Saya kirimkan juga Tanggapan dari Pihak Hizbut Tahrir agar objektif dan
berimbang.
HIZBUT TAHRIR
ANCAMAN BAGI NU, BENARKAH ?
(Tanggapan terhadap wawancara Koran Harian Bangsa
tentang Hizbut Tahrir)
Oleh : Muhammad Ismail Yusanto
Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia
Wawancara Koran Harian Bangsa dengan KH Imam Ghazali Said, MA, tentang
Hizbut Tahrir penting untuk kami tanggapi. Mengingat banyak informasi yang
kurang akurat bahkan keliru yang bisa membuat pembaca keliru dalam memahami
Hizbut Tahrir. Tulisan tersebut sayangnya tidak memberikan sumber yang jelas
atau narasumber yang tepat. Padahal ini sangat penting untuk menguji
validitas informasi yang disampaikan. Tentu saja kalau mengenai Hizbut Tahrir
informasinya akan valid kalau merujuk buku-buku resmi (mutabannat) HT yang
disebarkan secara terbuka di masyarakat atau merujuk kepada narasumber resmi
Hizbut Tahrir dalam hal ini Juru Bicara HTI yang dengan terbuka dan mudah
dihubungi. Namun sayang, tulisan tersebut tidak mencantumkan sumbernya. Wajar
kalau kemudian terdapat banyak informasi yang kurang tepat bahkan keliru.
Memang benar aktivis Hizbut Tahrir Indonesia kerap mengunjungi Kyai-kyai
NU termasuk dalam Munas NU baru-baru ini. Hal ini tak lain adalah bagian dari
program Hizbut Tahrir Indonesia untuk menjalin silaturrahmi dengan seluruh
komponen umat Islam, berdialog, dan menjalin ukhuwah Islamiyah. Karena bagi
Hizbut Tahrir, perjuangan penegakan syariah Islam di Indonesia , tanpa
didukung oleh umat dengan segenap komponennya adalah mustahil direalisasikan.
Karena itu perjuangan penegakan syariah Islam harus berjalan sinergis dengan
masyarakat dan komponen umat.
Dukungan yang paling penting adalah dari para alim ulama di tengah
masyarakat yang memang sama-sama memiliki visi yang sama untuk memperjuangkan
syariah Islam. Dari persfektif inilah kami melihat NU adalah kompenen umat
yang penting dan strategis untuk secara sinergis memperjuangkan syariah
Islam. Tentu saja, kunjungan dan kontak-kontak selama ini bukan dimaksudkan
sebagai upaya memaksa kaum Nahdhiyin menjadi bergabung kepada Hizbut Tahrir.
Tapi dalam rangka ukhuwah Islamiyah dan menjalin gerak sinergis
memperjuangkan syariah Islam.
Hal ini dilakukan oleh aktivis HTI tidak hanya kepada NU tetapi kepada
seluruh komponen umat Islam lainnya. Delegasi HT juga menjalin kontak kepada
ormas Islam besar lainnya, seperti Muhammadiyah, Al Irsyad, Persis, dan
Syarikat Islam. Termasuk juga kepada parpol yang ada. HTI juga bersama-sama
dengan lebih dari 30 ormas Islam di Indonesia berjuang bersama merumuskan
perjuangan Islam di Indonesia dalam Kongres Umat Islam ke-IV. Beberapa
aktivis Hizbut Tahrir juga aktif di Majelis Ulama Indonesia untuk turut
bersama ulama membangun umat dan bangsa ini.
Tidak Ada Agenda Tersembunyi Salah satu yang penting diluruskan
dari hasil wawancara di harian ini adalah pernyataan yang menyatakan bahwa
Hizbut Tahrir tidak ada dialog dan menyembunyikan agendanya. Jelas ini
adalah pernyataan yang sangat keliru dan bisa menyesatkan. Hizbut Tahrir
Indonesia tidak pernah menyembunyikan agenda perjuangannya. Tujuan, dasar, dan
metode Hizbut Tahrir dengan gampang dapat dilihat di buku-buku resmi Hizbut
Tahrir, seperti kitab Tarif (Mengenal HT) dan Manhaj Hizbut Tahrir fit Taghyiir
(Strategi Dakwah Hizbut Tahrir). Dengan gampang pula pemikiran HT diakses di
situs resmi Hizbut Tahrir, seperti www. hizbut-tahrir.or.id (Bahasa Indonesia)
atau (www. hizb-ut-tahrir.org dalam berbagai bahasa termasuk bahasa arab).
Hizbut Tahrir juga tiap minggu mengeluarkan buletin al Islam yang menjadi suara
resmi HTI lebih kurang 700.000 eksemplar di seluruh Indonesia, ditambah pula
dengan penyebaran ribuan nasyrah (selebaran)
dan booklet. Ditambah lagi media massa di Indonesia sudah sering kali
mengekspose tuntutan Hizbut Tahrir yang menjadi agenda dakwahnya. Jadi tidak
ada taqiyah sama sekali.
Dialog juga dilakukan oleh Hizbut Tahrir. Bahkan dialog telah menjadi
agenda pokok aktivitas dakwahnya. Dibanyak tempat di Indonesia HTI mengadakan
seminar, temu tokoh, dan Dauroh yang intinya adalah mendialogkan ide-ide HT
secara terbuka. Disisi lain, aktivis HTI juga banyak menerima undangan dari
kelompok-kelompok yang bersebrangan dengan HTI seperti kelompok liberal untuk
berdiskusi dalam berbagai seminar yang mereka adakan. Hampir dipastikan HT
tidak pernah absen untuk menerima undangan ini. Banyak pula para peneliti,
intelektual, maupun cendikiawan lokal maupun dari mancanegara yang berdiskusi
dengan HTI. Jubir HTI Muhammad Ismail Yusanto, secara khusus pernah diundang
oleh universitas terkemuka di AS, Australia, dan Jepang untuk mendiskusikan
perihal perjuangan syariah Islam di Indonesia. Para Anggota Hizbut Tahrir
telah berdebat dengan pemikir terbaik di dunia, seperti Noam Chomsky, Daniel
Bennet, dan Flemming Larsen dari IMF. Jadi pintu
dialog bukan hanya boleh bahkan wajib dibuka bagi Hizbut Tahrir.
Agenda Hizbut Tahrir sudah sangat jelas, sebagaimana yang tercantum dalam
kitab Tarif (Mengenal Hizbut Tahrir), tujuannya adalah melanjutkan kehidupan
Islam dengan menerapkan hukum syara secara menyeluruh dan mengemban dakwah
Islam ke seluruh penjuru dunia. Adapun Daulah Khilafah Islam bukanlah tujuan,
tetapi merupakan metode (thoriqoh) untuk menerapkan syariah Islam. Jadi
perjuangan penegakan syariah Islam adalah agenda utama Hizbut Tahrir. HT
meskipun tetap menganggap persoalan ibadah ritual penting, tapi bukan menjadi
agenda utama umat. Karena itu HT tidak menjadikan persoalan bid'ah-bid'ah
dalam ibadah ritual sebagai persoalan utama yang didiskusikan di
tengah-tengah umat. Sebagaimana yang diklaim dalam wawancara tersebut.
Dalam Perihal perbedaan pendapat, termasuk dalam perkara Ibadah ritual,
HT mengambil prinsip Imam Syafii, Royi showwab yahtamilu al-khatha', wa ra'yu
ghairi khatha' yahtamilu as-shawab. Jadi tidak benar fitnah yang sering
dihembuskan oleh kelompok-kelompok liberal bahwa Hizbut Tahrir mengkafirkan
kelompok Islam lain yang berbeda pendapat dengan pendapatnya.
Agenda Bersama Umat Agenda ini bukanlah perkara asing di
tengah-tengah umat Islam apalagi para alim ulamanya. Penegakan syariah
Islam sudah menjadi perhatian dari sebagian besar ormas Islam. Meskipun tentu
saja terdapat perbedaan dari segi metodenya. Hal ini ditegaskan dalam
Konggres Umat Islam ke-IV yang diikuti lebih dari 30 ormas Islam di seluruh
Indonesia dimana dalam salah satu keputusannya adalah menjadikan syariah Islam
menjadi solusi bagi persoalan bangsa ini. Tentu saja, syariah Islam bukan
hal yang asing di kalangan kaum Nahdhiyin, terutama alim ulamanya.
Adapun perihal Khilafah Islam, juga bukan perkara yang asing dalam Islam.
Beberapa kitab mu'tabar (yang diakui) oleh banyak alim ulama dan menjadi
bahan rujukan dan kajian di Pesantren telah membahas kewajiban Khilafah Islam
ini. Buku hadits utama seperti Shahih Bukhari, misalnya, memberi porsi
khusus tentang hadits-hadits keKhilafahan dan kepemimpinan dalam bab
tersendiri yang diberi judul Kitab al-Ahkam, sedangkan Shahih Muslim memberinya
ruang khusus dalam bab Kitab al-Imarah.
Konsep tentang keKhilafahan sangatlah masyhur dan pernah diterapkan di
muka bumi lebih dari 1200 tahun, sejak masa Rasulullah saw hingga periode
akhir keKhilafahan Islam Utsmani (yang diruntuhkan tahun 1924 M). Ibnu Hazm
dalam bukunya al-Fashl fi al-Milal wa al-Ahwa (j.4/87) menyatakan: "Seluruh
kalangan Ahli Sunnah, Murji'ah, Syi'ah dan Khawarij telah sepakat (ijma)
mengenai kewajiban adanya Imamah (Khilafah). Mereka juga sepakat bahwa umat
Islam wajib menaati seorang Imam yang adil, yang menegakkan hukum-hukum Allah
di tengah mereka, dan memimpin mereka dengan hukum-hukum syariat yang dibawa
oleh Rasulullah saw".
Untuk mengingatkan kita, kaum Muslim, betapa sistem keKhilafahan Islam
begitu penting untuk direalisasikan, ada baiknya kita menyimak pernyataan
Imam al-Qurthubi –seorang pakar tafsir-, dalam buku tafsirnya al-Jami li
Ahkam al-Qur'an (j.1/264): "Tidak ada perbedaan pendapat mengenai kewajiban
(mengangkat Khalifah) di kalangan umat Islam dan para imam mazhab, kecuali
pendapat al-a'sham (yang tuli) terhadap syariat". Dalam kitab-kitab yang
lazim digunakan di pesantren, seperti al-Ahkam as-Sulthaniyyah, baik karya
al-Mawardi maupun al-Farra', jelas dinyatakan bahwa keberadaan khilafah
merupakan perkara yang ma'lum min ad-din bi ad-dharurah. Bahkan, Imam
al-Ghazali dalam kitab al-Iqtishad fi al-I'tiqad menyatakan, adanya shulthan
(khalifah) itu merupakan penjaga, yang tanpanya agama Islam ini akan sirna.
Sejarah perjuangan Islam di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari agenda
Khilafah Islam. Setelah institusi Khilafah Islam Ustmaniyah dibubarkan pada 3
Maret 1924, ulama dan tokoh pergerakan Islam Indonesia meresponnya dengan
pembentukan Komite Khilafah yang didirikan di Surabaya pada 4 Oktober 1924,
dengan ketua Wondosudirdjo (Sarikat Islam) dan wakilnya KH A. Wahab Hasbullah
(lihat Bendera Islam, 16 Oktober 1924). Kongres ini memutuskan untuk mengirim
delegasi ke Kongres Khilafah ke Kairo yang terdiri dari Surjopranoto (Sarikat
Islam), Haji Fachruddin (Muhammadiyah), dan KH. A. Wahab dari kalangan
tradisi. (Hindia Baroe, 9 Januari 1925).
KH. A Wahab kemudian juga membentuk Komite Merembuk Hijaz yang menjadikan
persoalan Hijaz sebagai persoalan utama. Komite inilah yang menjadi cikal
bakal Nahdhatul Ulama (Deliar Noer, dalam Gerakan Modern Islam Indonesia
1900-1942). Jadi sejak awal persoalan Khilafah telah menjadi perhatian baik
berbagai kalangan ormas Islam di Indonesia baik Muhammadiyah, Sarikat Islam,
maupun NU. Lepas dari berbagai perbedaan yang melingkupinya.
Yang menarik, seorang Kyai, pengurus cabang NU memberi kitab al-Hushun
al-Hamidiyyah (Benteng Sultan 'Abdul Hamid II), khalifah 'Utsmaniyyah kepada
salah satu pimpinan HTI, Ust Hafidz Abdurrahaman (yang juga jebolan Pesantren).
Kitab tersebut berisi akidah Ahlusunnah dan pembelaannya terhadap eksistensi
Khilafah Utsmaniyyah, termasuk Sultan 'Abdul Hamid II, sebagai institusi dan
penguasa yang wajib dipertahankan. Artinya baik NU maupun Hizbut Tahrir
sesungguhnya memiliki perhatian yang sama untuk memperjuangkan syariah Islam
dalam merespon kondisi global yang ada, yakni kemunduran umat Islam di dunia.
KH Makruf Amin dalam suatu dialog dengan aktivis HT mengatakan NU itu
organisasi global yang bisa dilihat dari lambang NU: bola dunia.
Upaya Memecah Belah ? Memang sering kalau kita mendengar istilah
partai/kelompok terlarang, konotasinya selalu negatif. Padahal tidaklah
selalu begitu. Bukankah Rosulullah SAW saat di Makkah dalam perjuangannya
menegakkan Islam juga mengalami larangan yang sama ? Bahkan Rosululloh
diboikot oleh rezim jahiliyah saat itu. Rosullullah saw dan sahabat dilarang
dan dihambat aktivitasnya dalam menyebarkan Islam. Untuk itu perlu dikritisi
siapa yang melarang HT dan apa alasannya.
Yang melarang HT adalah rezim-rezim di Timur Tengah dan Asia Tengah yang
dikenal diktator. Seperti rezim Mubarak (Mesir) , Saddam Husain (saat masih
berkuasa di Irak), Hafedz Assad (Suriah) , Raja Abdullah (Yordan), dan
penguasa Saudi yang dikenal merupakan pemimpin represif. Termasuk yang
bersikap kejam terhadap HT adalah Karimov , penguasa tangan besi Uzbekistan.
Organisasi HAM internasional secara terbuka telah mempublikasikan kekejaman
Karimov ini. Tidak sedikit aktivis Hizbut Tahrir dijebloskan ke penjara,
disiksa, dan direbus hidup-hidup hanya karena satu alasan : menyebarkan
leaflet (selebaran) yang menyerukan syariah dan Khilafah. Persoalannya,
karena HT secara konsisten mengkritik kebijakan penguasa tiran itu yang
menyengsarakan rakyat dan menyerukan syariah Islam dan Khilafah sebagai
solusinya.
Para penguasa tersebut melarang karena agenda Hizbut Tahrir mengancam
kekuasaan diktator mereka yang represif dan menindas rakyat. Larangan ini
juga merupakan agenda negara-negara imperialis yang menekan penguasa-penguasa
Timur Tengah yang sebagian besar adalah kaki tangan mereka. Negara-negara
Imperialis ini sangat mengerti tegaknya Khilafah dan syariah akan
menghentikan penjajahan negara imperialis ini.
Disamping itu negara Imperialis inipun berupaya melakukan politik adu
domba antara sesama umat Islam seperti isu Sunni-Syiah di Irak, Pakistan, dan
Lebanon. Dalam konteks Indonesia, upaya pecah belah itupun sangat terasa. Ada
upaya membenturkan NU, yang dikenal tradionalis, dengan kelompok seperti HT,
yang sering disebut Barat sebagai fundamentalis.
Patut kita cermati, upaya memecah belah ini menjadi salah satu
rokomendasi Cheryl Benard (The Rand Corporation); antara lain membenturkan
kelompok tradisionalis dan fundamentalis, serta mencegah aliansi antara
kelompok tersebut. Hal yang sama pernah dilakukan oleh Snouck Hurgronye di
jaman penjajahan Belanda. Kita berharap tulisan dalam wawancara tersebut
bukan bagian dari agenda imperialis yang hendak memecah belah komponen umat
Islam untuk melestarikan penjajahan mereka di dunia Islam.[]
---=GuN=-- <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Meneropong Pergerakan Hizbut Tahrir
Saya kirimkan wawancara Harian Bangsa dengan
KH. Ghazali Said, cendekiawan muslim yang banyak mengamati gerakan
Islam radikal. Beliau juga Pengasuh pesantren mahasiswa An-Nur
Wonocolo Surabaya, pernah studi di Mesir. Beberapa waktu lalu, saya juga
mengirimkan komentar KH Hasyim Muzadi, bahwa khilafah itu bukan gerakan agama,
tapi gerakan politik.
Selamat membaca
Salam
-Guntur-
Berikut wawancara lengkapnya:
www.harianbangsa.com
Harian Bangsa
Di Yordan, Organisasi Terlarang
Meneropong Pergerakan Hizbut Tahrir (1)
Beberapa kiai NU belakangan ini mengaku didatangi
aktivis Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Para aktivis
HTI itu selain membagikan brosur juga mengajak kiai
masuk kelompok mereka. Diantara kiai itu adalah KH
Ahmad Muhammad Alhammad, pengasuh pesantren Qomaruddin
Bungah Gresik. "Saya katakan kepada mereka, saya ini
NU, tak mungkin ikut paham sampean," kata Yai Mad -
panggilan kiai berparas teduh itu - kepada sejumlah
tamunya suatu ketika. "Brosur-brosurnya ada tapi tidak
saya baca," tuturnya lagi.
Pengurus NU di berbagai daerah, termasuk PWNU Jawa
Timur, juga mengaku sering mendapat pengaduan dari
warga NU soal aktivis HTI yang berusaha mempengaruhi
warga nahdliyin. Bahkan dalam Munas dan Mubes NU di
Asrama Haji Sukolilo Surabaya tempo hari para aktvis
HTI masuk ke kamar-kamar peserta membagikan selebaran.
Jargon mereka - seperti biasa -khalifah sebagai
solusi. Belum lagi beberapa masjid NU yang jadi
sasaran mereka.
Karuan saja banyak kiai penasaran. Gerakan apa
sebenarnya HTI? Bagaimana asal-usulnya? Berikut
wawancara HARIAN BANGSA dengan KH Imam Ghazai Said,
MA, cendekiawan muslim yang banyak mengamati gerakan
Islam radikal. Pengasuh pesantren mahasiswa An-Nur
Wonocolo ini memang sangat paham soal berbagai gerakan
Islam, terutama yang berasal dari Timur Tengah. Ia
selain banyak menulis dan mengoleksi leteratur Islam
aliran keras juga bertahun-tahun studi di Timur
Tengah. Ia mendapat gelar S-1- di Universitas Al-Azhar
Mesir, sedang S-2 di Hartoum International Institute
Sudan. Kemudian ia melanjutkan ke S-3 di Kairo
University Mesir. Kini intelektual muslim ini aktif
sebagai Rois Syuriah PCNU Surabaya dan dosen IAIN
Sunan Ampel Surabaya.
Bisa Anda jelaskan bagaimana sejarah gerakan Islam
aliran keras yang belakangan menjadi perhatian para
kiai NU?
Sebenarnya kelompok besarnya itu Ikhwanul Muslimin
yang pusatnya di Ismailiah, Mesir. Organisasi ini
berdiri pada 1928, dua tahun setelah NU berdiri, NU
kan berdiri 1926. Pendiri Ikhwanul Muslimin Syaikh
Hasan Al-Banna. Menurut saya, pemikiran Syaikh Hasan
Al-Banna ini moderat. Dia berusaha mengakomodasi
kelompok salafy yang wahabi, merangkul kelompok
tradisional yang mungkin perilaku keagamaannya sama
dengan NU dan juga merangkul kelompok pembaharu yang
dipengaruhi oleh Muhammad Abduh. Syaikh Al-Banna
menyatakan bahwa Ikhwanul Muslimin itu harkah
islamiyah, sunniyah, salafiyah, jadi diakomodasi
semua, sehingga ikhwanul muslimin menjadi besar. Dalam
Ikhwanul Muslimin ada lembaga bernama Tandhimul Jihad.
Yaitu institusi jihad dalam struktur Ikhwanul Muslimin
yang sangat rahasia. Kader yang berada dalam Tandhimul
Jihad ini dilatih militer betul, doktrinnya pakai
kesetiaan seperti tarikat kepada mursyid. Ini dibawah
komando langsung Ikhwanul Muslimin. Para militer atau
milisi ini menarik kelompok-kelompok sekuler yang
ingin belajar tentang disiplin militer. Nasser (Gammal
Nasser, red) dan Sadat (Anwar Sadat, red) juga belajar
pada Tandhimul Jihad ini.
Apa Nasser dan Sadat yang kemudian jadi presiden Mesir
itu bagian dari Ikhwanul Muslimin?
Mereka bagian dari militernya, bukan dari ideologi
Ikhwanul Muslimin. Jadi mereka belajar aspek
militernya. Ketika pada 1948 Israel mempermaklumkan
sebagai negara maka terjadi perang. Nah, Tandhimul
Jihad ini ikut perang, dan kelompok ini yang punya
prakarsa-prakarsa. Waktu itu Mesir kan masih dibawah
kerajaan Raja Faruk dan sistemnya masih perdana
menteri, Nugrasi. Tapi akhirnya Arab kalah dan Israel
berdiri. Kemudian Tandhimul Jihad balik lagi ke Mesir.
Nah, dalam kelompok ini ada Taqiuddin Nabhani yang
kemudian mendirikan Hizbut Tahrir. Jadi Taqiuddin itu
awalnya bagian dari Ikhwanul Muslimin. Namun antara
Hasan Al-Banna dan Taqiuddin ini kemudian terjadi
perbedaan. Hasan Al-Banna berprinsip kita terus
melakukan perjuangan dan memperbaiki sumber daya
manusia. Sedang Taqiuddin bersikukuh agar terus
melakukan perjuangan bersenjata, militer. Taqiuddin
berpendapat kekalahan Arab atau Islam karena dijajah
oleh sistem politik demokrasi dan nasionalisme. Sedang
Hasan Al-Banna berpendapat sebaliknya. Menurut dia,
tidak masalah umat Islam menerima sistem demokrasi dan
nasionalisme, yang penting kehidupan syariat Islam
berjalan dalam suatu negara. Pada 1949 Hasan Al-Banna
meninggal karena ditembak agen pemerintah dan dianggap
syahid. Sedang Taqiuddin terus berkampanye di
kelompoknya di Syria, Libanon dan Yordania. Kemudian
Tandhimul Jihad diambil alih Sayid Qutub, ideolognya
Ikhwanul Muslimin. Ia dikenal sebagai sastrawan dan
penulis produktif, termasuk tafsir yang banyak dibaca
oleh kita di Indonesia. Nah, Sayid Qutub ini
mendatangi Taqiuddin agar secara ideologi tetap di
Ikhwanul Muslimin. Tapi Taqiuddin tidak mau karena ia
beranggapan bahwa Ikhwanul Muslimin sudah masuk
lingkaran jahiliyah. Ya, itu menurut Taqiuddin hanya
gara-gara Ikhwanul Muslimin menerima nasionalisme.
Akhirnya Taqiuddin mendirikan Hizbut Tahrir. Artinya,
partai pembebasan. Maksudnya, pembebasan kaum muslimin
dari cengkraman Barat dan dalam jangka dekat
membebaskan Palestina dari Israel. Itu pada mulanya.
Ia mengonsep ideologi khilafah Islamiyah.
Lantas?
Nah, karena ia berideologi khilafah Islamiyah,
sementara di negaranya sendiri telah berdiri negara
nasional, maka akhirnya berbeda dengan masyarakatnya.
Di Lebanon, sudah berdiri negara nasionalis yang multi
karena rakyatnya terdiri dari banyak agama,
undang-undangnya sesuai jumlah penduduknya, misalnya,
presidennya, harus orang Kristen Maronit, Perdana
Menterinya harus orang Islam Sunni, ketua parlemennya
harus orang Islam Syiah. Di Syiria juga telah menjadi
negara sosialis, begitu juga Yordania telah berdiri
sebagai negara sesuai kondisi masyarakatnya. Akhirnya
Hizbut Tahrir itu menjadi organisasi terlarang (OT) di
negara asal berdirinya. Karena ia menganggap
nasionalisme itu sebagai jahiliah modern. Namun meski
menjadi organisasi terlarang Hizbut Tahrir tetap
bekerja dan menyusup ke tentara, ke berbagai
organisasi profesi dan masuk juga ke parlemen. Hizbut
Tahrir masuk ke partai politik dengan menyembunyikan
identitasnya. Dari situlah kemudian terjadi
upaya-upaya untuk melakukan kudeta terhadap pemerintah
yang sah pada jaman Raja Husen. Sehingga sebagian
anggota Hizbut Tahrir diajukan ke pengadilan dan
dihukum mati. Sampai sekarang Hizbut Tahrir masih jadi
organisasi terlarang di Yordania.
Bagaimana sejarahnya sampai ke Indonesia ?
Mereka mengembangkan ke sini melalui mahasiswa yang
belajar di Mesir. Pola ikhwan dikembangkan, pola
Salafy dan pola Hizbut Tahrir dikembangkan. Tapi
antara Ikhwan, Salafy dan Hizbut Tahrir secara
ideologi bertemu, ada kesamaan. Mereka sama-sama ingin
menerapkan formalisasi syariat Islam. Hanya bedanya,
kalau Salafy cenderung ke peribadatan, atau dalam
bahasa lain mengislamkan orang Islam, karena dianggap
belum Islam. Dan target utamanya NU karena dianggap
sarangnya bid' ah.ha.ha.ha. . Bisa saja kelompok
Salafy, Hizbut Tahrir dan Ikwanul Muslimin membantah,
tapi saya tahu karena saya telah berkumpul dengan
mereka.
Kalau Ikhwanul Muslimin?
Sama. Kelompok Ikhwanul Muslimin, menjadikan NU
sebagai target. Mereka bergerak lewat mahasiswanya
yang dinamakan usrah (keluarga). Usrah ini minimal 7
orang, dan maksimal 10 orang. Ini ada amirnya dan amir
inilah yang bertanggungjawab terhadap kelompok.
Bagaimana mengatasi kebutuhan kehidupan sehari-hari
terpenuhi, misalnya kalau ada anggota yang kesulitan
bayar SPP. Jadi mereka tak hanya bergerak di bidang
politik, tapi juga bidang-bidang lain. Nah, kelompok
inilah yang kemudian menamakan diri sebagai Tarbiyah
yang bermarkas di kampus-kampus seperti Unesa dan
sebagainya. Kelompok Tarbiyah inilah yang menjadi
cikal bakal PKS (Partai Keadilan Sejahtera). Mereka
umumnya alumni Mesir, Syiria atau Saudi. Kelompok ini
masih agak moderat karena masih mau menerima negara
nasional. Tapi substansi perjuangan formalisasi
syariat sama dengan Hizbut Tahrir atau Salafy.
Kalau dalam ideologi khilafah Islamiyah?
Hizbut Tahrir katemu dengan Salafy dan Ikhwanul
Muslimin dalam soal formalisasi syariat. Tapi dari
segi sistem khilafahnya tidak ketemu. Sebab khilafah
Islamiyah itu dianggap utopia. Misalnya bagaimana
denganya sistem Syuronya, apakah meniru sistem Turki
Utsmani yang diktator atau Umayah, itu masih problem.
Tapi bagi Hizbut Tahrir yang penting khilafah
Islamiyah.
Apa saja program Hizbut Tahrir?
Mereka sampai kini punya konstitusi yang terdiri dari
187 pasal. Dalam konstitusi ini ada program-program
jangka pendek. Yaitu dalam jangka 13 tahun, menurut
Taqiuddin, sejak berdiri 1953, Negara Arab itu sudah
harus jadi sistem Islam dan sudah ada khalifah.
Taqiuddin juga menarget, setelah 30 tahun dunia Islam
sudah harus punya khalifah. Tapi kalau kita hitung
sejak tahun 1953 sampai sekarang kan tidak
teralisir.he. .he..he.. Jadi utopia, tapi mereka masih
semangat.
Bagaimana sejarah Hizbut Tahrir ke Indoneisia?
Itu melalui orang Libanon. Namanya Abdurrahman
Al-Baghdadi. Ia bermukim di Jakarta pada tahun 80-an.
Kemudian juga dibawa Mustofa bin Abdullah bin Nuh.
Inilah yang mendidik tokoh-tokoh HTI di Indonesia
seperti Ismail Yusanto, tokoh-tokoh Hizbut Tahrir
sekarang. Tapi sebenarnya diantara mereka ada friksi.
Karena tokoh-tokoh HTI yang sekarang merasa dilangkahi
oleh Ismail Yusanto ini.
Bagaimana gerakan mereka di Indonesia?
Ini anehnya. Di Indonesia mereka terus terang
menganggap Pancasila jahiliah. Nasionalisme bagi
mereka jahiliah. Tapi reformasi kan memberi angin
kepada kelompok-kelompok ini sehingga dibiarkan saja.
Dan tidak ada dialog. Akhirnya mereka memanfaatkan
institusi (seolah-olah) "mendukung" pemerintah untuk
mempengaruhi MUI (Majelis Ulama Indonesia). Tapi
mereka taqiah (menyembunyikan agenda perjuangan
aslinya), sebab mereka menganggap Indonesia itu
sebenarnya jahiliah. Taqiah itu ideologi Syiah tapi
dipakai oleh mereka.
Nah, bagaimana respon tokoh Hizbut Tahrir? Ikuti
lanjutan serial ini besok
dan seterusnya (bersambung)
Boleh Cium Perempuan Bukan Muhrim
Meneropong Pergerakan Hizbut Tahrir (2)
Lalu bagaima cara Hizbut Tahrir merealisasikan
kepentingan politiknya?
Meski bernama partai, Hibut Tahrir, tak bisa ikut
pemilu. Hizbut Tahrir membentuk beberapa tahapan dalam
menuju pembentukan khilafah Islamiah. Pertama, taqwin
asyakhsyiah islamiah, membentuk kepribadian Islam.
Mereka pakai sistem wilayah, karena gerakan mereka
internasional. Jadi untuk Indonesia wilayah Indonesia.
Tapi sekarang pusatnya tak jelas, karena di negaranya
sendiri sangat rahasia. Mereka dikejar-kejar karena
Hizbut Tahrir ini organisasi terlarang. Tapi mereka
sudah ada di London, Austria, di Jerman dan
sebagainya.
Siapa tokoh internasionalnya itu?
Nah itu rahasia. Tapi di sini mereka terbuka karena
Indonesia memberi peluang. Ada Ismail Yusanto dan
sebagainya, jadi bisa muncul di media massa. Nah, dari
taqwin syahsyiah islamiah ini bagaimana bisa mengubah
ideology nasionalis menjadi internasionalis Islam.
Mereka agresif, jadi terus menyerang. Karena itu
orang-orang NU didatangi, termasuk kiai-kiainya
didatangi oleh mereka. Kedua, attau'iyah, penyadaran.
Ketiga, at-ta'amul ma'al ummah, interaksi dengan
masyarakat secara keseluruhan. Mereka membantu
kepentingan- kepentingan. Saya dengar di Surabaya, di
Unair dan ITS saja, dalam urunan mereka bisa
menghasilkan uang Rp 30 juta tiap bulan. Keempat,
harkatut tatsqif, gerakan intelektualisasi. Ini
diajari bagaimana menganalisa hubungan internasional,
mempelajari kejelekan-kejelekan ideologi kapitalisme.
Pokoknya yang ideologi modern itu mereka serang semua.
Mereka melontarkan Islam sebagai solusi atau
alternatif. Ini beda dengan Ikhwanul Muslimin dan
Tarbiah Islamiah yang kemudian menjelma sebagai PKS.
Sebab Ikhwanul Muslimin agak fleksibel. Kasus di
Syria, di bawah Mustofa as-Syiba'i, ketika ideologi
pemerintahannya sosialisme, mereka ikut sosialis. Ia
mencari landasan hukum bahwa sosialisme itu benar
menurut Islam. Maka Mustofa as-Syiba'i menulis buku
Istiroqiyah Islamiah, jadi sosialisme Islam.
Tapi Hizbut Tahrir di Indonesia kan pendukung PKS?
Kalau dukungan iya, tapi secara formal mereka tidak.
Ya, mungkin ada kesamaan dalam perjuangan yang
terbatas.
Lalu tahapan apalagi?
Yang terakhir, at-taqwin daulah islamiah, membentuk
Negara Islam. Sarananya apa? Biwasailil jihad, dengan
sarana jihad. Jadi bagi negara nasional, gerakan
mereka, menurut saya, bahaya. Karena gerakan
selanjutnya adalah istilamul hukmi, merebut kekuasaan.
Meskipun utopia tapi kalau mereka pakai cara-cara
kekerasan, kan berat. Karena mereka didoktrin dan
pengikutnya muda-muda semua. Misalnya, mahasiswa
semester 2 atau 3. Bahkan santri saya datang ke saya,
ia bilang diajak Hizbut Tahrir. Saya persilakan. Tapi
saya sendiri pernah diprotes oleh Hizbut Tahrir.
Kenapa?
Saya kan pernah bilang, bahwa pendapat ijtihadi Hizbut
Tahrir ada yang kontroversial. Misalnya pendapat
fiqhnya menyatakan bahwa anggota Hizbut Tahrir itu
sebenarnya boleh non-muslim. Ini kan kontroversi.
Kemudian, menurut Hizbut Tahrir, perempuan boleh jadi
anggota parlemen. Kalau di Arab ini kontroversi. Lalu
juga - menurut Hizbut Tahrir - boleh melihat film
porno. Kemudian, ini yang menarik, menurut Hizbut
Tahrir, boleh mencium perempuan bukan muhrim, baik
syahwat maupun tidak syahwat. Begitu juga salaman
dengan perempuan, boleh. Tapi mereka (aktivis Hizbut
Tahrir) membantah. Waktu di NU Centre, mereka
membantah karena saya menyatakan menurut paham Hizbut
Tahrir boleh salaman dengan perempuan bukan muhrim.
Mereka tanya, masak Hizbut Tahrir membolehkan ciuman
dengan cewek bukan muhrim. Padahal setelah saya lihat
dalam buku mereka ini (Imam Ghazali Said menunjukkan
buku) memang boleh. Berikutnya, perempuan boleh
berpakaian celana yang untuk kawasan Timur Tengah
dianggap kontroversi. Juga boleh orang kafir menjadi
panglima di Negara Islam, bahkan jadi khalifah
sekalipun, asal dia taat pada undang-undang Islam.
Kemudian juga boleh umat Islam membayar jizyah (pajak)
kepada Negara kafir dalam kondisi umat Islam belum
kuat.
Respon mereka?
Lha, ini nggak benar, kata mereka. Kata mereka, yang
bicara begini ini harus Hizbut Ttahrir. Lalu saya
bilang, saya kan punya data autentik. Ini tulisan
syaikh Anda sendiri, Taqiuddin Nabhani (pendiri Hizbut
Tahrir). Daulah Islamiyah. Saya sebagai guru kan tak
boleh bohong. Sekarang mahasiswa tak bisa dibohongi.
Mereka bisa akses informasi kemana-mana sehingga kita
tak bisa nutup-nutupi. Katanya mereka (aktivis Hizbut
Tahrir) mau kesini, mau lihat buku ini. Saya bilang
boleh, tapi cukup difoto kopi. Kalau buku ini dibawa
jangan, nanti hilang.
Apa kira-kira dasar Hizbut Tahrir membolehkan cium
cewek segala itu?
Di sini tak dijelaskan alasannya. Tapi perkiraan saya
agar orang Islam dapat dukungan dalam mendirikan
khilafah, maka tak boleh terlalu ketat. Tapi menurut
saya sampai sekarang belum ada tanda-tanda mereka akan
bisa mendirikan khilafah. Karena kalau terlalu ketat
mereka tak bisa mendapat dukungan internasional.
Padahal mereka orientasinya internasional. Karena itu
kampanye mereka sekarang tidak boleh mengkafirkan
sesama muslim. Padahal ideologinya mereka kafirkan.
Nasionalisme mereka kafirkan. (bersambung)
Abu Jahal juga Berjenggot dan Bersorban
Meneropong Pergerakan Hizbut Tahrir Indonesia (3)
Pengurus DPD I Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Jawa
Timur dan DPD II Surabaya kemarin silaturahim ke
redaksi HARIAN BANGSA. Mereka mengklarifikasi beberapa
pernyataan KH Imam Ghozali Said. Mereka yang kemarin
ditemui jajaran redaksi terlibat dialog secara
intensif dan gayeng. Beberapa kali terdengar
ger-geran. Bagaimana tanggapan mereka? Tunggu saja.
Redaksi akan menurunkan tanggapan mereka setelah
wawancara dengan Imam Ghazali Said usai.
Berikut ini lanjutan wawancara dengan Imam Ghazali
Said.
Bagaimana pandangan mereka soal fiqh?
Ada pemikiran begini. Apakah negara yang pakai sistem
jahiliah itu perlu fiqh. Padahal fiqh itu adalah hukum
Islam yang harus dilaksanakan dalam pemerintahan yang
Islam. Ini terjadi perdebatan antara Sayid Qutub dan
Wahbah Zuhaili. Dr Wahba ini orang Syria yang kitabnya
jadi kutub muktabarah di NU. Dalam ICIS tempo hari
Wahba ini datang. Sayid Qutub ini asalnya kan seorang
hakim. Tapi, ketika dia masih jadi hakim ia masih
menganggap penting system khlafah. Menurut Sayid Qutub
dan Taqiuddin Nabhani, fiqh tidak perlu dipelajari
atau dipraktikkan sepanjang suatu negara belum
melaksanakan sistem Islam. Sedang Wahba Zuhaili
menganggap bahwa fiqh adalah suatu keniscayaan. Ini
jadi polemik. Menurut Wahba, orang Islam harus belajar
fiqh, baik negaranya Islam maupun tidak Islam. Jadi
menurut Wahba tidak hanya sistem pemerintahan saja,
tapi bagaimana orang nikah, orang salat, muamalah,
semua itu kan fiqh yang ngatur. Tapi menurut Sayid
Qutub dan Taqiuddin Nabhani tidak perlu itu. Yang
penting bagaimana memperjuangkan menegakkan
pemerintahan Islam, baru setelah itu fiqh. Karena itu
meski buku-buku atau tulisan Sayid Qutub banyak tapi
tak ada fiqhnya. Semua buku-buku dia bernuansa
politik. Misalnya pertarungan Islam dan kapitalisme
dan sebagainya.
Dari penjelasan Anda ini tampak bahwa aktivis HTI
sendiri kemungkinan banyak yang belum paham tentang
pemikiran Taqiuddin Nabhani sebagai pendirinya?
Begini. Mereka itu ada jubirnya, jadi informasi dan
pemikiran yang keluar diatur. Jadi referensi mereka
tidak terbuka.
Berarti ada beberapa pemikiran yang disembunyikan bagi
pengikutnya?
Ya, padahal kondisi sekarang kan sudah tidak bisa
model begitu. Seperti saya kan tidak bisa mengelabuhi
mahasiswa saya. Karena mahasiswa saya bisa mengakses
literatur primer. Kecuali anggotanya bodoh-bodoh. Kan
kasihan kalau anggotanya bodoh-bodoh. Karena itu
ketika saya menyampaikan informasi yang benar dari
sumber primer lalu dikira keliru oleh mereka. Ya, ndak
bisa, wong saya punya sumber primer. Mereka katanya
mau melihat sumber primer ini.
Maksudnya sengaja disembunyikan?
Bisa saja dianggap aib dan kalau itu dimunculkan
pasarnya bisa tidak laku. Karena itu disembunyikan.
Tapi pada era sekarang mana bisa disembunyikan.
Lha,wong, di tiga negara, di Libanon, Syria dan
Yordan, Hizbut Tahrir itu jadi organisasi terlarang.
Di Mesir juga jadi organisasi terlarang karena mau
menggulingkan pemerintahan yang sah. Jadi mereka
gampang terseret pada aksi kekerasan. Karana itu
anak-anak muda NU jangan mudah terprovokasi ikut
mereka.
Tapi dalam hal-hal tertentu kan ada juga beberapa
kesamaan dengan NU?
Ya, mungkin ada kesamaan. Qur'annya satu, Nabinya satu
(Muhammad), karena itu kita tak bisa saling
menyesatkan sebab masing-masing punya pandangan
keagamaan yagn berbeda. Jadi ada hal yang sama dan ada
hal yang beda. Artinya, bidang-bidang yang dikerjakan
NU ya serahkan kepada NU, sedang bidang-bidang bagian
mereka ya serahkan mereka. Ini tidak akan berbenturan.
Jadi jangan mencaplok. Sudahlah yang bagian khilafah
sampean (Hizbut Tahrir), carilah pengikut tapi jangan
di NU. Mestinya orang-orang kafir diupayakan jadi
basis pendukung, misalnya.
Kalau kelompok Salafy?
Mereka bergerak dalam bidang pendidikan. Misalnya LPBA
(Lembaga Pendidikan Bahasa Arab) yang sekarang menjadi
Lembaga Ilmu Keislaman cabang dari Jamiatul Imam
Riyadh. Ini dibiayai dari sana sangat besar.
Sebenarnya orang-orang seperti Ulil (Ulil Abshar
Abdalla, red), Imdad dan sebagainya alumni LPBA ini.
Lah, mereka ketemu dengan Rofik Munawar yang dulu
ketua PKS Jawa Timur. Anis Matta (sekjen PKS) itu juga
teman Ulil di LPBA. Mereka dulu alumni situ. Hanya
saja ada yang kemudian terbawa dan larut dalam salafy
seperti Anis Mattta, tapi ada yang nggak, ya kayak
Ulil itu. Kalau Anis Matta terbawa Salafy tapi pola
politiknya ikut Ikhwanul Muslimin. Kelompok Salafy ini
sangat puritan. Jadi tahlilan, dibaan, ziarah kubur,
mereka sangat tidak mau. Mereka menganggap itu syirik.
Nah, disinilah, dalam bidang peribadatan itu, kelompok
PKS ketemu dengan Salafy. Sedang orang-orang seperti
Ulil, Imdad dan anak-anak pesantren yang sekolah di
LPBA melakukan pemberotakan. Mereka menganggap (paham
Salafy) itu tak cocok dengan budaya saya (Ulil cs)
yang NU. Akhirnya mereka melanjutkan ke ilmu-ilmu
filsafat, sosial dan sebagainya, termasuk belajar ke
Magnez Suseno di Driyarkara. Kemudian berkomunikasi
dengan Nurcholis Madjid, ketika Nurcholis masih ada
(hidup). Nah, dalam diri Ulil cs ini kemudian
terbentuklah suatu sosok yang berasal dari pola
radikal (Salafy), ketemu dengan ilmu-ilmu sosial,
ketemu dengan Nurcholis Madjid, ketemu dengan Gus Dur
dan sebagainya. Jadi mereka ini meramu dari berbagai
unsur itu sehingga jadilah orang seperti Ulil, Hamid
Basyaib, Luthfi Syaukani, Muqsith (Abd Moqsith
Ghazali, Red.), dan sebagainya.
Apa ada kesamaan dalam soal simbol-simbol pakaian di
antara mereka?
Ya, memang ada kesamaan, baik kelompok Hizbut Tahrir,
Tarbiah (PKS) maupun Salafy. Misalnya pakai celana
cingkrang, berjenggot dan sebagainya. Tapi semua
kelompok ini sama menyerang NU.
O, ya bagaima sebenarnya sebenarnya soal pakaian itu
menurut Islam?
Menurut mereka, Nabi itu jenggotan. Abdul Aziz, tokoh
Salafy, itu menulis tentang membiarkan jenggot.
Menurut dia, kalau orang mencukur jenggot dianggap
tabi'ul hawa, mengikuti hawa nafsu. Jadi menurut
mereka memahami sunnah Rasul itu apa saja diikuti,
termasuk cara berpakaian. Tapi kalau NU kan tidak
begitu cara memahami sunnah Rasul. Paling tidak, NU
terdidik memahami sunnah Rasul itu dalam arti
substantif, misalnya soal peribadatan. Tapi kalau soal
pakaian kalangan NU yang terdidik menganggap itu
sebagai budaya. Misalnya soal sorban. Nabi memang
bersorban tapi harus diingat Abu Jahal dulu juga
sorbanan. Begitu juga soal jenggot. Kalangan NU
terdidik menganggap itu sebagai budaya. Karena Abu
Jahal pun juga jenggotan. Masak orang nggak punya
jenggot disuruh memelihara jenggot. Ada orang yang
jenggotnya hanya tiga helai atau tiga lembar itu
disuruh pelihara..kan lucu.ha.ha.ha.
Kalau soal celana mereka yang cingkrang?
Kan ada dalam hadits Nabi bahwa kalau pakaian orang
itu nglembreh ke kakinya dianggap huyala, sombong.
Padahal dulu pakaian Abu Bakar juga ngelembreh,
panjang ke bawah tapi tidak dianggap sombong. Waktu
itu Abu Bakar tanya, apakah saya ini juga dianggap
sombong karena pakaian saya ngelembreh. Lalu dijawab,
o, tidak, karena Abu Bakar memang tidak sombong, meski
pakaiannya nglembreh. Karena tubuh Abu Bakar kurus,
jadi sudah wajar kalau pakaiannya dipanjangkan sampai
nglembreh. Karena itu menurut kalangan NU, pakaian itu
dianggap sebagai budaya. Masak orang pakai kopyah
hitam dianggap bid'ah hanya karena Nabi tak pernah
pakai kopyah hitam. Kan waktu itu belum ada perusahaan
kopyah Gresik ha.ha.. Nah, disini lalu semua menyerang
NU. Jadi mereka semua, Hizbut Tahrir, Tarbiyah dan
Salafy itu sama menyerang NU. Menurut mereka, yang
dimaksud ahlussunnah itu adalah versi Ibnu Taymiah,
bukan paham versi Asy'ari. Dalam buku-buku mereka
paham Asy'ari itu dianggap sesat. Padahal NU kan
menganut paham Asy'ari.
Jihad untuk Negara Nasional
Ada yang berpendapat, kalau niat mereka untuk dakwah,
kenapa mereka kok tidak merekrut komunitas lain yang
belum beragama, misalnya. Kalau jamaah NU kan hasil
jerih payah para wali songo dan ulama kultural, kenapa
mereka tidak cari kreasi sendiri agar tidak
menimbulkan konflik sesama umat Islam?
Ya, karena mereka mau mengislamkan orang Islam. Jadi
kita yang sudah Islam ini harus diislamkan lagi.ha.ha
..
Jadi iman umat Islam masih perlu diadili. Berarti
mereka merasa paling Islam?
O, ya, mereka memang merasa paling Islam. Karena itu
harus kita pahami itu. Kalau sikap saya tetap harus
moderat. Sepanjang mereka tidak menyerang kita ya kita
nggak apa-apa. Tapi mereka menyerang kita, ya kita
harus melawan. Karena itu di beberapa tempat seperti
di NTT, Jember, kita lawan karena mereka sudah
menyerang kita. Di Purwokerto misalnya orang NU
dianggap sesat. Saya kan kesana, orang NU di sana
dianggap dlalal finnar, masuk neraka.ha..ha. . ya
kelompok Salafy itu. Jadi yang menyerang NU dalam
peribadatan itu kelompok Salafy, sedang yang menyerang
NU dari segi politik kelompok Hizbut Tahrir dan
Tarbiyah (PKS). Jadi orang NU itu harus sadar, bahwa
sekarang mereka diserang dari berbagai arah.
Jadi secara paradigmatik maupun aksi memang beda
sekali dengan NU?
Sejak Gus Dur mimpin NU kan membuka cakrawala baru di
kalangan anak-anak muda NU. Gus Dur mengevaluasi bahwa
formalisasi syariat ternyata selalu gagal, karena itu
Gus Dur membuka wacana baru Islam sebagai etika soial.
Dan ini kemudian menjadi gaung NU sampai sekarang,
walau belakangan NU diutik dengan formalisasi syariat.
Tapi Pak Hasyim Muzadi dalam berbagai wawancara
menyatakan tidak memperjuangkan Islam seperti teksnya
tapi yang diperjuangkan adalah ruhnya. Bisa saja KUHP
seperti sekarang tapi ruh Islam ada di situ. Nah,
dalam hal ini pengaruh Gus Dur sangat besar. Tapi di
struktural NU sekarang kan dilakukan pembersihan
terhadap kelompok-kelompok Gus Dur. Di Lakpesdam,
Imdad (M Imaduddin Rahmat, red) bilang kepada saya
bahwa dia hanya ditaruh sebagai pemimpin redaksi
Tashwirul Afkar. Tapi di struktur Lakpesdam ia sudah
tak masuk. Tapi untuk membersihkan orang-orang Gus Dur
secara total tidak bisa. Karena pengurus NU yang
pandai-pandai adalah "didikan" Gus Dur. Paling tidak,
secara visi keagamaan sama karena sebelumnya pernah
lama berinteraksi dengan Gus Dur. Misalnya Endang
Turmudzi, Sekjen PBNU. Dia kan orang LIPI. Kemudian
Nazaruddin Umar, Katib Aam Syuriah. Nah, ketika
berhubungan dengan dunia internasional,
kelompok-kelompok "didikan" Gus Dur inilah yang bisa
berkomunikasi. Jadi meski mereka ini dibenci tapi
tetap dibutuhkan. Misalnya ada Masdar dan sebagainya.
Dan mereka inilah yang mengerti persoalan yang
dihadapi NU ke depan dalam menghadapi
kelompok-kelompok Islam radikal itu.
Bisa dijelaskan soal NU dalam kontek negara nasional?
NU fiqh mainded. Fiqh siyasi (politik) di NU kurang
berkembang. Fiqh yang dikembangkan NU adalah fiqh
dalam kontek negara nasional. Ketika Kiai Hasyim
Asy'ari (pendiri NU, red) mengeluarkan fatwa resolusi
jihad Negara Indonesia dalam kondisi bukan negara
agama. Karena saat itu kalimat menjalankan syariat
Islam sudah dihapus kemudian Belanda datang lagi
akhirnya Kiai Hasyim Asy'ari mengeluarkan fatwa jihad.
Jadi Negara yang dipertahankan waktu itu negara
"sekuler" kan. Jadi NU tak bisa lepas dari negara
nasionalis atau sebagai nasionalis. Nah, fatwa jihad
Kiai Hasyim itu merupakan fatwa pertama di dunia Islam
yang mempertahankan negara nasionalis. Belum ada
ketika itu ulama yang berfatwa kewajiban jihad untuk
mempertahankan Negara nasionalis. Jadi Kiai Hasyim
Asy'ari itu pelopor pertama.
Apa kira-kira dasar pemikirannya?
Mungkin bagi Kiai Hasyim yang terpenting Indonesia
merdeka dulu. Apalagi bangsa Indonesia mayoritas umat
Islam. Ini yang harus diutamakan. Jadi Kiai Hasyim
membuat fatwa untuk mengusir penjajah dan
mempertahankan negara nasional. Nah, ini bagi wacana
pemikiran internasional seperti orang-orang yang
menginginkan sistem kahalifah kontroversi. Perjuangan
NU berikutnya, dalam sejarahnya, seluruhnya selalu
terkait dengan negara. Soekarno, misalnya, diberi
gelar waliyul amri dlaruri bissyaukah. Jadi pemerintah
darurat yang mempunyai kekuatan. Ini asalnya kan
diberi oleh konfrensi ulama di Cipanas 1954. Kemudian
pada 1956 oleh NU dianggap sah. Ini artinya apa?
Karena dikaitkan dengan fiqh? Sebab perempuan yang
tidak punya wali dalam pernikahan walinya harus
Sulthon. Padahal hadits as-sultonu waliyu man laa
waliya lah. Sulthon itu adalah wali bagi orang yang
tak punya wali. Kalau Sulthon ini tidak diberi
legitimasi sesuai syariat kan tidak sah Sulthon ini.
Jadi ini terkait dengan fiqh maka negara walau sekuler
harus diakui sah menurut syariah. Nah, cara berpikir
ini saya kira cerdas. Kalau nggak gimana. Sulthon itu
siapa, padahal kalau orang kawin harus mencatatkan
diri ke situ. Nah, itulah NU. Tapi ini kemudian
disalahpahami oleh kelompok Islam modernis. Dikira NU
itu oportunis pada negara karena memberi legitimasi.
Padahal sebenarnya ini terkait dengan fiqh.
Faktor lain?
Faktor kedua memang pada tahun 50-an itu Kartosuwirjo
sedang mengadakan pemberontakan. Nah, pemberian gelar
waliyul amri dlaruri bissyaukah itu sebagai legitimasi
pada Soekarno agar bisa mengatasi gerakan
pemberontakan itu. Tapi inti NU itu sebenarnya pada
fiqh urusan perkawinan tadi itu, bukan pada fiqh
siyasahnya (politik). Selanjutnya perjuangan NU terus
berkait dengan negara nasionalisme. Ini yang harus
dipahami oleh kelompok-kelompok baru ini seperti
Hizbut Tahrir dan sebagainya itu. (Bersambung)
Selasa 29 Agustus 2006 9:55:56 WIT
NU Dianggap Masuk Neraka
Meneropong Pergerakan Hizbut Tahrir Indonesia (4)
Dalam edisi kemarin ada beberapa nama dan kutipan
salah tulis. Misalnya di situ tertulis Dr Wahba
Suhairi. Yang benar adalah Dr Wahbah Zuhaily. Begitu
juga Sayid Qutub tertulis sebagai hakim. Yang benar,
Taiqiuddin an-Nabhani asalnya seorang hakim, sedang
Sayid Qutub seorang sastrawan. Redaksi mohon maaf
kepada Pembaca. Pembetulan ini sekaligus sebagai
ralat. Berikut lanjutan wawancara dengan KH Imam
Ghozali Said, MA.
Ada yang berpendapat, kalau niat mereka untuk dakwah,
kenapa mereka kok tidak merekrut komunitas lain yang
belum beragama, misalnya. Kalau jamaah NU kan hasil
jerih payah para wali songo dan ulama kultural, kenapa
mereka tidak cari kreasi sendiri agar tidak
menimbulkan konflik sesama umat Islam?
Ya, karena mereka mau mengislamkan orang Islam. Jadi
kita yang sudah Islam ini harus diislamkan lagi.ha.ha
..
Jadi iman umat Islam masih perlu diadili. Berarti
mereka merasa paling Islam?
O, ya, mereka memang merasa paling Islam. Karena itu
harus kita pahami itu. Kalau sikap saya tetap harus
moderat. Sepanjang mereka tidak menyerang kita ya kita
nggak apa-apa. Tapi mereka menyerang kita, ya kita
harus melawan. Karena itu di beberapa tempat seperti
di NTT, Jember, kita lawan karena mereka sudah
menyerang kita. Di Purwokerto misalnya orang NU
dianggap sesat. Saya kan kesana, orang NU di sana
dianggap dlalal finnar, masuk neraka.ha..ha. . ya
kelompok Salafy itu. Jadi yang menyerang NU dalam
peribadatan itu kelompok Salafy, sedang yang menyerang
NU dari segi politik kelompok Hizbut Tahrir dan
Tarbiyah (PKS). Jadi orang NU itu harus sadar, bahwa
sekarang mereka diserang dari berbagai arah.
Jadi secara paradigmatik maupun aksi memang beda
sekali dengan NU?
Sejak Gus Dur mimpin NU kan membuka cakrawala baru di
kalangan anak-anak muda NU. Gus Dur mengevaluasi bahwa
formalisasi syariat ternyata selalu gagal, karena itu
Gus Dur membuka wacana baru Islam sebagai etika soial.
Dan ini kemudian menjadi gaung NU sampai sekarang,
walau belakangan NU diutik-utik dengan formalisasi
syariat. Tapi Pak Hasyim Muzadi dalam berbagai
wawancara menyatakan tidak memperjuangkan Islam
seperti teksnya tapi yang diperjuangkan adalah ruhnya.
Bisa saja KUHP seperti sekarang tapi ruh Islam ada di
situ. Nah, dalam hal ini pengaruh Gus Dur sangat
besar. Tapi di struktural NU sekarang kan dilakukan
"pembersihan" terhadap kelompok-kelompok Gus Dur. Di
Lakpesdam, misalnya, Imdad (M Imdaduddin Rahmat, red)
bilang kepada saya bahwa dia hanya ditaruh sebagai
pemimpin redaksi Jurnal Tashwirul Afkar. Tapi di
struktur Lakpesdam ia sudah tak masuk. Tapi untuk
membersihkan orang-orang Gus Dur secara total tidak
bisa. Karena pengurus NU yang pandai-pandai adalah
"didikan" Gus Dur. Paling tidak, secara visi keagamaan
sama karena sebelumnya pernah lama berinteraksi dengan
Gus Dur. Misalnya Endang Turmudzi, Sekjen PBNU. Dia
kan orang LIPI. Kemudian Nazaruddin Umar, Katib Aam
Syuriah. Nah, ketika berhubungan dengan dunia
internasional, kelompok-kelompok "didikan" Gus Dur
inilah yang bisa berkomunikasi. Jadi meski mereka ini
dibenci tapi tetap dibutuhkan. Misalnya ada Masdar (KH
Masdar Faid Mas'udi, Red) dan sebagainya. Dan mereka
inilah yang mengerti persoalan yang dihadapi NU ke
depan dalam menghadapi kelompok-kelompok Islam radikal
itu.
Bisa dijelaskan soal NU dalam kontek negara nasional?
NU fiqh minded. Fiqh siyasi (politik) di NU kurang
berkembang. Fiqh yang dikembangkan NU adalah fiqh
dalam kontek negara nasional. Ketika Kiai Hasyim
Asy'ari (pendiri NU, red) mengeluarkan fatwa resolusi
jihad, Negara Indonesia dalam kondisi bukan negara
agama. Karena saat itu kalimat "menjalankan syariat
Islam.." sudah dihapus. Kemudian Belanda datang lagi
akhirnya Kiai Hasyim Asy'ari mengeluarkan fatwa jihad.
Jadi Negara yang dipertahankan waktu itu negara
"sekuler" kan. Jadi NU tak bisa lepas dari negara
nasionalis atau sebagai nasionalis. Nah, fatwa jihad
Kiai Hasyim itu merupakan fatwa pertama di dunia Islam
yang mempertahankan negara nasionalis. Belum ada
ketika itu ulama yang berfatwa kewajiban jihad untuk
mempertahankan Negara nasionalis. Jadi Kiai Hasyim
Asy'ari itu pelopor pertama.
Apa kira-kira dasar pemikirannya?
Mungkin bagi Kiai Hasyim yang terpenting Indonesia
merdeka dulu. Apalagi bangsa Indonesia mayoritas umat
Islam. Ini yang harus diutamakan. Jadi Kiai Hasyim
membuat fatwa untuk mengusir penjajah dan
mempertahankan negara nasional. Nah, ini bagi wacana
pemikiran internasional - seperti orang-orang yang
menginginkan sistem khalifah - kan kontroversi. Begitu
juga perjuangan NU berikutnya, dalam sejarahnya,
seluruhnya selalu terkait dengan negara. Soekarno,
misalnya, diberi gelar waliyul amri dlaruri bissyaukah
(pemerintah darurat yang mempunyai kekuatan). Ini
asalnya kan diberi oleh konfrensi ulama di Cipanas
1954. Kemudian pada 1956 oleh NU dianggap sah. Ini
artinya apa? Karena dikaitkan dengan fiqh. Sebab
perempuan yang tidak punya wali dalam pernikahan
walinya harus Sulthon. Dasarnya adalah hadits
as-sultonu waliyu man laa waliya lah. Sulthon itu
adalah wali bagi orang yang tak punya wali. Kalau
Sulthon ini tidak diberi legitimasi sesuai syariat kan
tidak sah Sulthon ini. Jadi ini terkait dengan fiqh,
maka negara walau sekuler harus diakui sah menurut
syariah. Nah, cara berpikir ini saya kira cerdas.
Kalau nggak gimana nasib perkawinan itu. Sulthon itu
siapa, padahal kalau orang kawin harus mencatatkan
diri ke situ. Nah, itulah NU. Tapi ini kemudian
disalahpahami oleh kelompok Islam modernis. Dikira NU
itu oportunis pada negara karena memberi legitimasi.
Padahal sebenarnya ini terkait dengan fiqh.
Faktor lain?
Faktor kedua memang pada tahun 50-an itu Kartosuwirjo
sedang mengadakan pemberontakan. Nah, pemberian gelar
waliyul amri dlaruri bissyaukah itu sebagai legitimasi
pada Soekarno agar bisa mengatasi gerakan
pemberontakan itu. Tapi inti NU itu sebenarnya pada
fiqh urusan perkawinan tadi itu, bukan pada fiqh
siyasahnya (politik). Selanjutnya perjuangan NU terus
berkait dengan negara nasionalisme. Ini yang harus
dipahami oleh kelompok-kelompok baru seperti Hizbut
Tahrir dan sebagainya itu. (Bersambung)
Siapa Amir-nya di Indonesia?
Meneropong Pergerakan Hizbut Tahrir Indonesia (5)
Dengan demikian, bisa dijelaskan perbedaan antara NU
dan HTI?
Ya. NU berdiri tahun 1926 dalam proses menuju
pembentukan negara Indonesia. Sedang Hizbut Tahrir
(HT) berdiri ketika nation state di tempat ia berdiri
telah terbentuk, yaitu tahun 1953. Dari segi latar
belakang waktu yang berbeda ini, dipahami bahwa sejak
awal NU memberi saham besar terhadap pembentukan
nation state yang kemudian menjadi negara Indonesia
merdeka. Sedang HT berhadapan dengan negara yang sudah
terbentuk. Maka wajarlah, jika HT menganggap bahwa
nasionalisme itu sebagai jahiliyah. Karena mereka
anggap menjadi penghalang dari pembentukan
internasionalisme Islam, apalagi nasionalisme tersebut
tidak memberlakukan syariat Islam dan lebih banyak
mengadopsi sistem hukum sekuler Barat. NU menerima
sistem hukum penjajah dalam keadaan darurat. Karena
negara tidak boleh kosong dari hukum. Selanjutnya, NU
berjuang agar hukum yang berlaku di negara ini bisa
menjadikan fikih sebagai salah satu sumber dari hokum
nasional kita. Dari situ, NU ikut ambil saham dalam
penerapan UU Perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam
(KHI) yang saat ini berlaku di Indonesia. Tentu HT
belum punya saham dalam memperjuangkan hukum Islam di
negara nasional ini, sehingga tidak logis jika HT
langsung menentang negara nasional ini gara-gara tidak
memberlakukan syariah Islam secara kaffah. Jadi,
perjuangan NU dalam menegakkan syariah baik sebagai
etika social maupun sebagai hukum formal tidak bisa
diletakkan di luar NKRI. Karena NKRI ini didapat
dengan perjuangan para syuhada yang gugur pada
prakemerdekaan maupun pascakemerdekaan. Pendek kata,
NU tidak bisa terpisah dari negara nasional ini.
Mestinya, suatu ormas dapat diakui legal di negara ini
harus terdaftar di Depkum HAM. Apakah ini berlaku bagi
HTI?
Nah itu masalahnya. Saya tidak tahu. Yang jelas, HTI
dapat leluasa melakukan kegiatan pascareformasi. Tapi
jika dilihat dari semua kegiatan yang dilakukan,
tampaknya HTI belum mengantongi izin sebagai ormas.
Karena jika nanti dipelajari tujuan berdirinya ormas
ini oleh pemerintah, pasti ormas ini dilarang karena
menentang konstitusi negara. Hal seperti itu yang
terjadi di Yordan, Syiria, Libanon, Malaysia, dan
lain-lain. Jadi, HT di semua negara itu menjadi
organisasi bawah tanah. Indikator ini tampaknya ada di
Indonesia. Buktinya, tidak jelas siapa Amirnya. Yang
tampak itu Ismail Yusanto sebagai juru bicara. Atau di
Jawa Timur itu siapa Amirnya? Yang kelihatan dr Usman
sebagai humas atau jubirnya. Jabatan ketua DPD I, DPD
II HTI, itu sebenarnya kamuflase untuk mengelabui agar
diakui sebagai ormas yang legal. Kalau tujuannya
menentang konstitusi negara, bagaimana mungkin bisa
diakui? Tapi saya tidak tahu. Barangkali sudah
mengantongi izin. Ini yang perlu dijelaskan oleh HTI
dan pemerintah. Realitanya, sistem sel seperti yang
terjadi di Yordan, Mesir, Sudan, dan lain-lain juga
berlaku di sini. Di sini mestinya pemerintah cermat.
Namun saya yakin, BIN sudah tahu masalah ini, tapi
sengaja dibiarkan. Semua yang saya jelaskan itu
berdasarkan sumber-sumber primer tulisan pendiri dan
aktifis HT di Yordan, Palestina, Syiria, Libanon dan
Mesir. Di antaranya Al Daulah al Islamiyah karya
Taqiyuddin Nabhani, Kaifa Huddimat al Khilafah karya
Abdul Qodim Zallum, dan lain-lain yang semuanya ada di
Perpustakaan An-Nuur.
Harapan Anda pada HTI dan NU?
Antara NU dan HTI itu memang ada perbedaan prinsip,
tapi ada juga kesamaan. Keinginan untuk melaksanakan
ajaran Islam dalam semua aspek kehidupan itu sama
antara keduanya. Hanya perbedaannya, adalah bagaimana
cara merealisasikannya. NU lebih realistis, sedang HTI
utopis. Lah, kapan khalifah seperti yang
dicita-citakan itu akan muncul? Wong prediksinya -
yang katanya 30 tahun dari berdirinya HTI, sistem
khalifah akan terbentuk di seluruh dunia Islam.
Buktinya mana? Di Yordan saja masih jauh, apalagi di
Indonesia. Karena itu, hal-hal yang sama mestinya
bergerak secara koordinatif. Obyek dakwah yang sudah
menjadi kaplingan NU, jangan diganggu. Apalagi itu
jelas-jelas masjidnya NU, lembaga pendidikan NU, dan
lain-lain. NU sendiri mestinya mampu merumuskan tujuan
idealnya di negeri ini. Sekaligus merumuskan
langkah-langkah realistis untuk mencapai tujuan itu.
Dalam hal ini, kita bisa berguru pada HTI dengan empat
marhalah perjuangan HT yang populer itu. (takwin
syakhsiyah islamiyah - pembentukan pribadi islami,
taw'iyah - penyadaran keislaman, tatsqif
(intelekktualisasi) , dan takwinud daulah -
pembentukan negara khilafah atau populer juga dengan
istilah taslimul hukm - merebut kekuasaan). Ke depan,
saya mengharap, HTI berhenti dan tidak mengganggu
obyek-obyek dakwah NU. Jika tidak, NU akan melawan.
Kalau begitu, HT tidak boleh mempunyai aset?
Ya pasti. Karena di Indonesia baru berkembang dan
legalitasnya masih dipertanyakan. Mungkin karena
faktor inilah aktifis-aktifis HT memanfaatkan
toleransi warga NU sehingga masjid-masjidnya banyak
dikuasai oleh HT. Remaja Masjid Surabaya, misalnya,
sudah dikuasai mereka.[]
---------------------------------
---------------------------------
Do you Yahoo!?
Everyone is raving about the all-new Yahoo! Mail.
[Non-text portions of this message have been removed]
______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke:
[EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/