Setujuuuuu....tapi dg 4 catatan: 
  1. orang pesantren yg bingung tadi perlu dijadikan Menteri Pendidikan biar 
Presiden yg 'gitu aja kok repot' tadi tidak repot dengan standarisasi dan 
privatisasi.
  2. Menteri Perhubungan cepat2 di-jasaraharja-kan jika masih dak becus ngecek 
kelaikan transportasi. kalo perlu mulai sekarang, Presidennya itu...
  3. Indoneisa pada tahun itu, 2014, masih ada. Artinya belum menjadi sejarah...
  4. Ini yg paling penting! Orang yang suka ngomong "jadi begitu" perlu 
dijadikan Menko Perekonomian supaya ekonomi Indonesia tidak "jadi begini"!
  salam,
  munir, Ansor DIY

kh anam <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          e-Mail dari teman bercerita begini:

Waktu itu (tepatnya tahun 2014) presiden baru memberi kejutan. Dia hilangkan
departemen agama. Orang-orang protes. "Bagaimana nasib kehidupan beragama
kita? Bagaimana moral bangsa Indonesia kalau satu-satunya departeman yang
mengurusi pendidikan Islam ditiadakan?" Apakah Indonesia kini menjadi negara
sekuler?

Tapi presiden diam saja. "Begitu aja kog repot." Presiden cukup kuat untuk
sekedar meladeni para lawan politik apalagi sekedar menghadapi komentator
saja. Atau para pengangguran mantan karyawan departemen agama.

Waktu berlalu. Setahun sudah peraturan baru itu. Umat Islam Indonesia
semakin bingung saja. Apalagi orang pesantrennya. Banyak yang putus asa,
tapi banyak pula yang semakin meragu dan sedikit tertegun... "Ah ternyata
agama Islam itu begitu toh! Indonesia ini luas sekali yah! ternyata tidak
hanya berputar-putar di departemen agama. Banyak hal yang perlu dilihat,
perlu dikerjakan."

[Non-text portions of this message have been removed]



         

 Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke