Informasi tentang Kiai Saleh Darat ini menarik sekali, dan terima kasih kepada Kang Mukhlisin yang terlah mengirim berita ini.
Hanya satu kekurangannya (dari puhak wartawan yang menulis berita ini): tidak ada tahun kapan Kiai Saleh pergi ke Singapura, kapan ke Mekah, kapan pulang ke Semarang, dan kapan persisnya beliau meninggal. Ini memang khas tradisi pesantren kita di Jawa: para santri mengenal para ulama berikut ajaran dan karyanya dengan baik, tetapi sama sekali kurang memperhatikan kronologi. Kronologi sangat penting dalam hal ini sebab dengan penanggalan yang jelas kita bisa tahu kapan ulama bersangkutan hidup, dan dengan begitu kita bisa tahu konteks historisnya. Sebagai contoh: Imam Suyuti dikenal luas di pesantren melalui tafsir Jalalain. Tetapi, saya kira sedikit sekali santri yang tahu kapan ulama besar ini hidup. Dengan mengetahui bahwa Imam Suyuti meninggal pada 1505 M tersingkaplah banyak hal, antara lain ulama ini hidup pada zaman kesulatanan Mamluk di Mesir, misalnya. Oleh banyak sarjana, era Mamluk dianggap sebagai era bangkitnya madrasah kedua setelah era kesultanan Saljuk. Konteks ini tentu menerangkan banyak hal tentang karir intelektual Imam Suyuti. Allahumma ighfir li Kiai Saleh Darat warhamhu wa 'afihi wa'fu 'anhu wan fa'na bi'ulumihi.... ulil --- Mukhlisin <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > HAUL KE-106 KIAI SALEH DARAT > Guru Pendiri NU dan Muhammadiyah > Jum'at, 3 Nopember 2006 17:33 WIB > > DALAM kitab Al-hikam yang ditulisnya, Kiai Saleh > Darat memaparkan, salah satu tanda kewalian > seseorang secara lahiriah adalah banyaknya umat yang > berziarah ke makamnya jika telah meninggal dunia. > Adapun secara batiniah, seseorang itu mampu menjadi > wasilah (perantara) doa umat kepada Allah SWT. > > Kini, bertahun-tahun setelah kematiannya, dua > tengara itu justru melekat pada diri Kiai Saleh > Darat. Setiap 10 Syawal, ribuan orang mengunjungi > makamnya yang terdapat di kompleks Pemakaman Umum > Bergota Semarang. Hampir seluruhnya meyakini, ulama > besar itu sebagai wasilah. Terlepas dari keyakinan > itu, banyaknya umat yang hadir tak termungkiri > menjadi penanda kebesaran namanya. > > Kamis (2/11) haul ulama besar yang terlahir dengan > nama Muhammad Shalih itu kembali digelar untuk > ke-106 kali. Seperti tahun-tahun sebelumnya, umat > berdatangan, tak hanya dari Semarang, melainkan juga > kota-kota lain di Jawa Tengah, seperti Tegal, Solo, > Pekalongan, Kendal, Kabupaten Semarang, Demak, Pati, > dan Grobogan. Kebanyakan datang pagi-pagi, namun > sebagian sudah menginap di tempat itu beberapa hari > sebelumnya. > > Dipimpin KH Muhammad Muin, kemarin umat yang hadir > bersama-sama membaca tahlil. Ketua Pengajian Ahad > Pagi 1939 itu juga menyampaikan riwayat Kiai Saleh > Darat dalam melakukan syiar Islam di Jawa dan > Nusantara. > > Menurut KH Muhammad Muin, Kiai Saleh Darat lahir di > Desa Kedung Jumbleng, Kecamatan Mayong, Jepara, > sekitar tahun 1820. Dalam kitab-kitab yang > ditulisnya, dia menggunakan nama Syeikh Haji > Muhammad Shalih bin Umar Al-Samarani. > > Adapun kata ''Darat'' di belakang namanya adalah > sebutan masyarakat untuk menunjukkan tempat dia > tinggal, yakni di Kampung Darat, Kelurahan > Dadapsari, Semarang Utara. Ayahnya, KH Umar, adalah > ulama terkemuka yang dipercaya Pangeran Diponegoro > dalam perang melawan Belanda di wilayah pesisir > utara. > > Setelah mendapat bekal ilmu agama dari ayahnya, > Saleh kecil mulai mengembara, belajar dari satu > ulama ke ulama lain. Tercatat KH Syahid Waturaja > (belajar kitab fikih, seperti Fathul Qarib, Fathul > Mu'in, Minhajul Qawim, dan Syarbul Khatib). > > Belajar di Makkah > > Dia juga belajar kepada KH Muhammad Saleh Asnawi > Kudus (Tafsir Jalalain As-Suyuti), KH Ishaq Damaran > (nahwu dan sharaf), KH Abu Abdillah Muhammad Hadi > Banguni (ilmu falaq), KH Ahmad Bafaqih Balawi > (kajian jauharatut Tauhid karya Syaikh Ibrahim > Al-Laqani dan Minhajul Abidin karya Al-Ghazali), > serta KH Abdul Gani Bima (kitab Al-Masa'ilus Sittin > karya Abul Abbas Ahmad Al-Ghani). > > Dia juga diajak ayahnya memperdalam agama di > Singapura, sebelum akhirnya menuju Makkah. Di > Makkah, dia berguru kepada ulama-ulama besar, antara > lain Syaikh Muhammad Al-Marqi, Syaikh Muhammad > Sulaiman Hasballah, Syaikh Sayid Muhammad Zein > Dahlan, Syaikh Zahid, Syaikh Umar Assyani, Syaikh > Yusuf Al-Misri, dan Syaikh Jamal Mufti Hanafi. > Beberapa santri seangkatannya antara lain KH Muhamad > Nawawi Banten (Syaikh Nawawi Al-Jawi), dan KH Cholil > Bangkalan. > > Seusai menuntaskan pendidikannya, dia mendapat > kesempatan mengajar, terutama kepada para santri > yang datang dari Jawa. Satu di antaranya adalah KH > Hasyim Asy'ari yang kemudian mendirikan Nahdlatul > Ulama (NU). Sepulang dari Makkah, Muhammad Saleh > mengajar di Pondok Pesantren Darat milik mertuanya, > KH Murtadlo. Semenjak kedatangannya, pesantren itu > berkembang pesat. > > Para santri berdatangan dari luar daerah. Sebagian > di antaranya menjadi ulama terkemuka, antara lain KH > Mahfudz (pendiri Pondok Pesantren Termas, Pacitan), > KH Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah), KH Idris > (pendiri Pondok Pesantren Jamsaren, Solo), KH > Sya'ban (ulama ahli falaq dari Semarang), Penghulu > Tafsir Anom dari Keraton Surakarta, KH Dalhar > (pendiri Ponpes Watucongol, Muntilan), dan Kiai > Moenawir (Krapyak, Yogyakarta). > > Dikutip dari Suara Merdeka, 3/11 > > > > > [Non-text portions of this message have been > removed] > > Ulil Abshar-Abdalla Department of Religion Boston University ______________________________________________________________________ http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah. ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
