadits *Al-'Ulamaau
warotsatul Anbiyaa'*. Ulama itu pewaris para Nabi.

   Kenapa lebih pilih julukan Kiyai?

   Karena, di samping hal tersebut di atas yaitu di*munduk-munduki*
*(*sangat
dihormati dan ditaati serta ditakuti), masih ada alasan lain pula. Dalam
kitab-kitab cukup banyak kecaman terhadap ulama' *suu'* (ulama jahat). Namun
tidak tercantum dalam kitab-kitab adanya keterangan mengenai kecaman
terhadap Kiyai *suu'* (jahat). Bahkan kerbau yang dijuluki Kiyai Slamet
dipersilakan secara bebas dan merdeka untuk berkeliaran ke mana saja dan
makan apa saja serta menginjak-injak apa saja boleh, dan tidak dijuluki
Kiyai *suu'* (jahat). Malahan yang diinjak-injak ataupun hartanya dimakan
itu justru senang, karena mereka percaya (dalam kondisi kepercayaan batil)
akan mendapatkan berkah dan rejeki. Itulah kurang lebihnya.

   *Julukan Kiyai untuk ulama perlu dihapus*

   Kalau hal ini dibiarkan, maka kondisi semakin runyam. Maka perlu diadakan
gerakan total untuk mendudukkan masalah pada proporsinya. Istilah-istilah
yang tidak jelas, seperti halnya Kiyai, perlu dibersihkan, dan kalau perlu
dienyahkan dari terminologi Islam, supaya Islam tidak dikotori dengan
pemahaman-pemahaman yang tidak jelas. Tetapi, maukah mereka? Dan maukah
masyarakatnya? Justru hal-hal yang tidak jelas itulah yang mereka cari,
kadang-kadang. Itulah persoalannya pula.

    Dari kenyataan itu, maka sangat baguslah orang-orang yang konsisten, dan
tidak mau disebut atau menyebut dirinya Kiyai. Sebagaimana Hamka, Ptof Dr H
Mahmud Yunus dan lain-lain, mereka adalah ulama terkemuka dan menulis tafsir
serta kitab-kitab Islam namun tidak disebut Kiyai, serta tidak menyebut
dirinya Kiyai. Walaupun secara keilmuan maupun akhlaqnya, mereka adalah
ulama, alim agama.

    Seandainya para ulama yang kini digelari Kiyai itu ikhlas mencopot gelar
Kiyainya dan tak mau lagi disebut Kiyai, maka biar sekalian ketahuan bahwa
Kiyai yang masih rela disebut Kiyai adalah Kiyai Dukun saja. Itu mungkin
lebih baik, karena memang di dalam Islam tidak ada istilah  Kiyai itu,
demikian pula adat-adat yang lekat dengan kekiyaian kalau dicocokkan dengan
Islam tampaknya memang sering berjauhan. Contoh paling kecil saja, setiap
kongres para Kiyai NU, (namanya bukan kongres Kiyai, tapi biasanya kongres
Ulama), hampir bisa dipastikan mesti di*kintil* (disertai) oleh sponsor dari
pabrik rokok. Asbak tempat puntung rokok lengkap dengan cap pabrik rokok
mesti berjajar berderet-deret di hadapan para Kiyai. Apakah merokok itu
menjadi salah satu perbuatan yang di*afdhol*kan (diutamakan) dalam Islam?
Paling kurang, mesti hukumnya makruh, perlu ditinggalkan. Tetapi kenapa
justru para Kiyai menjadi contoh buruk dalam masalah ini? Sehingga kalau
orang yang suka bercanda akan bisa bilang, yang terpilih dalam jam'iyah itu
tentunya yang paling jago dalam merokok. Lho kenapa? Karena setiap kongres
apalagi muktamar, mesti di*kintil* / diikuti oleh  sponsor yaitu pabrik
rokok.

   Antara "harus" membuang julukan Kiyai dengan memperbaiki mental dan polah
tingkah Kiyai, semuanya adalah hal yang rumit. Sebenarnya pada mulanya hanya
ada pertanyaan-pertanyaan seperti yang diajukan kepada Hamka tentang makna
Kiyai itu sendiri. Namun setelah para Kiyai terjun ke politik bahkan
ucapan-ucapannya ada yang kurang pas, baik secara politik itu sendiri maupun
bahkan secara Islam, maka pertanyaan itu  muncul lagi serta lebih sarat
makna, dalam arti Kiyai menjadi sosok yang tidak jelas lagi di mata
masyarakat. Dan dikhawatirkan, sebutan Kiyai justru jadi tempat perlindungan
bagi orang-orang yang sebenarnya hanya mementingkan kepentingan diri mereka,
keluarga mereka, dan golongan mereka. Yang hal itu tidak mudah digugat,
karena belum ada kitab rujukan yang baku (istilah NU-nya *mu'tabaroh) *yang
mengecam busuknya tingkah Kiyai. Sementara itu kalau sebutan ulama maka
sudah banyak kitab baku yang bisa dijadikan panduan untuk mengecam tingkah
buruk ulama *suu'*.

    Dikhawatirkan akan muncul pandangan: "Saya kan hanya Kiyai, bukan ulama.
Yang tergolong ada yang *suu'* (jahat) itu kan ulama. Jangan disamakan dong,
Kiyai dengan ulama. Kalau ulama sih, tak boleh berbuat begini dan begitu.
Kalau Kiyai, boleh-boleh saja..."

    Sekali pintu kejahatan itu terbuka, maka akan terbuka pula
kejahatan-kejahatan lain yang bervariasi dan bisa lebih besar lagi. Sebutan
Kiyai di sini sudah ada gejala terbukanya kejahatan-kejahatan, baik tersamar
maupun bisa terasakan secara umum. Oleh karena itu, perlu ditutup pintu
kejahatan itu. Di antara jalan yang praktis adalah membuang sebutan Kiyai
itu sendiri, dari khazanah istilah Islam, kemudian dikembalikan kepada
istilah Islam, yaitu ulama atau alim atau 'allamah, atau syaikh seperti yang
berlaku di dunia Islam. Hingga ulama yang benar bisa ditiru atau diteladani,
sedang yang jahat atau *suu'* bisa disingkiri, karena kriterianya sudah
jelas.

   Adapun sebutan Kiyai yang bisa disejajarkan dengan doktor oleh Departemen
Agama sehingga bisa menduduki jabatan rektor suatu perguruan tinggi,
contohnya KH Abdul Qadir Jaelani yang memimpin perguruan tinggi di Tanjung
Priok Jakarta, hendaknya diganti dengan istilah yang pas pula, misalnya
syaikh atau alim, atau 'allamah. Dan tentunya perlu sesuai pula dengan kadar
keilmuan, tentang siapa yang bisa dijuluki syaikh atau 'alim atau 'allamah.
Bukan sekadar hafal syair *ya Robbi bil Mushthofa* (  íÇ ÑÈ ÈÇáãÕØÝì ÈáÛ
ãÞÇÕÏäÇ  yang syair itu sendiri mengandung persoalan secara aqidah karena
mengandung *tawassul*/ perantara dengan orang yang sudah wafat, yang hal itu
sama sekali tidak syar'i) lalu diberi gelar 'alim atau 'ulama atau 'allamah,
sebagaimana sekarang bisa digelari Kiyai.

    Apakah para Kiyai akan ikhlas dengan usulan semacam ini? *Wallahu a'lam.
* Itu urusan mereka. Hal yang baik dan yang benar dalam Islam tidak perlu
persetujuan para Kiyai. Justru para Kiyai mestinya yang harus tunduk kepada
kebenaran, kalau memang mereka *istiqomah* / konsisten dalam ber-Islam. Ini
hanya mengingatkan, perlunya dibuang istilah Kiyai dari julukan keulamaan
itu karena mengikuti kaidah *saddudz dzarooi'* yaitu menutup jalan yang
menuju bahaya. Kaidah itu diakui oleh para ulama dalam Ushul Fiqh.
Bukti-bukti dan gejalanya telah nampak, maka sebelum kondisinya akan lebih
parah, sebaiknya ditempuh jalan *saddudz dzaroi' * itu.

   Demikianlah. Apabila hal ini menyinggung perasaan para Kiyai, maka dengan
sepenuh hati kami minta maaf. Walaupun demikian, pendapat ini tetap kami
sengaja untuk dikemukakan.* *
 ------------------------------

[1] <#_ftnref1> Drs H Ibnu Qoyim Isma'il MA, *Kiai penghulu Jawa Peranannya
di Masa Kolonial, *Gema Insani Press, Jakarta, cetakan I, 1977, halaman 62,
mengutip Ahmad Adaby Darban,* Ulama di Jawa: Perspektif Sejarah,
*Yogyakarta,
1988,  halaman 6, juga mengutip FA Sutjipto,* Pemimpin-pemimpin Agama di
Wilayah Kerajaan Mataram  Sekitar Abad 18, *Yogyakarta 1971*.*

[2] <#_ftnref2> Sunan di sini bukan bentuk jama' (plural) dari kata Arab
Sunnah (hadits ataupun tradisi) tetapi dari kata Susuhunan sebagai gelar
untuk wali/ ulama ataupun pejabat di mahkamah yang bahasa Arabnya Qodhi
yaitu hakim di kerajaan Islam di Jawa pada masa itu, sedang rajanya bergelar
Sultan dari kata Arab Sulthon.

[3] <#_ftnref3> Ibnu Qoyim Isma'i, ibid, halaman 62.

[4] <#_ftnref4> Ibid, halaman 63.

[5] <#_ftnref5> Majalah *Gema Islam *No. 30 tahun II, 15 April 1963,
kemudian dikumpulkan  menjadi: *Hamka* *Membahas Soal-soal Islam *oleh H
Rusydi dan Afif, Pustaka Panjimas, Jakarta,  cetakan IV, 1985, halaman
397-398.

[6] <#_ftnref6> Ibid, halaman 400

[7] <#_ftnref7> Ibid, halaman 401.

[8] <#_ftnref8> Ridwan Saidi, *Orang Betawi dan Modernisasi Jakarta, *LSIP,
Jakarta, cetakan pertama 1994, halaman 212.


[Non-text portions of this message have been removed]







______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda
harus meninggalkan forum ini silakan kirim email ke:
[EMAIL PROTECTED]

Yahoo! Groups Links







--
No virus found in this incoming message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.1.394 / Virus Database: 268.9.7/379 - Release Date: 6/29/2006







------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Check out the new improvements in Yahoo! Groups email.
http://us.click.yahoo.com/6pRQfA/fOaOAA/yQLSAA/.DlolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan 
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus 
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: 
[EMAIL PROTECTED] 
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke