Surat Mawar Merah Café Bandar: HALIM HD MASIH SEORANG PEMIMPI SETIA
3. Berikut adalah lanjutan dari artikel Halim HD tentang kebudayaan Mandar. Mandar dalam Strategi Budaya hingga Terorisme Ekologi (2) MELACAK FORMAT STRATEGI KEBUDAYAAN MANDAR (b) Oleh: Halim HD. Pekerja Budaya Tapi yang paling menarik adalah kehidupan keluarga yang mengemban dan melanjutkan tradisi itu; dan di dalam kehidupan keluarga itulah sesungguhnya laboratorium tradisi tercipta dan terus berlanjut. Di situ pula berbagai penelitian dilakukan, dikupas kembali dan dikembangkan sampai pada tahap berikutnya. Dalam kondisi dan proses seperti itu, maka sangat menarik strategi kebudayaan pemerintah masing-masing mengaitkan antara kehidupan tradisi dengan lembaga pendidikan yang secara praktis mengenalkan berbagai khasanah tradisi serta karya senibudaya kepada anak didiknya melalui kunjungan kepada keluarga tradisi dan museum. Di samping itu, berbagai yayasan yang dikembangkan oleh perusahaan besar ikut pula menunjangnya. Tentu keluarga tradisi sebagai laboratorium khasanah tradisi dan karya senibudaya itu juga sudah pasti sangat menarik minat dan kunjungan warga dari belahan geografi kultural lainnya, para turis domestik maupun manca negara. Para turis (hal ini bukan yang terpenting dalam kehidupan kebudayaan sebuah masyarakat!) makin berminat ketika suatu masyarakat menyelenggarakan tradisi mereka yang telah berumur ratusan atau bahkan mencapai seribuan tahun yang secara terus-menerus berlanjut di antara gelombang perubahan jaman. Di situ pula kaitan antara keluarga tradisi dengan kehidupan kebudayaan dan masyarakatnya kian intens, yang menyatukan mereka dalam hidup kebersamaan, dan di dalam proses kebersamaan itu pula tradisi hidup dan terus ditafsirkan untuk generasi-generasi berikutnya. Dengan komparasi ini, saya ingin mengajak kita ke dalam perenungan tentang posisi kehidupan keluarga tradisi yang kini hanya banyak dislogankan, diumbar hanya dalam pidato, serta diundang sekedar dijadikan sapi perahan di dalam kehidupan politik dan birokrasi kebudayaan kita. Marilah kita merenungkan diri kita: sejauh mana Mak Cammana sebagai ikon masyarakat Mandar benar-benar jadi kebanggaan dan selalu diperhatikan kehidupannya, misalnya setiap instansi atau keluarga elite mengundangnya secara bergilir pada setiap minggu, sehingga bukan hanya secara sosial ekonomis sang maestro dapat hidup layak tapi dengan mengundang beliau bisa kembali merasakan kebanggaan bahwa tradisi yang diembannya sepanjang hidupnya memang benar-benar diperhatikan? Dan lebih dari itu, saya yakin bahwa sosok seperti Mak Cammana itu ingin benar suaranya yang datang dari hati yang paling dalam, dari ruang batin, inner space, dan ketukan rebananya yang mampu menembus hati siapa saja itu sebenarnyalah bisa memberikan isyarat, tanda-tanda jaman kepada siapa saja tentang kehidupan yang kini kian rapuh, seperti rapuhnya kehidupan tradisi dijaman kiwari lantaran hanya sekedar dijadikan pelengkap penderita oleh kekuasaan politik dan birokrasi yang tak lagi memperhatikan khasanah tradisi. Bukankah melalui suara dan ketukan reba Mak Cammana pula sejarah dan tradisi keagamaan ditumbuhkembangkan, dan kenapa pula kini khasanah tradisi yang pernah menjadi kebanggaan warga Mandar, di wilayahnya sendiri tak banyak diperhatikan? Kenapa pula banyak elite sosial-politik-ekonomi lebih senang dengan karaoke daripada mendengarkan rebana Mak Cammana dan lantunan suaranya, kenapa pula mereka lebih menyenangi berbagai musik pop ketimbang mendengarkan petikan pa'kacapi? Dan saya hampir yakin bahwa kondisi keluarga-keluarga pengemban tradisi lainnya juga berada dalam posisi di tubir jurang, pada batas-batas keruntuhan. Pertanyaan kita, sejauh manakah ada konvervasi, regenerasi dan pengembangan berbagai khasanah tradisi yang ada di wilayah Mandar? Melacak Peta Masalah Pertanyaan di atas mengundang gugatan ke dalam diri kita tentang betapa perlunya suatu strategi kebudayaan. Selama ini pihak pengelola daerah, pemda, hanya berkutat dari satu acara kesenian ke acara kesenian lainnya yang jika kita lacak lebih jauh, kita pertanyakan lebih dalam maka yang kita dapatkan hanyalah sekedar sebuah laporan yang pada tingkat akurasi evaluasinya jauh dari harapan yang ingin kita raih. Berbagai acara itu nampak sekedar suatu seremonial yang cenderung oleh kebanyakan orang dinyatakan sebagai pemborosan anggaran, sekedar kegiatan rutin tanpa kreatifitas, dan bukan sebagai, meminjam ungkapan filsuf-teolog Paul Tillich, ultimate concern, suatu momentum puncak keprihatinan yang lahir dari hati yang paling dalam yang mengikat daya hidup dan rasa kebersamaan warga dalam menghadapi berbagai persoalan disekitarnya yang dilandasi oleh religiositas yang diyakini sebagai jembatan menuju ke suatu hamparan kehidupan yang lebih baik. Maka berbagai acara yang setiap tahun digelar, semestinya sudah harus mengalami perombakan secara mendasar, secara radikal, dan meletakkan kehidupan tradisi dan berbagai khasanah senibudaya bukan sekedar pelengkap penderita dari suatu kekuasaan politik. Pengelola daerah kini sudah semestinya melihat tradisi sebagai pelatuk strategis di dalam pengembangan daya hidup dan kapasitas warga; dan pelatuk strategis itu pulalah yang akan mengikat warga ke dalam kesadaran sejarah geografi kulturalnya, di antara gelombang globalisasi yang kian deras dan kian merasuki berbagai ruang pribadi. Jika kita kerapkali mendengar berbagai pidato atau lontaran pemikiran kritis tentang kolonisasi budaya yang datang dari luar wilayah kita, dan kita mencemaskan posisi dan kondisi kaum muda yang akan digusur oleh makin melebarnya wilayah kolonisasi budaya itu, kenapa pula kita selama ini tak memikirkan secara lebih serius dan mendalam serta radikal terhadap khasanah tradisi dan karya senibudaya lainnya yang telah menjadi milik kita selama ratusan tahun? Pelacakan kita kepada suatu strategi kebudayaan yang kita harapkan mesti kita letakan pada dasar kehidupan kesejarahan kita, pada kondisi yang lampau sampai dengan yang paling mutakhir. Di sini saya ingin menyatakan bahwa suatu perspektif kesejarahan di dalam menyusun strategi kebudayaan bukanlah berangkat dari dan dalam suatu ruang sosial yang permanen. Sebagai proses yang berkaitan dengan proses waktu, maka strategi itu perlu memikirkan kaitan antara nilai-nilai atau khasanah yang lampau dengan kondisi aktual yang kini hidup di sekitar kita, dan berangkat dari pijakan itu pula maka kita bisa kiranya meneropong masa yang akan datang untuk kebutuhan hidup di masa depan. Maka langkah-langkah strategis di sini sangat perlu meletakkan sistem pendidikan lokal-nasional yang dikaitkan dengan khasanah tradisi yang dikelola oleh para guru yang memang benar-benar kapabel. Sebab, sistem pendidikan dan kurikulum pengajaran yang betapapun baiknya namun jika tidak didukung oleh tenaga pengajar, para guru yang baik serta memiliki wawasan pemikiran yang luas dan mendalam, semuanya akan menjadi mubasir. Di sini kita tekankan benar soal hubungan antara sistem pendidikan dan proses transfer nilai-nilai dari khasanah tradisi yang memiliki bobot kesejarahan. Dan dari hal itu pula kita akan terus menyadari bahwa di antara berbagai perubahan sosial-budaya yang terjadi yang ikut mempengaruhi perkembangan anak didik, maka tradisi dan lembaga pendidikan memiliki peranan penting, disamping keluarga. Dengan kata lain, proses pertumbuhan dan perkembangan kesadaran sejarah dan kehidupan sosial bagi kaum remaja dan kaum muda, para anak didik sangat tergantung sejauh manakah lembaga beserta sistem pendidikannya mampu menanamkan nilai-nilai sejarah dengan sikap kritis-dialogis. Sebab, tanpa penanaman nilai-nilai kesejarahan itu, maka kaum remaja dan kaum muda akan kehilangan akar kehidupannya. Dan sejarah di sini, tentunya bukan suatu rumusan waktu dan peristiwa yang hanya datang sepihak dari kekuasaan yang berlaku; sejarah haruslah suatu ruang peristiwa yang terbuka bagi siapa saja untuk memasuki dan menafsirkannya serta menuliskannya kembali berdasarkan pengalaman dirinya. Dengan kata lain, perlu bagi kita menumbuh-kembangkan cara berpikir, perspektif dan sikap yang pluralistik, yang sesungguhnya memang menjadi realitas dan daya hidup kebudayaan, kesenian dan kesejarahan yang ada disekitar kita. Secara mendasar dan kritis perlu kita sadari dan selalu harus kita ingat benar bahwa proses selama 30-an tahun pada rejim yang lampau, Orba, dimana sejarah hanya ditentukan dan menjadi milik sebuah rejim hanya akan menciptakan warga menjadi robot; penyeragaman sikap dan cara berpikir hanya akan mengakibatkan suatu bentuk laku hidup yang sehari-harinya tergantung kepada kekuasaan. Inisiatif dan partisipasi dihapuskan oleh kekuasaan yang angkuh yang menganggap bahwa warga hanya sekedar robot. Jika di dalam masyarakat diciptakan oleh rejim suatu kondisi dimana inisiatif dan partisipasi warga dihilangkan, maka akan tercipta pula keadaan dimana warga tidak lagi mengekspresi dirinya secara jujur dalam ruang-ruang publik, khususnya yang terjadi dilingkungan birokrasi. Bukankah kita sering mendengar dan sering pula berhadapan, untuk mengambil contoh yang paling populer, dengan budaya ABS (Asal Bapak Senang); suatu bentuk budaya yang diciptakan oleh rejim yang anti terhadap perbedaan berpikir, berpendapat, dan menolak nilai-nilai dan sikap pluralitas. Padahal, kita tahu benar bahwa tiada suatu kebudayaan akan ter/di-cipta oleh sekelompok warga atau masyarakat jika tiada kejujuran dan kebebasan berekspresi. Dalam konteks tersebut di atas, betapa pentingnya suatu pengembangan ruang-ruang publik, public space, yang bisa digunakan oleh warga dari berbagai lapisan untuk menyatakan dirinya melalui ekspresi kesenian dalam berbagai jenis dan bentuknya. Kita masih ingat dengan tata ruang di wilayah pedesaan dan perkampungan kita yang dahulu selalu memiliki suatu ruang yang luas yang biasanya berada ditengah-tengah kampung atau di pinggiran desa, dan kita tahu pula bahwa disitulah berbagai kegiatan masyarakat terjadi. Namun sekarang kita menyaksikan makin berkurang atau bahkan menghilang ruang-ruang publik itu, khususnya di wilayah perkotaan, dan menjadi ruang-ruang ekonomi. Dengan makin menyusutnya atau ter/di-gusurnya ruang-ruang publik itu maka kegiatan warga masuk ke dalam wilayah-wilayah yang bersifat personal, atau bagi yang mampu secara sosial-ekonomis mereka menyalurkannya ke dalam ruang-ruang hiburan yang bersifat hedonistik. Dan bagi mereka yang tidak mampu, mereka masuk ke dalam berbagai jejalan kemasan informasi dan hiburan yang disalurkan oleh teve swasta; dan terciptalah indoktrinasi politik-ekonomi yang menciptakan mimpi-mimpi, yang suatu ketika akan dengan mudah meledak lantaran juga didorong oleh ketimpangan dan jurang sosial-ekonomi. Mari kita ambil contoh lainnya: kenapa kini banyak sekolah makin banyak ruang kelasnya namun menyusut ruang-ruang terbukanya, khususnya di wilayah perkotaan. Enerji para anak didik yang sesungguhnya sangat perlu penyaluran dalam berbagai bentuk-jenis aktifitasnya ter/di-sumbat oleh ketiadaan ruang terbuka yang sesungguhnya sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan anak didik sebagai makhluk yang senang bermain - homo ludens menurut John Huizinga - yang dengan permainan itu mereka menyatakan diri, mengekspresikan kebudayaan yang diwarisinya. Singkat kata, ruang publik bukan hanya sekedar sebuah ruang hampa dengan hamparan rerumputan dan pepohonan yang ada disekitarnya; ruang publik merupakan suatu ruang dimana warga dari berbagai lapisan sosial dan dari berbagai generasi melakukan historical reminding, mengingatkan dirinya kembali ke dalam rentangan sejarah yang pernah terjadi melalui berbagai peristiwa yang berisi berbagai khasanah tradisi dan karya senibudaya, dan sekaligus sebagai pernyataan kebersamaan. Tapi sayangnya sekarang kita lebih banyak berhadapan dengan gedung-gedung atau ruang-ruang ekonomi yang kebanyakan menawarkan atau menjejalkan sejumlah impian, dan makin menyempitnya atau hilangnya ruang publik seperti yang banyak terjadi di wilayah perkotaan. Maka jika kita sering mendengar dan membaca dari media massa tentang begitu banyaknya tindakan kekerasan, saya hampir yakin, salah satu faktornya adalah karena berkurangnya ruang publik beserta fungsinya. Untuk hal itu, sangat perlu adanya bukan hanya political will tapi juga membarenginya dengan cultural will dari pihak pengelola daerah untuk kembali bukan hanya merenovasi dan mengembangkan ruang-ruang publik yang pernah ada, tapi juga menciptakan ruang-ruang publik baru sebagai ruang dialog, ruang pertemuan yang intim bagi warga. Dalam kaitan dengan hal itu, maka perlu kita pikirkan secara mendalam dan merumuskannya ke dalam suatu strategi kebudayaan itu tentang hubungan antara konservasi dan pengembangan khasanah tradisi dan berbagai jenis-bentuk karya senibudaya, proses penciptaan serta ekspresi warga yang berkaitan dengan ruang publik, disamping penguatan lembaga dan sistem pendidikan dan keluarga pengemban tradisi. Paris, Oktober 2006. --------------------------- JJ. Kusni [Bersambung......] [Non-text portions of this message have been removed] ______________________________________________________________________ http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah. ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
