Saya jadi ingat syair lagunya Iwan Fals:
*Desa harus jadi kekuatan ekonomi*
*...*
*...*
Tapi kritik-kritik "kita" itu saya kira terlalu absurd dan melangit, jika
tidak dibarengi dengan usulan kontruktif untuk membangun desa, atau minimal
memberikan penjelasan kenapa kemudian desa semakin ditinggalkan banyak orang
lalu biarkan gagasan mengalir terus. Jika tidak maka kita hanya akan menjadi
"turis kesiangan" --istilah Ignas Kleden-- yang ketika suatu waktu ia
berkunjung ke sebuah desa terpencil (entah berkunjung beneran atau hanya
berkunjung di alam pikiran setelah baca koran atau internet) kemudian ia
merasa iba dengan berbagai keadaan yang ada di desa, tapi lalu ia kemudian
pulang lagi dan telah melupakan desa yang telah ia kunjungi. Ia hanya mampir
sebentar ke desa lalu berkunjung ke tempat lain, ke kota yang lebih indah,
dengan tanpa sama sekali merasa bersalah

> Bukan hanya NU, saya kira, tapi juga Indonesia kini telah jauh
meninggalkan desa. Dan tidak waktunya berbicara "seharusnya NU begini dan
begitu". Jangan-jangan Anda juga orang NU, anak desa juga!! Kenapa menyuruh
diri sendiri?? hehe

> Mengutip Pak Maksum (Wk. Ketua NU Yogya, pakar ekonomi pertanian UGM) di
NU Online beberapa waktu lalu. Katanya, "kita" sebenarnya telah dibohongi
oleh teori sosiologi yang mengatakan bahwa masyarakat beradab itu berkembang
dari tahap agraris menuju masyarakat Industri. Anehnya kita senang-senang
saja dengan kebohongan ilmiah itu. Bahkan banyak yang "secara ideologis"
merasa minder bahkan ogah mengaku sebagai anak petani, seneng tinggal di
kota saja walaupun pekerjaannya di kota tidak jelas. Petani dan desa menjadi
bahan olok-olok. Padahal di negara asal "Fukuyama" sana tidak begitu,
teorinya tidak dipakai. Di negara-negara negara maju pertanian bahkan
menjadi bagaian dari "pertahanan nasional", petani di sana katanya rata-rata
berpangkat jenderal.
Jangan-jangan kita juga dikritik oleh Pak Maksum!!!

> Mas Nagan, lembaga di NU setahu saya yang paling berambisi menjadi "pusat
studi macem-macem" adalah Lakpesdam dan LTN. Hanya saja sayangnya yang
dimaksud oleh Lakpedam sebagai Sumber Daya Manusia (SDM) selama ini hanya
terbatas pada wacana atau pemikiran Islam plus proyek-proyek pemikiran
seperti demokrasi (pengkaderan pemilih pemilu), gender, ham,
pluralisme/multikulturalisme, dst. Ada apa sebenarnya dengan SDM NU? Atau
mungkin saya kurang tahu (hallo ada orang Lakpesdam di sana?). Sementara itu
LTN hanya berkutat pada "utak-atik" sejarah NU di barbagai daerah,
penerbitan biografi tokoh NU, buku-buku ubudiyah NU, dan baru-baru ini LTN
di beberapa daerah mulai membidangi jurnalistik. Yang mikirkan "strategi
kebudayaan NU" untuk membangun desa itu siapa? Mungkin Anda sekalian orang
NU tahu jawabannya.

> Barangkali ada penggemar milis ini ada informasi mengenai kiprah NU
dimanapun dalam membangun perekonomian atau tata desa, entah melalui Lembaga
pertaniaannya (LP2NU), organisasinya sendiri atau para tokoh NU-nya.
Barangkali bisa menjadi percontohan dan untuk bisa saling berfastabiqul
khoirot...

Salam hangat,




On 3/7/07, Mukhlisin <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>   http://www.syirah.com/syirah_ol/online_detail.php?id_kategori_isi=643
> NU Pergi Meninggalkan Desa 6-3-2007
> Oleh : NASRUL UMAM SYAFI'I/SYIRAH
>
> Jombang- Nahdlatul Ulama, organisasi keagamaan terbesar di Indonesia,
> telah tercerabut dari akar historitasnya. Oreintasi yang bersifat pedesaan:
> pembelaan terhadap tani, dan kaum tertindas, telah beralih kewilayah
> perkotaan dan politik. Kedapan, perlu reorientasi.
>
> Hal itu mengemuka dalam acara Rembug Bareng Telaah Kritis atas Peran NU
> terhadap Persoalan Sosial Bangsa yang diselenggarakan Jaringan NU Kultural
> (Janur) di Universitas Darul Ulum (Undar) Jombang, dihadiri sekitar 80an
> orang dari mahasiswa dan LSM dari beberapa daerah, Selasa (06/03).
>
> Hadir sebagai pembicara, KH. Slamet, Pengasuh Pondok Pesantren Kepuk
> Kembeng Peterongan Jombang Jawa Timur, mengatakan sekarang ini NU telah lupa
> dengan akar sejarah berdirinya. NU tidak lagi mampu berbicara soal kaum
> tertindas, sebaliknya malah beralih sibuk mengurusi dan terlibat aktif dalam
> percaturan politik praktis.
>
> Sedangkan pembicara kedua, Gus Taufik Jalil, Suriah Pengurus Cabang (PC)
> NU Kab. Jombang pada kesempatan itu mengklarifikasi bahwa selama ini NU,
> khususnya NU Jombang, telah banyak berbuat untuk masyarakat. Tapi karena
> begitu kompleksnya persoalan yang diahadapi masyarakat, SDM yang ada dalam
> NU sendiri tak mampu menangganinya.
>
> Suara kritis juga disampaikan oleh peserta, diantaranya Zainul Hamdi,
> Jaringan Islam Anti Diskriminasi, menyampaikan NU dewasa ini telah gagal
> berkomunikasi, melakukan pendampingan dan memberikan solusi terhadap
> persoalan-persoalan yang dihadapi masyarakat desa. Kecenderungannya malah
> suka dengan urusan perkotaan.
>
> Didalam forum itu juga disepakati bahwa ide tentang dar al-islam, negara
> Islam, bukanlah tujuan dari berdirinya Nahdlatul Ulama.[aan]
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
> 
>


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke