Digantung kok 'dor' ???????? On 1/3/07, Mukhlisin <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail_c&id=264606 > Rabu, 03 Jan 2007, > Pembajakan Agama dalam Eksekusi Saddam > > Oleh M. Hasibullah Satrawi > > "Allahu Akbar, 'dor'.." Kalimat ini sangat cocok untuk melukiskan eksekusi > mati terhadap mantan Presiden Iraq Saddam Hussein. Pagi-pagi buta waktu > setempat (30/12/2005), ketika umat Islam di Iraq dan sekitarnya merayakan > Hari Raya Kurban, mantan orang terkuat di negeri kaya minyak itu dieksekusi > mati setelah dinyatakan terbukti dalam serangkaian aksi pembunuhan masal > terhadap warga Iraq. > > Tulisan ini tidak akan menyoroti proses hukum terhadap Saddam yang telah > membawanya ke tiang gantungan maut. Tulisan ini tidak akan mengungkit-ungkit > masalah pembunuhan masal yang menjadi kasus terberat Saddam. > > Tulisan ini juga tidak akan membahas semua keburukan Saddam. Sebab, itu > sudah dimaklumi bersama. Terakhir, tulisan ini tidak akan mempersoalkan > pro-kontra di seputar hukuman mati terhadap mantan orang terkuat di dunia > Islam itu. > > Kenapa eksekusi tersebut harus terjadi saat Saddam, keluarga, warga Iraq, > dan umat Islam sekitar merayakan Hari Raya Kurban yang merupakan hari agung > dalam tradisi masyarakat Arab pada umumnya? Kenapa eksekusi itu dilaksanakan > saat umat Islam serentak mengumandangkan Allahu Akbar sebagai simbol > keagungan dan kekuasaan Tuhan? Apakah eksekusi itu secara sengaja dilakukan > untuk memaknai lafal teragung dalam Islam itu, Allahu Akbar, dengan > kekerasan dan pembunuhan? Atau, jangan-jangan memaknai Allahu Akbar dengan > kekerasan sudah menjadi kebiasaan mutakhir yang tak bisa dimungkiri siapa > pun? > > *** > > Harus diakui, dalam Islam memang ada hukuman yang sekilas tampak sadis. > Termasuk di antaranya hukuman mati. Namun, yang harus diperhatikan adalah > Islam tidak menerapkan hukuman-hukuman itu secara serampangan. > > Ada banyak hal yang diperhatikan Islam sebelum hukuman keras itu > diberlakukan, seperti kondisi kejahatan, kadar kejahatan, bentuk kejahatan, > siapa yang akan menerapkan hukum, atau kemungkinan menempuh hukuman lain > yang lebih ringan seperti mengganti kerugian dalam bentuk materi (diyât). > Upaya menggunakan hukuman lebih ringan pernah dicontohkan langsung oleh > Nabi. > > Dalam salah satu hadis yang sangat terkenal disebutkan, seseorang bernama > Ma'iz bin Malik datang kepada Nabi dan mengaku telah berbuat zina. Nabi > sangat marah dengan pengakuan Ma'iz dan membentaknya untuk kembali (ke > rumah) dan bertaubat kepada Allah. Tak lama kemudian, Ma'iz kembali menemui > Nabi dan mengaku hal yang sama. Nabi pun membentaknya kembali seraya > menyuruhnya pulang dan bertaubat. Begitu seterusnya hingga yang ketiga. > > Setelah pengakuan ketiga itu, Nabi baru menyuruh sahabatnya agar Ma'iz > diproses "secara hukum" hingga hukuman mati (rajam) dilaksanakan. > > Bahkan, dalam hadis sahih yang lain, Nabi menganjurkan, bila kalian hendak > menyembeleh (hewan), lakukanlah sebaik-baiknya. Dan, apabila kalian hendak > membunuh (hewan), lakukanlah dengan baik. Apabila tuntunan agung itu > dianjurkan Nabi dalam konteks hewan, tentu saja lebih dianjurkan lagi dalam > konteks manusia. Sebab, Islam memosisikan manusia sebagai wakil Tuhan > (khalifatullah) di muka bumi. > > Karena itu, Islam mengecam keras kejahatan atas kemanusiaan. "Membunuh > seseorang yang tak bersalah bagaikan membunuh semua manusia." Begitulah > kira-kira bunyi salah satu ayat dalam Alquran. > > Dalam konteks itu, eksekusi mati terhadap Saddam saat dia sendiri, > keluarga, dan umat Islam merayakan Hari Raya Kurban tidak bisa diterima. > Bahkan, hal itu termasuk kejahatan terhadap kemanusiaan. Sekali lagi, > tulisan ini tidak mempersoalkan Saddam bersalah atau tidak? Atau, dalam > bahasa yang lebih lugas, tulisan ini tidak terkait dengan pro-kontra > terhadap mantan presiden Iraq tersebut. > > Sebaliknya, itu masalah kemanusiaan yang harus dihormati dalam keadaan apa > pun dan menyangkut siapa pun. Atas dasar kemanusiaan itulah, eksekusi > hukuman mati harus dilaksanakan dengan cara dan dalam keadaan > sebaik-baiknya. > > Pertanyaannya, apa dampak dari semua itu? Menurut saya, eksekusi mati > Saddam semakin menyempurnakan pemaknaan kekerasan terhadap ajaran dan simbol > agama. Termasuk di dalamnya pemaknaan kekerasan terhadap nama-nama agung > Tuhan seperti Allahu Akbar. Dengan kata lain, eksekusi di atas telah membuka > jalur eksternal bagi pemaknaan kekerasan terhadap ajaran agama, setelah > pemaknaan serupa dilakukan sebagian umat Islam secara internal. > > Mengapa demikian? Sebab, asumsi yang berkembang dan kian menguat di > masyarakat mengatakan bahwa pemerintahan Iraq masih berada dalam "genggaman" > pihak sing, Amerika Serikat beserta sekutunya. Termasuk dalam memproses > kasus Saddam Hussein beserta orang-orangnya sekaligus melaksanakan eksekusi > mati terhadapnya. Bila asumsi di atas benar, secara tidak langsung pihak > asing juga turut andil dalam memaknai jaran-ajaran agung agama dengan > kekerasan. > > *** > > "Sudah jatuh, masih tertimpa tangga pula." Peribahasa itu sangat cocok > untuk melukiskan "nasib malang" umat Islam. Terutama pascaeksekusi Saddam > yang tak lain adalah pemaknaan agama dengan kekerasan oleh pihak luar, > sebagaimana telah dijelaskan di atas. Itu artinya, pengaitan dan pemaknaan > agama dengan kekerasan semakin mengukuhkan wujudnya secara sempurna. > > Kalau mau jujur, umat beragama selama ini sudah cukup "kewalahan" dalam > menghadapi pemaknaan di atas. Padahal, itu baru "separo sosok" dari wujud > pemaknaan tersebut. Sebagaimana dimaklumi, terdapat sebagian umat beragama > yang sering memaknai agama dengan kekerasan. Mereka tak lagi menggunakan > tempat ibadah untuk menyemai damai dan kebersamaan, melainkan menyebar > kekerasan dan kebencian. > > M. Hasibullah Satrawi, alumnus Al-Azhar Kairo, Mesir, kini peneliti di P3M > Jakarta > > [Non-text portions of this message have been removed] > > >
[Non-text portions of this message have been removed]
