Gumam Kembara 
   
   
   
  100. KERETA ANTAR BENUA
   
   
  kutumpangi sudah kereta antar benua 
  tapi kembara ini  memang tak punya stasiun
  di ujung kulihat  malam sedang menunggu
  di akhir kabut dingin musim bersalju 
   
   
  manis, kucintai kau bagai dahulu
  masih saja kucintai kau tanpa ragu 
  hitam pakaianku. hitam-hitam
  warna resiko suatu pilihan  
   
   
  mengapa kuharapkan apa-apa
  jika cintaku memang bebas dusta
  mengapa aku patut meronta
  jika padamu tak lagi tiba?!
   
   
  Paris, Desember 2006
   
   
   
  101. BIUS
   
   
  serasa pasti akan sangat sederhana
  mengibaratkan kereta dengan medan tarung seluas angkasa
  rel dan kereta bisakah merangkum suka-duka perjalanan
  sedangkan peristiwa demi peristiwa juga bukan terminal
  -- tak lebih dari stasiun-stasiun warna-warni kita lalui 
  sambil menghapus airmata atau mengebas debu-debu duka dari tubuh
   
   
  tentu saja mimpi akan tetap mimpi 
  seperti lampu-lampu gerbong 
  ibarat matahari dan bulan 
  kita perlu dan harapkan benar melawan sia-sia
  semacam bius secara muluk kita namakan makna 
  di hadapan  malam sabar menunggu senja
   
   
  tanahair pun kukira 
  semacam bius juga
  yang mengalir di nadi-nadi 
  sejak kita bisa membaca
   
   
  Paris, Desember 2006.
  -----------------------------
  JJ.  Kusni

 Send instant messages to your online friends http://asia.messenger.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke