http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail_c&id=277883
Selasa, 27 Mar 2007,
NU Sesalkan Sikap RI
Terkait Sanksi PBB untuk Iran
JAKARTA - Sikap Indonesia yang menerima pemberlakuan sanksi PBB terhadap
Republik Islam Iran disesalkan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PB NU). Ketua
Umum PB NU Hasyim Muzadi menilai, delegasi Indonesia di sidang Dewan Keamanan
PBB di New York gagal total.
"Sikap Indonesia yang ikut menyetujui sanksi terhadap Iran adalah blunder
besar untuk pemerintah," kata Hasyim kemarin. Keputusan DK PBB menjatuhkan
sanksi bagi Iran itu melalui Resolusi 1747.
Resolusi tersebut secara bulat disepakati 15 negara anggota DK PBB,
termasuk Indonesia. Resolusi itu memperluas sanksi atas Iran yang ditetapkan
pada Desember 2006 dalam Resolusi 1737. Di antara isi Resolusi 1747 adalah
larangan secara menyeluruh ekspor senjata Iran maupun pembatasan penjualan
senjata ke Iran.
Isi resolusi juga membekukan aset milik 28 lembaga atau perorangan yang
berhubungan dengan program nuklir dan rudal Iran. Iran juga dibatasi untuk
memperoleh bantuan keuangan. DK PBB memberikan batas waktu 60 hari setelah
resolusi agar Iran menghentikan program nuklir. Jika diabaikan, DK PBB bisa
mengambil langkah yang lebih pantas berupa sanksi ekonomi, bukan militer.
Menurut Hasyim, dampak dari kesalahan fatal pemerintah itu umat Islam dan
bangsa lain akan semakin jauh dari Indonesia. Karena itu, pemerintah harus
bertanggung jawab kepada rakyat Indonesia yang mayoritas muslim. "Keputusan itu
melukai umat Islam," kata presiden World Conference on Religion and Peace
(WCRP) itu.
Hasyim menilai, SBY kalah berani dengan Megawati Soekarnoputri. Saat
menjadi presiden, Megawati berani tegas menentang agresi militer Amerika
terhadap Iraq. "Mega dulu berani menentang Bush," kata calon Wapres pasangan
Megawati pada Pilpres 2004 itu.
Hasyim mengatakan, dirinya mendapat protes keras dari tokoh dan ulama
terkemuka dunia akibat sikap Indonesia tersebut. Para ulama dari berbagai
negara sebenarnya sangat berharap agar Indonesia sebagai negara berpenduduk
muslim terbesar dapat berbuat banyak di DK PBB. "Saya sampai kewalahan dan
sungkan menerima kontak dari ulama-ulama terkemuka dunia," terang Hasyim.
Saat ini, tambah Hasyim, reputasi Indonesia di kalangan negara berkembang
dan negara Islam telah jatuh. Di mata Amerika, Indonesia mungkin mendapat
pujian, namun tidak akan menuai keuntungan apa-apa. "Paling Indonesia hanya
mendapatkan pujian kosong. Malah disangka menjadi agen Amerika," ujarnya.
Hasyim mengingatkan agar SBY belajar dari sejarah pemimpin dunia yang
menjadi pendukung Amerika. Saat jatuh, tak satu pun di antara para pemimpin
yang membela Amerika mendapatkan perlindungan negara adidaya itu. "Lihat saja
Marcos, Idi Amin, Nguven Van Thieu, dan lain sebagainya, tak ada yang ditolong
Amerika setelah jatuh," kata Hasyim.
Juru Bicara Kepresidenan Dino Patti Djalal menolak bahwa delegasi
Indonesia di DK PBB dikatakan gagal. "Kalaupun Indonesia menolak, tidak mungkin
bisa menghalau keluarnya resolusi 1747," kata Dino di Istana Bogor kemarin.
Menurut Dino, ada dua opsi yang dipilih Indonesia. Yaitu, menolak sanksi
bagi Iran, atau memasukkan redaksional untuk memperhalus resolusi tersebut.
"Kita memutuskan opsi yang kedua. Kalau menolak, tidak mungkin mengalahkan
negara P-5 (anggota tetap) DK PBB yang punya hak veto," paparnya.
Dengan sikap diplomasi seperti itu, Indonesia bisa memasukkan redaksional
seperti pemberlakuan kawasan bebas senjata nuklir dan pelarangan senjata
pemusnah masal di Timur Tengah.
"Redaksi itu ternyata sangat didukung negara-negara Arab," ungkap Dino.
Indonesia justru menyesalkan sikap Iran yang tidak mengambil hak
memberikan pernyataan di hadapan sidang DK PBB. Padahal, bisa saja penjelasan
Iran mengubah keputusan DK PBB.
Dino mencontohkan, Korea Utara bisa melakukan diplomasi cantik sehingga
terhindar dari sanksi. "Korea Utara justru pernah menyatakan membuat senjata
nuklir. Sedangkan Iran kan tidak. Sebenarnya peluang diplomasi masih terbuka,"
kata Dino.
Dia berharap, resolusi tersebut tidak hanya dilihat dari sisi sanksi
terhadap Iran. "Banyak insentif yang ditawarkan kepada Iran kalau bersedia
menghentikan pengayaan uranium," katanya. (tom)
[Non-text portions of this message have been removed]