salam,


Belum lama ini, Majalah Afkar berkesempatan mewancarai Hassan Hanafi berkenaan 
dengan isu hiwar bayn  al-adyan.  Berikut  hasil  wawancara  tersebut. Semoga  
bermanfaat.



nuhun,


mawhib


Cairo



=======================================================



Wawancara
Eksklusif Bersama Dr. Hassan Hanafi


 


“al-Qur’an Hanya
Menyebutkan Nabi-nabi yang Dikenal Bangsa Arab”


 


Afkar: Bisa Anda ceritakan kilas balik dari
sejarah “Dialog antar Agama” yang tengah marak digemborkan kalangan Agamawan? 


 


Hassan: Jika kita me-review sejarah
peradaban klasik, justeru Islamlah yang pertamakali memunculkan tema dialog
antar agama. Hal ini dapat kita lacak dalam al-Syahrastani, ketika ia
mengetengahkan kajian antar agama dalam bukunya “Milal wa al-Nihal”,
juga Ibnu Hazm dalam “al-Fishal fi Ahl al-Ahwâ wa al-Milal wa al-Nihal”,
atau Ibn al-Kammuna dalam bukunya “Tanqîh al-Abhâth fi Akhbâr al-Milal 
al-Thalath”,
begitu juga al-Bairûni dalam kitabnya, Tahqîq mâ fî al-Hind, dan
banyak ulama lainnya. 


 


Jadi, dapat disimpulkan bahwa dalam kajian teologi Islam (ilmu Ushûl
al-Dîn), terdapat satu cawangan fakultas yang mengkaji agama-agama non-Islam.
Hal ini dapat kita telisik dalam, misal kecilnya, Imam al-Asy’ari yang membagi
buku “Maqâlât al-Islâmiyyîn” dalam dua bagian. Pada bagian pertama, ia
berbicara tentang sekte-sekte Islam, dan pada bagian kedua ia mengkaji golongan
non-Muslim. Begitu juga dengan al-Qâdhî ‘Abd al-Jabbâr, yang menulis buku 
“al-Mughnî”.
Pada juz keempat buku ini, ia berbicara tentang firqah non-Islam. Jadi,
ketika kita membahas tentang agama Yahudi, Kristen, Zoroaster, Konghucu, Hindu,
Budha, Shinto dll, akan kita dapatkan dalam buku-buku turats banyaknya
pendapat yang sangat beragam yang cukup obyektif tanpa ada pengkafiran; tanpa
kritikan yang berdasarkan atas fanatisme. 


 


Lantas, pada abad-abad berikutnya, muncul beberapa fuqahâ
yang mempelajari kitab-kitab suci agama lain meski hanya sedikit dengan
melakukan kritikan, seperti Ibnu Taimiyah yang berbicara dalam “al-Jawâb
al-Shahîh fî Man Baddala Dîn al-Masîh”, Ibnu Hazm yang
berbicara dalam Ta’lîf  fî al-Radd
‘alâ Anâjîl al-Nashârâ. Ada juga karya sastra klasik yang mengkritik
agama-agama dan aliran kepercayaan secara obyektif dengan menganalisa data-data
dan literatur agama, menghadirkan bukti-bukti kontradiktif dan menyajikan
adanya perbedaan teks, seperti diketengahkan oleh al-Jâhizh dalam bukunya, 
al-Radd
‘alâ al-Nashârâ. Hal-hal semacam ini lah yang pada akhirnya telah
dimanfaatkan oleh orang-orang Eropa, seperti disinyalir oleh Ibn Taymiyyah dalam
buku-nya “Potret al-Masih”, bahwa Barat telah banyak mengambil manfaat dari
kritikan umat Islam terhadap Bible. 


 


Jadi, dapat ditegaskan, kalau kita lah yang sesungguhnya terlebih
dahulu menciptakan dan menerapkan konsep dialog antar agama sebelum kemudian
digaungkan kembali oleh Barat. Kemudian dari kalangan agamawan gereja-gereja
Barat pada Abad Pertengahan –ketika Kristen berkuasa- menyadari ada sebuah
nilai strategis dalam proses menulis buku tentang dialog antara Yahudi, Kristen
dan Filsuf. Lantas, dalam hal ini, siapakah Filsuf itu? Filsuf dalam hal ini
tidak lain adalah para filsuf muslim. Ketika perang Salib berkumandang, ulama
muslim juga merasa berkepentingan untuk menulis buku-buku yang memuat tentang
dialog antar agama sebagaimana yang pernah termuat dalam buku dialog antara
Yahudi, Kristen dan Filsuf. 


 


Pada era modern, setelah bangsa-bangsa merdeka dari kekuasaan
imperialis, berkembang juga dialog antar agama, tetapi bukan dialog antar agama
dalam pengertian yang sebenarnya. Dialog di sini lebih bermaksud untuk 
mengurangi
ketegangan antara Islam dan Barat. Sekalipun Barat mencoba untuk mengakui
kemerdekaan wilayah-wilayah Islam, tetapi tetap saja tidak dapat menafikan
aroma perseteruan antara pihak imperialis dengan umat Islam. Imperialisme di
sini bukan hanya berarti imperialisme dalam aspek militer dan ranah ekonomi,
tetapi juga imperialisme budaya. 


 


Dari sini, gereja mencoba untuk mengadakan dialog antar agama
dengan mengundang dari elemen muslim yang mempunyai kesamaan visi dengan mereka
yang dalam hal ini adalah kelompok Asy’ariyah. Gereja pada masa itu masih
menganut pemikiran Thomas Aquinas. Thomas Aquinas dalam Kristen seperti Imam
Asy’ari dalam Islam. Para penggagas dialog antar agama, baik dari Maroko,
Libanon dan Syuria sesungguhnya berasal dari aliran konservatif. Bahkan mereka
berpendapat adanya persatuan dalam teologi, hukum, etika dll. Konservatif
Kristen berdialog dengan konservatif Islam. Tetapi konservatif Kristen tidak
berdialog dengan Islam Modern, Islam Kiri dan Islam Revolusionis, karena Islam
Revolusionis menyingkap kedok Krtisten yang mengeksploitasi agama untuk
menundukkan penganutnya untuk kepentingan imperialis. Oleh karenanya gereja
tidak mengakui kelompok Islam selain Islam Asy’ari. 


 


Afkar :
Ada
kecenderungan konsep hiwar
bayn al-adyan dewasa ini lebih kental nuansa aplogetiknya dan bahkan
diragukan efektifitasnya. Menurut Anda, idealkah gaya dan format dialog antar
agama yang kini tengah marak?


 


Hassan: Bagi saya, dialog antar peradaban dan agama
sekarang bermakna pendekatan antar pakar, atau bisa dikatakan tak membidik
tujuan yang bernilai. Dialog antar agama hanya sebatas dialog resmi, duduk satu
meja antar tokoh sebagaimana yang dilakukan Syeikh al-Azhar dan Baba Syenoudah
hanya untuk menyebarkan image bahwa agama mencintai satu sama lain. Atau
sebagaimana yang dilakukan oleh para pemikir yang berpendapat bahwa agama
adalah tujuan itu sendiri, semua akidah pada dasarnya benar dan bahwasanya ada
beberapa hal yang menjadi titik temu antar agama, dialog yang bukan untuk
tujuan penindasan ataupun imperialisme. Dialog seperti ini yang sebenarnya
bertujuan untuk menunjukkan makna agama itu sendiri alias bukan karena
tujuan-tujuan lainnya yang bisa menjadi fokus kecurigaan. Hal ini yang
ditakutkan oleh beberapa negara muslim akan diselenggarakannya dialog antar
agama. Kecurigaan ini didasarkan bahwa dialog antar agama yang diselenggarakan
gereja bermaksud untuk menguatkan hegemoni imperialisme di wilayah Islam. Dan
gereja berpihak kepada Barat. 


 


Oleh karenanya, saya tidak melakukan dialog antar agama. Ketika
al-Azhar melakukan dialog dengan agama lain, dengan agama Kristen di Mesir,
pada dasarnya mereka melakukan hal yang tidak berguna. Saling mencintai,
persaudaraan dsb. hal-hal semacam itu pada hakekatnya telah kita kenal.
Pembicaraan mereka hanya membuahkan perbedaan, kritik terhadap kitab suci,
akidah dan ajaran antara yang shahih dan yang tidak. Seperti kritik
terhadap agama Kristen yang mengimani adanya dosa bawaan sedangkan dalam Islam
manusia terlahir dan bertanggung jawab terhadap diri mereka sendiri sebagaimana
disinggung dalam al-Qur’an “Wa kulla insânin alzamnâhu tha`irahu fî
‘unuqihi”. Dalam Kristen, Yesus yang menyelamatkan dan memikul dosa manusia,
sedangkan dalam Islam manusia memikul dosanya sendiri-sendiri sebagimana
disinggung dalam al-Qur`an “kullu nafsin bima kasabat rahinah”, walâ
taziru wâziratun wizra ukhrâ”. Dalam agama Kristen ada yang namanya
otoritas gereja, sedangkan dalam Islam tidak dikenal otoritas semacam itu. Yang
ada dalam Islam adalah otoritas ilmu bukan otoritas tokoh agama yang “ma’shum”
karena tidak ada yang istilah ma’shum dalam Islam. 


 


Topik-topik seperti di atas tidak banyak disinggung dalam
dialog antar agama karena khawatir akan menimbulkan keretakan antara Muslim dan
Kristen. Sedangkan dialog antara Muslim dan Yahudi hanya sebatas pada topik
Palestina. Zionisme yang mengaku sebagai representasi dari Yahudi telah
menginjak-injak martabat bangsa Palestina. Sehingga dialog antara Muslim dan
Yahudi dapat dikatakan sangat sedikit dan tidak menyinggung masalah Politik di
Palestina, melainkan hanya sebatas pada topik-topik keimanan dan etika. Di
samping kita juga mengenal dialog antara Yahudi dan Kristen tetapi hal ini
sangat jarang. Karena mereka tahu bahwa dialog semacam itu tidak ada manfaat
yang diambil. Sekarang dialog antar agama berkembang menjadi dialog antar
budaya dan peradaban. Dan dialog inilah yang banyak dikenal karena agama
merupakan bagian integral dari budaya dan peradaban. 


 


Afkar : Sebagian pakar berpendapat bahwa
dialog antar agama mengharuskan pluralitas agama. Bagaimana menurut Anda?


 


Hassan: Pluralitas agama adalah hal yang benar.
Dalam al-Qur`an disebutkan “wa likullin ja’alna minkum syir’atan wa minhâjan”.
“wa law sya`a rabbuk la ja`ala al-nas ummatan wahidatan”. Nyatanya, Tuhan
menciptakan manusia beraneka ragam. Dan atas dasar realitas tersebut, kita
diciptakan. Oleh karenanya, dapat kita temukan aneka macam varian agama. Kita
mengenal agama ”semitik” (agama Ibrahim, samawi) dan mengenal agama
non-semitik, Zoroaster, Majusi, Shabiah, Sinto dll. Bukankah tuhan mengutus
Rasul bagi masing-masing bangsa? Sebagian disebutkan secara eksplisit dan
sebagian lainnya implisit. 


 


Siapakah yang menjadi Nabi bagi rakyat Cina? Bisa jadi
Konfisius lah Nabi bagi masyarakat Cina,siapa Nabi-nya masyarakat India? Boleh
jadi adalah Budha. Siapa Nabi bagi kaum Persia? Bisa jadi adalah Zoroaster.
Siapa Nabi-nya rakyat Yunani? Boleh jadi Plato, Sokrates dan Aristoteles [terus
nabi-nya orang-orang Indo sape dong om?]. Yang menarik untuk ditegaskan di
sini adalah bahwa al-Qur’an hanya membicarakan Nabi-nabinya orang Arab
sebagaimana yang mereka kenal dan perbincangkan semisal Musa, Harun, Isa dan
Muhammad. Adapun Nabi-nabi bangsa selain Arab, al-Qur’an tidak terlalu
memperhatikannya.


 


So, sudah pada prinsipnya, jika agama tidak lah tunggal. Tapi,
sangat mungkin di antara kesemuanya itu mempunyai titik temu dalam permasalahan
yang berkaitan dengan akidah seperti pengakuan terhadap eksistensi tuhan dan
fakta bahwa alam semesta ciptaan tuhan. 


 


Semua agama juga mempunyai titik sepakat dalam nilai-nilai
etika dan moralitas seperti pengendalian terhadap hawa nafsu, sikap menghormati
kepada pihak lain. Sebagai contoh, dalam ajaran agama Budha, kita dapat melihat
bentuk penghormatan terhadap kehidupan sehingga kita tidak diperkenankan
membunuh sebagian hewan. Hal semacam ini juga terdapat dalam Islam. Islam
dengan lantang menyatakan bahwa kehidupan adalah salah satu prinsip dasar Islam
(maqâshid al-syarî`at).


 


Atau bagaimana kita melihat dalam ajaran Zoroaster (Majusi) tentang
adanya sebentuk anjuran untuk menjunjung tinggi nilai-nilai etika dan
moralitas. Pun dalam ajaran Yahudi terdapat larangan membunuh, mencuri dan
larangan melihat terhadap perempuan/ istri tetangga. Satu hal yang harus
dipahami, dalam setiap agama terdapat hal-hal yang disepakati satu sama lainnya
seperti akidah dan akhlak, juga ditemui beberapa poin yang berbeda seperti tata
cara peribadatan atau ritual keagamaan. Jadi, entitas dan esensi setiap agama
itu sama, adapun perbedaan hanya ada dalam ranah ritual belaka.    


 


Afkar : Apakah ada korelasi positif
antara konsep hiwar bayn al-adyan dengan gerakan liberalisme? Bagaimana
Anda mendeskripsikannya?


 


Hassan: Oh, jelas ada korelasi yang erat antara
keduanya. Sesungguhnya orang-orang yang mau dengan sungguh-sungguh concern 
terhadap
isu hiwar bayn al-adyan adalah orang-orang yang mempunyai pola
pikir liberal. Orang-orang yang mau dengan senang hati membangun kesepahaman
dengan pihak lain, tidak fanatik dengan pemahaman keagamaan mereka dan selalu
menekankan kebebasan dalam berpikir. Orang-orang dari kalangan liberal ini lah
adalah orang-orang yang tidak pernah basa-basi dalam mengimplementasikan konsep
hiwar bayn al-adyan dengan mengoptimalkan nalar demi mengetahui benang
merah antara agama satu dengan lainnya. 


 


Sedangkan kelompok konservatif tidak akan pernah punya
keinginan untuk melakukan hiwar bayn al-adyan karena, dalam perspektif
mereka, masing-masing agama mempunyai entitas yang berbeda-beda yang tidak
mungkin untuk didialogkan. Gejala yang sama pun dilakukan oleh kaum Marxis yang
terkesan sungkan melakukan hiwar bayn al-adyan. Sebab, hiwar bayn
al-adyan menuntut adanya rasionalitas, kebebasan berpikir dan keniscayaan
terhadap pluralitas pemahaman. Dan sikap semacam ini hanya ditemukan dalam
kalangan liberal.[hieb,ci'oel,nier,i2k,jie]


 


 
h13b

http://www.muhammadmawhiburrahman.blogspot.com
--- berbicara dari hati, dengan hati, demi ketenangan hati ---




 
____________________________________________________________________________________
Sucker-punch spam with award-winning protection. 
Try the free Yahoo! Mail Beta.
http://advision.webevents.yahoo.com/mailbeta/features_spam.html

[Non-text portions of this message have been removed]



______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan 
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus 
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: 
[EMAIL PROTECTED] 
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke