kenapa hartono ahmad jaiz tiba tiba tertarik dengan NU dan fatwa ulama jombang ?
aku kiraini strategi hartono ahmad jaiz dan orang LPLI nya DDII under command of Amin Jamaludin (yg kemarin ngegerebek ahmadiyah) untuk ganti menisbatkan kesalahan pada orang LDII. tapi ulasannya ttg pemakaian kata kata dalam fatwa tsb yg LDII minded menarik juga. ada yg bisa kasih info ? jgn jgn nama nama yg ada di fatwa tsb adalah nama nama orang LDII Jombang :D hartono ahmad jaiz sendiri mungkin agak menyimpan dendam dengan orang LDII. ==== Massa LDII alias Islam Jama'ah Ngamuk di Ciracas Resensi <http://swaramuslim.net/weblog.php?id=C0_18_1 Oleh : Redaksi <http://swaramuslim.net> 26 Dec 2005 - 1:42 am Ratusan massa yang diakui sebagai massa LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia) yang diketuai Nur Salim di Ciracas Jakarta Timur mengamuk dalam acara bedah buku Aliran dan Paham Sesat di Indonesia karya saya (Hartono Ahmad Jaiz) di Masjid Nurul Ikhlas, jalan Tanah Merdeka, Kampung Rambutan, Ciracas Jakarta Timur, Ahad 18 Desember 2005M (16 Dzulqo'dah 1426H). //....deleted.....// On 10/3/06, Ahmad Fawaid Sjadzili <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Salam, ini dari milis sebelah, yang mungkin bisa juga di-tadarus-kan forum > ini. Saya melihat tulisan ini ibarat orang melarang ngomong anak kecil > di > masjid sementaranya dirinya ngomong. Walaupun si penulis harus mempertegas > posisinya di akhir tulisannya: "Meskipun demikian, bukan berarti tulisan > ini > mendukung tindak kepalsuan atau memakai cara yang tidak benar. Semoga hal > ini difahami." > > afs > > > Heboh "Fatwa Ulama NU Jombang" > Oleh Hartono Ahmad Jaiz > Wartawan dan Penulis Buku-buku Islami > > Menjelang Ramadhan 1427H dan bahkan di tengah umat Islam > sedang menjalankan shaum Ramadhan 1427H, beredar berita ramai tentang > Fatwa > Ulama NU Jombang. Walaupun beritanya tidak muncul di koran-koran dan > majalah > atau bahkan televisi seperti fatwa NU tentang haramnya acara infotainmen > yang bermuatan ghibah/ bergunjing, namun fatwa yang berjudul Fatwa Ulama > NU > Jombang ini ramai di situs dan milis-milis. Bahkan di pergaulan kalangan > muslimin perkotaan di Indonesia pun cukup ramai. > Bagaimana tidak ramai, ketika ada fatwa yang muncul atas > nama > para Ulama NU Jombang (kota tempat pendiri NU KH Hasyim Asy'ari berada > dulunya, dan pesantrennya Tebu Ireng masih ada), namun fatwa itu > berseberangan benar-benar dengan amaliah orang-orang NU. Misalnya saja > tentang tidak perlunya doa qunut shubuh, memperingati orang mati 7 hari > dan > seterusnya, bahkan sampai menganjurkan imam sholat tidak usah membaca > wirid > dan do'a secara berjama'ah. > > Dengan beredarnya fatwa itu, ada yang menulis di milis: " bukan > saja > mencatut nama-nama ulama besar NU dimana nyaris semuanya sudah meninggal > bahkan sebelum kemerdekaan RI tapi juga berpotensi merusak ukhuwah.' > Kegerahan pun menyeruak di tubuh NU, hingga Situs NU, menurunkan berita: > Ansor Diminta Segera Usut Penyebaran Fatwa Palsu > Sabtu, 30 September 2006 11:40 WIB > Jombang, NU Online > Gerakan Pemuda Ansor Nahdlatul Ulama perlu segera mengusut penyebaran > fatwa > palsu yang mengatasnamakan ulama NU Jombang, Jawa Timur. Kasus ini > sebenarnya sudah terjadi berkali-kali dan tidak dihiraukan oleh warga > nahdliyyin, namun masih berpotensi memunculkan keresahan. > Demikian dikatakan KH. Aziz Masyhuri, Pengasuh Pondok Pesantren > Denanyar, > Jombang, dihubungi NU Online, Sabtu (30/9). Dikatakan Kiai Aziz, selebaran > gelap itu disebarkan dengan sangat hati-hati oleh para pelakunya. > "Saya sudah meminta kepada teman-teman Ansor baik di Jombang maupun di > Jakarta untuk mencari siapa-siapa yang menyebarkan itu. Tapi ya memang > sulit > ngusutnya. Dulu juga sering terjadi begitu dan sampai sekarang belum > ketemu > pelakunya," kata Kiai Aziz. > Nama-nama kiai NU yang disebutkan dalam selebaran itu, lanjut sesepuh > Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI) NU itu, sama sekali tidak dikenal. > Sementara Buletin Mimbar Dakwa yang disebut-sebut dalam selebaran sebagai > sumber pengambilan fatwa tidak beredar di Jombang. > "Saya sampai menanyakan kepada kiai-kiai tua di kampung-kampung apakah > ada > kiai-kiai NU yang namanya tercantum dalam selebaran itu atau ada yang > bikin > buletin itu ternyata nggak ada yang kenal," kata Kiai Aziz. > Selebaran yang mengatasnamakan ulama NU itu berisi ajakan untuk > meninggalkan beberapa amaliyah yang selama ini dikerjakan oleh warga > nahdliyyin, seperti wirid atau dzikir setelah shalat lima waktu, doa qunut > dalam shalat subuh dan witir, adzan shalat Jum'at dua kali, shalat tarawih > 20 rakaat, serta tahlil 7 hari untuk orang yang meninggal. > Dikatakan dalam selebaran itu amaliyah-amaliyah itu adalah bid'ah alias > hukumnya haram dan harus segera ditinggalkan oleh umat Islam yang telah > mengerjakannya. > "Tahun lalu itu disebarkan di luar Jawa, terutama di Lampung. Sekarang > karena sudah banyak yang menggunakan internet ya para pelakukannya lebih > mudah menyebarkan itu. Tapi saya kira itu tidak ada pengaruhnya, wong itu > jelas-jelas untuk bikin ribut saja. Orang sudah ngerti semua," kata Kiai > Aziz. (nam) (nu.or.id) > > Lain lagi dengan Gus Mus (Mustafa Bisri), ketika dia ditanya > tentang > fatwa itu oleh Samsul Hadi (Samsul) pada 21 September 2006 14:34:33, dia > menjawab: > Wa'alaikumussalam warah,matuLlahi wabaralatuH. > Tak usah bingung. Wong itu pasti berasal dari selebaran gelap. Jangan > hiraukan. Atau jika Anda nganggur, bisa Anda cek saja ke nama-nama yang > tercantum disitu. > Wassalamu'alaikum. (GusMus.NET) > > Ada Kejanggalan Fatwa itu memang mengandung > beberapa kejanggalan. Di antara kejanggalannya: > > 1. Tanggal penulisan fatwa itu tertera, Jombang, 1 Ramadhan 1423H, > tetapi beredar dan ramai di masyarakat pada menjelang Ramadhan 1427H. > Selang > 4 tahun baru beredar? > > 2. Kalimat-kalimat dalam fatwa itu bukan model kalimatnya Ulama NU. > Biasanya Ulama NU dalam berfatwa merujuk pada kitab-kitab fiqh yang > disebut > mu'tabaroh (disepakati sahnya) di kalangan NU. Di sini tidak tercantum > itu. > Dan juga bukan model apa yang yang disinggung oleh seorang netter yang > menaruh dugaan terhadap apa yang dia sebut Salafy Solo (dugaan itu tanpa > menunjukkan bukti-bukti konkret). Karena kalau model Salafy, pasti merujuk > pada ayat dan hadits dalam berfatwa. Di dalam fatwa yang beredar itu > tidak, > hanya ungkapan tanpa landasan. > > 3. Ada kata-kata yang tidak umum digunakan, baik oleh orang NU maupun > Salafy, di antaranya kata 'peramalan' dari kata amal. Biasanya dikatakan > dengan pengamalan, sedang kata 'peramalan' akan lebih dekat kepada kata > dasar ramal. Justru dari segi kata-kata yang digunakan dalam fatwa itu ada > sedikit kemiripan dengan kelompok LDII, kelompok yang oleh Munas MUI 2005 > dinyatakan sebagai aliran sesat. LDII memakai kata-kata yang kadang tidak > dipakai di kalangan umum namun sangat terkenal di jamaah mereka, misalnya > kata peramutan (ini bahasa Jawa Timur tempat asal golongan itu) dipaksakan > untuk dipakai dalam bahasa Indonesia di makalah-makalah mereka. Peramutan > itu maknanya kurang lebih adalah pemeliharaan. Juga kata menetapi (untuk > menerjemahkan ilzam atau iltizam) dipakai di LDII, yang di kalangan umum > kata itu tidak dipakai. Orang umum memakai kata mengikuti, bukan menetapi. > Kalau orang umum mengatakan pengamalan, apakah golongan mereka mengatakan > peramalan, saya belum tahu > juga, tetapi ada kemiripannya. Hanya saja bukan berarti mesti ciptaan > mereka. Ini hanya menyebut ciri-ciri apakah dekat ke NU, Salafy atau LDII > atau golongan apa. Dan ciri ini pun hanya sebagai salah satu bukti > kejanggalan kalau dikaitkan dengan NU ataupun Salafy. > > 4. Ada kalimat: "Kepada saudara-saudara yang menerima fatwa ini, agar > > memperbanyak fatwa ini dan disampaikan secara beranting ke semua umat > Islam > > agar segera tersosialisasi dengan cepat." Kalimat itu bukan semangat > dari > kaum Nahdliyin, dan bukan pula kaum Salafy. Apakah kalimat itu terimbas > dari > kebiasaan pembuatnya, yang mungkin terbiasa menyebarkan propagandanya > dengan > cara berantai (tetapi ini ditulisnya beranting?). Wallohu a'lam. > > 5. Kalau fatwa itu dari ulama NU, tentunya ketika menulis tentang NU, > misalnya lafal Nahdliyin, biasanya tidak salah eja, mesti ditulis > Nahdliyin. > Tetapi dalam fatwa itu berkali-kali ditulis Nahdiyin. > > 6. Dari segi isi yang hampir semuanya "menyerang" amaliah orang NU, > apakah benar difatwakan oleh Ulama NU. Di sinilah masalahnya. > > > > Berikut ini kami salinkan tulisan seorang netter yang tampaknya dari warga > NU, yang mengemukakan kesengitannya, namun juga sekaligus menyebarkan > fatwa > itu: > > > [keluarga-sejahtera] Tentang Fatwa Ulama Jombang (lagi) He-Man > Fri, 15 Sep 2006 15:05:57 -0700 > > Assalamu'alaikum wr wb > > Bari rekan-rekan yang mungkin mendapat selebaran seperti di bawah baik > > di milis maupun masjid harap abaikan saja.Saya sendiri dapat dari "Media > > Dakwah" waktu jum'atan beberapa bulan lalu dan sudah di konfirm ke salah > > satu pengurus NU yang kebetulan masih tetangga dan ternyata ini adalah > > sebuah hasutan dan fitnah yang sangat keji.Karena bukan saja mencatut > > nama-nama ulama besar NU dimana nyaris semuanya sudah meninggal > > bahkan sebelum kemerdekaan RI tapi juga berpotensi merusak ukhuwah. > > Ini saya curigai datang dari kubu orang-orang Salafy Solo.Untuk dapat > > konfirmasi lebih jelas mengenai ini bisa gabung ke milis warga NU di > > [email protected] > > Berbeda pendapat sih tidak masalah , tapi kalau pakai cara sekotor ini > > benar-benar keterlaluan namanya. > > Terima Kasih > > > > > > > FATWA ULAMA JOMBANG > > DALAM BERBAGAI IBADAH/AMALAN > > > > "Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan rasul-Nya dan melanggar > > ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka > > sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan." > > (QS An,Nisa : 14) > > > > > > Pembaca yang budiman, > > > > Dalam terbitan dakwah kali ini, secara khusus kami akan menyampaikan Fatwa > > Ulama NU Jombang yang kami terima dari seorang bernama H.Abdulmutholib, > > beliau sebagai umat meminta agar fatwa ini disebarkan melalui mimbar > dakwah, > > agar diketahui oleh umat Islam secara luas, karena menurut beliau isi > fatwa > > ini sangat baik dan mudah dimengerti simple dan apa yang terdapat dalam > > fatwa ini merupakan hal yang banyak diperdebatkan dikalangan umat Islam, > > karena fatwa akan mengurangi perbedaan yang sering timbul dikalangan umat > > Islam dalam hal beribadah atau beramal. > > > > > > Pembaca budiman, > > Sebagai tambahan dari redaksi bahwa kalau ada perbedaan dalam hal ibadah, > > Al-Qur'an memberikan jalan keluar yang wajib kita taati. Hal ini terdapat > > dalam surat An-Nisa : 59 > > > > "Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), > dan > > ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang > > sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul > > (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. > > yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya." > > (QS An-Nisa : 59) > > > > > > Bila terjadi perbedaan diantara kamu, supaya kamu tidak saling > menyalahkan, > > maka kembalikan kepada Al-Aqur'an dan Sunnah Rasul. Surat ini merupakan > > surat yang berfungsi untuk menyelesaikan perbedaan dikalangan umat Islam, > > bila terjadi khilafiah. Misalnya ada sebagaian masjid, bila selesai sholat > , > > ada Imam yang wirid berdo'a dengan suara keras diaminkan oleh jamaah, > amalan > > ini menimbulkan perbedaan, karena dimasjid lain, ada Imam yang selesai > > sholat, sama sekali tidak wirid dan tidak berdoa'a dengan suara > keras,(keras > > yang dimaksud, terdengar oleh makmum). Untuk menyelesaikan perbedaan itu, > > buka Al-Qur'an dan Sunnah Rasul, ada tidak syariatnya dalam Al-Qur'an dan > > Sunnah Rasul. Kalau ada maka ikuti ayat dan Sunah Rasul tersebut, > sebaliknya > > kalau tidak ada syariatnya maka tinggalkan. Syariat tentang berdo'a adalah > > > > "Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. > > Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas" (QS > > Al-A'raaf : 55) > > > > > > > > > > > > > > Demikian pula masih sering terjadi perbedaan tentang do'a qunut, ada > > kelompok qunut ada kelompok non qunut, maka buka Al-Qur'an dan Hadits. > Bila > > ada, turuti qunut itu, namun bila tidak ada, kita harus jujur dan lapang > > dada bahwa qunut itu tidak ada dalam ayat atau hadits dalam sholat shubuh > > dan witir. Bila tidak ada tinggalkan, itu tanda orang yang beriman kepada > > Allah. > > > > > > Pembaca yang mulia > > Dibawah ini kami kutib berbagai fatwa tersebut. > > > > > > BEBERAPA FATWA ULAMA NU JOMBANG > > > > Bismillahirrohmanirrahim > > Kami Ulama dari Nahdatul Ulama di Jombang, Jawa Timur, setelah > bermusyawarah > > dalam masalah peribadatan umat Islam yang selama ini dianggap sebagai > Ibadah > > amalan yang TIDAK SESUAI degan syariat Islam, setelah mengkaji ulang > > beberapa kali dan mengkaji ulang hadits-hadits, pendapat para Imam, telah > > mengambil keputusan untuk menghimbau, sekali lagi sifatnya menghimbau > kepada > > kaum muslimin diseluruh Indonesia khususnya kaum Nahdiyin, agar merubah > > secara bertahap amalan yang selama ini kurang sesuai dengan syariat Islam, > > agar mengikuti fatwa sebagai berikut : > > > > > > DALAM HAL SHOLAT > > Agar meninggalkan kebiasaan membaca Usholli dengan suara keras, karena > niat > > itu pekerjaan hati, cukup dalam hati saja. > > Ba'da sholat imam tidak perlu untuk membaca wirid, zikir dengan bersuara, > > cukup dalam hati, dan Imam ba'da sholat tidak perlu memimpin DO"A BERSAMA > > dengan jamaah. Imam dan jamaah berdo'alah sendiri-sendiri dalam hati. > > Jamaah ba'da sholat, tidak perlu mencium tangan imam, cukup dengan > > bersalaman saja. > > Dalam sholat Shubuh, imam tidak perlu membaca do'a Qunut, kecuali kalau > ada > > sesuatu bahaya terhadap kehidupan Umat Islam secara keseluruhan. > > Do'a Qunut boleh dibaca disetiap sholat, bila ada keperluan yang bersifat > > darurat, tidak hanya dalam sholat shubuh. > > Sholat Rawatib/Sholat sunnah Qobliah/Ba'diah adalah sebagai berikut: Qobla > > Shubuh, Qobla dan Ba'da Dzuhur, ssholat Ashar tidak ada rawatib, Ba'da > > Maghrib dan Ba'da Sholat Isya. > > > > DALAM SHOLAT JUM'AT > > Sebelum khotib naik mimbar, tidak adzan dan tidak ada sholat sunnat qobla > > Jum'at > > Ketika khotib duduk diantara dua khutbah, tidak ada bacaan sholawat > > Ba'da sholat Jum'at imam tidak mempunyai kewajiban untuk memimpin do'a > untuk > > makmum dengan suara kuat. Silahkan imam dan jamaah berdzikir, wirid dan > do'a > > masing-masing. > > Dalam sholat Jum'at, tongkat yang selama ini dipakai oleh khotib, bukan > > merupakan sarana ibadah. Hanya kebiasaan dari khalifah Utsman, sekarang > > dapat ditinggalkan. > > Sebelum khotib naik mimbar, tidak perlu pakai pengantar dan tidak perlu > > membaca hadits Nabi Muhammad SAW tentang jangan berkata-kata ketika > khotib > > sedang khutbah, tapi sampaikanlah bersamaan dengan laporan petugas masjid > > tentang laporan keuangan. Petugas khotib dan imam hal ini, sebagai > perangkat > > laporan administrasi masjid bukan proses ibadah dalam sholat Jum'at > > > > DALAM SHOLAT TARAWIH/WITIR/TAHAJUD > > Dalam bulan Ramadhan diwajibkan shaum dan dimalam hari disunnatkan sholat > > tarawih, witir. Yang selama ini masih ada yang berbeda pendapat karena itu > > perlu dikeluarkan himbauan ini. > > Shalat tarawih dilakukan Nabi Muhammad SAW sebanyak 8 rekaat dan 3 rekaat > > witir. Dapat dilakukan dengan cara 4-4-3 > > Tidak disunnatkan membaca do'a bersama-sama antara rakaat. > > Tidak dibenarkan antar jamaah membaca shalawat nabi, bersahut-sahutan > > Sebelum Ramadhan, tidak perlu shalat tasbih, shalat Nisfu Sya'ban, sedekah > > ruah. Karena hadits tentang kedua sholat tersebut ternyata dhoif, lemah > dan > > berbau pada hadits maudhu (palsu), karena terputus perawinya dan sholat > ini > > tidak pernah dilakukan Nabi Muhammad SAW, juga 4 sahabat. > > Pada sholat witir dibulan Ramadhan, tidak perlu ada do'a qunut. > > > > DALAM UPACARA TA'ZIAH > > Keluarga yang mendapat musibah kematian, wajib bagi umat Islam untuk > ta'ziah > > selama tiga hari berturut-turut. > > Kebiasaan selama ini yang masih melakukan hari ke-7, hari ke-40 dan hari > > ke-100, supaya ditinggalkan. Karena ini tidak ada contoh dari Nabi > Muhammad > > SAW dan tidak ada tuntunannya. Upacara itu berasal dari ajaran agama Hindu > > dan Budha, menjadi upacara dari kerajaan hiyang dari daratan Tiongkok > yang > > dibawa oleh orang Hindu ke tanah melayu tempo dulu. > > Dalam ta'ziah, upayakan supaya tidak ada makan-makan, cukup air putih saja > > sekedar obat dahaga > > Acara dalam ta'ziah, baca surat Al-Baqoroh ayat 152 sampai 160, kemudian > > adakan tabligh yang mengandung isi kesabaran dalam menerima musibah, tutup > > dengan do'a untuk sang almarhum tinggalkan, kebiasaan baca surat Yasin > > bersama-sama, tahlil an kirim Fadhilah semua itu ternyata hukumnya bid'ah > > > > DALAM UPACARA PENGUBURAN > > Tinggalkan kebiasaan dalam sholat jenazah dengan mengajak jamaah untuk > > mengucapkan kalimat bahwa "Jenazah ini orang baik. Khoir-khoir". Hal ini > > tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW dan tidak ada hadits sebagai > > pembimbing. > > Tinggalkan kebiasaan ketika mengangkat jenazah, turun naik tiga kali > sambil > > dibacakan Fatihah. > > Tinggalkan kebiasaan selama ini adanya bimbingan kepada mayat yang sudah > > dalam kubur, yang disebut dengan TALQIN. > > Tinggalkan kebiasaan membangun kuburan dengan bangunan yang mewah > > Tinggalkan kebiasaan selama ini membaca kitab suci Al-Qur'an (surat Yasin) > > diatas kuburan, kalau ziarah ke kuburan bersihkan kemudian berdo'a. > > > > Demikian beberapa fatwa yang kami simpulkan, karena masalah yang kami > > kemukakan diatas sangat banyak dipertentangkan dari berbagai dan terutama > > dari keluarga besar Nahdiyin. Fatwa ini datang dari berbagai ulama NU yang > > berkumpul di Jombang dalam suatu pengajian, sehingga oleh KH Mustafa > Djalil > > dikumpulkan beberapa ulama untuk membahas berbagai masalah sehari-hari > yang > > masih menjadi selang sengketa bagi kalangan umat Islam, khususnya > kalangan > > Nahdiyin, untuk menjadi pegangan sehingga dapat diadakan bahan > pertimbangan > > dan jangan melakukan perubahan dengan cara yang kurang bijaksana, khawatir > > akan menimbulkan gejolak. Lakukanlah sosialisasi fatwa ini dengan diskusi, > > dengan jiwa kebersamaan untuk menuju kepada ibadah dan peramalan yang > benar > > menurut syariat islam. Kepada saudara-saudara yang menerima fatwa ini, > agar > > memperbanyak fatwa ini dan disampaikan secara beranting ke semua umat > Islam > > agar segera tersosialisasi dengan cepat. > > > > > > Semoga Allah SWT menuntun kita ke jalan yang lurus. > > > > > > Jombang, 1 Ramadhan 1423H > > > > 1. KH. Mustafa Djalil 6. KH. A. Ridwan Hambal > > > > 2. KH. Abdullah Siddiq 7. KH. Faturachman Sujono > > > > 3. KH. Mahfudz Siddiq 8. KH. Cholil Ansyor > > > > 4. KH. Abdullah Hasyim 9. KH. Tantowi Djauhari > > > > 5. KH. Hasyim Basdan > > > > > > Notulis pertemuan > > Drs H.M. Sungkono > > (http://groups.yahoo.com/group/keluarga-sejahtera/) > > > > Bagaimana selanjutnya > > > > Setelah kita mengetahui duduk soalnya seperti itu, > bagaimana > selanjutnya? > > Sebenarnya, berdakwah atau apalagi berfatwa dan menyampaikannya itu adalah > hak bagi orang yang memang berilmu. Di samping itu, menyampaikan > kebenaran, > mesti pula dengan jalan yang benar. Sehingga fatwa yang difatwakan itu > isinya benar (sesuai dengan al-Qur'an dan As-Sunnah), sedang tata cara > menyampaikan juga harus dengan cara yang benar. > > Kalau fatwa itu isinya benar, sesuai dengan ayat dan > hadits, > misalnya, sedang caranya dengan cara memalsu misalnya (ini perlu > dibuktikan > dulu, palsu atau tidak), maka cara itu cara tidak benar. > > Kalau fatwa itu benar (sesuai dengan ayat dan hadits) dan > memang mereka benar-benar ulama NU Jombang, maka berarti justru > menyampaikan > ajaran yang benar. Maka siapa yang menentangnya berarti menentang > kebenaran. > > Kalau fatwa itu benar (sesuai dengan ayat dan hadits) dan > tenyata palsu, bukan dari ulama NU, maka bagi orang Muslim sebenarya ada > hadits: > > óÑæóì ÇáÊøöÑúãöÐöíøõ æóÇÈúäõ ãóÇÌóåú æóÇáúÅöÓúäóÇÏõ ÖóÚöíÝñ Úóäú ÃóÈöí > åõÑóíúÑóÉó ãóÑúÝõæÚðÇ { ÇáúßóáöãóÉõ ÇáúÍößúãóÉõ ÖóÇáøóÉõ ÇáúãõÄúãöäö > ÍóíúËõ > æóÌóÏóåóÇ Ýóåõæó ÃóÍóÞøõ ÈöåóÇ } . > > Kalimah hikmah itu adalah harta benda yang hilang milik orang mukmin, maka > di mana dia temukan maka mukmin itu lebih berhak padanya. (Hadits Riwayat > Tirmidzi dan Ibnu Majah, sanadnya dhaif dari Abu Hurairah, marfu'). > > Kalau fatwa itu benar isinya (sesuai ayat dan hadits) namun > dibuat oleh pembuatnya dalam tujuan memecah belah umat, misalnya, maka > berarti sebagaimana perkataan Ali bin Abi Thalib ra kepada musuhnya; > > ÝóÞóÇáó Úóáöíøñ : ßóáöãóÉõ ÍóÞøò ÃõÑöíÏó ÈöåóÇ ÈóÇØöáñ > > Perkataan benar tetapi dimaksudkan untuk tujuan kebatilan. > > Kalau fatwa itu benar (sesuai ayat dan hadits) namun karena > tidak sesuai dengan kemauan orang, lalu orang menolaknya padahal benar, > maka > terkena hadits: > > ÑóæóÇåõ ãõÓúáöãñ æóÇáÊøöÑúãöÐöíøõ Úóäú ÚóÈúÏö Çááøóåö Èúäö ãóÓúÚõæÏò ÑÖí > Çááå Úäå Úóäú ÇáäøóÈöíøö Õáì Çááå Úáíå æÓáã ÞóÇáó { áóÇ íóÏúÎõáõ > ÇáúÌóäøóÉó > ãóäú ßóÇäó Ýöí ÞóáúÈöåö ãöËúÞóÇáõ ÍóÈøóÉò ãöäú ßöÈúÑò . ÝóÞóÇáó ÑóÌõáñ > Åäøó > ÇáÑøóÌõáó íõÍöÈøõ Ãóäú íóßõæäó ËóæúÈõåõ ÍóÓóäðÇ æóäóÚúáõåõ ÍóÓóäóÉð ÞóÇáó > Åäøó Çááøóåó Ìóãöíáñ íõÍöÈøõ ÇáúÌóãóÇáó ÇáúßöÈúÑõ ÈóØúÑõ ÇáúÍóÞøö æóÛóãúØõ > ÇáäøóÇÓö } ÞóÇáó ÇáúÚõáóãóÇÁõ ÈóØúÑõ ÇáúÍóÞøö ÑóÏøõåõ Úóáóì ÞóÇÆöáöåö > æóÛóãúØõ ÇáäøóÇÓö ÇÍúÊöÞóÇÑõåõãú . > > Tidak masuk surga orang yang di dalam hatinya ada seberat biji sawi dari > kesombongan. Lalu seseorang berkata (kepada Nabi saw), sesungguhnya > laki-laki itu suka akan bajunya bagus dan sandalnya bagus. Nabi saw > bersabda, sesungguhnya Allah Maha Bagus, mencintai kebagusan. Kesombongan > itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia. (HR Muslim dan > Tirmidzi > dari Abdullah bin Mas'ud ra dari Nabi saw). Ulama berkata, menolak > kebenaran > adalah menolak terhadap pengucapnya, dan meremehkan manusia adalah > merendahkannya. > > Seandainya benar bahwa fatwa itu palsu, bukan dari ulama > NU, > sedang isinya sesuai dengan ayat dan hadits, atau dibuat memang untuk > tujuan > kebatilan, maka bisa juga agama ini didukung oleh orang yang fajir/ tidak > baik. > > ÌóÇÁó Úóäú ÇÈúäö ãóÓúÚõæÏò ÑÖí Çááå Úäå ãóæúÞõæÝðÇ Úóáóíúåö æóãóÑúÝõæÚðÇ : > { > Åäøó Çááøóåó íõÄóíøöÏõ åóÐóÇ ÇáÏøöíäó ÈöÇáÑøóÌõáö ÇáúÝóÇÌöÑö } . > > Sesungguhnya Allah menguatkan agama ini dengan lelaki yang fajir/ tidak > baik. (Dari Ibnu Mas'ud, marfu'). > > Kenapa? > > Karena, insya Alloh orang-orang yang menerima kebenaran > akan > menerimanya walau datangnya dari manapun, bahkan mungkin mencocokkan fatwa > itu dengan ayat-ayat dan hadist Nabi saw. Sedang orang yang sombong akan > menolak kebenaran dan meremehkan manusia. Tidak mau menerimanya, walaupun > jelas-jelas di antara isinya memang sesuai dengan Islam; misalnya apa yang > ditekankan dalam fatwa itu tentang memperingati orang mati: "Kebiasaan > selama ini yang masih melakukan hari ke-7, hari ke-40 dan hari ke-100, > supaya ditinggalkan. Karena ini tidak ada contoh dari Nabi Muhammad SAW > dan > tidak ada tuntunannya." > > Kalimat dalam fatwa itu jelas benar, sesuai dengan Islam. > Bahkan saya pun menguraikan secara khusus dalam buku Tarekat Tasawuf > Tahlilan dan Maulidan (2006) di samping buku lainnya misalnya Bila Kiyai > Dipertuhankan, Membedah Sikap Beragama NU yang saya tulis bersama Abduh > Zulfidar Akaha. > > Untuk menyikapi masalah ini ada gunanya ungkapan: Sesuatu > yang keluar dari mulut, kalau itu muntahan, maka jangan diambil. > Sebaliknya, > walau sesuatu keluar dari dubur, kalau itu telur (dari dubur ayam) maka > ambil. > > Meskipun demikian, bukan berarti tulisan ini mendukung > tindak > kepalsuan atau memakai cara yang tidak benar. Semoga hal ini difahami. > > Jakarta, 9 Ramadhan 1427H. > > > > > > > > > > > > > > > > > -- > A. Fawaid Sjadzili > http://fawaidku.blogspot.com > > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > > ______________________________________________________________________ > http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir > dan KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah. > ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ > Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda > harus meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: > [EMAIL PROTECTED] > > Yahoo! Groups Links > > > > > > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] ______________________________________________________________________ http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah. ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
