This day I have perfected your religion for you and completed My Favor unto 
you, and have approved for you al-Islam as religon (al-yauma akmaltu lakum 
dinakum wa atmamtu lakum ni'mati waradhitu lakum al-Islama al-dina) [al-Maidah: 
3]
   
  Ayat ini sering disalahpahami oleh sebagian kalangan bahwa Islam adalah agama 
sempurna, komprehensif, dan merespon segala pernak-pernik kompleksitas 
problematika kehidupan, sehingga tak lagi dibutuhkan langkah inovatif dan tak 
boleh diotak-atik. Padahal, dalam perspektif fuqaha, Islam sejujurnya merupakan 
agama yang berbasis pada teks-teks keagamaan yang terbatas, sehingga Islam 
sejatinya tak mampu menjawab kompleksitas persoalan alias terbatas. Sebagai 
solusi, maka pendayagunaan nalar dan kontinuitas reinterpretasi dalam kerangka 
ijtihad menjadi keniscayaan. Hal ini sering dibahasakan oleh para sarjana 
klasik dengan ungkapan: "al-nushush mutanahiyyah wa al-waqai' ghayr 
mutanahiyyah" (teks-teks keagamaan [al-Quran] itu terbatas, sementara 
problematika sosial dan keagamaan tidaklah terbatas). Lalu dimanakah relevansi 
jargon kesempurnaan Islam?
  Dalam menjawab pertanyaan ini, al-Syathibi, dalam anggitan kanonikalnya, 
al-Muwafaqat, menyatakan bahwa yang dimaksud kesempurnaan Islam adalah 
kesempurnaan nilai-nilai universal yang menjadi aksis ajaran Islam.
  Dari statemen al-Syathibi ini dapat dipahami bahwa kesempurnaan Islam bukan 
berarti Islam sudah mencakup berbagai jawaban atas persoalan-persoalan parsial 
kekinian. Oleh sebab itulah, tugas umat Islam dewasa ini adalah menterjemahkan 
dan membumikan nilai-nilai universal tersebut guna menyikapi berbagai tantangan 
modernitas.
  Apa yang dilakukan oleh JIL sebenarnya lebih tepat kita pandang sebagai 
sebuah upaya intelektual yang berusaha mereinterpretasikan teks-teks keagamaan 
(tentunya dengan pendekatan dan pembacaan multi-disipliner) sekaligus 
mengartikulasikan nilai-nilai universal Islam guna merespon problematika 
kontemporer, melenturkan stagnasi, mendinamisasikan Islam agar senantiasa 
berdialektika, dan seterusnya, meskipun harus berhadapan dengan ortodoksi.
  Lebih jauh lagi, mengangap syariat itu qath'i juga problematik, sebab pada 
kenyataanya, diskursus qath'i & dhanni hanyalah sekadar konsepsi ulama kuno 
yang masih debatable dan multi-interpretatif.
   
  Konklusinya, Islam, seperti kata Syathibi, merupakan agama yang mengajarkan 
nilai-nilai universal yang sempurna, tetapi, seperti disuarakan oleh para 
pembaharu, bahwa pemahaman terhadap Islam tidak akan pernah sempurna dan akan 
terus berkembang selaras dengan panggilan realitas modern. Oleh sebab itu, tak 
pelak jika kita harus terus mempersoalkan relevansi pemahaman tradisional.
   
  salam,
  R-1 Masduqi 

izzatul ulya <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Betul pak KH kita harus mengambil yang baik dari barat
dalam teknologi, informasi, sarana, strategi,
manajemen

Tapi dalam masalah aqidah, ibadah dan syariat yang
sudah qth'i kita tetap harus asli gak boleh
diotak-atik lagi seperti kemauan saudara2 kita di JIL,
karena Islam sebagai DIIN dudah sempurna

.... pada hari Ini Telah Kusempurnakan untuk kamu
agamamu, dan Telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan
Telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu... (Al
Maaidah ayat 3)

--- kh anam <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Kemunduran Islam --saya tidak suka dengan istilah
> keterpurukan--
> dikatakan Yudi latif dan rekannya Dawam Rahardjo
> akibat penolakan
> sebagian kalangan terhadap liberalisme, pluralisme,
> dan sekularisme.
> Benarkah ini? adakah ukuran-ukuran atau setidaknya
> alasan yang logis??
> Saya curiga, jangan-jangan saking percayanya mereka
> terhadap isme yang
> disebutkan tadi kemudian tidak mau tahu, "pokok'e
> ngono," "yang
> penting begitu," kalau nggak begitu akan mengalami
> kemunduran, tanpa
> menjelaskan dulu apa itu kemunduran, kemajuan, dan
> bagaimana yang
> mundur itu kemudian dikatakan maju. Kalau kemudian
> yang dikatakan maju
> itu yang pluralis, liberal, dan sekuler sebagaimana
> dicontohkan dan
> distandarkan barat berarti sejatinya kita tidak akan
> pernah maju
> karena selalu ikut dan mengembek. Kalau tidak salah,
> semasa di sekolah
> dasar kita diajadi bahwa kemajuan itu terkait dengan
> pencapaian
> peradaban teknologi modern --menemukan dan
> memproduksi teknologi bukan
> mengkonsumsinya-- nah lalu apa hubungan antara
> liberalisme,
> pluralisme, dan sekularisme?? harus dijelaskan.
> 
> Kedua, bagaimana ceritanya yang tidak suka
> gembar-gembor "liberalisme,
> pluralisme, dan sekularisme" akan terjebak ke dalam
> fundamentalisme
> dan radikalisme. Semuanya problematik dan serba
> sulapan. Logikanya
> mana, kalau kalian itu mengaku akademisi yang
> berfikir?? heh!!! Satu
> lagi, itu sangat berpretensi memunculkan "adu domba"
> dan mencari-cari
> musuh di kandang sendiri.
> 
> Kembali kepada tulisan "Menyoal Pembaruan Islam",
> menurut saya sangat
> lucu jika ada yang mengatakan yang dari barat itu
> pasti tidak murni
> Islam dan pasti salah. Namun lebih lucu lagi jika
> ada yang secara
> "PRA-SADAR" bilang kalau Islam itu akan "benar" jika
> dan hanya jika
> dijelaskan dengan cara-cara barat. Bahwa misalnya
> "liberalisasi,
> skularisasi, dan pluralisasi" itu mendukung agenda
> kolonialisasi
> secara politik dan ekonomi, itu urusan lain dan
> semua sudah tahu.
> Namun bahwa ADA akal pikiran yang mati karena gamang
> melihat kemajuan
> yang telah dicapai oleh barat itu adalah kebodohan
> besar orang Islam
> Indonesia. Anehnya mereka bangga sekedar jika sudah
> bisa bercerita
> tentang kemajuan barat. Ahh.. Lihat saja, para
> cendekiawan muslim itu
> semakin kehilangan diri mereka dalam tulisan-tulisan
> mereka sendiri.
> Yang ada hanyalah kutipan dan tiruan, tanpa
> membedakan latar, alur dan
> logika. Mereka bahkan tidak berfikir sendiri dan
> hanya menghafal tapi
> anehnya mereka bangga.
> 
> Jadi begitu,
> 
> 
> On 1/2/07, Mukhlisin <[EMAIL PROTECTED]>
> wrote:
> > Islam Harus Kembali Terbuka
> >
> > Jakarta, Kompas - Keterpurukan umat Islam saat ini
> terjadi akibat hilangnya
> > sifat dasar budaya Islam yang terbuka dan
> kosmopolitan. Ketertinggalan
> > kualitas umat Islam harus segera diatasi dengan
> pendidikan yang egaliter,
> > mampu memenuhi kebutuhan umat dan menjawab
> tantangan zaman, serta lebih
> > menghargai pluralisme.
> >
> > Deputi Rektor Universitas Paramadina Yudi Latif,
> di sela-sela pidato
> > kebudayaan di kampus Paramadina, Sabtu (30/12),
> mengemukakan, dunia Islam
> > yang semula mampu mengapresiasi berbagai budaya
> berubah menjadi tertutup
> > sejak invasi budaya Barat pada abad ke-18.
> >
> > Langkah mundur yang terlalu lama untuk menjaga
> kemurnian agama dan
> > memperkuat diri menghadapi budaya Barat justru
> membuat Islam inferior
> > terhadap budaya lain. Namun, ini dinilai sebagian
> umat sebagai langkah maju
> > menjaga identitas diri.
> >
> > Kemunduran itu melahirkan sikap fundamental yang
> menunjukkan terjadi krisis
> > antara identitas dan realitas. Ajaran Islam
> menjadi sulit membumi dan tak
> > sesuai dengan kebutuhan umat.
> >
> > Di Indonesia, pesantren yang memiliki peran
> penting mengembangkan etika dan
> > nilai produktivitasnya terhenti. Sejak penetrasi
> terhadap kolonialisme pada
> > abad ke-18, pesantren tidak lagi menghasilkan
> literatur dan ulama masyhur.
> >
> > Ketua Dewan Direktur Lembaga Studi Agama dan
> Filsafat M Dawam Rahardjo dalam
> > pidato kebudayaannya, menilai dunia Islam masih
> bergelut dengan kemiskinan,
> > kebodohan, dan keterbelakangan. Penolakan sebagian
> kalangan terhadap
> > liberalisme, pluralisme, dan sekularisme justru
> membuat Islam terjebak ke
> > dalam fundamentalisme dan radikalisme.
> >
> > Gerakan pembaruan untuk mengatasi keterpurukan
> dunia Islam di Indonesia pun
> > mendua. Sebagian kelompok bergerak ke arah
> modernisasi dan liberalisme,
> > sedang kelompok lain bergerak ke arah sebaliknya,
> yaitu puritanisme dan
> > salafiyah. (MZW)
> >
> >
> > ----- Original Message -----
> > From: irwan berhati nyaman
> > To: [email protected]
> > Sent: Sunday, December 31, 2006 8:45 PM
> > Subject: Balasan: Re: [kmnu2000] Menyoal
> 'Pembaruan Islam'
> >
> >
> > Mas Anam, paradigma Hamid Fahmi Zarkasyi, Adian
> Husaini, dan koleganya
> > yang lain memang demikian. Mereka sangat alergi
> Barat.
> > Rasionalisme, dalam asumsi mereka, tak lain
> adalah produk Barat. Mereka
> > tidak menyadari bahwa sejatinya rasionalisme
> adalah inti dari bagian ajaran
> > Islam itu sendiri. Terdapat puluhan ayat yang
> memotivasi umat Islam untuk
> > berpikir kritis dan rasional, sehingga harmonisasi
> --lebih tepat
> > integralitas-- antara agama dan rasionalitas
> nampak aksiomatis.
> >
> > Relativisme juga mereka anggap semata-mata
> sebagai produk postmodrnisme,
> > tapi mereka lalai jika realativisme sesungguhnya
> selalu dijunjung tinggi
> > oleh ulama klasik Islam. Dalam sebuah statemen
> yang cukup familiar, para
> > raksasa klasik Islam menyatakan "ra`yuna shawab
> yahtamilu al-khatha` wa
> > ra`yu ghayrina khatha` yahtamilu al-shawab"
> (pendapat kami benar tapi
> > mungkin saja salah, sementara pendapat orang lain
> adalah salah tetapi ada
> > kemungkinan benar). Dengan demikian, relativisme
> merupakan prinsip adiluhung
> > bagi para ulama, bukan semata-mata diseruput dari
> Barat. Ulama benci
> > otoritarianisme, absolutisme, dan monopoli klaim
> kebenaran mutlak.
> > Statemen tersebut secara eksplisit juga
> menandakan bahwa pendapat ulama
> > hanyalah sekadar ra`yu fi fahm al-din, bukan agama
> Islam itu sendiri.
> > Anehnya, mengapa Fahmi tetap saja menolak dikotomi
> antara pemikiran
> > keagamaan dengan agama itu sendiri.
> > Sangat ngawur jika disparitas dan dikotomi
> antara pemikiran agama dengan
> > agama hanya diklaim sebagai semata-mata diadopsi
> dari Barat.
> > Differensiasi antara pemikiran agama dan agama,
> bagi saya, adalah pintu
> > masuk untuk melakukan pembaharuan, karena dengan
> begitu kita dapat melakukan
> > desakralisasi terhadap khazanah intelektual
> klasik.
> > Meski demikian, memang harus diakui, bahwa
> differensiasi dan dikotomi itu
> > semakin meniscaya lantaran didukung oleh
> pengalaman gelap keagamaan Barat.
> 
=== message truncated ===

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 


         

 __________________________________________________
Apakah Anda Yahoo!?
Lelah menerima spam?  Surat Yahoo! memiliki perlindungan terbaik terhadap spam  
http://id.mail.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke