saya harap rakyat irak harus tetap meyaqininya dengan semua yang telah terjadi 
dengan demikian pertarungan tidak pernah terjadi
 
SELAMAT MEMBANGKITKAN PERJUANGAN
DEMI HIDUP YANG SELANJUTNYA


----- Original Message ----
From: Mukhlisin <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]; [EMAIL PROTECTED]
Sent: Wednesday, January 3, 2007 10:49:21 AM
Subject: [kmnu2000] Saddam dan Kebiadaban Bush









  


    
            http://www.suaramer deka.com/

Saddam dan Kebiadaban Bush

  a.. Oleh Chusnan Maghribi 

AKHIRNYA Presiden Irak terguling, Saddam Hussein menjalani eksekusi mati dengan 
cara digantung di Bagdad, Sabtu 30 Desember 2006. Sungguh, eksekusi mati atas 
mantan orang nomor wahid Irak itu menyayat hati siapa pun yang peduli dengan 
substansi etika demokrasi dan nilai-nilai kemanusiaan universal. Mengapa 
demikian ?



Karena pertama, proses pengadilan Saddam sejak awal tidak fair. Iraqis High 
Tribunal (IHT) dibentuk atas pesan sekaligus dibiayai pemerintahan George 
Walker Bush di Washington, sehingga putusan pada dasarnya putusan Amerika 
Serikat, bukan putusan pengadilan Irak yang berdaulat dan independen.



Logis, vonis gantung yang dijatuhkannya pada diri Saddam (5/11/06) yang 
dianggap terbukti bersalah melakukan kejahatan kemanusiaan di Kota Dujad tahun 
1982 ditentang serta dikecam oleh banyak lembaga hukum dari banyak negara. 
Bahkan Vatikan bersama sejumlah pemerintah dari negara Eropa turut serta 
menentang vonis gantung tersebut. Tapi tentangan dan kecaman mereka tak sanggup 
mendorong IHT ataupun Washington mau mengubah vonis gantung itu menjadi hukuman 
seumur hidup misalnya.



Kedua, tidak fairnya proses pengadilan atas diri Saddam menjadi semakin lebih 
kasat mata, terang-terangan, lantaran Saddam sejak ditangkap oleh pasukan 
Amerika Serikat Desember 2003 sampai dijemput untuk digantung tidak ditempatkan 
di penjara, melainkan ditahan di kamp militer AS di Bagdad yang dikenal dengan 
green lines (jalur hijau) yang senantiasa dijaga ekstra-ketat oleh militer AS. 



Dipaksa Tanda Tangan



Tak lama setelah upaya naik bandingnya ditolak, Saddam Hussein dipaksa 
menandatangani berita acara mengenai pelaksanaan eksekusi matinya tanpa 
didampingi seorang pun pengacaranya, meski Saddam menolak menandatanganinya.



Ketiga, pelaksanaan hukuman gantung sejatinya tidak manusiawi, tidak beradab. 
Sungguh ironis, di tengah kemajuan pesat peradaban umat manusia di milenium 
ketiga ini masih ada praktik hukuman mati dengan cara digantung. Lebih-lebih 
pihak yang berdiri di balik pelaksanaan hukuman gantung itu adalah AS, sebuah 
negara besar yang serba maju di bidang apa pun, yang senantiasa mengklaim 
sebagai kampiun demokrasi dan penegak hak asasi manusia (HAM) di dunia.



Keempat, hukuman gantung atas Saddam dilaksanakan bertepatan dengan sebagian 
umat Islam di dunia merayakan hari besar Idul Adha. Sungguh sebuah pelecehan 
memuakkan. Saat sebagian umat Islam khusuk menjalani ritual suci hari raya 
kurban dengan memuji keagungan Tuhan serta menyembelih hewan kurban bagi mereka 
yang berkemampuan, justru ada anak Adam yang bertindak kejam /biadab dengan 
mengeksekusi anak Adam yang lain di tiang gantungan. Mereka laksana malaikat 
Izroil yang diberi mandat Tuhan untuk mencabut nyawa Saddam Hussein.



Wajar ada sebagian umat Islam tersinggung atas pelaksanaan eksekusi gantung 
itu. Momentum sakral Idul Adha yang mengandung pesan nilai kemanusiaan nan 
tinggi dan luhur dinodai oleh pemerintahan PM Nuri Al-Maliki dan Presiden Jalal 
Talabani yang didikte George W Bush dengan menggantung Saddam Hussein. Sungguh 
biadab, tak bermoral.



Kebiadaban George Bush bersama pemerintah bonekanya di Irak itu kian 
menjadi-jadi karena mereka membiarkan publik bebas mengambil gambar pelaksanaan 
eksekusi gantung itu. 



Apakah lembeknya sikap pemerintah Indonesia karena takut pada AS dan demi 
terjaganya hubungan "baik" Jakarta - Washington? Jika demikian, sungguh naif, 
pemerintah Indonesia tak berani berkata "tidak" kepada pihak yang nyata-nyata 
melecehkan nilai-nilai kemanusiaan dan demokrasi, demi hubungan bilateral RI - 
AS yang belum tentu akan menguntungkan



Bahkan masyarakat di Baghdad dengan menggunakan ponsel mereka masing-masing 
saling tukar-menukar gambar pelaksanaan hukuman gantung mantan Presiden Irak 
tersebut. Fakta ini memperkuat anggapan, betapa mantan Presiden Saddam Hussein 
yang pernah berhasil menyatukan segenap masyarakat Irak yang plural itu di 
akhir hayatnya tidak diperlakukan secara manusiawi, bahkan diperlakukan seperti 
hewan kurban. Inikah tujuan sesungguhnya Saddam dieksekusi mati bertepatan 
dengan sebagian umat Islam merayakan hari raya kurban? 



Yang pasti, dengan kenyataan seperti itu, betapa tragis dan memilukan nasib 
akhir hayat Saddam Hussein. Mantan orang kuat Irak itu diperlakukan kejam oleh 
lawan-lawan politiknya yang sepertinya sudah tidak bernurani dan 
berperikemanusiaan lagi itu.



Memang betul, sewaktu berkuasa (Juli 1979 sampai Maret 2003), Saddam yang 
menganut Islam Sunni itu dikenal sebagai pemimpin diktator dan bengis. Ia acap 
kali bertindak kejam terhadap kaum Syiah, etnis Kurdi maupun siapa saja yang 
beroposisi dan menentang kekuasaannya. Tapi, haruskah ia dibalas dengan 
perlakuan kejam dan keji seperti itu ?



Bukankah Presiden AS George W Bush sesungguhnya jauh lebih kejam dan keji 
ketimbang Saddam Hussein? Keputusannya menginvasi Irak 20 Maret 2003 dan 
berlanjut sampai sekarang telah menewaskan sekitar 625.000 penduduk sipil Irak. 
Hanya dalam tempo 3 -4 tahun terakhir "keputusan salah" George Walker Bush 
mengakibatkan lebih dari setengah juta nyawa warga Irak terenggut paksa.



Karena itu, Bush lah yang sejatinya pantas ditetapkan sebagai penjahat perang 
dan layak dihukum mati, bukan Saddam Hussein yang sampai hembusan nafas 
terakhirnya tetap gentleman dan konsisten berkata "tidak" terhadap Bush dengan 
AS-nya yang notabene sang diktator global yang hipokrit dan licik .



Di tengah kontroversi eksekusi hukuman gantung Saddam Hussein tersebut kita 
patut menyayangkan sikap pemerintah Indonesia yang lembek, tak mau (kalau bukan 
dikatakan tidak berani) mengecam pelaksanaan hukuman gantung Saddam yang 
jelas-jelas bernuansa politik: demi pemenuhan dendam kesumat khususnya Presiden 
AS George Walker Bush .



Apakah lembeknya sikap pemerintah Indonesia karena takut pada AS dan demi 
terjaganya hubungan "baik" Jakarta - Washington? Jika demikian, sungguh naif, 
pemerintah Indonesia tak berani berkata "tidak" kepada pihak yang nyata-nyata 
melecehkan nilai-nilai kemanusiaan dan demokrasi, demi hubungan bilateral RI - 
AS yang belum tentu akan menguntungkan kita. (11)



- Chusnan Maghribi, alumnus Hubungan Internasional Fisipol UMY, pegiat Sanggar 
Inspirasi di Yogyakarta. 




 
 

  
  
  
  
    
    
    
      
                  

                                      

                    
                  

          

      
  
   
  






<!--

#ygrp-mlmsg {font-size:13px;font-family:arial,helvetica,clean,sans-serif;}
#ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}
#ygrp-mlmsg select, input, textarea {font:99% arial,helvetica,clean,sans-serif;}
#ygrp-mlmsg pre, code {font:115% monospace;}
#ygrp-mlmsg * {line-height:1.22em;}
#ygrp-text{
font-family:Georgia;
}
#ygrp-text p{
margin:0 0 1em 0;
}
#ygrp-tpmsgs{
font-family:Arial;
clear:both;
}
#ygrp-vitnav{
padding-top:10px;
font-family:Verdana;
font-size:77%;
margin:0;
}
#ygrp-vitnav a{
padding:0 1px;
}
#ygrp-actbar{
clear:both;
margin:25px 0;
white-space:nowrap;
color:#666;
text-align:right;
}
#ygrp-actbar .left{
float:left;
white-space:nowrap;
}
.bld{font-weight:bold;}
#ygrp-grft{
font-family:Verdana;
font-size:77%;
padding:15px 0;
}
#ygrp-ft{
font-family:verdana;
font-size:77%;
border-top:1px solid #666;
padding:5px 0;
}
#ygrp-mlmsg #logo{
padding-bottom:10px;
}

#ygrp-vital{
background-color:#e0ecee;
margin-bottom:20px;
padding:2px 0 8px 8px;
}
#ygrp-vital #vithd{
font-size:77%;
font-family:Verdana;
font-weight:bold;
color:#333;
text-transform:uppercase;
}
#ygrp-vital ul{
padding:0;
margin:2px 0;
}
#ygrp-vital ul li{
list-style-type:none;
clear:both;
border:1px solid #e0ecee;
}
#ygrp-vital ul li .ct{
font-weight:bold;
color:#ff7900;
float:right;
width:2em;
text-align:right;
padding-right:.5em;
}
#ygrp-vital ul li .cat{
font-weight:bold;
}
#ygrp-vital a {
text-decoration:none;
}

#ygrp-vital a:hover{
text-decoration:underline;
}

#ygrp-sponsor #hd{
color:#999;
font-size:77%;
}
#ygrp-sponsor #ov{
padding:6px 13px;
background-color:#e0ecee;
margin-bottom:20px;
}
#ygrp-sponsor #ov ul{
padding:0 0 0 8px;
margin:0;
}
#ygrp-sponsor #ov li{
list-style-type:square;
padding:6px 0;
font-size:77%;
}
#ygrp-sponsor #ov li a{
text-decoration:none;
font-size:130%;
}
#ygrp-sponsor #nc {
background-color:#eee;
margin-bottom:20px;
padding:0 8px;
}
#ygrp-sponsor .ad{
padding:8px 0;
}
#ygrp-sponsor .ad #hd1{
font-family:Arial;
font-weight:bold;
color:#628c2a;
font-size:100%;
line-height:122%;
}
#ygrp-sponsor .ad a{
text-decoration:none;
}
#ygrp-sponsor .ad a:hover{
text-decoration:underline;
}
#ygrp-sponsor .ad p{
margin:0;
}
o {font-size:0;}
.MsoNormal {
margin:0 0 0 0;
}
#ygrp-text tt{
font-size:120%;
}
blockquote{margin:0 0 0 4px;}
.replbq {margin:4;}
-->






__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke