dear mas Anam,

Memang benar apa yang disampaikan oleh Hassan Hanafi bahwa dialog antar agama 
hanyalah sekedar "basa-basi". Makanya, beliau tidak pernah mengapresiasi 
inisiatif al-Azhar untuk membangun kesepahaman dengan pihak Vatikan.

Bagi beliau, konsep dialog agama hanya dapat terjadi ketika konsep apostasy 
dihilangkan dari agama manapun. Dan dialog mungkin bisa terlaksana bila sistem 
politik yang berlaku adalah sistem sekuler. Jika demikian, Indonesia tidak 
dapat menerapkannya karena sistem politik Indonesia masih dalam persimpangan.


salam,
 
h13b

http://www.muhammadmawhiburrahman.blogspot.com
--- berbicara dari hati, dengan hati, demi ketenangan hati ---



----- Original Message ----
From: kh anam <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED]
Cc: [EMAIL PROTECTED]; kmnu nu <[email protected]>; afkarian cakep 
<[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]
Sent: Friday, March 23, 2007 7:12:18 PM
Subject: [kmnu2000] Re: <JIL> Wawancara Eksklusif Bersama Dr. Hassan Hanafi

Terimakasih. Menarik sekali postingannya. Kalau boleh mengutip ulang kalimat
yang menarik dari Kang Hassan Hanafi:

>>....Bagi saya, dialog antar peradaban dan agama sekarang bermakna
pendekatan antar pakar, atau bisa dikatakan tak membidik tujuan yang
bernilai. Dialog antar agama hanya sebatas dialog resmi, duduk satu meja
antar tokoh sebagaimana yang dilakukan Syeikh al-Azhar dan Baba Syenoudah
hanya untuk menyebarkan image bahwa agama mencintai satu sama lain. Atau
sebagaimana yang dilakukan oleh para pemikir yang berpendapat bahwa agama
adalah tujuan itu sendiri, semua akidah pada dasarnya benar dan bahwasanya
ada beberapa hal yang menjadi titik temu antar agama, dialog yang bukan
untuk tujuan penindasan ataupun imperialisme. Dialog seperti ini yang
sebenarnya bertujuan untuk menunjukkan makna agama itu sendiri alias bukan
karena tujuan-tujuan lainnya yang bisa menjadi fokus kecurigaan. Hal ini
yang ditakutkan oleh beberapa negara muslim akan diselenggarakannya dialog
antar agama. Kecurigaan ini didasarkan bahwa dialog antar agama yang
diselenggarakan gereja bermaksud untuk menguatkan hegemoni imperialisme di
wilayah Islam. Dan gereja berpihak kepada Barat.

Oleh karenanya, saya tidak melakukan dialog antar agama. Ketika al-Azhar
melakukan dialog dengan agama lain, dengan agama Kristen di Mesir, pada
dasarnya mereka melakukan hal yang tidak berguna. Saling mencintai,
persaudaraan dsb. hal-hal semacam itu pada hakekatnya telah kita kenal.
Pembicaraan mereka hanya membuahkan perbedaan, kritik terhadap kitab suci,
akidah dan ajaran antara yang shahih dan yang tidak. Seperti kritik terhadap
agama Kristen yang mengimani adanya dosa bawaan sedangkan dalam Islam
manusia terlahir dan bertanggung jawab terhadap diri mereka sendiri
sebagaimana disinggung dalam al-Qur'an "Wa kulla insânin alzamnâhu tha`irahu
fî 'unuqihi". Dalam Kristen, Yesus yang menyelamatkan dan memikul dosa
manusia, sedangkan dalam Islam manusia memikul dosanya sendiri-sendiri
sebagimana disinggung dalam al-Qur`an "kullu nafsin bima kasabat rahinah",
walâ taziru wâziratun wizra ukhrâ". Dalam agama Kristen ada yang namanya
otoritas gereja, sedangkan dalam Islam tidak dikenal otoritas semacam itu.
Yang ada dalam Islam adalah otoritas ilmu bukan otoritas tokoh agama yang
"ma'shum" karena tidak ada yang istilah ma'shum dalam Islam.

Topik-topik seperti di atas tidak banyak disinggung dalam dialog antar agama
karena khawatir akan menimbulkan keretakan antara Muslim dan Kristen.
Sedangkan dialog antara Muslim dan Yahudi hanya sebatas pada topik
Palestina. Zionisme yang mengaku sebagai representasi dari Yahudi telah
menginjak-injak martabat bangsa Palestina. Sehingga dialog antara Muslim dan
Yahudi dapat dikatakan sangat sedikit dan tidak menyinggung masalah Politik
di Palestina, melainkan hanya sebatas pada topik-topik keimanan dan etika.
Di samping kita juga mengenal dialog antara Yahudi dan Kristen tetapi hal
ini sangat jarang. Karena mereka tahu bahwa dialog semacam itu tidak ada
manfaat yang diambil. <<

Dalam konteks Indonesia kira-kira kejadiannya sama. Dialog antar agama hanya
sebagai formalitas, pantes-pantesan, normatif, membicarakan nilai umum,
tidak menyentuh akar persoalan, atau dalam bahasa yang menimbulkan tanda
tanya di atas yakni sekedar "menguatkan hegemoni imperialisme" ,
melanggengkan kemapanan; sesungguhnya tidak terjadi dialog diantara kita
atau jangan jangan tidak ada yang berani berdialog.

Semoga saya tidak salah faham,

On 3/23/07, Muhammad Mawhiburrahman <hammad_ahdal@ yahoo.com> wrote:
>
>
>
> salam,
>
>
> Belum lama ini, Majalah Afkar berkesempatan mewancarai Hassan Hanafi
> berkenaan dengan isu hiwar
> bayn al-adyan. Berikut hasil wawancara tersebut. Semoga bermanfaat.
>
>
>
> nuhun,
>
>
> mawhib
>
>
> Cairo
>
>
>
> ============ ========= ========= ========= ========= =======
>
>
>
> Wawancara
> Eksklusif Bersama Dr. Hassan Hanafi
>
>
>
>
>
> "al-Qur'an Hanya
> Menyebutkan Nabi-nabi yang Dikenal Bangsa Arab"
>
>
>
>
>
> Afkar: Bisa Anda ceritakan kilas balik dari
> sejarah "Dialog antar Agama" yang tengah marak digemborkan kalangan
> Agamawan?
>
>
>
>
>
> Hassan: Jika kita me-review sejarah
> peradaban klasik, justeru Islamlah yang pertamakali memunculkan tema
> dialog
> antar agama. Hal ini dapat kita lacak dalam al-Syahrastani, ketika ia
> mengetengahkan kajian antar agama dalam bukunya "Milal wa al-Nihal",
> juga Ibnu Hazm dalam "al-Fishal fi Ahl al-Ahwâ wa al-Milal wa al-Nihal",
> atau Ibn al-Kammuna dalam bukunya "Tanqîh al-Abhâth fi Akhbâr al-Milal
> al-Thalath",
> begitu juga al-Bairûni dalam kitabnya, Tahqîq mâ fî al-Hind, dan
> banyak ulama lainnya.
>
>
>
>
>
> Jadi, dapat disimpulkan bahwa dalam kajian teologi Islam (ilmu Ushûl
> al-Dîn), terdapat satu cawangan fakultas yang mengkaji agama-agama
> non-Islam.
> Hal ini dapat kita telisik dalam, misal kecilnya, Imam al-Asy'ari yang
> membagi
> buku "Maqâlât al-Islâmiyyîn" dalam dua bagian. Pada bagian pertama, ia
> berbicara tentang sekte-sekte Islam, dan pada bagian kedua ia mengkaji
> golongan
> non-Muslim. Begitu juga dengan al-Qâdhî 'Abd al-Jabbâr, yang menulis buku
> "al-Mughnî".
> Pada juz keempat buku ini, ia berbicara tentang firqah non-Islam. Jadi,
> ketika kita membahas tentang agama Yahudi, Kristen, Zoroaster, Konghucu,
> Hindu,
> Budha, Shinto dll, akan kita dapatkan dalam buku-buku turats banyaknya
> pendapat yang sangat beragam yang cukup obyektif tanpa ada pengkafiran;
> tanpa
> kritikan yang berdasarkan atas fanatisme.
>
>
>
>
>
> Lantas, pada abad-abad berikutnya, muncul beberapa fuqahâ
> yang mempelajari kitab-kitab suci agama lain meski hanya sedikit dengan
> melakukan kritikan, seperti Ibnu Taimiyah yang berbicara dalam "al-Jawâb
> al-Shahîh fî Man Baddala Dîn al-Masîh", Ibnu Hazm yang
> berbicara dalam Ta'lîf fî al-Radd
> 'alâ Anâjîl al-Nashârâ. Ada juga karya sastra klasik yang mengkritik
> agama-agama dan aliran kepercayaan secara obyektif dengan menganalisa
> data-data
> dan literatur agama, menghadirkan bukti-bukti kontradiktif dan menyajikan
> adanya perbedaan teks, seperti diketengahkan oleh al-Jâhizh dalam bukunya,
> al-Radd
> 'alâ al-Nashârâ. Hal-hal semacam ini lah yang pada akhirnya telah
> dimanfaatkan oleh orang-orang Eropa, seperti disinyalir oleh Ibn Taymiyyah
> dalam
> buku-nya "Potret al-Masih", bahwa Barat telah banyak mengambil manfaat
> dari
> kritikan umat Islam terhadap Bible.
>
>
>
>
>
> Jadi, dapat ditegaskan, kalau kita lah yang sesungguhnya terlebih
> dahulu menciptakan dan menerapkan konsep dialog antar agama sebelum
> kemudian
> digaungkan kembali oleh Barat. Kemudian dari kalangan agamawan
> gereja-gereja
> Barat pada Abad Pertengahan –ketika Kristen berkuasa- menyadari ada sebuah
> nilai strategis dalam proses menulis buku tentang dialog antara Yahudi,
> Kristen
> dan Filsuf. Lantas, dalam hal ini, siapakah Filsuf itu? Filsuf dalam hal
> ini
> tidak lain adalah para filsuf muslim. Ketika perang Salib berkumandang,
> ulama
> muslim juga merasa berkepentingan untuk menulis buku-buku yang memuat
> tentang
> dialog antar agama sebagaimana yang pernah termuat dalam buku dialog
> antara
> Yahudi, Kristen dan Filsuf.
>
>
>
>
>
> Pada era modern, setelah bangsa-bangsa merdeka dari kekuasaan
> imperialis, berkembang juga dialog antar agama, tetapi bukan dialog antar
> agama
> dalam pengertian yang sebenarnya. Dialog di sini lebih bermaksud untuk
> mengurangi
> ketegangan antara Islam dan Barat. Sekalipun Barat mencoba untuk mengakui
> kemerdekaan wilayah-wilayah Islam, tetapi tetap saja tidak dapat menafikan
> aroma perseteruan antara pihak imperialis dengan umat Islam. Imperialisme
> di
> sini bukan hanya berarti imperialisme dalam aspek militer dan ranah
> ekonomi,
> tetapi juga imperialisme budaya.
>
>
>
>
>
> Dari sini, gereja mencoba untuk mengadakan dialog antar agama
> dengan mengundang dari elemen muslim yang mempunyai kesamaan visi dengan
> mereka
> yang dalam hal ini adalah kelompok Asy'ariyah. Gereja pada masa itu masih
> menganut pemikiran Thomas Aquinas. Thomas Aquinas dalam Kristen seperti
> Imam
> Asy'ari dalam Islam. Para penggagas dialog antar agama, baik dari Maroko,
> Libanon dan Syuria sesungguhnya berasal dari aliran konservatif. Bahkan
> mereka
> berpendapat adanya persatuan dalam teologi, hukum, etika dll. Konservatif
> Kristen berdialog dengan konservatif Islam. Tetapi konservatif Kristen
> tidak
> berdialog dengan Islam Modern, Islam Kiri dan Islam Revolusionis, karena
> Islam
> Revolusionis menyingkap kedok Krtisten yang mengeksploitasi agama untuk
> menundukkan penganutnya untuk kepentingan imperialis. Oleh karenanya
> gereja
> tidak mengakui kelompok Islam selain Islam Asy'ari.
>
>
>
>
>
> Afkar :
> Ada
> kecenderungan konsep hiwar
> bayn al-adyan dewasa ini lebih kental nuansa aplogetiknya dan bahkan
> diragukan efektifitasnya. Menurut Anda, idealkah gaya dan format dialog
> antar
> agama yang kini tengah marak?
>
>
>
>
>
> Hassan: Bagi saya, dialog antar peradaban dan agama
> sekarang bermakna pendekatan antar pakar, atau bisa dikatakan tak membidik
> tujuan yang bernilai. Dialog antar agama hanya sebatas dialog resmi, duduk
> satu
> meja antar tokoh sebagaimana yang dilakukan Syeikh al-Azhar dan Baba
> Syenoudah
> hanya untuk menyebarkan image bahwa agama mencintai satu sama lain. Atau
> sebagaimana yang dilakukan oleh para pemikir yang berpendapat bahwa agama
> adalah tujuan itu sendiri, semua akidah pada dasarnya benar dan bahwasanya
> ada
> beberapa hal yang menjadi titik temu antar agama, dialog yang bukan untuk
> tujuan penindasan ataupun imperialisme. Dialog seperti ini yang sebenarnya
> bertujuan untuk menunjukkan makna agama itu sendiri alias bukan karena
> tujuan-tujuan lainnya yang bisa menjadi fokus kecurigaan. Hal ini yang
> ditakutkan oleh beberapa negara muslim akan diselenggarakannya dialog
> antar
> agama. Kecurigaan ini didasarkan bahwa dialog antar agama yang
> diselenggarakan
> gereja bermaksud untuk menguatkan hegemoni imperialisme di wilayah Islam.
> Dan
> gereja berpihak kepada Barat.
>
>
>
>
>
> Oleh karenanya, saya tidak melakukan dialog antar agama. Ketika
> al-Azhar melakukan dialog dengan agama lain, dengan agama Kristen di
> Mesir,
> pada dasarnya mereka melakukan hal yang tidak berguna. Saling mencintai,
> persaudaraan dsb. hal-hal semacam itu pada hakekatnya telah kita kenal.
> Pembicaraan mereka hanya membuahkan perbedaan, kritik terhadap kitab suci,
> akidah dan ajaran antara yang shahih dan yang tidak. Seperti kritik
> terhadap agama Kristen yang mengimani adanya dosa bawaan sedangkan dalam
> Islam
> manusia terlahir dan bertanggung jawab terhadap diri mereka sendiri
> sebagaimana
> disinggung dalam al-Qur'an "Wa kulla insânin alzamnâhu tha`irahu fî
> 'unuqihi". Dalam Kristen, Yesus yang menyelamatkan dan memikul dosa
> manusia,
> sedangkan dalam Islam manusia memikul dosanya sendiri-sendiri sebagimana
> disinggung dalam al-Qur`an "kullu nafsin bima kasabat rahinah", walâ
> taziru wâziratun wizra ukhrâ". Dalam agama Kristen ada yang namanya
> otoritas gereja, sedangkan dalam Islam tidak dikenal otoritas semacam itu.
> Yang
> ada dalam Islam adalah otoritas ilmu bukan otoritas tokoh agama yang
> "ma'shum"
> karena tidak ada yang istilah ma'shum dalam Islam.
>
>
>
>
>
> Topik-topik seperti di atas tidak banyak disinggung dalam
> dialog antar agama karena khawatir akan menimbulkan keretakan antara
> Muslim dan
> Kristen. Sedangkan dialog antara Muslim dan Yahudi hanya sebatas pada
> topik
> Palestina. Zionisme yang mengaku sebagai representasi dari Yahudi telah
> menginjak-injak martabat bangsa Palestina. Sehingga dialog antara Muslim
> dan
> Yahudi dapat dikatakan sangat sedikit dan tidak menyinggung masalah
> Politik di
> Palestina, melainkan hanya sebatas pada topik-topik keimanan dan etika. Di
> samping kita juga mengenal dialog antara Yahudi dan Kristen tetapi hal ini
> sangat jarang. Karena mereka tahu bahwa dialog semacam itu tidak ada
> manfaat
> yang diambil. Sekarang dialog antar agama berkembang menjadi dialog antar
> budaya dan peradaban. Dan dialog inilah yang banyak dikenal karena agama
> merupakan bagian integral dari budaya dan peradaban.
>
>
>
>
>
> Afkar : Sebagian pakar berpendapat bahwa
> dialog antar agama mengharuskan pluralitas agama. Bagaimana menurut Anda?
>
>
>
>
>
> Hassan: Pluralitas agama adalah hal yang benar.
> Dalam al-Qur`an disebutkan "wa likullin ja'alna minkum syir'atan wa
> minhâjan".
> "wa law sya`a rabbuk la ja`ala al-nas ummatan wahidatan". Nyatanya, Tuhan
> menciptakan manusia beraneka ragam. Dan atas dasar realitas tersebut, kita
> diciptakan. Oleh karenanya, dapat kita temukan aneka macam varian agama.
> Kita
> mengenal agama "semitik" (agama Ibrahim, samawi) dan mengenal agama
> non-semitik, Zoroaster, Majusi, Shabiah, Sinto dll. Bukankah tuhan
> mengutus
> Rasul bagi masing-masing bangsa? Sebagian disebutkan secara eksplisit dan
> sebagian lainnya implisit.
>
>
>
>
>
> Siapakah yang menjadi Nabi bagi rakyat Cina? Bisa jadi
> Konfisius lah Nabi bagi masyarakat Cina,siapa Nabi-nya masyarakat India?
> Boleh
> jadi adalah Budha. Siapa Nabi bagi kaum Persia? Bisa jadi adalah
> Zoroaster.
> Siapa Nabi-nya rakyat Yunani? Boleh jadi Plato, Sokrates dan Aristoteles
> [terus
> nabi-nya orang-orang Indo sape dong om?]. Yang menarik untuk ditegaskan di
> sini adalah bahwa al-Qur'an hanya membicarakan Nabi-nabinya orang Arab
> sebagaimana yang mereka kenal dan perbincangkan semisal Musa, Harun, Isa
> dan
> Muhammad. Adapun Nabi-nabi bangsa selain Arab, al-Qur'an tidak terlalu
> memperhatikannya.
>
>
>
>
>
> So, sudah pada prinsipnya, jika agama tidak lah tunggal. Tapi,
> sangat mungkin di antara kesemuanya itu mempunyai titik temu dalam
> permasalahan
> yang berkaitan dengan akidah seperti pengakuan terhadap eksistensi tuhan
> dan
> fakta bahwa alam semesta ciptaan tuhan.
>
>
>
>
>
> Semua agama juga mempunyai titik sepakat dalam nilai-nilai
> etika dan moralitas seperti pengendalian terhadap hawa nafsu, sikap
> menghormati
> kepada pihak lain. Sebagai contoh, dalam ajaran agama Budha, kita dapat
> melihat
> bentuk penghormatan terhadap kehidupan sehingga kita tidak diperkenankan
> membunuh sebagian hewan. Hal semacam ini juga terdapat dalam Islam. Islam
> dengan lantang menyatakan bahwa kehidupan adalah salah satu prinsip dasar
> Islam
> (maqâshid al-syarî`at).
>
>
>
>
>
> Atau bagaimana kita melihat dalam ajaran Zoroaster (Majusi) tentang
> adanya sebentuk anjuran untuk menjunjung tinggi nilai-nilai etika dan
> moralitas. Pun dalam ajaran Yahudi terdapat larangan membunuh, mencuri dan
> larangan melihat terhadap perempuan/ istri tetangga. Satu hal yang harus
> dipahami, dalam setiap agama terdapat hal-hal yang disepakati satu sama
> lainnya
> seperti akidah dan akhlak, juga ditemui beberapa poin yang berbeda seperti
> tata
> cara peribadatan atau ritual keagamaan. Jadi, entitas dan esensi setiap
> agama
> itu sama, adapun perbedaan hanya ada dalam ranah ritual belaka.
>
>
>
>
>
> Afkar : Apakah ada korelasi positif
> antara konsep hiwar bayn al-adyan dengan gerakan liberalisme? Bagaimana
> Anda mendeskripsikannya?
>
>
>
>
>
> Hassan: Oh, jelas ada korelasi yang erat antara
> keduanya. Sesungguhnya orang-orang yang mau dengan sungguh-sungguh concern
> terhadap
> isu hiwar bayn al-adyan adalah orang-orang yang mempunyai pola
> pikir liberal. Orang-orang yang mau dengan senang hati membangun
> kesepahaman
> dengan pihak lain, tidak fanatik dengan pemahaman keagamaan mereka dan
> selalu
> menekankan kebebasan dalam berpikir. Orang-orang dari kalangan liberal ini
> lah
> adalah orang-orang yang tidak pernah basa-basi dalam mengimplementasikan
> konsep
> hiwar bayn al-adyan dengan mengoptimalkan nalar demi mengetahui benang
> merah antara agama satu dengan lainnya.
>
>
>
>
>
> Sedangkan kelompok konservatif tidak akan pernah punya
> keinginan untuk melakukan hiwar bayn al-adyan karena, dalam perspektif
> mereka, masing-masing agama mempunyai entitas yang berbeda-beda yang tidak
> mungkin untuk didialogkan. Gejala yang sama pun dilakukan oleh kaum Marxis
> yang
> terkesan sungkan melakukan hiwar bayn al-adyan. Sebab, hiwar bayn
> al-adyan menuntut adanya rasionalitas, kebebasan berpikir dan keniscayaan
> terhadap pluralitas pemahaman. Dan sikap semacam ini hanya ditemukan dalam
> kalangan liberal.[hieb, ci'oel,nier, i2k,jie]
>
>
>
>
>
>
> h13b
>
> http://www.muhammad mawhiburrahman. blogspot. com
> --- berbicara dari hati, dengan hati, demi ketenangan hati ---
>
>
>
>
>
>
> ____________ _________ _________ _________ _________ _________ _
> Sucker-punch spam with award-winning protection.
> Try the free Yahoo! Mail Beta.
> http://advision. webevents. yahoo.com/ mailbeta/ features_ spam.html
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
>
>
> http://www.assyauka nie.com
> Yahoo! Groups Links
>
>
>
>

[Non-text portions of this message have been removed]





 
____________________________________________________________________________________
It's here! Your new message!  
Get new email alerts with the free Yahoo! Toolbar.
http://tools.search.yahoo.com/toolbar/features/mail/

[Non-text portions of this message have been removed]



______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan 
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus 
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: 
[EMAIL PROTECTED] 
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke