(Tulisan ini juga disajikan dalam website
<http://perso.club-internet.fr/kontak>.)
Dari Mekkah Sampai Pulau Buru
Baru-baru ini telah terbit lagi satu buku yang berjudul « Dari Mekkah
Sampai Pulau Buru », yang merupakan karya H. Suparman, seorang rekan lama
saya, yaitu mantan pimpinan suratkabar Warta Bandung, yang dibreidel
(dilarang terbit) oleh penguasa militer Orde Baru setelah terjadinya
peristiwa G30S.
Terbitnya buku ini menambah khazanah perpustakaan bangsa Indonesia tentang
hal-hal yang berkaitan dengan tragedi 65, yang merupakan peristiwa besar
dalam sejarah bangsa kita, dengan berkuasanya rezim militer Suharto dkk,
yang menyebabkan penderitaan berkepanjangan bagi puluhan juta orang selama
puluhan tahun.
Tentang buku ini, baik penulis maupun sejarawan Dr. Asvi Warman Adam telah
menguraikan secara baik isi dan artinya bagi kita semua, dalam usaha kita
bersama untuk mengenal sebagian dari sejarah bangsa kita.
Buku « Dari Mekkah Sampai Pulau Buru » yang berhalaman 342 ini diterbitkan
oleh penerbit Nuansa , Komplek Cijambe Indah, Jl. Wijaya Kusumah II/E-16,
Ujung Berung - Bandung Timur. E-mail: [EMAIL PROTECTED], situs WWW.
nuansabook.com.
A. Umar Said
================
Pengantar
(oleh
penulis, H. Suparman)
40 Tahun sudah berlalu sejak terjadinya peristiwa 65 yang sangat
mengerikan itu. Tetapi sampai sekarang masih belum ada penyelesaian terhadap
orang-orang yang telah dikorbankan menjadi tumbal terbentuknya system
ekonomi dunia baru seperti yang sekarang kita kenal sebagai imperialisme
global di bawah kepemimpinan tunggal Amerika Serikat.
Berbagai usaha dan berbagai perjuangan sudah dilakukan. Hampir
semua kekuatan demokratis di tanah air bekerja keras selama lebih dari enam
tahun untuk memperjuangkan adanya keadilan bagi penyelesaian apa yang
disebut peristiwa G30S. Seminar, symposium, class action bahkan sampai
diundangkannya Undang-Undang KKR dan dipilihnya 42 calon anggota KKR.
Berbagai tulisan, artikel tentang peristiwa 65 itu sudah banyak diungkap di
dalam berbagai media, baik cetak maupun elektronik dan bahkan buku yang
mengangkat masalah yang sama sudah banyak beredar, termasuk hasil penelitian
dan pembokaran kuburan masal korban holokaus yang dilakukan rezim orde baru,
tetapi pemerintah bergeming dengan sikapnya yang seolah-olah mau melupakan
peristiwa G30S yang dahsyat itu. Bahkan pemerintah lebih mengutamakan
penyelesaian damai dengan GAM yang sudah jelas melakukan pemberontakan
terhadap pemerintah syah RI, selama belasan dan bahkan puluhan tahun.
Dari sekian banyak artikel, tulisan dan buku-buku yang sudah
terbit tentang peristiwa 65, penulis mencoba menambah khasanah sejarah
Indonesia yang kelam ini dengan sebuah catatan tragedi 65 yang diberi judul
"Dari Pulau Buru Sampai ke Tanah Suci Mekah", dengan harapan anak cucu
penulis khususnya, dan generasi muda bangsa Indonesia pada umumnya,
memahami tentang betapa dahsyatnya peristiwa tersebut terhadap manusia dan
kemanusiaan.
Tidak sedikit para korban, atau barangkali lebih tepatnya,
para survivor, yang sampai hari ini masih tetap bertahan dalam penderitaan
memikul beban stigma G30S, masih mengharapkan adanya penyelesaian politik
dalam bentuk rehabilitasi dan konpensasi seperti juga yang diperoleh oleh
bekas-bekas anggota GAM.
Terbitnya buku ini melalui pergulatan batin penulis yang
panjang. Sebenarnya naskah ini sudah ditulis sejak mulai bergulirnya gerakan
reformasi tahun 1998. Tapi penulis masih tetap ragu antara ya dan tidak.
Antara diterbitan dan tidak diterbitkan. Tetapi berkat dorongan
sahabat-sahabat dekat yang pernah membaca naskah awal buku ini, terutama
Ramadhan KH selalu mendesak agar naskah ini segera diterbitkan,
Untuk itu saya mengucapkan beribu-ribu terimaskasih kepada
beliau yang telah memberi semangat kepada saya untuk menerbitkan buku ini.
Hanya sayangnya pada saat buku ini naik cetak, beliau telah meninggalkan
kita untuk selama-lamanya pada hari Kamis, tanggal 16 Maret 2006, di Cape
Town Afrika Selatan, Inalillahi Wainaillaihi Rodziun. Dari Allah kembali
kepada Allah.
Juga tidak lupa kepada Mas Harsutejo, seorang spesialis
penulis peristiwa G30S, yang telah membantu mencarikan penerbit dan memberi
alamat penerbit Nuansa Cendikia di Bandung, saya mengucapkan banyak
terimakasih atas segala bantuan dan jerih payahnya.
Pada awalnya buku ini diberi judul "Saksi Bisu dari Pulau
Buru". Tapi setelah Dr. Asvi Warman Adam, seorang Peneliti Utama LIPPI
membaca naskah buku ini, beliau menyarankan agar naskah tersebut dilanjutkan
dengan pengalaman batin hidup penulis sesudah dibebaskan, maka buku ini
akhirnya diberi judul "Dari Pulau Buru sampai ke Tanah Suci Mekah", sesuai
dengan anjuran dan saran beliau. Untuk itu penulis mengucapkan terimakasih
sebesar-besarnya kepada Dr. Asvi Warman Adam yang telah memperkuat spirit
perjuangan hidup saya untuk memanfaatkan sisa hidup ini bagi kepentingan
generasi muda dan bangsa Indonesia yang kita cintai ini.
Kepada penerbit juga tidak lupa saya mengucapkan terimaksih
sebesar-besarnya, karena ternyata untuk menerbitkan buku yang berkaitan
dengan G30S tidak mudah. Sebelumnya penulis sudah berkeliling dari satu
penerbit ke penerbit lain, tapi hanya penerbit Nuasa Cendekialah yang dengan
spontan menerima naskah tersebut untuk diterbitkan. Sekali lagi saya
mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya kepada penerbit Nuansa Cendikia,
khususnya kepada Bapak Mathori.
Dan last but not least, buku ini tentu saja jauh daripada
sempurna, Masih banyak kekurangan dan kelemahan, baik dari segi teknis
redaksionilnya maupun dari segi bobot isinya. Dan yang pasti buku ini akan
berbeda dari versi buku-buku sejenis lainnya, karena. buku ini merupakan
catatan bathin penulis yang tentu saja akan berbeda pengalaman dan
persepsinya terhadap setiap masalah yang dialaminya. Untuk itu penulis mohon
maaf sebesar-besarnya.
Penulis
===========
Pak Haji dari Pulau
Buru
Oleh Asvi
Warman Adam
Saya memiliki beberapa buku dan kumpulan karangan mengenai pengalaman
tahanan politik di pulau Buru. Ketika pertama kali menerima naskah Suparman
Amirsyah, Pemimpin Umum suratkabar Warta Bandung sampai tahun 1965 dan
membacanya, saya merasa bahwa pengalamannya tidak berbeda dengan tapol lain.
Pulau Buru adalah goulag, tempat pembuangan sekaligus penyiksaan. Ketika
Belanda pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 membuang para pemimpin
pergerakan ke tempat-tempat yang jauh di Nusantara ini, mereka hanya
dikucilkan tetapi tidak disiksa secara fisik.
Namun ketika lebih dari 10.000 orang yang dikategorikan sebagai tapol
peristiwa 1965 golongan B diangkut dari tempat-tempat penahanan di pulau
Jawa tahun 1969 (dua tahun sebelum pemilu tahun 1971), mereka tidak tahu
mau dibawa ke mana. Ketika akhirnya sampai di sebuah pulau di Maluku mereka
juga tidak tahu akan berada di sana sampai kapan. Setelah sekitar 10 tahun
disiksa dan disuruh melakukan kerja paksa, tahun 1978-1979 mereka
dipulangkan kembali ke pulau Jawa atas tekanan internasional terutama negara
pemberi utang Indonesia. Kepulangan ini bukan berarti bahwa persoalan mereka
telah selesai. Keretakan bahkan pecahnya keluarga tidak jarang terjadi
selain dari kesulitan mencari pekerjaan yang diringi stigmatisasi buruk
untuk mereka dan keluarga.
Apalagi selain dari tragedi kemanusiaan yang bisa diperoleh dari kisah ini.
Oleh sebab itu saya usulkan kepada penulisnya agar menambahkan pengalaman
selepas dari pulau Buru. Menurut hemat saya ini tidak kalah tragisnya. Saya
pernah membaca kisah Buntoro seorang prajurit Cakbirawa dalam sebuah bunga
rampai tentang korban 65. Setelah buku tersebut diluncurkan di Teater Utan
Kayu, Jakarta, saya menerima dari Buntoro sendiri sebuah transkrip wawancara
yang pernah dilakukan terhadap dia. Ternyata transkrip itu memberikan
gambaran betapa tertutup segala pintu bagi orang yang telah diberi stigma.
Beberapa kali ia mendapat pekerjaan dengan susah payah yang berakhir dengan
pemecatan setelah diketahui atasannya bahwa ia pernah "terlibat". Sekarang
ia menjadi satpam di sebuah rumah sakit swasta di Jabotabek. Sayang
pengalaman pahit tersebut tidak termuat dalam buku yang telah terbit itu.
Pak Suparman menyanggupi untuk melengkapi pengalaman pasca Buru yang
ternyata tidak kalah beratnya. Sebagai mantan wartawan senior ia dapat
mengerjakan tulisan itu dalam waktu relatif singkat. Dengan memberikan les
bahasa Inggris, Perancis dan komputer akhirnya setelah melalui perjuangan
yang tidak kenal menyerah, bersama seorang rekannya ia berhasil mendirikan
sekolah sendiri di Tasikmalaya.
Ia tidak memiliki latar belakang linguistik dan pendidikan kecuali
publisistik, tetapi terpaksa harus mengajar bahasa Inggris. Hanya lowongan
sejenis itu yang mungkin bagi seorang yang dicap kiri era Orde baru.
Ternyata ia memiliki metode pengajaran bahasa yang ampuh. Prinsipnya,
"belajar bicara adalah pelajaran yang paling mudah selama Anda tidak gagu".
Ia teringat ketika masuk HIS dahulu. Tidak bisa berbahasa Belanda sama
sekali, tetapi karena tiap hari mendengar dan menirukan terus menerus, maka
secara otomatis ia bisa mengucapkannya dengan baik dan benar, hanya dalam
tempo beberapa bulan. Cara anak-anak usia 2-3 tahun belajar bicara adalah
contoh kongkret bagi mereka yang mau menguasai bicara bahasa asing apa pun.
Dengan pertimbangan itulah maka di kelas ia tidak pernah mengajarkan tata
bahasa. Mereka "dipaksa" untuk menirukan dan mengulanginya berkali-kali
dengan suara keras kalimat-kalimat Inggris sesuai dengan tahapan yang
diajarkannya. "Substitution drill" ini diberikan sampai kalimat-kalimat itu
dihafal di luar kepala dan dikuasai. Dengan demikian mereka secara otomatis
bisa mengucapkan kembali semua kalimat Inggris yang sudah tersimpan dalam
memorinya secara otomatis. Bicara dahulu, baru diajarkan tata bahasanya,
itulah pedoman Suparman mengajar Inggris.
Dalam hubungan ini Suparman teringat kepada sobekan majalah "Reader Digest"
tahun 1970-an yang ditemukannya di kamp penahanan Kebon Waru Bandung. Pada
kertas sobekan itu terdapat ungkapan linguis Amerika Robert Lado yang
mengatakan "Otak manusia bisa merekam sesuatu yang baru setelah ia
mengucapkannya keras-keras selama 30 kali berulang-ulang." Bagi kaum
muslimin barangkali hal ini bukan hal yang baru atau luar biasa, tapi sudah
menjadi kewajiban setiap hari pada saat sholat 5 waktu. Nabi Muhamad s.a.w.
mengajarkan wirid sejak abad ke-7, diucapkannya 33 kali dengan suara yang
keras. Luar biasa. Ternyata beliau bukan hanya seorang Rasul tetapi juga
seorang paedagog yang agung.
Dengan metode "drilling" kalimat demi kalimat, ternyata
pengajaran bahasa asing berhasil dan bisa memukau para siswa. Sejak itu
peserta didik Suparman semakin banyak. . Bukan hanya perorangan, bukan lagi
anak-anak sekolah atau mahasiswa, tapi juga orang-orang dewasa. Banyak di
antaranya sarjana. Kemudian meningkat berbentuk permintaan mengajar dari
instansi, antara lain dari PT.Nurtanio, kemudian berganti nama jadi PT
Dirgantara Indonesia, yang salah satu divisinya mengontraknya mengajar di
sana. Mula-mula perorangan yaitu Bosnya. Mungkin ia merasa tertarik dan
merasa berhasil menguasai bahasa Inggris dengan lancar dan cepat, ia minta
mengajar stafnya juga, selanjutnya insinyur-insinyur lain. Sebagian
sarjana-sarjana teknik Nurtanio lulusan Jerman. Bahasa Inggrisnya kurang
fasih terutama mereka yang baru pulang dari Jerman.
Dalam selang beberapa waktu, Suparman juga diminta mengajar oleh PT
Mercubuana, milik konglomerat Probosutejo. Pada tahun 1981, P.T. Mercubuana
mendapat proyek membangun bendungan PLTA Saguling bekerjasama dengan
perusahaan Perancis Dumez. Sebagian mitra kerjanya orang-orang Perancis,
sementara mayoritas insinyur kita tidak atau belum menguasai bahasa
Perancis. Oleh karena itu, mereka mengontrak Suparman untuk mengajar mereka
berbicara Perancis. Setiap hari Selasa ia dijemput dan bekerja tiga malam,
mulai malam Rabu sampai malam Jumat di Saguling.
Di proyek itu Suparman ditempatkan di sebuah Base Camp yang fasilitasnya
sama dengan orang-orang Perancis. Ini bagaikan "surga" untuknya yang baru
pulang dari pembuangan. Biasanya tidur di mana saja, kalau perlu di kolong
langit dengan selimut kabut dan udara malam yang menyengat dan menjadi
mangsa nyamuk ganas atau di gubug-gubug gedek tanpa alas, kedinginan,
sekarang tinggal di sebuah tempat dengan fasilitas internasional dan makanan
internasional dan last but not least bayarannya juga internasional.
Alangkah senangnya.
Ini semua berkat ketekunan, keuletan dan kesungguhan dalam menjalani hidup.
Menurut Suparman ia mencoba memadukan IQ (Intelligence Quotient) dengan EQ
(Experimental Quotient). Yaitu memadukan kecerdasan intelegensia dengan
kecerdasan pengalaman yang menurut Seymour menjadi alat berpikir konstruktif
(constructive thinking). Dengan memadukan kedua kecerdasaan tersebut itu
ternyata berbagai persoalan pengajaran bisa terpecahkan walaupun ia bukan
berlatar belakang pendidikan bahasa asing
Dengan demikian penghasilannya semakin bertambah. Anak-anak
tercukupi kebutuhannya. Selain itu ia bisa mengangsur pinjaman kepada
serorang dosen yang baik budi dengan ikhlas memberi pinjaman tanpa bunga
untuk membangun rumah. Setahun kemudian, tepatnya bulan April 1980 rumah itu
selesai. Hutang lunas. Dan mereka sekeluarga boyong pindah ke rumah yang
baru. Berukuran relatif besar, 10 X 20 meter persegi, 3 kamar tidur, kamar
pembantu, dua kamar mandi, dapur dan ruang tamu, ruang makan yang luas.
Terletak di Gegerkalong Girang, kira-kira limaratus meter sebelah Barat
Pondoknya Aa Gym. Cukuplah buat seorang bekas tapol yang baru meretas hidup
baru. Alhamdulillah dalam tempo satu tahun lebih sedikit kami sudah mengisi
rumah sendiri. Ini merupakan prestasi tersendiri. Sementara masih banyak
teman-teman yang hidupnya masih belum menentu. Mereka masih terlunta-lunta
dari satu kantor ke kantor lain atau dari satu pabrik ke pabrik lain untuk
mencari pekerjaan. Semuanya tertutup bagi bekas tapol yang betul-betul
menjadi pecundang dari keganasan sistem zalim rezim Soeharto yang menjadi
budak ekonomi global alias kapitalisme pasar yang sangat kejam.
Beberapa tahun kemudian, usahanya dalam bidang pendidikan berkembang baik
terutama setelah ia hijrah dari Bandung ke Tasikmalaya. Aparat keamanan yang
mencoba memeriksa Suparman memperoleh penjelasan yang masuk akal bahwa ia
hanya ingin berusaha mengembangkan ketrampilan masyarakat bukan untuk
berpolitik. Ia kemudian sempat menunaikan rukun Islam yang kelima yaitu naik
Haji ke Mekkah. Berarti melalui perjalanan hidupnya ini, Haji Suparman telah
memadukan antara IQ, EQ dan SQ (Spiritual Quotient). Perjalanan ke tanah
suci Mekkah baginya merupakan perjalanan menembus tirai kebesaran Ilahi.
Selain dari ketakjuban akan kebesaran yang Maha Kuasa, ia memaknai ritual
itu dengan nuansa ideologis.
"Bagi saya, kepergian saya bersama istri saya tercinta, melaksanakan ibadah
haji mempunyai makna yang lain, makna yang agung, yang tak pernah disadari
sebelumnya, yaitu kesadaran apa yang kami lakukan selama ini, termasuk
selama kami dikucilkan, dipenjarakan dan dibuang ke pulau Buru oleh
pemerintah zalim rezim Soeharto, hanya karena kami menginginkan, merindukan
terciptanya sebuah masyarakat yang adil, makmur, sejahtera, aman dan damai
tanpa ada perbedaan strata sosial, tanpa ada kekerasan dan tanpa ada
diskriminasi. Semua sama, sama seperti di hadapan Allah Subhanahu Wataala."
"Dengan kekuasaan Allah dan ihtiar manusia yang terus menerus, tak
henti-hentinya, dengan segala penderitaan dan kesabaran, serta ketawakalan,
pada suatu saat kelak, akan terciptalah di atas bumi ini suatu masyarakat
yang damai, yang adil dan yang sejahtera, yang penuh dengan cinta dan kasih
sayang. Amien Ya Robbul Alamin. Allahu Akbar."
Membaca kisah Haji Suparman ini saya teringat kepada Haji Misbach tokoh
pergerakan kiri pada awal abad ini. Juga para haji yang berontak tahun
1926/1927 di Silungkang dan Sawahlunto melawan pemerintah penjajah Belanda.
Saya pernah mengusulkan kepada penulisnya agar buku ini juga diantar oleh
seorang tokoh Islam. Usulan itu dipenuhi, Cecep Zamzam Noor seorang
sastrawan dan juga ulama dari Cipasung telah menggoreskan sambutannya yang
menyeyukkan hati. Ia menilai apa yang dilakukan ini sebagai rekonsiliasi
kultural. Tidak adanya gunanya melanjutkan dan mewariskan dendam. Memang,
bangsa kita harus berdamai dengan sejarah. ***
Pondok
Gede, 13 September 2006
--
No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Free Edition.
[Non-text portions of this message have been removed]
______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke:
[EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/