POLISI: Preman Negara Terkadang, polisi lebih ditakuti dripada penjahat. Bahkan, dalam kasus-kasus tertentu, polisi jg adalah penjahat. Bedanya, kejahatan yg d lakukan polisi dilindungi UU. Apa sih urusan negara terhadap nyawa kita? Kenapa kita musti pake Helm jika maksudnya untuk melindungi kepala kita dari kecelakaan. Itukan urusan kita. Kenapa nyawa orang harus diundang2kan? Dan masih banyak lagi. Intinya kita harus waspada, dan terus waspada kepada polisi, sebagai mana kita juga harus terus waspada pada penjahat. Ingat! Kejahatan polisi terjadi bukan karena direncanakan, tetapi karena ada kesempatan. Kapan polisi akan memberikan rasa aman kepada kita, terutama saat d perjalanan? Tanyakan langsung pada POLISI! --- [email protected] <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Hari ini saya melihat lagi berita serupa tentang aturan tata tertib kendaaraan bermotor roda dua yang baru, dimana baru-baru ini pihak kepolisian semakin gencar mensosialisasikannya kepada masyarakat Ibukota (Tidak mengerti yang di daerah apakah segencar di Jakarta atau tidak), yang jelas peraturan baru tersebut amat menyita perhatian masyarakat umum. > > Peraturan itu adalah perihal menyalakan lampu dan motor diwajibkan berada di jalur lambat. Masyarakat banyak yang mengeluhkan aturan baru tersebut sangat tidak membantu aktifitas warga DKI setempat. Mengapa? Seperti yang disesalkan seorang warga yang pagi ini, Djodi, ketika terkena tilang akibat pelanggaran peraturan itu, ia menyatakan bahwa polisi dalam penilangan yang dilakukannya sangat semena-mena, padahal banyak jalan di Jakarta yang tidak diketahui mana batas jalur lambat dan cepatnya karena tidak dibuat tempatnya sendiri, sedangkan pada pagi itu Djodi terburu-buru pergi ke kantornya sehingga saat jalan raya macet total, ia terpaksa mencari sela-sela diantara kendaraan. Namun ternyata peluit polisi yang sudah mangkal di depan lampu merah memberhentikan motornya. Dengan berat hati ia menepi. Kilah polisi yang menilang beliau adalah karena Djodi melanggar garis di jalan yang membedakan jalur lambat dan cepat. Padahal lagi macet mana sempat lihat garis > pak, apalagi tergesa-gesa. > > Lain Djodi, lain pula Ardi teman saya, ia terkena tilang karena tidak menyalakan lampu depan motornya. Bagi Ardi sendiri menyalakan lampu depan adalah suatu pemborosan terhadap aki motornya. Apalagi profesi Ardi di kantor kerjanya sangat membutuhkan motor sebagai transportasi untuk mengantarkan barang ke sana kemari. Meskipun polisi yang menilang beliau dapat memberikan solusi lain terhadap aki motornya tanpa harus melanggar aturan baru itu, akan tetapi sika Ardi sebetulnya adalah sebuah pemberontakan terhadap kebijakan pemerintah yang tidak bijak. Kejadian yang dialami serta penyesalan mereka berdua terhadap lembaga pemerintah bernama Kepolisian Republik Indonesia itu tidak sedikit dialami oleh orang-orang Indonesia, terkhusus masyarakat Jakarta atas peraturan baru tadi. > > Belum lagi banyak yang mensinyalir bahwa peraturan baru polisi itu adalah akal-akalan saja agar mereka semakin banyak meraup uang rakyat, karena sudah menjadi rahasia umum bahwa polisi kerjanya di jalan cuma cari duit tambahan buat perut mereka. Selain itu laporan dari stasiun televisi yang meliput acara penilangan tersebut juga mempertanyakan, "Akan lari kemanakah duit tilang yang didapatkan? Apa benar ke kas negara atau ke kantong pribadi mereka?" Sebab jumlah rupiah yang di kumpulkan polisi dari para pelanggar tak tanggung-tanggung berkisar Rp. 40.000 per pelanggaran. Jika satu orang melanggar dua buah peraturan saja, kemudian dikalikan dengan seratus orang pelanggar per harinya, berapa rupiahkah yang didapat polisi dalam sebulan? Saya rasa adalah jumlah yang sangat besar. > > Sore ketika saya pulang dari kantor, saya berusaha mencari jalan yang tidak melewati jalan raya dimana menurut informasi dari rekan sekantor, hari ini banyak sekali polisi berkeliaran cari uang di jalan. Kebetulan saya juga membawa seorang rekan yang tidak memakai helm. Setelah berkelak-kelok lewat jalan perumahan tembus sana sini, sampai juga Juvi (Nama motor pribadi) saya menuju tempat jalan layang yang banyak polisinya. Dan benar saja, dari jauh saya melihat seragam-seragam itu menghentikan motor di jalur lambat tepat motor saya tengah melaju. Kawan saya yang membonceng itu segera menyuruh saya berhenti, saya pun mengerem mendadak, padahal Juvi saya sedang berkecepatan tinggi, akhirnya sebelum benar-benar berhenti, kawan saya segera melompat ke samping, untung larinya Juvi sudah pelan. Setelah itu ia menyuruh saya jalan terus, katanya ia akan naik angkot saja. Lekas saya gas kembali si Juvi. Saya bersyukur tidak termasuk dari mereka kawan sepermotoran > yang diberh === Message Truncated ===
____________________________________________________________________________________ Any questions? Get answers on any topic at www.Answers.yahoo.com. Try it now.
