http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail_c&id=277812
Selasa, 27 Mar 2007,
Cermin Visi Global NU 


Oleh A. Hasyim Muzadi 

Deklarasi Kyoto
Nahdlatul Ulama (NU) sejak awal berdiri 1926 tidak terlepas dari 
problem-problem global, yang ketika itu setidaknya menghadapi dua tantangan 
besar, yaitu persoalan imperialisme dan paham keagamaan. Menghadapi tantangan 
imperialisme, NU membangun basis pertahanan di pesantren-pesantren yang ada di 
pedesaan. 

Walhasil, banyak kader yang jadi pioner perjuangan kemerdekaan, termasuk Bung 
Tomo. Santri Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy'ari dengan pekik "Allahu Akbar"-nya 
itu berhasil mengusir pasukan sekutu di Surabaya.

Dalam konteks keagamaan, NU membentuk Komite Hijaz yang mengutus KH A. Wahab 
Hasbullah dan Syaikh A. Ghonaim Al Amir untuk menyampaikan surat kepada 
penguasa negeri Hijaz dan Najed -sekarang kerajaan Saudi Arabiyah, yaitu Raja 
Abdul Azis Bin Abdurrahman As Su'ud. 

Surat Komite Hijaz tersebut setidaknya meliputi empat hal; diberlakukan 
kebebasan bermazhab, diperbolehkan ziarah ke tempat-tempat bersejarah seperti 
tempat kelahiran Siti Fatimah dan bangunan Khaezuron dan lainnya, meminta 
diumumkan ke seluruh dunia mengenai tarif haji, dan meminta seluruh hukum yang 
berlaku di Hijaz agar dijadikan sebagai UU.

Komite Hijaz diterima dan langsung mendapat jawaban dari Raja Su'ud bahwa 
kerajaan tidak melarang semua amalan yang dilakukan jamaah haji di Baitul 
Haram, Makkah dari mazhab apa pun, termasuk berkunjung ke tempat-tempat ziarah. 

NU dengan Komite Hijaz-nya merupakan satu-satunya ormas Islam di dunia yang 
berani mengoreksi kebijakan penguasa Arab agar memberikan ruang kebebasan dalam 
bermazhab di dalam Islam. Sebab, Makkah dan Madinah yang ada di kawasan 
tersebut merupakan kota suci bagi seluruh umat Islam di dunia, bukan hanya 
milik kelompok umat Islam yang berpaham Wahabi. 

Visi NU Global

Islamo fobia masih menjadi pandangan yang mainstream di kalangan masyarakat 
Barat, termasuk di Amerika Serikat (AS). Adalah pandangan dari Samuel 
Huntington, ilmuwan Harvard University yang juga dikenal sebagai think tank 
Gedung Putih AS, yang mempertegas hal ini, bahwa pascaperang dingin yang 
ditandai dengan tumbangnya Tembok Berlin, dunia akan menghadapi clash of 
civilizations, benturan antar peradaban, terutama Barat vis a vis Islam. 

Maka, tatkala terjadi tragedi tumbangnya dua menara kembar World Trade Center 
(WTC) 11 September 2001 di AS, ketegangan Islam v Barat semakin mencapai titik 
klimaks. Apalagi, Presiden AS George W. Bush menyebut-nyebut pelaku serangan 
ini adalah teroris Al Qaidah yang dikomando Usamah bin Laden, pengusaha asal 
Arab Saudi. 

Deklarasi perang terhadap terorisme oleh Bush semakin menyuburkan sikap 
negative thinking terhadap Islam. Maka, Islam diidentikkan dengan segala macam 
simbol dan fenomena yang cenderung berkonotasi negatif, seperti terorisme, 
kekerasan, fundamentalis, lusuh, diktator, ortodok, tidak menghargai 
pluralisme, dan sejenisnya. 

Harus diakui, kesan-kesan negatif terhadap Islam seperti itu muncul akibat 
pemberitaan media massa Barat yang entah sengaja atau tidak secara sistematis 
berusaha menyebarluaskan pandangan-pandangan streotipikal dan pejoratif 
tersebut.

Dalam kondisi Islam yang terpuruk seperti itulah, NU kembali ingin memberikan 
kontribusinya dengan mengadakan tabayun atau klarifikasi langsung kepada 
tokoh-tokoh kunci dunia. Intinya, Islam tidak bisa digeneralisasi dengan 
melihat segelintir kelompok Islam yang kebetulan radikal dan fundamentalis. 

Bahwa radikalisme dan fundamentalisme, senantiasa ada dalam agama apa pun tidak 
terkecuali dalam Kristen dan Yahudi. Melihat Islam jangan hanya melihat Taliban 
di Afghanistan, lalu digeneralisasi. 

Kami ke AS awal 2002, empat bulan pasca-Tragedi WTC. Pergi ke Thailand 
Maret-April 2005, juga empat bulan pasca pembantaian 84 warga muslim Thailand 
selatan oleh militer setempat yang terjadi pada bulan Ramadan. Di AS yang 
mayoritas Kristen dan Yahudi dan di Thailand yang mayoritas Buddha dan Hindu, 
kami jelaskan Islam moderat dan rahmatalil'alamin sebagaimana dipraktikkan NU 
di Indonesia selama ini. Islam ala NU terbukti dalam sejarah berabad-abad 
lamanya dapat hidup berdampingan dengan pemeluk agama lain non-Islam. 

Praktik Islam yang dianut oleh mayoritas penduduk Indonesia dan juga merupakan 
muslim terbesar di dunia menegakkan agama Islam tidak dengan cara-cara 
kekerasan. 

Islam datang di Indonesia pada abad XII M, dengan cara-cara damai lewat 
perdagangan dan proses akulturasi dan akomodasi terhadap kultur dan tradisi 
lokal, yang tidak memberangus budaya dan tradisi lokal, sehingga nyaris tidak 
terjadi ketegangan dengan penduduk lokal. 

Mengambil spirit Komite Hijaz, NU ingin menegaskan visi globalnya bahwa Islam 
moderat yang rahmatal lil'alamin (penebar kasih sayang bagi semesta alam) harus 
diperkenalkan ke seluruh dunia untuk terciptanya suasana damai dan aman 
sehingga memungkinkan peningkatan kualitas hidup umat manusia, bebas dari 
segala penindasan dan hegemoni, demi menegakkan prinsip kejujuran dan keadilan 
serta penghargaan yang tinggi terhadap martabat kemanusiaan. 

Hal sama kami lakukan ketika kami berkunjung ke Tahta Suci Vatikan, di Roma 
Italia. Kepada mereka semua, kami menyatakan wajah Islam yang sebenarnya 
bukanlah yang dipresentasikan oleh kelompok-kelompok radikal, melainkan wajah 
yang penuh dengan keramahan dan penghormatan pada pluralisme, sebagai 
manifestasi ajaran Islam yang rahmatal lil'almien.

Deklarasi Kyoto

Isi Deklrasi Kyoto -World Conference of Religions for Peace (WCRP), di Kyoto, 
Jepang 29 Agustus 2006- antara lain menegaskan bahwa Religions for Peace harus 
menjadi salah satu suara utama multiagama dunia dan pelaku perdamaian. 
Masyarakat multiagama harus bekerja sama guna penguatan komunitas-komunitas 
keagamaan untuk mengatasi konflik, membangun perdamaian dan menegakkan keadilan 
dan memajukan umat beragama secara berkesinambungan. 

Multiagama bersatu menghindari dan mengatasi kekerasan dalam semua bentuknya 
dan meyakini kekuatan multiagama untuk melangkah menuju visi bersama 
menciptakan rasa aman bersama. Masyarakat multiagama akan menggerakkan 
komunitas keagamaan di seluruh dunia mendorong pendidikan untuk keadilan dan 
perdamaian, menghapus kemiskinan dan membangun kemajuan untuk generasi 
mendatang.

Atas dasar Deklarasi Kyoto inilah, kami mengajak seluruh komponen di WCRP agar 
terus memperkuat hubungan antarumat beragama sehingga dapat menghindari konflik 
umat/agama. Agama juga harus benar-benar dilepaskan dari konflik di beberapa 
wilayah dan bagian di dunia ini. Islam mengajarkan nilai-nilai agama yang 
bersifat universal dan menjunjung tinggi toleransi masyarakat yang pluralistik, 
moderat, dan perdamaian. Islam merupakan berkat bagi semua bangsa.
Wallahu'alam Bishshawab

Dr KH A. Hasyim Muzadi, ketua Umum PB NU, president World Confrence of Religion 
for Peace (WCRP)




[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke