e-Mail dari teman bercerita begini: Waktu itu (tepatnya tahun 2014) presiden baru memberi kejutan. Dia hilangkan departemen agama. Orang-orang protes. "Bagaimana nasib kehidupan beragama kita? Bagaimana moral bangsa Indonesia kalau satu-satunya departeman yang mengurusi pendidikan Islam ditiadakan?" Apakah Indonesia kini menjadi negara sekuler?
Tapi presiden diam saja. "Begitu aja kog repot." Presiden cukup kuat untuk sekedar meladeni para lawan politik apalagi sekedar menghadapi komentator saja. Atau para pengangguran mantan karyawan departemen agama. Waktu berlalu. Setahun sudah peraturan baru itu. Umat Islam Indonesia semakin bingung saja. Apalagi orang pesantrennya. Banyak yang putus asa, tapi banyak pula yang semakin meragu dan sedikit tertegun... "Ah ternyata agama Islam itu begitu toh! Indonesia ini luas sekali yah! ternyata tidak hanya berputar-putar di departemen agama. Banyak hal yang perlu dilihat, perlu dikerjakan." [Non-text portions of this message have been removed]
