http://www.suaramerdeka.com/ Berdakwah dalam Bingkai NKRI a.. Oleh M Nuridin PERSOALAN pentingnya relasi harmonis antar (juga intern) umat beragama kembali ramai diperbincangkan. Ini terkait meningkatnya situasi ketegangan yang terjadi belakangan di masyarakat.
Dalam konteks intern umat Islam sendiri misalnya muncul beberapa ormas, baik berbasis keagamaan, kesukuan/kedaerahan, yang dengan atas nama dakwah menjadikan laku kekerasan sebagai pendekatan utamanya, termasuk juga dalam menyikapi fakta perbedaan pemahaman. Kasus penyerangan Kampus Ahmadiyah di Parung Bogor beberapa waktu lalu menjadi contoh. Sementara kecenderungan "rusaknya" relasi antarumat beragama, misalnya, ditandai dengan penutupan beberapa rumah ibadah/gereja yang terjadi di Garut Jawa Barat beberapa waktu lalu. Juga diperparah dengan inisiasi beberapa pemerintah kabupaten/kota yang menerbitkan Perda bernuansa Syariat Islam. Hal ini di mata penganut agama lain, dianggap tidak relevan dan tidak menghargai prinsip kebhinekaaan yang nota bene jati diri NKRI. Akan hal itu memang penting untuk memikirkan kembali alternatif-alternatif kerja bersama seluruh elemen agama yang ada untuk mencipta relasi harmonis berbasis toleransi. Semangat ini tidak saja didedahkan ajaran suci agama-agama tetapi juga telah dipraktikkan para pendiri negara kita, yang beragam latar belakang agamanya. Bahaya Dakwah/Misionare Di antara persoalan mendasar, laten dan memiliki kaitan terhadap fluktuatifnya iklim relasi-toleransi umat beragama adalah soal dakwah (dalam Islam) atau misionare (dalam Kristen). Karen Armstrong dalam Sejarah Tuhan (2001) menyatakan bahwa missionary ideology (dakwah) ikut andil dan tak jarang membawa akibat bentrokan di antara agama-agama Abraham/ Abrahimic religions (Yahudi, Kristen dan Islam), bahkan dengan agama-agama di luar tiga agama semitik ini. Akibat dari ideologi tersebut menggiring antara penganut agama yang satu dengan lainnya senantiasa mempertontonkan "permusuhan" dan saling mengintip serta berpecah belah. Pada akhirnya agama tidak lagi menjadi integrating factor, tetapi menjadi dis-integrating factor. Ini yang sesungguhnya berbahaya jika terus berkembang dan dikembangkan masyarakat religius. Betapa tidak berbahaya? Dalam skala dunia telah kita saksikan betapa perang yang melibatkan kaum Kristen dengan Yahudi menelan ribuan korban jiwa. Hatta, itu diklaim oleh kedua pihak sebagai "mati di jalan Allah" karena dianggap melakukan perang suci. Sebuah peperangan membela agama Tuhan. Juga perang salib yang melibatkan Kristen-Islam selama ratusan tahun tidak lepas dari faktor ini. Sementara pada skala nasional, utamanya Kristen-Islam masih menganggap dan melihat masing-masing adalah lawan yang harus dipertobatkan. Lebih-lebih terhadap penganut agama lokal seperti Kaharingan, Samin dan sejenisnya, tiga agama besar merasa bertanggung jawab untuk mengimankan mereka. Tak pelak terjadilah teror atas nama ideologi suci, ideology missionary. Oleh karenanya, upaya revisi dan pembacaan ulang terhadap doktrin-doktrin agama-agama "konsep dakwah/misionari"-menjadi suatu keniscayaan tak terbantahkan. Juga diperlukan kritik dan perbaikan atas keberagamaan dan keimanan kita demi terciptanya keberagamaan yang lebih apresiatif terhadap perbedaan dan keragaman agama, budaya, etnis dan lain sebagainya. Sinergi Misi Agama-Agama Merupakan kebanggaan tersendiri, karena penduduk Indonesia mayoritas adalah pemeluk agama Islam. Bahkan jika dihitung jumlahnya terbesar di dunia. Namun sayangnya hingga kini kualitasnya masih menjadi bahan pertanyaan. Untuk itu adalah pekerjaan yang mesti terus digalakkan kita semua untuk meningkatkan kualitas, baik di bidang keagamaan maupun keduniaan, selaras dengan situasi dan kondisi keindonesiaan. Ini penting supaya tidak sampai kondisi ini menimbulkan keangkuhan mayoritas yang membahayakan persatuan bangsa. Guna mengantispasi merebaknya hambatan dan halangan serta bahaya (seperti klaim kebenaran dari masing-masing agama, konflik dan reduksionisme), dakwah agama-agama perlu melakukan beberapa hal. Pertama, perlunya diadakan pembenahan pemahaman secara mendasar menyangkut tataran filosofis dan etis, atas sikap keberagamaan umat beragama terhadap agama mereka sendiri dan agama orang lain. Kedua, perlu diadakan diskusi dalam berbagai level di dalam satu agama tertentu. Dengan harapan untuk menghindarkan salah pengertian dan sekaligus meningkatkan maturity dari umat beragama tersebut. Ketiga, menggalakkan dialog antarumat beragama di berbagai level. Itu dakwah yang bersifat ke dalam. Sedangkan sebagai wujud kontribusi agama-agama terhadap persoalan bangsa Indonesia khususnya dan dunia pada umumnya, agama (agamawan) musti bisa berkolaborasi dan bersinergi dalam kekuatan bersama untuk mengatasinya. Utamanya terhadap persoalan sosial kemanusiaan yang bersifat lintas agama dengan berbagai formatnya, yang kian hari eskalasinya cenderung meningkat. Itu kemudian menjadi dan dijadikan sebagai titik temu (common platform) agenda dakwah agama-agama. Ini tentu saja sesuai dengan semangat al-Qur'an, surat Ali Imran (3) ayat 64, yang memerintahkan untuk mencari titik temu, kalimatin sawa'. Konkretnya, agama-agama musti mengedepankan agenda penanggulangan berbagai tindak eksploitasi, kemerosotan moral, soal kemiskinan dan kebodohan yang masih menghinggapi derap langkah kehidupan manusia. Bahkan yang aktual lagi yaitu soal tindak kekerasan"terorisme"yang tidak segan-segan mengatasnamakan ajaran agama. Sejalan perspektif ini, Viktor I Tanja, menyatakan bahwa dakwah yang harus digalakkan kini adalah dakwah dengan tujuan peningkatan sumber daya insani, baik secara ilmu maupun karakter. (Andito, 1998) Selain itu, menurut Korten, persoalan pokok yang musti ditangani secara intens oleh misi-misi keagamaan, termasuk misi/dakwah Islam adalah memperkuat rohani manusia menuju satu titik bahwa keserakahan dan egoisme tidak berperan lagi. (Korten, 1993). Seandainya perspektif di atas menjadi komitmen agama-agama, tak akan ada lagi alasan bagi umat beragama untuk saling menyakiti, apalagi berperang, karena pada dasarnya mereka memiliki kesamaan platform. Jika sudah begitu, tentu harmonisme kehidupan dalam kebhinekaan yang beberapa tahun terakhir tercabik-cabik, bisa kita tegakkan lagi. Dengan pendekatan di atas juga bisa diharapkan dakwah bisa tetap berjalan dengan tanpa menjadi sumber konflik baru di abad 21 ini. Selamat berdakwah.(11) - M Nuridin, di PP Lakpesdam NU [Non-text portions of this message have been removed] ______________________________________________________________________ http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah. ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
