http://www.suaramerdeka.com/
Catatan dari Pertemuan Kiai Nonparpol
Prihatin Dunia Pesantren Terpuruk
  a.. Oleh: Riyono Toepra 
SOROTAN tajam meluncur dari pimpinan dan pengasuh Ponpes Assunniyah, Kencong, 
Jember, Jatim, KH Sadid Jauhari. Dia terang-terangan menginginkan agar para 
kiai tidak menghabiskan waktunya di dunia politik.

''Tapi kembalilah ke kandang. Urusi madrasah dan ponpesnya. Karena dari para 
kiai-lah, masa depan generasi bangsa dipertaruhkan. Kalau sampai lupa, sudah 
alamat bahwa dunia pendidikan di ponpes akan terus terpuruk,'' tutur dia.

Keterpurukan pendidikan di pondok pesantren, menjadi isu paling menonjol, 
selain keberadaan Front Pembela Islam (FPI), saat pertemuan para kiai nonparpol 
yang dikemas dalam ''Silaturahmi Kiai-Kiai Pesantren'', di Ponpes Edi Mancoro, 
Gedangan, Tuntang, Kabupaten Semarang, Sabtu (10/2).

Tak kurang KH Habib Lutfhi bin Yahya dari Pekalongan angkat bicara. KH Mustofa 
Bisri (Gus Mus) yang memoderatori silaturahmi itu juga menyentil soal tersebut. 
Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi pun turut berkomentar.

Mereka yang hadir mengungkapkan, persoalan itu sebenarnya sudah cukup lama 
dirasakan para kiai yang memang berjuang secara konsisten di lingkup tersebut 
dan tidak tergiur manisnya keuntungan di percaturan politik.

Banyak kiai perpenampilan makmur, lantaran diminta membesarkan parpol atau 
berdakwah di berbagai media elektronik. Sebaliknya pesantrennya yang kurang 
diurusi, sehingga sulit berkembang. Tapi ada juga yang kedua-duanya dapat 
menikmati keuntungan.

Terbentur Dana

Sentilan cukup berani menyembul agar pendidikan yang dikelola oleh kiai NU 
tulen berani membuka diri. Misalnya meniru sistem organisasi lain seperti 
Muhammadiyah dan mencomot sistem yang dikembangkan Depdiknas.

''Dengan demikian lulusannya akan dapat disetarakan, bahkan bisa lebih unggul 
dibanding sekolah umum,'' ujar KH Mahmud dari Bandung.

Menteri Agama (Menag) HM Maftuh Basyuni langsung memberi paparan sejarah 
perkembangan madrasah dan ponpesnya yang selama ini di bawah Departemen Agama.

Dia memperkirakan sekitar 91,8 persen dunia pendidikan di bawah departemennya 
adalah swasta. Pendidikan tersebut didirikan dan dibangun oleh uang pribadi 
para kiai.

Lantaran terbentur dana, madrasah yang dikelola di bawah naungan ponpes 
kualitasnya seperti tersendat. (60) 



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke