Mas Ahmad Shidqi,
Sampai sekarang sebenarnya saya bertanya-tanya kenapa ide menerapkan syariat
Islam selalu dianggap sama dengan radikalisme? Apakah anda tahu jawabannya?
Atau jangan-jangan sampean juga tidak tahu itu. Saya juga bertanya-tanya
kenapa orang barat (juga orang jawa) yang mengaku sangat toleran terhadap
kepercayaan agama seseorang kog begitu ketakutan dengan perkembangan
kelompok Islam tertentu? Ada apa ini? Jangan-jangan justru anda yang
radikal.

Jadi begitu,
Agar tidak terjebak dalam kritik sendiri.
NB: saya bukan bagian dari anggota FKSW atau MMI lho! atau apapun namanya.
Jenggot saya tidak tumbuh kog. Saya orang NU saja.


On 3/29/07, ahmad shidqi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>   "Penampakan Hantu" Radikalisme Agama di Jogja
> Tertangkapnya sejumlah tersangka teroris di Maguwoharjo, Depok, Sleman,
> Yogyakarta oleh Densus 88 beberapa waktu lalu sungguh telah mengejutkan
> semua pihak, termasuk warga Jogja sendiri. Jogja yang selama ini dikenal
> sebagai kota yang berhati nyaman dan berwatak multikultural seolah
> "ternodai" oleh "penampakan hantu" radikalisme agama yang setiap saat siap
> meneror warganya. Sehingga upaya warga Jogja selama ini untuk meneguhkan
> Jogja sebagai "The City of Tolerance" kini kembali mendapat tantangan berat
> dari kelompok radikalisme agama.
> Terlepas apakah sasaran hantu-hantu radikalisme agama itu adalah warga
> Jogja atau tidak, yang jelas mereka telah menjadikan Jogja sebagai basis
> konsolidasi gerakan mereka. Tertangkapanya tersangka teroris di Maguwoharjo
> dan pada saat yang hampir bersamaan juga ditemukannya seperangkat bahan
> peledak di Sukoharjo serta disusul dengan penangkapan tersangka teroris yang
> lain di Temanggung setidaknya bisa dijadikan indikasi bahwa Jogja telah
> menjadi jalur lalu lintas pergerakan kelompok teroris.
> Jogja dan Fenomena Radikalisme agama
> Sebagai pusat kebudayaan Jawa, Jogja dikenal sebagai kota yang setia
> menjaga nilai dan tradisi budaya Jawa. Salah satu nilai pokok yang menjadi
> pegangan hidup dan etika masyarakat Jawa adalah hidup rukun dan saling
> hormat. Kedua prinsip ini menjadi titik tolak berkembangnya etika-etika yang
> lain yang intinya bermuara pada apa yang oleh Frans Magnis Suseno juga
> disebut dengan prinsip keselarasan hidup masyarakat Jawa (Suseno, 2001).
> Dalam konteks ini, sikap rukun sebagai pegangan tingkah laku masyarakat Jawa
> dan sikap hormat sebagai prinsip komunikasinya. Keduanya saling terkait
> sehingga pola tingkah laku orang jawa mencerminkan kedua sikap tersebut.
> Dari kedua prinsip ini pula kita kemudian mengenal semboyan Jawa "tata
> tentrem tata tur raharja" yang berarti ketentraman dan ketaraturan.
> Masyarakat Jawa percaya apabila prinsip di atas dijalankan dengan baik,
> niscaya tidak akan terjadi kericuhan sosial yang menyebabkan kesengsaraan.
> Karenanya, dari pandangan hidup Jawa yang adiluhung ini kemudian
> menjadikan masyarakat Jogja senantiasa terbuka dan permisif terhadap
> siapapun yang masuk dan tinggal di Jogja. Sehingga meskipun Jogja secara
> geografis tergolong kota kecil, namun penduduknya kini cukup padat oleh para
> pendatang dari luar. Umumnya, para pendatang ini bertujuan untuk studi di
> Jogja. Namun belakangan tak jarang para pendatang itu juga membawa ideologi
> agama" tertentu" yang dipaksakan untuk diterapkan di Jogja.
> Kemunculan Forum Komunikasi Ahli Sunnah wal Jama'ah (FKSW) pada tahun 1999
> di Solo namun memilih markasnya di Wilayah Sleman Jogja adalah bukti bahwa
> para pendatang bukan saja bertujuan studi. Melainkan bisa jadi memiliki
> kepentingan tertentu yang justru bertentangan, bukan saja dengan budaya Jawa
> (Jogja), melainkan dengan ketentraman dan kesejahteraa warga Jogja. Bukan
> hanya itu, pada tahun 2000 di Jogja yang menjadi jantung kebudayaan Jawa ini
> juga pernah menjadi tempat dideklarasikannya Majlis Mujahidin Indoensia
> (MMI) yang tujuan pendiriannya adalah memperjuangkan penerapan syariat Islam
> dalam hukum Negara Kesatuan Republik Indoensia. Padahal, bila syariat Islam
> ini diterapkan dalam hukum Indoensia, maka pertama kali yang menjadi korban
> adalah budaya Jawa (Yogyakarta) karena dianggap oleh mereka sebagai
> singkretis dan tidak sesuai dengan syariat Islam.
> Pasca kemunculan FKSW dan pendeklarasian MMI di Jogja itu, kini Jogja
> seolah tak pernah sepi dari "hantu-hantu" radikalisme agama. Mulai dari
> terror bom di sejumlah tempat ibadah di Joga, termasuk masjid gede Kauman,
> hingga ke kegiatan-kegiatan aksi massa seperti sweping tempat hiburan malam.
> Tidak berhenti di situ saja, belakangan ini kita juga menyaksikan
> sekolah-sekolah umum yang dijadikan tempat pemaksaan sebuah kultur yang oleh
> mereka disebut Islami, seperti jilbab, untuk dikenakan kepada semua siswi
> yang muslimah. Bahkan beberapa waktu lalu, sejumlah agamawan Jogja pernah
> melontarkan gagasan untuk memasukkan kewajiban jilbab ini ke dalam peraturan
> daerah (Perda) provinsi Yogyakarta. Begitu pula bila kita mengikuti
> kegiatan-kegiatan di sejumlah masjid tertentu di Yogyakarta akhir-akhir ini,
> maka tidak sedikit kita akan menjumpai "hantu-hantu" radikalisme agama yang
> tumbuh subur di dalamnya. Padahal, sekitar sepuluh tahun yang lalu,
> masjid-masjid dan sekolah-sekolah
> di Jogja berjalan "biasa-biasa saja". Tidak ada "pengharaman" atas ritual
> dan tradisi tertentu di masjid-masjid di Jogja. Pun tidak terjadi pemaksaan
> busana tertentu kepada siswi-siswi di sekolah-sekolah umum di Jogja. Dan
> yang terpenting, tak ada "hantu radikalisme agama" yang menakut-nakuti warga
> Jogja.
> Mewaspadai Hantu Radikalisme Agama di Jogja
> Beberapa fenomena di atas hanyalah sebagian kecil dari "penampakan" hantu
> radikalisme agama di Jogja. Selain yang disebutkan di atas tentunya masih
> banyak "hantu-hantu" radikalisme agama yang bergentayangan di tengah-tengah
> masyarakat dengan berbagai bentuk dan strateginya. Bila hantu-hantu ini
> tidak segera diantisipasi sejak awal, maka bisa jadi akan semakin tumbuh dan
> berkembang serta meluas ke semua lapisan masyarakat Jogja. Kasus
> tetangkapnya tersangka teroris di Maguwoharjo bisa kita jadikan pelajaran
> penting bahwa "hantu" radikalisme agama sangat halus dan sulit dilihat
> dengan kasat mata. Mereka nampak seperti "manusia biasa" yang kadangkala
> berbuat baik kepada setiap orang yang ditemuinya. Namun dibalik kebaikannya
> itu, mereka sebenarnya siap "menerkam" dan "menghisap darah" siapapun yang
> berpeluang untuk dijadikan mangsanya.
> Biasanya, daerah-daerah pedesaan menjadi wilayah yang cukup empuk untuk
> dijadikan "sarang" bagi hantu-hantu radikalisme agama ini. Posisi desa yang
> sebagian besar jarang diakses oleh aparat keamanan (polisi) menjadikan
> mereka cukup leluasa mengatur dan menghimpun kekuatan mereka. Namun
> demikian, tidak menutup kemungkinana wilayah perkotaan juga dijadikan tempat
> bersemayamnya hantu-hantu ini. Kultur perkotaan yang lebih bersifat
> individualis dan cenderung cuek terhadap seseorang bisa jadi justru
> berpeluang besar untuk dijadikan tempat konsolidasi kekuatan mereka. Karena
> itu, di manapun kita berada, baik di desa maupun di kota, di kantor maupun
> di masjid, di sekolah maupun di kampus, kita senantiasa harus waspada
> terhadap gerak-gerik "hantu-hantu" radikalisme agama ini.
>
>
> ---------------------------------
> Now that's room service! Choose from over 150,000 hotels
> in 45,000 destinations on Yahoo! Travel to find your fit.
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
> 
>


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke