Makasih saya ucapkan kepada Ibu/mbak Yuli Yasin yang ikut serta dalam menanggapi Nikah Misyar : Praktek Perzinahan , Sex bebas , dan Prostitusi ala Harokah. Aku terus terang apresiatif dengan yang mbak Yuli katakan, ternyata di zaman yang serba harus demokrasi ini (termasuk kesetaraan gender) masih ada yang masih bersifat "apapun permaslahannya kalau hukum syariat islam yang bicara, maka itulah yang harus ditegakkan dan dilaksanakan". Saya (mahasiswa Al-Azhar) masih akan tetap menunggu dari tanggapan- tanggapan atau sanggahan atau mengangkat problematika kontemporer...
--- In [email protected], Yuli Yasin <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > yang saya tau -mungkin pengetahuan saya yang dangkal- > yang dimaksud dengan nikah misyar adalah pernikahan > yang cukup syarat dan rukunnya (ijab qabul,saksi,tidak > ada pembatasan waktu seperti yg terjadi dlm nikah > mut'ah, dan mahar)antara laki-laki dan perempuan > dengan membebaskan kewajiban nafkah dari > suami.pembebasan nafkah ini bisa karena berbagai > sebab, di antaranya; kemapanan pihak perempuan, > seperti wanita karir misalnya sehingga dia ridho tidak > diberi nafkah oleh suaminya.. Bisa juga karena kondisi > materi suami yang belum memungkinkan, seperti kasus > pernikahan antar mahasiswa n makasiswi, nafkah > keduanya masih menjadi tanggungan ortu masing-masing, > tentu saja atas kelegowoan ortu perempuan. Tidak semua > perempuan atau ortu yang setuju putrinya menikah > dengan cara seperti ini tapi tidak sedikit tuh ortu > yang mendukung putrinya untuk segera ke pelaminan atas > tanggungan mereka daripada hatinya was-was memikirkan > putrinya berada di negeri orang tanpa muhrim. Jadi > intinya saya setuju dengan pendapatnya mas/pak rony > bahwa nikah misyar selama memenuhi syarat n rukun di > atas ya boleh-boleh saja. Tapi tidak berarti saya > sebagai perempuan mendukung n menganjurkan nikah > misyar loh, karena walau bagaimana ini bukan model > ideal yang dianjurkan agama. Saya pribadi ndak mau > melakukan nikah misyar (klo yang laki2 welcome banget > kali ya??) namun ada kondisi-kondisi tertentu yang > menjadikan nikah misyar sebagai solusi, sebagai misal > 2 contoh di atas. Jadi mba enah justru nikah misyar > adalah tawaran solusi bagi perempuan yang tidak > berkesempatan menikah ideal (suami yang memberi > nafkah) sekarang tinggal para perempuan yang bertanya > pada nuraninya masing-masing? siapkan anda menikah ala > misyar? sekali lagi ini tidak merupakan paksaan hanya > tawaran...yang mau silahkan, yang nggak mau, nggak > dipaksa.. > Untuk mas/pak He-man, saya kok ndak nyambung dengan > statemen sampeyan bahwa nikah misyar merupakan bentuk > prostitusi ala harokah, dilihat dari mananya ya > mas/pak? > > --- rony_bjn <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > Apa yg di utarakan Ibu/Mbak (maaf klo salah sebut) > > Ena Nakiah memang > > benar, akan tetapi itu hanya sebatas wacana kalau > > menurut saya. Sebab > > itu bukan memecahkan masalah melainkan menambah > > beban yang sedemikian > > beratnya yang harus di tanggung oleh salahsatu > > pasutri ketika diantara > > keduanya ada dalam jarak yang berjauhan. karena > > tidak dapat di > > pungkiri bahwa kemmpuan seseorang dalam menahan > > kebutuhan biologisnya > > itu ada batas maksimalnya, bahkan Syariat dalam > > hal ini telah > > membatasi wanita blh mengajukan banding bilamana > > sang suami sdh lebih > > dari 4 bulan tidak mau menggumulinya > > Diatas telah kita ketahui betapa islam sangatlah > > memperhatikan > > ummatnya, sampai suatu hal yang bersifat obyektif > > pun di bahas, saya > > katakan obyektif karena sebagian orang memang bisa > > manahan hal itu, tp > > sebagian yang lain tidak. > > Jadi menurut hemat saya, kita harus kembali pada > > hukum fiqh yang > > telah mengatur hal ini. Sebagaimana telah kita > > ketahui bersama > > bahwasanya nikah mut'ah itu telah di nusakh(hapus > > hukumnya) setelah > > sebelumnya di halalkan, maka akan sangat sia-sia > > sekali kalau masih > > mengkaji ulang diperbolehkankah nikah mut'ah itu? > > karena ulama' dalam > > hal ini sudah ijma' "di haramkannya nikah mut'ah". > > Adapun yang jadi perdebatab hangat adalah nikah > > misyar ini, karena > > memang ini merupakan problematika kontemporer yang > > menjadi pr kita. > > Nikah misyar pada dasarnya sama dengan praktek > > nikah pada umumnya > > yang tentunya sudah benar menurut syariat, cuma yang > > membedakan ialah > > nikah misyar tidak di landasi tujuan utama dari > > membina rumah tangga > > (sang suami yang harus bertanggung jawab sepenuhnya > > akan segala > > sesuatunya terhadap sang istri meliputi nafaqah > > zahir&batin) karena > > dalam praktek nikah misyar ini sang suami sudah > > menyatakan > > ketidaksanggupannya dalam menafaqah zahir terhadap > > sang istri. oleh > > sebab itu kalau di tinjau dari segi asas hukum fiqh > > yang bersifat pada > > hukum zahir, maka saya mengatakan kalau nikah misyar > > adalah mubah, > > karena di tinjau dari rukun syaratnya sudah > > terlaksana semua, dan > > ketidaksanggupan suami yang sudah diridlai(setujui) > > sang istri adalah > > jawaz. Silahkan cek kefalidan pendapat saya ini di > > kutubulfiqh > > mu'tabarah..... > > > > --- In [email protected], Ena Nakiah > > <ena_nakiah@> wrote: > > > > > > > > > > > > Saya ingin menulis tentang maraknya > > nikah kontrak, nikah > > poligami dan jenis nikah yang lain. Argumentasi saya > > tidak berdasar > > ada nash tertentu, tetapi pada segi nilai keadilan. > > Menurut saya, > > Islam memang memberikan aturan memperbolehkan nikah > > poligami pada > > kasus laki-laki yang hiperseks. Demikian juga, bagi > > istri yang tidak > > setuju dengan poligami, istri berhak dan bisa > > meminta cerai dengan > > suaminya dan diperbolehkan memilih pasangan lain > > yang mereka > > kehendaki. Sedangkan pada laki-laki normal menurut > > saya Islam > > memberikan aturan menikah bagi satu istri. > > > > > > Apabila ada persoalan yang dihadapi oleh para > > turis asing, yang > > karena alasan jauh dari istrinya kemudian mereka > > melakukan nikah > > misyar atau nikah mut'ah? Bagaimana penyeselesaian > > hukumnya? Kasus > > serupa juga terjadi pada para TKI yang ada di negara > > jauh yang > > berpisah dengan suami atau istri mereka. Bahkan > > terkadang, juga mereka > > harus terpisah kerja dengan jarak dan waktu antara > > istri dan suami > > dalam tempo yang lama. Bagaimana solusinya? > > > > > > > > > Menurut saya, nikah Mut'ah atau nikah Misyar > > bukanlah jalan keluar > > yang baik, karena dampak dari pernikahan itu > > menyakiti dan > > mengkhianati salah satu pihak suami atau istri. > > Apalagi praktek > > perzinahan, sex bebas dan prostitusi justru akan > > merusak tatanan > > keluarga. dampak dari kawin kontrak, misalnya, > > adalah menyakiti > > perempuan, apabila asa kontrak meeka habis, > > bagaimana menanggung > > akibat dari kehamilan atau siapa yang akan > > bertanggung jawab pada > > anak-anak hasil perkawinan kontrak tersebut? > > Demikian juga, dampak > > dari nikah Misyar selalu saja merugikan pihak > > perempuan. > > > > > > Jalan keluar yang mungkin bisa dilakukan adalah, > > memelihara komitmen > > dengan suami atau istri. caranya, seperti apa > > menyiasati jarak yang > > jauh dengan menggunakan teknologi. Karena kemajuan > > global, membuat > > dunia tanpa batas, dan bisa di jangkau dengan alat > > transportasi > > canggih dan juga teknologi invormasi tingkat tinggi. > > Saya kira masih > > ada cara yang lebih elegan untuk tidak melakukan > > peceraian dan juga > > tidak melakukan kain kontrak atau kawin Misyar. > > > > > > Salam > > > Najlah > > > > > > > > > rony_bjn <rony_bjn@> wrote: > > > Assalamu'alaikum Wr. Wb. > > > > > > Saya apresiasi sekali dengan kritik yang > > dilancarkan mas he-man, akan > > > tetapi di sini saya akan berbicara sedikit > > menanggapi argumen yang > > > telah ia paparkan. > > > > > > Menurut kitab-kitab yang telah saya pelajari, > > memang nikah mut'ah itu > > > secara ijma' ulama' kecuali kaum munkirin sdh di > > naskh, tapi untuk > > > nikah misyar menurut pandangan saya itu merupakan > > hanya bentuk > > > ketidaksanggupan seorang suami menafakahi istri di > > sebabkan oleh > > > suatu hal, yang hal tersebut adakalanya ma'dzur > > syar'i sebagai > > > konsekuensinya memang ia di perbolehkan seperti si > > suami yang lumpuh > > > dan adakalanya tidak ma'dzur syar'i karena memang > > tujuan suami > > > menikahinya hanya bertujuan mengambil kenikmatan > > nafsu biologisnya > > > saja dan mengabaikan tanggung jawab nafaqah zahir. > > > > > > Namun, mari kita kaji kembali dari perspektif fiqh > > tentang uzur > > > tersebut, kalau memang proses nikah misyar letak > > permasalahan yang di > > > anggap fatal segi syariatnya terletak pada ketidak > > sanngupan suami > > > menafakahi istri, maka itu sudah bisa dijawab oleh > > uzur yang telah > > > saya paparkan diatas. > > > > > > Jadi sangatlah berlebihan bilamana nikah misyar > > itu dikatakan bentuk > > > praktek perzinahan, Sex bebas, dan Prostitusi ala > > harokah. > > > Wallahu'alam. > > > > > > --- In [email protected], "He-Man" > > <gorgious@> wrote: > > > > > > > > > > > > > > > > Nikah Misyar : Praktek Perzinahan , Sex bebas , > > dan Prostitusi ala > > > Harokah > > > > > > > > oleh : He-Man > > > > > > > > > > > > Penggerebekan dan penangkapan Polisi Bogor > > terhadap belasan turis > > > > turis Arab Saudi yang sedang melakukan nikah > > misyar di Cisarua > > > Puncak > > > > menghiasi berita di harian-harian nasional > > beberapa > === message truncated === > > > Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com > ______________________________________________________________________ http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah. ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
