Surat Sutera Putih:
   
   
  "JAMPI-JAMPI" SEBAGAI POLA PIKIR DAN MENTALITAS 
   
   
   
  2.
   
   
  "Jampi-jampi" sebagai pola pikir dan mentalitas akan menjadi sangat 
memprihatinkan ketika ia menyusup dan menguasai pola pikir dan mentalitas 
penyelenggara kekuasaan.  Mengapa?
   
  Kekuasaan Negara dilengkapi oleh seperangkat alat seperti polisi, tentara, 
penjara serta lembaga-lembaga lainnya.  Seperangkat alat penyelenggaraan ini 
digunakan untuk melaksanakan kebijakan penyelenggaraan yang dipilih sesuai 
dengan kepentingan kelompok-kelompok dominan pemegang kekuasaan. 
Kepentingan-kepentingan, terutama kepentingan ekonomi  ini, biasanya sangat 
berpengaruh pada  corak  pola pikir dan mentalitas serta nilai-nilai junjungan 
yang dijabarkan dalam pilihan politik.  Karena itu sering disebut bahwa 
"politik merupakan pencerminan terpusat segala kepentingan, terutama 
kepentingan ekonomi".  Nilai junjungan yang dipilih boleh para pendiri negara  
Republik Indonesia [RI], sesuai kepentingan Indonesia memilih rangkaian nilai 
republiken dan Indonesia sebagai patokan menyelenggarakan kekuasaan. Nilai 
pilihan dan junjungan ini, seniscayanya meresapi semua ketetapan politik untuk 
bidang. Penyelenggara Negara dengan seperangkat perangkatannya bisa melakukan 
paksaan
 untuk pelaksanaan pilihan politik ini di seluruh wialayah kekuasaannya. Dalam 
suatu Negara yang menganut sistem demokratis sebagai salah satu unsur dari 
nilai republiken, untuk mencegah kesewenang-wenangan penyelenggara kekuasaan, 
ia dikontrol oleh masyarakat melalui rupa-rupa organisasinya.   Apakah ia setia 
pada nilai-nilai yang sudah disepakati bersama atau tidak. Tapi betapa pun 
juga, karena penyelenggara kekuasaan memegang seperangkat alat pemaksa, ia 
mempunyai posisi dominan. Dominasi yang membuatnya sering  tidak mengindahkan 
awasan dan teguran warganya.  Dominasi ini akan lebih berkembang  lagi dalam 
suatu masyarakat yang masih terpancang pada pola "panutan" paternalistik 
seperti yang terjadi pada sistem otoriter, militeristik, feodal  dan 
neo-feodal. Seperti dikatakan oleh pepatah tetua kita: "Guru kencing berdiri, 
murid kencing berlari". Unsur-unsur beginilah, yang kukira menyebabkan pilihan 
politik yang merupakan pengejawantahan dari pola pikir dan mentalitas
 penyelenggara kekuasaan akan membuat pola pikir dan mentalitas anutannya akan 
menjadi dominan dalam masyarakat. Jika menggunakan rumusan Bung Karno dahulu: 
"kebudayaan suatu masa adalah kebudayaan dari pihak pemegang kekuasaan". 
Barangkali membandingkan periode pemerintahan Soekarno dan Soeharto bisa 
menjelaskan juga betapa pola pikir penyelenggara kekuasaan suatu ketika akan 
menentukan, paling tidak  sangat berpengaruh besar pada pola pikir dan 
mentalitas masyarakat di suatu masa. Karena itu aku sangat mencemasi apabila 
"jampi-jampi" sebagai suatu bentuk pola pikir dan mentalitas sudah menyusup ke 
kalangan penyelenggara kekuasaan. Aku cemas bahwa masalah-masalah akan 
dilarikan ke dunia gaib, dan soal-soal nyata negeri, bangsa dan Negara 
dibiarkan tidak dipecahkan dengan sungguh-sungguh. Bahkan diambangkan atau 
dilupakan.  Kita jadi bangsa pelupa dan malas berpikir. Suka pada jalan pintas. 
Apabila "jampi-jampi" menjadi pola pikir dan mentalitas dominan, maka ketiadaan
 tanggungjawab akan menjadi dominan pula. Suka pada jalan keluar "kambing 
hitam". "Jampi-jampi" sebagai pola pikir dan mentalitas, akan membawa negeri 
ini ke jurusan yang makin mengkhawatirkan eksistensi dirinya. Makin membuat 
kita menjadi suatu bangsa yang terus dipermalukan, makin terpuruk. Menjadi 
"orang sakit" Asia Tenggara.  Menjadi "bangsa koeli" di antara bangsa di dunia. 
"Jipen tahéta" [jipen: budak; tahéta: baru ] jika menggunakan istilah orang 
Dayak Kalimantan Tengah. Berkembangnya "jampi-jampi" sekarang, kukira, 
memperlihatkan bahwa kerusakan utama bangsa kita, justru terletak pada 
kerusakan pola pikir dan mentalitas.   
   
   
  Pola pikir dan mentalitas adalah salah satu urusan langsung para 
sastrawan-seniman yang pernah dinamakan sebagai "insinyur jiwa" dengan peran 
membidas, paling tidak berdiri selangkah di depan kejamakan. Apa yang bisa 
dilakukan oleh yang terakhir ini  sebagai anak negeri dan bangsa, walau pun 
secara pemikiran dan semangat, barangkali  sastrawan-seniman itu bertanahairkan 
kehidupan dan bumi melampaui tonggak-tonggak batas republik  politik. 
Pertanyaan ini muncul di benakku karena teringat akan apa yang pernah 
dituliskan oleh seorang penyair Tiongkok bahwa "Kita, kitalah yang menjadi 
penanggungjawab timbul-tenggelamnya negeri ini".***
   
   
  Paris, Maret 2007
  -----------------------
  JJ. Kusni
   
   
  [Bersambung.......]
   
   
   
   Lampiran Acuan:
   
                  Kompas Sabtu, 10 Maret 2007 
      
      
      
        Berhentilah Berjampi-jampi     Rentetan bencana membuat penyelenggara 
kekuasaan kehilangan nalar. Kok polisi—bukan Komite Nasional Keselamatan 
Transportasi—menyimpulkan human error sebagai penyebab terbakarnya pesawat 
Garuda di Yogyakarta?   Setelah kecelakaan Adam Air 1 Januari 2007 muncul pro 
dan kontra tentang tarif murah versus keselamatan. Namun, hidup jalan terus 
seperti biasa karena setelah itu banyak pesawat gagal terbang, tergelincir, 
atau mengalami masalah di udara.   Banyak korban banjir di Jakarta Februari 
silam kecewa kepada aparat Pemerintah Provinsi DKI yang tak kelihatan batang 
hidungnya. Mereka biasanya nongol kalau ada peresmian mal atau acara kunjungan 
pejabat.   Pemprov memindahkan patung, merenovasi air mancur, membangun busway, 
atau memungut bayaran dari kendaraan-kendaraan lewat proyek electronic road 
pricing (ERP). Sibuk cari duit, lupa banjir.   Kebakaran hutan juga masalah 
lama tanpa solusi. Kereta api anjlok, feri tenggelam, lumpur panas
 Lapindo, semuanya merupakan man-made disasters alias bencana akibat ulah kita 
semua—bukan bencana alam.   Cuaca buruk sering dijadikan kambing hitam yang 
mengakibatkan kecelakaan berbagai jenis transportasi. Gubernur DKI Sutiyoso 
menuding "fenomena alam" atau banjir kiriman sebagai penyebab banjir.   
Teriknya matahari musim panas suka dituduh sebagai penyebab kebakaran hutan. 
Alam, air, udara, pohon, atau tanah yang tak henti-hentinya memberi tanpa 
meminta justru kita jadikan sebagai musuh.   Intelijen asing biasanya dijadikan 
tersangka penyebab meledaknya bom-bom buatan para teroris. Tsunami di Aceh pun 
konon merupakan hasil uji coba senjata nuklir negara asing dan "Segitiga 
Bermuda" ala Indonesia telah mencelakakan AdamAir.   Penyakit hilang nalar ini 
diderita penyelenggara negara dan mewabah ke berbagai lapisan masyarakat. Hanya 
di sini ada "pengamat intelijen", ahli handphone sekaligus pakar kotak hitam 
pesawat terbang, penyantet George W Bush, atau ilmuwan
 gothak-gathuk.   Sejak tahun 2004 nasib negeri ini mirip dengan judul film 
komedi Hollywood, Nothing but Trouble (1991). Bencana buatan manusia pun 
menerkam sampai ke Arab Saudi ketika para anggota jemaah haji kita menderita 
wabah kelaparan.   Solusi nyaris tak ada, kecuali hiburan kata-kata saja. Apa 
iya para pengembang yang tamak keuntungan mau diwajibkan membangun situ (danau 
kecil) untuk menghindari banjir?   Sebulan atau dua bulan lagi orang juga akan 
lupa pada terbakarnya Garuda karena tak mungkin lagi menghidupkan Gatotkaca. 
Illegal logging terus berlangsung selama cukong, pejabat, dan buruh sama-sama 
menikmati si rupiah.   Penyakit hilang nalar membuat kita menjadi bangsa 
pelupa. Itulah sebabnya mengapa pejabat dan politisi kita tak akan kapok 
berbohong atau melakukan korupsi berjemaah.   Selain man-made disasters, 
Indonesia sejak tahun 2004 didera berbagai jenis bencana alam. Orang yang 
paling rasional pun sekarang mulai mengaitkan ketidakharmonisan makrokosmos
 dan mikrokosmos sebagai penyebab bencana alam.   Waktu kecil saya dilarang 
duduk di pintu karena bisa sakit dilewati setan. Padahal maksudnya baik, yakni 
jangan menghalangi orang yang lalu lalang.   Jangan duduki bantal, bokong bisa 
bisulan. Maksudnya, bantal dipakai untuk kepala, organ terhormat karena di 
dalamnya terdapat akal.   Setiap rumah pasti mempunyai penunggu, pohon beringin 
banyak setannya. Kalau menabrak kucing harus berhenti menyopir selama 40 
hari—kalau menabrak orang kabur saja.   Kita kaya dengan tradisi gaib, banyak 
orang sakti mandraguna dan telah mengenal budaya eling (mawas diri) sejak 
kecil. Tetapi, kok Belanda bisa menjajah kita selama tiga setengah abad ya?   
Waktu berkuasa, Pak Harto antara lain dibekali pula dengan kekuatan kelangitan 
yang bernama Surat Perintah 11 Maret (Supersemar) yang pusatnya berada di Goa 
Semar di Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah. Namun, banyak yang memelesetkan 
singkatan itu dengan "Sudah Persis Seperti Marcos".   Ada
 pendapat yang mengatakan, kalau tidak kuat ngelmu, ya Anda jangan coba-coba. 
Seperti ungkapan dalam bahasa Inggris, I have nothing against it.   Tradisi 
yang diwarisi turun- temurun itu wajib dipelihara sampai dibawa ke liang kubur. 
Namun, lain ceritanya kalau ia dibawa ke wilayah pemerintahan.   Nah, kembali 
ke laptop. Bencana-bencana alam yang terjadi lebih mudah dijelaskan secara 
nalar daripada gonjang-ganjing pemakaian rekening Departemen Hukum dan Hak 
Asasi Manusia untuk menerima dana dari simpanan Tommy Soeharto di Inggris.   
Suka atau tidak, bencana alam merupakan event politik. Ia bisa menjadi 
katalisator perubahan yang dilancarkan masyarakat yang peduli, yang kadang kala 
menunjukkan pembangkangan karena terjangkit penyakit hilang nalar tadi.   Kita 
semua amat lelah didera fenomena Nothing but Trouble karena eksekutif, 
legislatif, dan yudikatif kurang mampu meresponsnya. Ada usul, pertama, 
bagaimana jika mereka yang berkuasa istirahat selama enam bulan?   Kalau
 dalam enam bulan tersebut bencana alam masih terjadi, mereka kita install lagi 
di jabatan masing-masing. Andai dalam enam bulan tersebut bencana alam 
berhenti, berarti merekalah yang membuat alam marah.   Ide kedua, mereka 
dikumpulkan di Monas untuk memohon dukungan dari kita sambil bersumpah takkan 
lagi mencalonkan diri tahun 2009.   Mungkin cara ini lebih baik daripada 
jampi-jampi perombakan kabinet atau makna huruf ganjil yang menjemukan itu. ****
                   
      

 
                
---------------------------------
 Yahoo! Movies - Search movie info and celeb profiles and photos.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke