Syukur Alhamdulillah kalau rebutan ini bisa diartikan lomba ibadah, bahagialah almrhum yg beramal jariah. Bisa juga dibaca bahwa timbulnya iri hati dari panitia yg mengambil alih, karena kelompoknya tdk ada orang kaya yg wafat dan me-waqafkan masjid.
Bismillahir rahmanir rahim. (2;270) Wa ma anfaqtum min nafaqatin au nadzartum min nadzrin fa innallah ya'lamuhu..Allah mengetahui (menyaksikan)apa yg engkau sedekahkan. Waqaf : Hak milik yg dititipkan kpd makhluk dikembalikan kpd Al Maliku al Qayyum dan tidak bisa dicabut kembali. "Rebutan masjid" sangat janggal sekali kedengarannya, bila dibaca "Rebutan milik Allah". Ini dimulai dari Panitia yg jadi nadzir, dari golongan tertentu. Golongan lain yg merasa tersingkir berusaha mengambil alih. Panitia pertama merasa kurang ihlas kalau usaha perawatan masjid diambil alih oleh panitia berikutnya yg tidak ihlas pula menajadi makmum. Hanya Allah yg tahu, sampai dimana dosanya Bin Baz (Menteri Saudi) yg melarang Sayid Alawi Almaliki ber-halaqah di Masjidil Haram. SAM tidak pernah menyerang Wahabi secara langsung, hanya ingin menghidupkan Maulid Nabi shallallahu alaihi wasallam, bersama Ahmad Zaky Yamani. Timbulnya multiple organisasi agama(hanya di Indo), menunjuk kearah tidak ihlasnya inter action (muamalah) antara sesama. Kalau benar2 tidak ada perbedaan perinsip, mengapa tidak mahu mengalah dan mengorbankan yg non perinsip. Di TT banyak ulama/mufty, tapi mereka bersatu bahwa ultimate ifta' harus keluar dari Azhar utk soal global islamic ie Palestina, serangan Pope, Swedish caricature dll. Keputusan mufti (ie Hijab) timbul dari tawaran mufti secara terbuka, dilengkapi dgn dalil. Di ikuti ihlasnya sambutan ulama luar. Ummat memilih Azhar (silent democracy), dari tahun ketahun, sebgai united Islamic force globally. Wa lau sya'allahu la ja'lakum UMMATAN WAHIDAH (5;48) --------------------------------- From: "Mukhlisin" <[EMAIL PROTECTED]> Reply-To: [email protected] To: <[email protected]> CC: <[EMAIL PROTECTED]> Subject: [kmnu2000] Tiga Masjid NU di Banyuwangi Sudah Diambilalih Kelompok Lain Date: Tue, 20 Feb 2007 08:57:51 +0700 Tiga Masjid NU di Banyuwangi Sudah Diambilalih Kelompok Lain Senin, 19 Februari 2007 19:18 Jakarta, NU Online Nahdlatul Ulama (NU) tampaknya harus lebih waspada terhadap kemunculan gerakan, paham dan kelompok Islam garis keras yang marak belakangan ini. Karena, sedikitnya tiga masjid milik warga nahdliyin (sebutan untuk warga NU) di Banyuwangi, Jawa Timur, sudah diambilalih oleh kelompok tersebut. "Setidaknya yang saya tahu masjid-masjid NU yang sudah diambilalih ada di Purwoharjo, Genteng dan Ketapang," kata Muhdor Adib, Ketua Pengurus Cabang Lembaga Takmir Masjid Indonesia (LTMI) dalam perbincangan dengan NU Online di Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta, Senin (19/2) Menurut Muhdor-begitu panggilan akrabnya-sebelum mengambilalih masjid-masjid NU, kelompok Islam garis keras tersebut awalnya mempersoalkan status hukumnya. "Awalnya mereka mempertanyakan sertifikat. Apakah masjid tersebut bersertifikat atau tidak," terangnya. Muhdor mengakui, hal itu memang cukup menjadi persoalan tersendiri bagi warga nahdliyin sehingga menjadi sasaran empuk bagi kelompok tersebut. Pasalnya, pada umumnya masjid-masjid yang dibangun warga NU tidak bersertifikat. "Kita tahu, kalau orang NU bikin masjid itu kan atas dasar lillahi taala (ikhlas karena Allah-Red). Jadi tidak perlu sertifikat segala," ujarnya. Ditambahkan mantan ketua Pengurus Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama Banyuwangi itu, gerakan kelompok Islam garis keras tersebut cukup 'cantik' dan bahkan membuat warga simpatik. Sehingga warga tak menaruh curiga sedikit pun jika visi-misinya adalah untuk mengambilalih masjid NU. "Mereka menjadi jamaah biasa. Setiap ada kegiatan yang diselenggarakan warga NU, mereka selalu membantu, baik membantu dana maupun tenaga. Tapi lama kelamaan mereka mulai berusaha menjadi pengurus masjid tersebut. Alasannya ingin turut 'meramaikan' masjid," terang Muhdor. Meski belum berani menunjukkan dengan jelas tujuan yang ingin dicapai, menurutnya, gerakan mereka sudah dirasa cukup meresahkan. Untuk mengatasi hal itu, pihaknya mencoba menerbitkan buletin yang berisi imbauan untuk mewaspadai gerakan kelompok Islam garis keras tersebut. Namun demikian, lanjut Muhdor, hal yang dilakukannya belum cukup. Ia berharap kepada PBNU untuk membantu membantu mengatasi persoalan yang dihadapi warga nahdliyin di daerahnya. "Banyak masjid-masjid NU yang tidak bersertifikat. Makanya saya usulkan kepada PBNU, biar tidak diambilalih orang lain, masjid-masjid NU harus bersertifikat," harapnya. (rif) [Non-text portions of this message have been removed] ___________________________________________________________ What kind of emailer are you? Find out today - get a free analysis of your email personality. Take the quiz at the Yahoo! Mail Championship. http://uk.rd.yahoo.com/evt=44106/*http://mail.yahoo.net/uk
