Surat Sutera Putih:
   
   
  "JAMPI-JAMPI" SEBAGAI POLA PIKIR DAN MENTALITAS 
   
   
  3.
    

   
  Pola pikir dan mentalitas adalah salah satu urusan langsung para 
sastrawan-seniman yang pernah dinamakan sebagai "insinyur jiwa" dengan peran 
membidas, paling tidak, berdiri selangkah di depan kejamakan. Apa yang bisa 
dilakukan oleh yang terakhir ini  sebagai anak negeri dan bangsa, walau pun 
secara pemikiran dan semangat, barangkali  sastrawan-seniman itu bertanahairkan 
kehidupan dan bumi melampaui tonggak-tonggak batas republik  politik. 
Pertanyaan ini muncul di benakku karena teringat akan apa yang pernah 
dituliskan oleh seorang penyair Tiongkok bahwa "Kita, kitalah yang menjadi 
penanggungjawab timbul-tenggelamnya negeri ini".  Yang dimaksudkan dengan 
"kita",  tentu saja, tidak lain dari putera-puteri negeri itu  sendiri, 
termasuk para sastrawan-senimannya.  Artinya,  tanggungjawab  sastrawan-seniman 
Indonesia, ditagih  baik dari segi kesenimanan itu sendiri,  mau pun dari segi 
sebagai warganegara dan anak negeri. Sehubungan dengan tanggungjawab anak 
negeri dan bangsa
 ini, aku jadi teringat akan kata-kata mantan Perdana Menteri Malaysia, Dr. 
Mahatir Muhamad;: "jika kau sudah ditaklukkan secara pemikiran , maka 
penjajahan fisik tidak lagi diperlukan". Kata-kata Mahatir ini, kukira, 
menunjukkan arti menentukan masalah pola pikir dan mentalitas bagi 
"timbul-tenggelamnya" suatu nasion dan negeri. Penaklukan pikir dan jiwa 
dilakukan dengan berbagai cara, antara lain melalui pendidikan, kekerasan 
verbal,  bahasa dan yang disebut agama. Tak kalah pentingnya adalah 
sastra-seni. 
   
   
  Berhadapan dengan keadaan begini, terutama di negeri-negeri yang oleh Alfred 
Sauvy, demograf Perancis,  disebut sebagai "Dunia Ketiga" seperti Indonesia 
yang penuh ketergantungan dan masih sangat berorientasi Amerika dalam bidang 
pendidikan, kebudayaan dan lain-lain... maka gawatnya masalah "pencaplokan 
pemkiran" dan spiritual ini akan makin menonjol. Barangkali karena itu, sering 
kita dengar pendapat di negeri ini bahwa kemerdekaan kita bukanlah kemerdekaan 
intrinsik tapi justru ketiadaan kemerdekaan. Bahkan ada yang menilai keadaan 
kita sekarang sebagai negeri yang berada di bawah neo-kolonialisme seperti yang 
secara teorisitis, diisyaratkan oleh Mahatir dari Malaysia. Negeri kita mrnjadi 
penyedia tenaga murah,  pasar pelemparan produk-produk asing dalam berbagai 
bentuk termasuk di bidang kebudayaan,  penyedia bahan mentah murah. Secara pola 
pikir dan mentalitas penuh dengan kompleks misalnya dengan lahirnya "bahasa 
gado-gado" dengan kosakata separo bahasa Inggris,
 untuk menunjukkan diri sebagai orang "bermatabat". Dan masih banyak contoh 
lagi yang jika dideretkan akan menjadi suatu rangkaian panjang.
   
   
  Di hadapan keadaan begini, apa bagimana dan di mana tanggungjawab 
sastrawan-seniman sebagai lapisan termasuk paling sadar karena berpikir? Entah 
kalau sastrawan-seniman dipandang sebagai keasyikan dengan diri sendiri, tanpa 
segan mengiklankan diri penuh kebanggaan karena telah menerbitkan  tiga-empat 
karyanya yang "ecek-ecek" dan bersifat egostik diwarnai oleh nihilisme, jika 
menggunakan istilah Todorov ketika mengkritik karya sastra Perancis dewasa ini. 
  Tentu saja, sikap begini adalah suatu tingkat kesadaran. Sedangkan aku 
sendiri memandang sikap begini sebagai sikap dan tanggungjawab tidak selayaknya 
bagi seorang sastrawan-seniman sebagai warga dari "Republik Berdaulat 
Sastra-Seni". Sastra-seni adalah suatu dunia artistik. Dengan sarana artistik 
mereka mencoba berbicara sebagai anak manusia untuk memanusiawikan manusia, 
kehidupan dan masyarakat serta diri sendiri. Dengan demikian, kupahami, pada 
dasarnya istilah artistik, indah, sesungguhnya adalah paduan harmoni
 antara bentuk, kebenaran, keadilan dan tanggungjawab. Indah, artistik adalah 
cakupan dari hakiki, keadilan dan kebenaran yang tertuang dalam bentuk yang 
menyentuh. Keindahan begini, kiranya tak terlepas dari tanggungjawab manusiawi. 
Tanggungjawab manusiawi menagih kesanggupan membela dan mewujudkannya hingga 
tidak mengherankan jika tidak sedikit sastrawan-seniman sanggup pula 
menggadaikan kepala demi setianya pada keindahan, sebagai mimpi, cinta,  dan 
prinsip pemanusiaan. Sastrawan-seniman sebagai manusia sadar tidak bisa 
dibayangkan jika tanpa tanggungjawab manusiawi, hanya asyik dengan diri sendiri 
sebagai "pangeran" dan "putera raja" jika menggunakan istilah penyair Perancis 
Paul Eluard. Makin sadar ia, makin tinggi tanggungjawabnya, makin ia akan 
melengkap diri secara wawasan dan pengetahuan serta menyatukan diri dengan 
kehidupan nyata. Penyatuan diri dengan kehidupan nyata, dan tidak melihatnya 
dari menara gading "anak raja" dan "pangeran" memungkinkan ia menangkap
 serta mengenal permasalahan mayoritas penduduk negerinya. Permasalahan nyata 
membuatnya berpikir dan bersikap untuk mencari serta menawarkan suatu jalan 
keluar. Karena masalah, pertama-tama,  bukan untuk ditonton tapi untuk 
dipecahkan. Berdasarkan pandangan ini maka aku bukan termasuk orang yang 
menganggap sastra-seni sebagai suatu "ceremony of life" dan tempat 
berisang-iseng, bukan arena mainan kelereng atau menjadikan diri untuk menjadi  
selebriti,  melainkan sebagai sarana mengujudkan mimpi bertanggungjawab. 
Sastrawan-seniman adalah pencari, pemburu,  pelaksana dan pengontrol nilai.  
Fungsi ini dirumuskan oleh Ramadhan KH alm. dalam kata-kata:
   
   
  "Penyair  paling setia
  mengajak sekali waktu untuk bersikap"
   
   
  Selebriti dalam artian tersohor, yang kukira lebih merupakan hasil kerja 
keras, seniscayanya tak juga bisa dipisahkan dari tanggungjawab manusiawi. 
Selebritis tanpa tanggungjawab hampa kepala, apakah bedanya dengan mata dadu 
perjudian "uang sang raja"? Tanahair dan kemanusiaan tak bisa mengharapkan 
apa-apa dari selebritis tipe begini. 
   
   
  Bertolak dari dermaga pandangan demikian, maka pertanyaan yang wajar diajukan 
adalah bagaimana sastrawan-seniman negeri ini mengejawantahkan tanggungjawab 
kesastrawanan dan kesinemanan mereka sesuai dengan profesi sastrawan dan 
seniman mereka? Apalagi jika kita sepakat melihat bahwa sastrawan-seniman 
adalah "anak zaman",  jurubicara zaman dan masyarakatnya. Bahwa egotisme dan 
nihilisme dalam sastra berdominan maka kiranya, demikian pula wajah masyarakat 
pada waktu tertentu. Sastra-seni sebagai " bangunan atas" [super structure], 
suka atau tidak suka, setuju atau tidak,   tak terelakkan akan mencerminkan 
"bangunan dasar", "basis" [bedakan dengan pandangan filsafat hubungan mekanisme 
atau teori determinasi ekonomi atau materialisme dalam percakapan!]. 
"Jampi-jampi" sebagai "super structure", sebagai pola pikir dan mentalitas,  
hanyalah  salah satu perujudan belaka dari "bangunan dasar". Emosi pun kukira 
tak luput dari pengaruh "bangunan dasar" [basis] ini. Seperti halnya
 selebritis tanpa tanggungjawab manusiawi, hampa isi kepala, "jampi-jampi" 
sebagai bentuk pelarian dari masalah akan membiarkan masalah berkembang tak 
terpecahkan.  Sungguh mencemaskan jika pola pikir dan mentalitas begini yang 
berdominasi, ujud dari ketidakmampuan bertanggungjawab kehilangan nalar.  
"Jampi-jampi", egotisme dan nhilisme atau barang lain apakah yang ditawarkan 
oleh sastrawan-seniman  kita sebagai "insinyur jiwa"? Pertanyaan ini juga 
kualamatkan ke para penerbit yang punya peran dalam memberi warna kepada sastra 
negeri kita.***
   
   
  Paris, Maret 2007
  ----------------
  JJ. Kusni
   
   
  [Selesai]

                
---------------------------------
 
 Real people. Real questions. Real answers. Share what you know.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke