(Tulisan ini juga disajikan dalam website
http://perso.club-internet.fr/kontak.)





Usaha Jusuf Kalla menggadaikan bumi kita



Di antara berbagai langkah-langkah yang diambil oleh para pemimpin negara
kita ada yang menarik dan sekaligus juga mengkuatirkan bagi kepentingan
seluruh bangsa kita dewasa ini dan bagi generasi kita yang akan datang. Dan,
di antara langkah-langkah  itu adalah kunjungan rombongan Wakil Presiden
Jusuf Kalla (terdiri dari sekitar 40 orang dan dengan biaya sekitar Rp 3
milyar) untuk berkunjung selama 12 hari ke AS, Spanyol, dan Arab Saudi.



Tulisan kali ini merupakan ajakan kepada para pembaca untuk ikut
merenungkan bersama-sama hal-hal yang berkaitan dengan kunjungan Wakil
Presiden Jusuf Kalla beserta sejumlah menteri-menteri dan pejabat tinggi
negara kita di Amerika Serikat. Karena, kunjungan ini mengandung berbagai
hal, yang berhubungan erat sekali dengan banyak masalah negara dan rakyat di
Indonesia.  Menurut harian Media Indonesia (22 September), kunjungan kerja
ini diagendakan membahas masalah ekonomi dengan para pemuka bisnis di negeri
Paman Sam tu. Selain bertemu dengan Wakill Presiden AS Dick Cheney dan
Menteri Luar Negeri AS Condoleza Rice, Kalla juga betemu dengan sejumlah
pimpinan perusahaan AS yang telah berinvestasi di Indonesia.



“Serangkaian pertemuan bisnis tersebut diharapkan menarik investasi asing
khususnya di sektor minyak dan gas (migas), manufaktur dan pertambangan.
Bagaimana pun, saat ini,  pmerintah harus meyakinkan investor asing, kondisi
di Indonesia sudah kondusif bagi pengembangan usaha. Perusahaan-perusahaan
mereka hampir tidak ada yang rugi di Indonesia, semuanya menguntungkan”,
kata Kalla.



Sekretaris Wapres Gembong Supriyono menjelaskan selama di AS rombongan akan
mengadakan serangkaian pertemuan di Washington, New York, dan Chicago.
Kunjungan itu disertai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo
Yigiantoro, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, Ketua Badan Koordinasi
Penanaman Modal (BKPM) Muhammad Lutfi, dan ketua KADIN MS Hidayat. Menteri
Luar Negeri Hassan Wirayuda dijadwalkan bergabung di New York.



Dalam acara makan malam di Wisma Indonesia di Washington dengan anggota
delegasi dan tokoh-tokoh masyarakat, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral
Purnomo Yugiantoro mengatakan bahwa “pemerintah Indonesia akan menghormati
kontrak-kontrak yang telah disepakati dan tidak akan sewenang-wenang
memutuskan secara sepihak. Hal ini akan ditegaskan Wapres dalam pertemuan
dengan para pemimpin perusahaan besar As seperti Exxon, Chevron,
Halliburton, General Electrics, Newmont dan Freeport McMoran”



“Kita menghormati kesucian sebuah kontrak,” tegas Purnomo yang diamini oleh
Ketua Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Lutfi. Purnomo mengatakan
kontrak-kontrak migas umumnya berlaku 20 sampai 30 tahun. “Dalam kurun waktu
sejak ditandatangani banyak sekali perkembangan dan perubahan yang terjadi
dalam pelaksanaannya. Namun, kesucian kontrak sangat dihormati” (kutipan
dari Media Indonesia 25 September).



Ucapan-ucapan yang memancing banyak komentar


Kiranya, ucapan-ucapan Jusuf Kalla dan  Purnomo seperti yang tersebut di
atas sudah bisa mengundang banyak komentar keras atau reaksi kritis dari
berbagai kalangan pakar ekonomi dan politik, atau kaum intelektual pada
umumnya, atau kalangan LSM dan partai politik, atau berbagai ormas di
Indonesia.



Tetapi,  apa yang dikatakan oleh Wapres Jusuf Kalla mengenai masalah
demokrasi dan stabilitas keamanan di Indonesia, mungkin akan membikin
kemarahan lebih banyak orang lagi. Sebab, apa yang dikatakannya di depan
masyarakat Indonesia di kantor Kedutaan Besar  RI di Washington adalah
hal-hal, yang betul-betul senafas dengan apa yang sering sama-sama kita
dengar semasa  rejim militer Orde Baru. Dari berbagai ucapannya itu
nampaklah “belangnya” sebagai Ketua Umum Partai Golkar, suatu partai
pendukung politik Suharto dkk yang selama pukuhan tahun (!!!) telah membikin
banyak kesalahan dan dosa terhadap rakyat dan negara kita.



Menurut harian Media Indonesia (25 September), Jusuf Kalla mengatakan bahwa
“stabililitas politik dan  keamanan lebih penting untuk mendukung ekonomi.
Saat menanamkan modal, investor asing lebih memilih negara yang stabil
daripada yang demokratis. Bagi pengusaha, demokrasi itu nomor dua. Sebab,
kalau demo terus, anggota DPR marah terus, capek juga pengusaha. Apalagi,
pejabat kasih surat terus”. Bagi Kalla, demonstrasi merupakan bagian dari
demokrasi. Tetapi, kalau demo di Indonesia tidak habis-habis, itu justru
kontraproduktif, kata Kalla.



Dalam kesempatan tersebut, dia juga menjelaskan berbagai persoalan yang
terjadi di tanah air. Misalnya, soal kontrak karya pemerintah dengan
ExxonMobil untuk eksplorasi minyak di Blok Cepu. “Itu untuk kepetingan
nasional. Exxon memang untung. Tapi,Indonesia lebih untung. Kalau tidak
dieksplorasi, minyaknya tetap ada di tanah” ungkapnya.



Dubes Sudjadnan dalam laporan tertulis menyatakan kalangan pengusaha AS
mempunyai komitmen untuk menempatkan Indonesia sebagai salah satu pilihan
untuk melakukan investasi. Saat ini terdapat lebih dari 300 perusahaan AS
yang telah melakukan investasi di Indonesia dengan total investasi lebih
dari 12 miliar dolar AS. (kutipan selesai).





Demokrasi nomor dua ?


Sebelum menjadi Wapres dan Ketua Umum Golkar Jusuf Kalla adalah pengusaha
besar. Jadi, ketika ia mengatakan bahwa demokrasi itu nomor dua, dan bahwa
investor asing memilih negara yang stabil daripada yang demokratis, itu
sepenuhnya pencerminan isi lubuk hatinya sebagai pengusaha besar dan juga
membuka telanjang bulat-bulat dasar fikirannya sebagai pimpinan negara.
Bahwa stabilitas politik dan keamanan itu  diharapkan oleh oleh investor
asing, itu adalah sudah jelas. Semua orang di Indonesia juga menginginkan
adanya stabilitas politik dan keamanan. Bukan hanya para pengusaha saja.
Tetapi, soalnya, stabilitas atas dasar apa dan bagaimana? Kita di Indonesia
sudah terlalu kenyang dan, karenanya,  juga mengetahui dengan jelas sekali
apa artinya “stabilitas politik dan keamanan” selama 32 tahun Orde Baru!



Ucapannya bahwa bagi pengusaha lebih memilih negara yang stabil daripada
yang demokratis juga bisa sangat menyesatkan. Sebab, bisa diartikan bahwa
negara yang demokratis itu tidak disukai oleh pengusaha atau investor.Bahwa
para pengusaha besar atau investor asing menyukai atau bisa bekerjasama erat
dengan para penguasa berbagai negara yang tidak demokratis ini sudah
ditunjukkan oleh pengalaman di Indonesia dan berbagai negara di Amerika
Latin dan Asia-Afrika. Rejim militer Orde Baru (dan pemerintahan diktatorial
di banyak negeri lainnya) adalah contoh yang gamblang tentang  adanya
persekongkolan antara modal besar dan para penguasa yang tidak demokratis.



Adalah sangat menarik (dan patut dicatat baik-baik oleh kita semua) bahwa
dalam membicarakan masalah perlunya “di nomor-dua-kan demokrasi” di
Indonesia, disebut-sebut tentang demo yang tidak habis-habisnya  di negeri
kita yang, menurutnya, adalah kontraproduktif. Ucapannya ini menunjukkan
bahwa bagi Kalla demo-demo yang dilancarkan kaum buruh, kaum tani, dan
berbagai kalangan masyarakat (termasuk terutama pemuda dan mahasiswa) adalah
sesuatu perbuatan yang tidak menguntungkan negara dan  bangsa. Ini bisa
ditafsirkan bahwa bagi pengusaha besar, yang sekarang menjadi Wakil Presiden
RI dan Ketua Umum Golkar ini, demo-demo di Indonesia sebaiknya ditiadakan
atau dihentikan, supaya  investor-investor besar (terutama AS) makin krasan
di Indonesia.



Rupanya, Kalla (dan orang-orang sejenisnya) tidak mau mengerti bahwa
demo-demo yang dilancarkan oleh berbagai kalangan di Indonesia adalah suatu
tindakan yang pada akhirnya  - dan  pada intinya – justru untuk kebaikan
bangsa dan negara. Demo-demo terpaksa dilancarkan, karena berbagai saluran
untuk menyampaikan perasaan dan pendapat sudah buntu atau dibuntukan, atau
kurang efektif. Banyak demo atau aksi yang diselenggarakan oleh berbagai
kalangan adalah justru untuk mengingatkan para pejabat yang bertanggungjawab
terhadap pengeleloaan negara bahwa ada hal-hal yang tidak beres dan
merugikan banyak orang.



Di banyak negeri demokratis di dunia, demo-demo atau berbagai macam aksi dan
kegiatan masyarakat, masih diperlukan sebagai alat tambahan masyarakat untuk
membela diri dan mengkontrol pemerintah, disamping adanya bermacam-macam
perlengkapan demokrasi, seperti pers yang bebas, dewan-dewan perwakilan
rakyat yang bersih, dan lembaga-lembaga lainnya. Contohnya, di Prancis
sendiri, yang merupakan negara demokrasi yang sudah terkenal di dunia,
setiap hari ada demonstrasi! Jadi, fikiran yang menganggap serba negatif
saja terhadap adanya demo-demo atau aksi-aksi masyarakat dari orang-orang
semacam Kalla adalah sangat membahayakan demokrasi di Indonesia.





Pertemuan dengan gembong-gembong besar AS


Soal lain yang perlu diamati dengan teliti dan kewaspadaan yang tinggi
adalah pertemuan Jusuf Kalla dengan Wapres AS Dick Cheney dan Menlu AS
Condoleza Rice dan sejumlah besar tokoh-tokoh tinggi dunia bisnis AS. Tidak
tanggung-tanggung, para pemimpin  perusahaan maha-besar AS seperti Exxon,
Chevron, Halliburton, General Electrics, Newmont dan Freeport McMoran” juga
ditemui oleh Jusuf Kalla beserta delegasinya, termasuk Menteri Energi dan
Sumber Daya Mineral, Purnomo.



Kiranya, mudah diduga oleh banyak orang, bahwa pertemuan-pertemuan ini
adalah untuk menawarkan atau menjajakan fasilitas-fasilitas atau kemudahan
bagi perusahaan besar AS untuk terus beroperasi di Indonesia dan bahkan
menambah investasinya dalam projek-projek baru. Rupanya, bagi Jusuf Kalla
(dan pejabat-pejabat tinggi pemerintahan lainnya) jumlah 300 perusahaan AS
(dengan investasi sebesar 12 miliar dollar AS) tidaklah cukup. Lebih banyak
perusahaan-perusahaan besar AS diundang untuk beroperasi di Indonesia, untuk
mengeduk dan menguras bumi kita.



Padahal, negara kita sudah punya cukup pengalaman pahit dengan praktek
berbagai perusahaan besar AS, antara lain PT Freeport di Papua yang sejak
puluhan tahun sudah mengeduk mas dan bahan-bahan tambang berharga lainnya,
dengan keuntungan maha-besar, sedangkan negara dan rakyat kita hanya
“kecipratan” sedikit saja. Kasus kontrak-karya pengeboran minyak blok Cepu
dengan ExxonMobil adalah masalah terbaru, yang menyebabkan 101 tokoh
masyarakat (antara lain Dr Kwik Kian Gie) mengajukan gugatan ke Pengadilan
Negeri Jakarta Pusat dan menuntut dibatalkannya kontrak dengan  Exxon
(Jawapos, 3 Agustus 2006)



Dilihat dari segi perkembangan situasi internasional, ketika gelombang besar
anti perusahaan besar multi nasional dan perlawanan terhadap neo-liberalisme
makin memuncak dimana-mana, maka dapat ditafsirkan bahwa kegiatan Jusuf
Kalla beserta delegasinya di AS merupakan kejanggalan. Apalagi kalau
dibandingkan dengan apa yang terjadi di berbagai negeri Amerika Latin.  Apa
yang dilakukan oleh Jusuf Kalla dkk selama kunjungannya di AS adalah
bertolak belakang dengan apa yang dilakukan di Venezuela dan Bolivia. Di
berbagai negeri Amerika Latin kontrak dengan perusahaan-perusahaan besar
Amerika dipaksa dirobah,  karena dianggap tidak adil dan tidak menguntungkan
rakyat banyak. “Kontrak suci” (istilah Purnomo) yang tidak adil perlulah
dan, bahkan,  haruslah dirobah, demi kepentingan orang banyak!





Perlu front persatuan dari semua golongan



Oleh karena itu, dapat dimengerti bahwa banyak kalangan di Indonesia
menjadikan masalah neo-liberalisme ini sebagai titik perjuangan.
Neo-liberalisme juga sudah beroperasi sejak lama di Indonesia,
an  -sayangnya, atau hélas ! – juga mendapat dukungan atau kerjasama dari
pejabat-pejabat tinggi dan negara. Kunjungan Jusuf Kalla ke AS adalah salah
satu di antara bukti-buktinya yang nyata.



Karena modal asing besar (terutama modal  AS) di Indonesia ini merupakan
kekuatan  - politik dan ekonomi - yang tidak kecil, maka untuk menghadapinya
juga diperlukan kekuatan yang besar. Modal asing (terutama AS) ini mempunyai
“orang-orangnya” di berbagai badan dan jawatan negara dan pemerintahan kita,
sehingga pemerintahan kita dalam waktu hampir 40 tahun tunduk atau
bersekongkol untuk menguras kekayaan bumi kita. Karena itu, untuk melawan
praktek-praktek mereka, diperlukan adanya suatu front persatuan dari
berbagai golongan yang tidak menyetujui dijadikannya negara kita sebagai
ajang kiprahnya neo-liberalisme.



Dalam rangka ini,  suara perlu diserukan sekeras-kerasnya  - dan
sebanyak-banyaknya ! - oleh berbagai kalangan masyarakat, melalui berbagai
jalan dan cara (antara lain : diskusi, seminar, artikel dalam media pers,
lewat E-mail di Internet, aksi-aksi di jalanan dan tempat-tempat kerja,
demo-demo oleh para mahasiswa dan golongan pemuda lainnya).



Kita tidak boleh diam, ketika sekelompok oknum yang menamakan diri pemimpin
atau pejabat tinggi negara terus membikin kerusakan-kerusakan yang
menyebabkan kesengsaraan banyak orang, termasuk  generasi kita yang akan
datang. Negara dan bumi kita ini bukan hanya milik mereka saja, melainkan
milik kita semua. Karena itu, adalah wajib bagi kita untuk bersuara dan
bertindak.



Kita tidak boleh membiarkan Jusuf Kalla, tidak peduli apa sebagai Wakil
Presiden RI, apa sebagai Ketua Umum Golkar, atau apa sebagai pengusaha besar
“kelas kakap” , untuk menggadaikan kekayaan bumi kita.  Sejarah bangsa kita
akan membuktikan, bahwa melawan praktek-praktek rakus dan tidak adil dari
perusahaan-perusahaan asing adalah benar  dan mulya. Demi kepentingan bangsa
kita keseluruhan dan anak-cucu kita di kemudian hari.



Paris 28 September

















--
No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.1.407 / Virus Database: 268.12.9/458 - Release Date: 27/09/2006


[Non-text portions of this message have been removed]



______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan 
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus 
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: 
[EMAIL PROTECTED] 
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke