Penampakan Hantu Radikalisme Agama di Jogja
Tertangkapnya sejumlah tersangka teroris di Maguwoharjo, Depok, Sleman,
Yogyakarta oleh Densus 88 beberapa waktu lalu sungguh telah mengejutkan semua
pihak, termasuk warga Jogja sendiri. Jogja yang selama ini dikenal sebagai kota
yang berhati nyaman dan berwatak multikultural seolah ternodai oleh
penampakan hantu radikalisme agama yang setiap saat siap meneror warganya.
Sehingga upaya warga Jogja selama ini untuk meneguhkan Jogja sebagai The City
of Tolerance kini kembali mendapat tantangan berat dari kelompok radikalisme
agama.
Terlepas apakah sasaran hantu-hantu radikalisme agama itu adalah warga Jogja
atau tidak, yang jelas mereka telah menjadikan Jogja sebagai basis konsolidasi
gerakan mereka. Tertangkapanya tersangka teroris di Maguwoharjo dan pada saat
yang hampir bersamaan juga ditemukannya seperangkat bahan peledak di Sukoharjo
serta disusul dengan penangkapan tersangka teroris yang lain di Temanggung
setidaknya bisa dijadikan indikasi bahwa Jogja telah menjadi jalur lalu lintas
pergerakan kelompok teroris.
Jogja dan Fenomena Radikalisme agama
Sebagai pusat kebudayaan Jawa, Jogja dikenal sebagai kota yang setia menjaga
nilai dan tradisi budaya Jawa. Salah satu nilai pokok yang menjadi pegangan
hidup dan etika masyarakat Jawa adalah hidup rukun dan saling hormat. Kedua
prinsip ini menjadi titik tolak berkembangnya etika-etika yang lain yang
intinya bermuara pada apa yang oleh Frans Magnis Suseno juga disebut dengan
prinsip keselarasan hidup masyarakat Jawa (Suseno, 2001). Dalam konteks ini,
sikap rukun sebagai pegangan tingkah laku masyarakat Jawa dan sikap hormat
sebagai prinsip komunikasinya. Keduanya saling terkait sehingga pola tingkah
laku orang jawa mencerminkan kedua sikap tersebut. Dari kedua prinsip ini pula
kita kemudian mengenal semboyan Jawa tata tentrem tata tur raharja yang
berarti ketentraman dan ketaraturan. Masyarakat Jawa percaya apabila prinsip di
atas dijalankan dengan baik, niscaya tidak akan terjadi kericuhan sosial yang
menyebabkan kesengsaraan.
Karenanya, dari pandangan hidup Jawa yang adiluhung ini kemudian menjadikan
masyarakat Jogja senantiasa terbuka dan permisif terhadap siapapun yang masuk
dan tinggal di Jogja. Sehingga meskipun Jogja secara geografis tergolong kota
kecil, namun penduduknya kini cukup padat oleh para pendatang dari luar.
Umumnya, para pendatang ini bertujuan untuk studi di Jogja. Namun belakangan
tak jarang para pendatang itu juga membawa ideologi agama tertentu yang
dipaksakan untuk diterapkan di Jogja.
Kemunculan Forum Komunikasi Ahli Sunnah wal Jamaah (FKSW) pada tahun 1999 di
Solo namun memilih markasnya di Wilayah Sleman Jogja adalah bukti bahwa para
pendatang bukan saja bertujuan studi. Melainkan bisa jadi memiliki kepentingan
tertentu yang justru bertentangan, bukan saja dengan budaya Jawa (Jogja),
melainkan dengan ketentraman dan kesejahteraa warga Jogja. Bukan hanya itu,
pada tahun 2000 di Jogja yang menjadi jantung kebudayaan Jawa ini juga pernah
menjadi tempat dideklarasikannya Majlis Mujahidin Indoensia (MMI) yang tujuan
pendiriannya adalah memperjuangkan penerapan syariat Islam dalam hukum Negara
Kesatuan Republik Indoensia. Padahal, bila syariat Islam ini diterapkan dalam
hukum Indoensia, maka pertama kali yang menjadi korban adalah budaya Jawa
(Yogyakarta) karena dianggap oleh mereka sebagai singkretis dan tidak sesuai
dengan syariat Islam.
Pasca kemunculan FKSW dan pendeklarasian MMI di Jogja itu, kini Jogja seolah
tak pernah sepi dari hantu-hantu radikalisme agama. Mulai dari terror bom di
sejumlah tempat ibadah di Joga, termasuk masjid gede Kauman, hingga ke
kegiatan-kegiatan aksi massa seperti sweping tempat hiburan malam. Tidak
berhenti di situ saja, belakangan ini kita juga menyaksikan sekolah-sekolah
umum yang dijadikan tempat pemaksaan sebuah kultur yang oleh mereka disebut
Islami, seperti jilbab, untuk dikenakan kepada semua siswi yang muslimah.
Bahkan beberapa waktu lalu, sejumlah agamawan Jogja pernah melontarkan gagasan
untuk memasukkan kewajiban jilbab ini ke dalam peraturan daerah (Perda)
provinsi Yogyakarta. Begitu pula bila kita mengikuti kegiatan-kegiatan di
sejumlah masjid tertentu di Yogyakarta akhir-akhir ini, maka tidak sedikit kita
akan menjumpai hantu-hantu radikalisme agama yang tumbuh subur di dalamnya.
Padahal, sekitar sepuluh tahun yang lalu, masjid-masjid dan sekolah-sekolah
di Jogja berjalan biasa-biasa saja. Tidak ada pengharaman atas ritual dan
tradisi tertentu di masjid-masjid di Jogja. Pun tidak terjadi pemaksaan busana
tertentu kepada siswi-siswi di sekolah-sekolah umum di Jogja. Dan yang
terpenting, tak ada hantu radikalisme agama yang menakut-nakuti warga Jogja.
Mewaspadai Hantu Radikalisme Agama di Jogja
Beberapa fenomena di atas hanyalah sebagian kecil dari penampakan hantu
radikalisme agama di Jogja. Selain yang disebutkan di atas tentunya masih
banyak hantu-hantu radikalisme agama yang bergentayangan di tengah-tengah
masyarakat dengan berbagai bentuk dan strateginya. Bila hantu-hantu ini tidak
segera diantisipasi sejak awal, maka bisa jadi akan semakin tumbuh dan
berkembang serta meluas ke semua lapisan masyarakat Jogja. Kasus tetangkapnya
tersangka teroris di Maguwoharjo bisa kita jadikan pelajaran penting bahwa
hantu radikalisme agama sangat halus dan sulit dilihat dengan kasat mata.
Mereka nampak seperti manusia biasa yang kadangkala berbuat baik kepada
setiap orang yang ditemuinya. Namun dibalik kebaikannya itu, mereka sebenarnya
siap menerkam dan menghisap darah siapapun yang berpeluang untuk dijadikan
mangsanya.
Biasanya, daerah-daerah pedesaan menjadi wilayah yang cukup empuk untuk
dijadikan sarang bagi hantu-hantu radikalisme agama ini. Posisi desa yang
sebagian besar jarang diakses oleh aparat keamanan (polisi) menjadikan mereka
cukup leluasa mengatur dan menghimpun kekuatan mereka. Namun demikian, tidak
menutup kemungkinana wilayah perkotaan juga dijadikan tempat bersemayamnya
hantu-hantu ini. Kultur perkotaan yang lebih bersifat individualis dan
cenderung cuek terhadap seseorang bisa jadi justru berpeluang besar untuk
dijadikan tempat konsolidasi kekuatan mereka. Karena itu, di manapun kita
berada, baik di desa maupun di kota, di kantor maupun di masjid, di sekolah
maupun di kampus, kita senantiasa harus waspada terhadap gerak-gerik
hantu-hantu radikalisme agama ini.
---------------------------------
Now that's room service! Choose from over 150,000 hotels
in 45,000 destinations on Yahoo! Travel to find your fit.
[Non-text portions of this message have been removed]