http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail_c&id=250861
Senin, 09 Okt 2006,
Pendangkalan Esensi Agama


Oleh Yenny Zannuba Wahid
Puasa Ramadan 1427 H ini kita laksanakan di tengah kehidupan bangsa yang masih 
dalam suasana keprihatinan. Disebut demikian karena proses pelembagaan politik 
yang mulai stabil serta proses demokratisasi ternyata tidak berjalan seiring 
dengan perbaikan taraf hidup masyarakat, bahkan banyak yang menganggap 
sebaliknya.

Berbagai bencana seolah menambah penderitaan masyarakat. Akibat tsunami dan 
gempa bumi di Aceh dan Jogjakarta, ratusan ribu orang meninggal, luka-luka, 
kehilangan tempat tinggal maupun pekerjaan. Bencana lumpur panas di Sidoarjo 
membuat persoalan bukan hanya bagi warga korban yang terpaksa mengungsi, tetapi 
juga bagi beberapa industri. Tidak beroperasinya pabrik-pabrik membuat 
pekerjanya menganggur untuk waktu yang tidak bisa ditentukan. 

Dalam kondisi demikian, puasa tahun ini menjadi momentum penting bagi umat 
Islam untuk melakukan introspeksi dan evaluasi menyeluruh, baik secara personal 
maupun secara sosial dalam membangun solidaritas dan rasa kebersamaan dalam 
kehidupan kemasyarakatan dan kebangsaan. Kalau proses ini bisa diupayakan, 
dimensi hablum min annas dari puasa bisa langsung dirasakan manfaatnya dalam 
kehidupan bersama. Tanpa itu, ibadah puasa mempunyai potensi tidak berdampak 
apa pun kecuali hanya lapar dan dahaga. Padahal, Nabi Muhammad SAW sudah 
mengingatkan "betapa banyak orang berpuasa, tetapi tidak mendapatkan apa-apa 
dari puasanya kecuali lapar dan dahaga".

Sayangnya, kalau kita cermati, banyak acara keagamaan di bulan suci ini, 
khususnya di beberapa televisi, cenderung lebih terfokus pada aspek kesalehan 
individual serta penekanan pada pelaksanaan ibadah formal. Anjuran untuk 
meningkatkan amal saleh lebih tertuju pada konsep aktsarul 'amal (amal yang 
terbanyak) dan bukan pada ahsanul 'amal (amal terbaik). Bahkan, ada pula 
kecenderungan atas apa yang disebut komersialisasi agama. Agama dan ritualnya 
telah dijadikan komoditas yang bersifat suplementer untuk menjual produk-produk 
industri gaya hidup tertentu agar laku keras. 

Dalam kecenderungan demikian, tidak heran jika meningkatnya kesalehan personal 
umat beragama justru tidak dibarengi kepedulian sosial yang seharusnya menjadi 
sikap utama umat beragama. Orang cenderung berlebihan dalam berbuka puasa 
misalnya. Kita mengamati sebuah paradoks di mana selama Ramadan secara 
statistik, pengeluaran belanja keluarga cenderung meningkat walaupun waktu 
makan dipersingkat hanya menjadi dua kali sehari. Padahal, firman Allah SWT 
secara tegas mengatakan, "Dan, makan dan minumlah serta janganlah 
berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang 
berlebihan." (QS Al-A'raf: 31).

Hilangnya kepekaan sosial menyebabkan banyak orang lebih sibuk menyiapkan 
parsel yang diperuntukkan kalangan yang sebenarnya tidak membutuhkan. Tradisi 
berbaju baru pada Lebaran seolah menenggelamkan esensi puasa dan Idul Fitri 
yang seharusnya menekankan pada proses penciptaan batin yang baru dalam upaya 
mendapatkan maghfirrah. 

Melihat fenomena seperti itu, kita pantas bertanya: gejala apa yang sedang 
terjadi dengan proses keberagamaan masyarakat kita? Tentu tidak mudah 
menjawabnya karena ada banyak perspektif yang bisa digunakan. Namun, salah satu 
yang bisa menjadi jawabannya adalah bahwa salah satu dampak dari gagalnya 
sintesis modernisasi kehidupan dan proses keberagamaan adalah terjadinya 
pendangkalan pemahaman terhadap agama dan hilangnya watak kritis ajaran agama 
itu sendiri. Maraknya tayangan dakwah dan hiburan bernuansa agama di televisi 
yang didorong proses komersialisasi agama, pada gilirannya menjadikan agama 
tinggal sebagai ritual dan gaya hidup semata. Agama menjadi alat mobilisasi dan 
legitimasi yang paling efektif bagi berkembangnya industri gaya hidup 
masyarakat. Secara perlahan, agama pun menjadi kehilangan rohnya.

Islam yang ketika diturunkan menjadi alat dahsyat dalam melakukan perubahan 
konstruki sosial masyarakat jahiliyah sekarang menjadi tumpul dalam 
menjembatani perbedaan antara si kaya dan si miskin. Padahal, Nabi Muhammad SAW 
sudah menegaskan bahwa "tidak sempurna iman seseorang apabila dia tidur nyenyak 
sementara tetangganya sedang dalam kelaparan". Artinya, keimanan dan 
keberagamaan akan menjadi sebuah retorika kosong jika tidak melahirkan dan 
menyatu dengan kepedulian sosial.

Dalam hal ini, kita mungkin perlu melihat bagaimana para ulama terdahulu dan 
para wali kekasih Allah memahami agama. Dalam tradisi ulama, hakikat 
keberagamaan terletak pada apa yang dalam kajian hukum Islam disebut hakikat 
dan moral di balik syariat (hikmah at-tasyri'). Tujuan puasa misalnya adalah 
agar manusia menjadi bertakwa. Tujuan salat adalah menjauhkan manusia dari 
perbuatan keji dan munkar. Selalu ada dimensi pembebasan dari setiap ajaran 
syariat.

Dengan memahami hakikat dan moral di balik syariat, umat Islam bisa menjadi 
inspirator penting bagi perubahan masyarakat secara menyeluruh. Pada saat yang 
sama, keberagamaan yang hanya berorientasi pada ritual syariat semata bisa 
dikurangi, karena hal demikian dalam banyak hal justru menghasilkan sikap dan 
perilaku yang berbeda dengan hakikat dan tujuan agama itu sendiri. Wallahua 
alam bi ash ash-shawab.
*) Yenny Zannuba Wahid, direktur The Wahid Institute




[Non-text portions of this message have been removed]



______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan 
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus 
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: 
[EMAIL PROTECTED] 
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke