http://www.suaramerdeka.com/ Pesan Profetik Maulid Nabi a.. Oleh Irham Syaroni Ada hal terpenting untuk diungkap sebagai refleksi dalam Maulid Nabi, yaitu melacak kembali pesan-pesan profetik yang dikandungnya. Di antara yang relevan untuk diungkap adalah egalitarianisme, kebebasan, dan keadilan.
MAULID Nabi atau masyarakat Jawa menyebutnya Muludan, memang bukan hari besar Islam, jika dilongok dari perspektif skriptural Islam (Alquran maupun Hadis). Nabi pun tak pernah menganjurkan hari lahirnya diperingati. Namun, beliau tidak juga melarangnya secara sharih (eksplisit). Oleh karena itu, tak mengherankan bila pro-kontra menyangkut hukum memperingatinya terus berlanjut meski tidak sederas di era 1970-an. Para ahli sejarah tetap berbeda pendapat tentang kelahiran Nabi. Husein Haikal dalam Sejarah Hidup Muhammad menguliti secara terperinci perbedaan itu. Mengenai tahun kelahirannya, sebagian besar mengatakan Muhammad lahir pada Tahun Gajah. Yang lain berpendapat, beberapa hari atau beberapa bulan atau juga beberapa tahun sesudah Peristiwa Gajah, yaitu peristiwa agresi Raja Abrahah bersama pasukan bergajahnya untuk meruntuhkan Kakbah. Pun tentang bulan kelahirannya, sebagian besar mengatakan ia dilahirkan bulan Rabiul Awal. Ada pula yang berpendapat bulan Muharam, Safar, Rajab, dan Ramadan. Mengenai tanggalnya, satu pendapat mengatakan malam kedua Rabiul Awal. Pendapat lain menyebut malam kedelapan, kesembilan, atau kedua belas. Dari sekian banyak pendapat, 12 Rabiul Awal Tahun Gajah (20 April 571 Masehi) adalah yang paling umum dan terkenal. Oleh karena itu, telah menjadi hal yang jamak, setiap memasuki Rabiul Awal masyarakat muslim seakan disegarkan kembali untuk mengenang dan membumikan pesan-pesan profetiknya melalui peringatan Maulid Nabi. Ada hal terpenting untuk diungkap sebagai refleksi dalam Maulid Nabi, yaitu melacak kembali pesan-pesan profetik yang dikandungnya. Di antara yang relevan untuk diungkap adalah egalitarianisme, kebebasan, dan keadilan. Ketiga prinsip tersebut telah ditanamkan secara kuat oleh Nabi kala itu. Karenanya, sosiolog Robert N Bellah sebagaimana sering dikutip Cak Nur (Nurcholish Madjid) secara jujur mengatakan bahwa sistem politik yang digariskan Muhammad di Madinah dan dikembangkan khalifah-khalifah awal, khususnya Khalifah Umar, adalah sesuatu yang terlampau maju bagi organisasi politik Arab pada masa itu. Kita patut merenung, mengapa Indonesia tak bisa semudah Nabi dalam memajukan bangsa? Tak lain karena nilai-nilai profetik yang dibawa Nabi tak lagi dijalankan. Semua tinggal slogan dan retorika. Ironis, di negeri yang mengklaim sebagai negara demokratis ini, nilai-nilai tersebut tak terwujudkan dengan baik. Ironis sekali, jika kita menjadikan agama hanya sebagai identitas administratif formal dan alat berkamuflase dari borok diri. Padahal, esensi semua agama terletak pada nilai-nilai kebaikan universal itu. Apalagi Islam mengusung prinsip rahmatan lilĂalamin (rahmat bagi seluruh alam). Karenanya, dipandang perlu bahkan mendesak untuk menghidupkan kembali pesan-pesan tersebut dalam konteks kekinian dan kedisinian. Konteks Lokal Setiap daerah tentu memiliki cara tersendiri untuk merayakan Maulud Nabi. Di Cirebon, Yogyakarta, dan Surakarta, perayaan Maulid dikenal dengan istilah sekaten yang dicomot dari kata syahadatain, yaitu pengakuan tiada tuhan selain Allah dan Muhammad sebagai utusan-Nya. Di Kasultanan Kanoman Cirebon juga ada kegiatan Panjang Jimat. Kemeriahan serupa terjadi di daerah-daerah, bahkan juga negara-negara lain. Dalam rangkaian acara itu, baik yang akbar maupun biasa-biasa saja, ada satu sesi yang tidak pernah tertinggal, bahkan seolah menjadi syarat penting, yaitu pembacaan kitab Al-Barzanji karya Syekh Ja'far al-Barzanji bin Husin bin Abdul Karim, sastrawan berkelahiran Madinah (1690-1766 M). Pada perkembangan berikutnya, pembacaan Barzanji dilakukan di berbagai kesempatan, semisal saat kelahiran bayi, mencukur rambut bayi, pemberian nama (tasmiyah) dan akikah, khitanan, dan pernikahan, sebagai sebuah pengharapan untuk mencapai sesuatu yang lebih baik (tafaulan). Maulid Nabi sebagai bagian dari Peringatan Hari Besar Islam (PHBI), merupakan upacara seremonial (bukan ritual) yang bersifat profan kesejarahan dan berfungsi integratif. Sebagai seremoni, ia mewujud dalam beragam bentuk bergantung kepada kreativitas atau inovasi masyarakat. Karena itu tak mengejutkan, jika dalam pelaksanaannya banyak dijejali aneka simbol. Sayangnya, kebanyakan anggota masyarakat kita tidak lagi mampu menangkap simbol-simbol itu sebagai sesuatu yang esensial dan mencerahkan. Tetapi mereka cenderung melihat aktivitas simbolik itu sebagai inti peringatan atau perayaan. Akibatnya, Maulid yang dikemas dalam "baju lokal" itu kerap kehilangan makna (vakum dari kontemplasi, refleksi, dan upaya meneladani Nabi). Jadi, persoalan pokok dan mendesak diatensi adalah bagaimana mempertegas garis-garis syariat Islam dalam perayaannya, dan bagaimana pula mengejawantahkan pesan-pesan simbolik itu sebagai sesuatu yang esensial dan terapan.(68) - Irham Syaroni, Kepala Pondok Pesantren Darul-Hikmah Yogyakarta [Non-text portions of this message have been removed]
