Soal "NU dan POlitik" jangan lupa bahwa hubungan keduanya sangat erat. Tidak aneh toh kalau ada rapat kepengurusan NU di kantor bupati atau rumah dinas pejabat pemerintahan yang orang NU. Jangan lupa bahwa "latar teologis" pergulatan Aswaja-Wahabi dst hanya ada saat awal mula NU didirikan. Selanjutnya NU menjadi bagian dari pergerakan nasional, yang muaranya adalah organisasi politik juga toh?! Jangan lupa bahwa NU sempat menjadi partai politik. Jangan lupa juga bahwa kembalinya NU ke Khittah 1926 adalah strategi politik. Lagi-lagi politik. Jadi saya kira kita tak perlu larut mengecam "politisasi" NU. Jangan lupa bahwa dana operasional NU lebih besar diperoleh dari jalur politik itu --selain dari founding asing-nya kader muda NU. Lah ada yang lebih penting dari sekedar prihatin. Dan kita jangan buru-buru menanyakan solusi, persoalan bahwa NU sulit "mandiri" harus dijelaskan sejelas-jelasnya.
Jadi begitu, On 2/12/07, Mukhlisin <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > http://www.suaramerdeka.com/ > Catatan dari Pertemuan Kiai Nonparpol > Prihatin Dunia Pesantren Terpuruk > a.. Oleh: Riyono Toepra > SOROTAN tajam meluncur dari pimpinan dan pengasuh Ponpes Assunniyah, > Kencong, Jember, Jatim, KH Sadid Jauhari. Dia terang-terangan menginginkan > agar para kiai tidak menghabiskan waktunya di dunia politik. > > ''Tapi kembalilah ke kandang. Urusi madrasah dan ponpesnya. Karena dari > para kiai-lah, masa depan generasi bangsa dipertaruhkan. Kalau sampai lupa, > sudah alamat bahwa dunia pendidikan di ponpes akan terus terpuruk,'' tutur > dia. > > Keterpurukan pendidikan di pondok pesantren, menjadi isu paling menonjol, > selain keberadaan Front Pembela Islam (FPI), saat pertemuan para kiai > nonparpol yang dikemas dalam ''Silaturahmi Kiai-Kiai Pesantren'', di Ponpes > Edi Mancoro, Gedangan, Tuntang, Kabupaten Semarang, Sabtu (10/2). > > Tak kurang KH Habib Lutfhi bin Yahya dari Pekalongan angkat bicara. KH > Mustofa Bisri (Gus Mus) yang memoderatori silaturahmi itu juga menyentil > soal tersebut. Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi pun turut berkomentar. > > Mereka yang hadir mengungkapkan, persoalan itu sebenarnya sudah cukup lama > dirasakan para kiai yang memang berjuang secara konsisten di lingkup > tersebut dan tidak tergiur manisnya keuntungan di percaturan politik. > > Banyak kiai perpenampilan makmur, lantaran diminta membesarkan parpol atau > berdakwah di berbagai media elektronik. Sebaliknya pesantrennya yang kurang > diurusi, sehingga sulit berkembang. Tapi ada juga yang kedua-duanya dapat > menikmati keuntungan. > > Terbentur Dana > > Sentilan cukup berani menyembul agar pendidikan yang dikelola oleh kiai NU > tulen berani membuka diri. Misalnya meniru sistem organisasi lain seperti > Muhammadiyah dan mencomot sistem yang dikembangkan Depdiknas. > > ''Dengan demikian lulusannya akan dapat disetarakan, bahkan bisa lebih > unggul dibanding sekolah umum,'' ujar KH Mahmud dari Bandung. > > Menteri Agama (Menag) HM Maftuh Basyuni langsung memberi paparan sejarah > perkembangan madrasah dan ponpesnya yang selama ini di bawah Departemen > Agama. > > Dia memperkirakan sekitar 91,8 persen dunia pendidikan di bawah > departemennya adalah swasta. Pendidikan tersebut didirikan dan dibangun oleh > uang pribadi para kiai. > > Lantaran terbentur dana, madrasah yang dikelola di bawah naungan ponpes > kualitasnya seperti tersendat. (60) > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > [Non-text portions of this message have been removed]
