http://www.indomedia.com/bpost/112006/7/opini/opini1.htm


Di Balik Kunjungan SBY Ke China

Kedatangan Presiden SBY ke China, setidaknya, menyimpan dua misi penting.
Oleh: Abdul Halim Mahally
Dosen Luar Biasa pada Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Jakarta


Kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ke China dari 27-31 
Oktober memang telah usai. Sayangnya, hampir tidak ada yang menganalisis 
peristiwa penting ini. Padahal, Indonesia bisa meraup untung besar jika 
pengusaha dari China mau berinvestasi. Meski ‘plesiran’ Presiden SBY ke 
‘Negeri Komunis’ itu menghabiskan banyak uang. Sebab, dana untuk sekali 
muhibah mancanegara itu mencapai Rp31 miliar, jumlah yang tidak sedikit di 
tengah kemiskinan rakyat yang jumlahnya kini mendekati 36,4 juta jiwa.
Presiden SBY tercatat melakukan kunjungan ke China yang kedua kalinya 
setelah Juli 2005 lalu, yang tidak lama kemudian disusul kunjungan resmi 
Wapres Jusuf Kalla pertengahan 2006. Dalam 55 tahun sejarah hubungan 
Indonesia - China, era SBY dianggap sebagai masa membaiknya relasi Jakarta - 
Beijing. Hal ini tidak lain berpuncak dari soal kudeta Partai Komunis 
Indonesia (PKI) yang menyebabkan hubungan RI China retak sejak 1967 hingga 
pulih secara perlahan pada 1990-an ketika rezim Soeharto mulai melirik 
Beijing.
Karenanya, naiknya SBY sebagai Presiden RI dan Hu Jintao sebagai Presiden 
China pada 2004, dipandang sebagai tanda pulihnya relasi kedua negara secara 
penuh.
Kedatangan Presiden SBY ke China, setidaknya, menyimpan dua misi penting. 
Pertama, kepentingan ekonomi (economic interests). Sumber daya alam (SDA) 
Indonesia dengan cadangan minyak sembilan miliar barel, 9,3 miliar ton batu 
bara dan 188 triliun kubik gas menarik minat pebisnis dari China. Ekspor 
Indonesia ke China terfokus pada migas, CPO, pulp dan kertas, petrokimia dan 
karet. Sedangkan impor dari negara berpenduduk 1,3 miliar jiwa itu adalah 
bahan baku tekstil, bahan obat-obatan, sepeda motor dan mesin perkakas.
Presiden SBY telah pula berjanji akan memberikan kemudahan khusus dalam 
masalah investasi. Pada 2004 lalu, misalnya, China menanamkan modal di 
Indonesia sebesar 6,5 miliar dolar. Perdagangan kedua negara mencapai 13,48 
miliar dolar.
Keuntungan Indonesia dari ekspor ke China di tahun yang sama juga mencapai 
4,6 miliar dolar AS. Pada 2008, investasi ‘Negeri Mata Sipit’ ke Indonesia 
diperkirakan mencapai 20 miliar dolar AS. Jika pertumbuhan ekonomi China 
yang saat ini 9,1 persen tetap stabil atau bahkan naik, peluang Indonesia 
menggiring investasi dari China terasa menjanjikan.
Sangat boleh jadi, harapan Ketua MPR China, Jia Qinglin, saat bertandang ke 
Jakarta (Juli 2003) agar nilai investasi China mencapai 30 miliar dolar pada 
2010 nanti bisa menjadi kenyataan. Apalagi, pengusaha dari China yang 
memenangkan sejumlah tender di bidang proyek infrastruktur di Indonesia 
bakal dikucuri dana oleh China Development Bank.
Kedua, mengurangi pressure (tekanan) Amerika. Tidak dipungkiri, selama ini 
Indonesia selalu di bawah bayang-bayang tekanan dari AS. Secara militer, TNI 
diembargo dengan alasan melanggar HAM di Timor Timur pascajajak pendapat 
Agustus 1999. Akibatnya, hanya empat dari 10 pesawat tempur jenis F-16 yang 
bisa dioperasikan karena suku cadangnya distop Pentagon.
Maka, dalam ketegangan RI - Malaysia (Ambalat, Februari 2004), sebagai 
contoh nyata, TNI tak mampu menyiagakan kekuatannya secara maksimal (AH 
Mahally: Anxiety While Abroad, Islamabad, 2005).
Washington baru mencabut hukumannya setelah Menhan AS Donald Rumsfeld datang 
ke Jakarta pada Maret 2006. Itu pun karena khawatir pada sikap Jakarta yang 
dinilai Gedung Putih semakin akrab dengan Beijing. Tampaknya, pemerintah 
Bush cemas bila Poros Jakarta - Peking yang dulu digagas almarhum Bung Karno 
pada 1960-an kembali dihidupkan.
Kunjungan Presiden SBY ke China dipastikan makin meresahkan Washington, 
karena Indonesia seharusnya ikut menjegal kekuatan China di kawasan Asia 
Tenggara. Bagi AS --seperti diulas Joseph Nye dari Harvard University-- 
China adalah strategic competitor (pesaing strategis), bukan strategic 
partner (mitra strategis). Yang mungkin luput dari prediksi Washington 
adalah Pemerintah SBY sepertinya tengah menjajagi kemungkinan China mau 
menjadi ‘pelindung’ Indonesia, bila harus berseberangan dengan Barat (AS). 
Berkiblat ke China memang tak ada salahnya. Anggaran pertahanan China 
sebesar Rp560 triliun menempatkan Beijing sebagai kekuatan militer terbesar 
di dunia, setelah Amerika dan Rusia. Di tahun ini saja misalnya, pemerintah 
Hu Jintao membeli 12 kapal selam untuk menambah kekuatan lautnya.
Menurut saya, kedua misi penting di balik kunjungan Presiden SBY ke China 
itu hanya akan menuai hasil apabila dua faktor berikut bisa dipenuhi.
Pertama, menjamin kemudahan izin investasi asing. Selama ini, investor 
tampak ragu menggotong modalnya ke Indonesia karena faktor keamanan termasuk 
stabilitas politik dan berbelitnya birokasi. Maka, tak heran bila kunjungan 
petinggi negara kita ke pelbagai negara hanya mampu menghasilkan komitmen 
investasi, namun miskin realisasi. Jika ada jaminan pasti bagi investor, 
maka MoU energi RI - China senilai empat miliar dolar AS (Rp36,8 triliun) 
yang ditandatangani Presiden SBY dan Presiden Hu Jintao, akan mulus.
Kedua, mengurangi kerjasama militer dengan AS. Jika Presiden SBY ‘berani’ 
menjamin Jakarta akan menjaga jarak dengan Washington, Presiden Hu Jintao 
tak syak lagi akan mendukung Indonesia, tidak saja secara militer tetapi 
juga di DK PBB. Beijing pasti akan memvoting setiap keputusan DK PBB 
terutama AS, bilamana kepentingan Indonesia terancam. Ini pula yang saya 
sampaikan kepada sejumlah rekan peserta Kursus Reguler Angkatan di Gedung 
Lemhannas November 2005 lalu.
Ketulusan AS mendukung negara lain sering tidak terbukti. Di era perang 
dingin (cold war), Pakistan dirangkul pada 1979 tetapi ditendang pada 
1989-an. Rezim Taliban yang awalnya didukung Clinton ternyata dilibas Bush 
pada 2001.
Juga, rezim Saddam pada 2003 atas nama war on terrorism. Sedangkan kesetiaan 
China dalam persahabatan berulang kali terbukti. Pakistan, misalnya, menjadi 
karib China selama puluhan tahun. Di saat Islamabad adu senjata dengan India 
pada 1962, Beijing adalah pendukung setia Pakistan. Program pengembangan 
rudal Pakistan pun tak luput dari bantuan China.
Oleh karena itu, bola ada di tangan pemerintah SBY. Jika Presiden SBY tidak 
serius dalam membina hubungan dengan Beijing, maka investasi pengusaha dari 
China dan dukungan pemerintah Hu Jintao ke Indonesia tak lebih dari sekadar 
‘mimpi di siang bolong’. Yang tersisa dan lebih pasti hanyalah amblasnya 
dana sebesar Rp31 miliar untuk berkunjung ke Negeri Tirai Bambu itu. 
Wallahu’alam Bishhowab.
e-mail: [EMAIL PROTECTED]
________________________________________


Copyright © 2003 Banjarmasin Post


________________________________________        O P I N I

        Di Balik Kunjungan SBY Ke China
________________________________________
Saatnya Mengatasi Pengangguran
________________________________________
TAJUK - Hukuman Tersadis
________________________________________





Gedung HJ Djok Mentaya, Jl AS Musyaffa No16 Banjarmasin 70111 Phone: 
+62-511-3354370 Fax: +62-511-4366123

_________________________________________________________________
Find singles online in your area with MSN Dating and Match.com! 
http://match.my.msn.com/match/mt.cfm?pg=channel&tcid=281206



______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan 
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus 
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: 
[EMAIL PROTECTED] 
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke