Sebuah Saran kepada Para Calon Pembunuh Diri Sendiri

http://tech.groups.yahoo.com/group/Interdisiplin/message/2216

[Surat ini ditujukan kepada para Bapak, Ibu, dan para hadirin yang
sedang mempertimbangkan membunuh sanak keluarga dan dirinya sendiri,
dikarenakan sangat sayangnya terhadap mereka; seperti yang terjadi
pada seorang Ibu di Malang atau seorang Ibu di Bandung yang terjadi
tahun lalu]

Assalamu'alaykum wr. wb.,

Bapak, Ibu, dan hadirin yang saya hormati,

Pertama-tama perkenankan saya memperkenalkan diri.

Nama saya adalah Agung Trisetyarso.

Saya adalah marbot [yunior] di masjid Darul Istiqomah, kelurahan Tanah
Baru, kecamatan Beji, Depok.

Menurut seorang marbot senior di masjid kami, pekerjaan mabot
didefinisikan sebagai:

"Pekerjaan memakmurkan masjid yang jam kerjanya dimulai sebelum subuh
dan diakhiri sesudah isya. Diantara luang lingkup pekerjaannya adalah:

1. Membersihkan masjid [menyapu dsb]
2. Mengajak masyarakat untuk shalat berjamaah [termasuk membangunkan
masyarakat]
3. Menjadi Muazin
4. Menjadi Imam Masjid
5. Menjadi penceramah/pengganti penceramah
6. Menjaga masjid"

Pengkelasan Marbot [Marbot Senior dan Marbot Yunior] adalah
berdasarkan kuantitas dan kualitas dari tugas-tugas tersebut. Misal,
seorang Marbot Senior harus datang ke Masjid beberapa jam sebelum
shalat shubuh dimulai. Di tempat kami, biasanya seorang Marbot Senior
sudah datang pada jam 3 pagi. Sedangkan yang yunior baru datang
beberapa menit sebelum azan shubuh.

Gaji Marbot dalam bentuk uang mungkin sangat jauh sekali dibawah UMR;
seperti yang saya terima sebagai marbot junior di masjid ini hanyalah
20 ribu rupiah per bulan [Marbot Senior bisa mencapai 300 ribu rupiah
per bulan]

Sebelum menjadi Marbot Masjid Darul Istiqomah, saya telah
berpengalaman menjadi marbot di Masjid As-Saakinah [Tanah Kusir,
Jakarta] dan Masjid Al-Lathief [Dago Kanayakan, Bandung].

Pada surat ini saya, yang mencoba mewakili profesi marbot masjid dan
mushalla, mengimbau para hadirin untuk berfikir kembali jika terlintas
difikiran untuk menghabisi diri sendiri dan sanak keluarga, karena
dirasakan tidak mampu menghadapi masa depan.

Penyebab utama dari penyakit sosial yang satu ini adalah selama ini
kita salah dalam mengambil panutan; selebriti lebih kita jadikan
panutan daripada para ustadz, marbot masjid dan rohaniawan. Sehingga
ukuran utama hidup kita sekarang ini adalah materi dan popularitas.
Keberhasilan hidup selalu diukur dalam kedua kerangka tersebut.

Kalau ingin bertanya masalah hidup, termasuk permasalahan ekonomi dan
keluarga, cobalah kita belajar ke para marbot senior, janganlah kita
bertanya ke para selebriti atau para tokoh kapitalis yang lainnya.

"Marbot Senior adalah para pekerja yang dianggap sepele di mata
makhluq, tapi sangat besar di mata Khaliq
Mereka bekerja di kegelapan malam dunia, tapi di gemerlapnya cahaya
akhirat
Mereka tidak terkenal di mata makhluq, tapi sangat terkenal di
kalangan malaikat
Ucapan mereka adalah Dzikir, tidak mengguncang dunia, tapi mengguncang
Arasy Allah SWT
Mereka berpenghasilan kecil, tapi berbahagia dunia akhirat, lahir dan
bathin

Sebaliknya, para selebriti adalah para pekerja yang dianggap besar di
mata makhluq, tapi sangat kecil di mata Khaliq
Mereka bekerja di gemerlapnya cahaya dunia, tapi di dalam kegelapan
akhirat
Mereka terkenal di mata makhluq, tapi [karena kemaksiatan yang mereka
lakukan] tidak terkenal di kalangan malaikat
Ucapan mereka adalah kelalaian, mengguncang dunia, tapi tidak
mengguncang Arasy Allah SWT
Mereka berpenghasilan sangat besar, tapi sengsara dunia akhirat, lahir
dan bathin"

Maka dari itu profesi Marbot lebih mulia dan utama di mata Allah SWT;
jika para marbot di seluruh dunia menghentikan pekerjaannya dalam
beberapa hari, maka seluruh alam semesta ini akan berhenti
beraktifitas, yang berujung pada terjadinya kiamat.

"Kiamat tidak akan berdiri sehingga di bumi tidak pernah disebut lagi
nama 'Allah', 'Allah'"[Hadist riwayat Muslim dari Anas]

Sebaliknya, apakah itu akan berlaku pada profesi selebriti?

Cobalah kita lihat selebriti yang kita jadikan tuntunan selama ini;
mayoritas dari mereka adalah para pengkhianat terhadap diri sendiri.
Bahkan mereka tidak dapat memenuhi janji terhadap mereka sendiri;
mereka tidak dapat berkomitmen terhadap pernikahan, pasangan hidup,
anak, dst. Para selebriti adalah golongan yang ucapannya tidak dapat
dipegang [dipercaya]; sekarang berkata A, besok berkata B, besoknya
lagi berkata C, dst. Sekarang berkata setia terhadap pasangannya,
besok ia telah menceraikannya. Sekarang ia teguh memegang
keyakinannya, besok pula ia menanggalkan keyakinan tersebut.

Sebaliknya, para marbot masjid adalah kelompok masyarakat yang
istiqomah [konsisten], karena pekerjaan mereka menuntut kejujuran
kepada Al-Khaaliq, baik ada makhluq maupun tidak ada makhluq.

Seorang Marbot Senior, dengan uang 200 ribu rupiah per bulan dapat
menghidupi 7 orang anak. Tapi, seorang selebriti, dengan penghasilan
miliaran rupiah per bulan, tak dapat menghidupi seorang anak pun,
bahkan tidak cukup untuk dirinya sendiri. Marilah kita renungi kisah
Michael Jackson, Mike Tyson, Elvis Presley, Marlyn Moenroe, dst.

Itu semua tidak bisa dilepaskan dari sifat industri selebriti dan
kapitalis yang sebetulnya sangat kejam.

"Industri kapitalis adalah industri dengan uang kiblatnya
yang mengharuskan seseorang menghalalkan segala cara
Demi kesuksesan

Begitu juga, harus saling menyikut dan mengalahkan
Demi popularitas dan kekayaan

Industri ini sangat cepat mengangkat seseorang,
begitu juga cepat menghempaskan sekeras-kerasnya ke dasar yang paling
dalam

Industri ini hanya untuk orang-orang tertentu;
yaitu mereka yang bersedia berbuat kejam dengan dibungkus kemanisan "

Industri kapitalis [yang berbasis kepada keyakinan bahwa uanglah
segala-galanya] yang serba kejam ini, mengakibatkan para tokoh
kapitalis, seperti para selebriti, banyak mengumbar senyum di depan
publik, tapi sebetulnya hati nuraninya telah mati karena kemaksiatan
yang mereka lakukan.

Sebaliknya, para marbot masjid dihasilkan dari 'industri dzikir' yang
sangat mulia.

"Industri dzikir adalah industri dengan Allah kiblatnya
yang mengharuskan seseorang menghalalkan yang halal
dan mengharamkan yang haram

Begitu juga, harus saling membantu
Demi ketenangan hati

Industri ini selalu terbuka bagi hamba-hamba-Nya yang ingin kembali
kepada-Nya. "

Industri dzikir adalah industri yang berbasis kepada dzikir; malam
hari dihiasi dengan berdzikir lisan, sedangkan di siang hari dihiasi
dengan dzikir hati, yang dimanifestasikan dalam bentuk pelayanan
kepada para makhluq. Rasulullah SAW bersabda:"Sayangilah yang di bumi,
maka engkau akan disayangi oleh yang di langit."

Para selebriti bekerja kepada raja-raja kapitalis yang tamak dan haus
akan uang, sehingga mereka tidak sadar karena pada hakikatnya mereka
tengah diperah separah-parahnya, sebelum nantinya dihempaskan ke
jurang yang paling dasar.

Para marbot masjid bekerja kepada Maha Raja alam semesta, sehingga
tidak khawatir akan masa depan diri dan keluarganya, sekecil apapun
upah dari makhluq yang mereka terima. Allah SWT sendiri yang menjamin
rezeki kepada mereka.[20:132, 24:32, 65:4,7]

Maka dari itu, hendaknya marilah kita membagi masalah kita kepada para
marbot masjid, jangan ke para selebriti. Acuan hidup kita menjadi
rusak berantakan, karena para selebriti dengan hidup yang serba kejam
yang kita jadikan panutan. Marilah kita merubah panutan hidup kita
kepada para penjaga moral, yang hidup di masyarakat.

"Para marbot masjid selalu memancarkan cahaya,
karena mereka selalu berinteraksi dengan Maha Cahaya [An-Nuur]

Sedangkan, para selebriti, pada hakikatnya bermuka masam,
sekalipun ditutupi bedak setebal apapun. "

"Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan
dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah diantara kamu
serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti
hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman
itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian hancur ... "

[Al-Hadiid:30]

Wassalamu'alaykum wr. wb.,

Agung Tri

Kirim email ke