Nuwun sewu,

Saya kurang sependapat dgn LOMBA KUWALAT. bersandar kpd permintaan para sahabat 
dlm perang Uhud : Lau da'uta alaihim (Ya Rasulallah). Kemudian dijawab: Inni 
lam uba'tsu LA'AANAN walakinni bui'tstu dai'yan wa rahmah. Allahumma ihdi qaumi 
fa innahum la ya'lamun.

Nyuwun pandongane. 





From: aminmaulanamaksom maksom <[EMAIL PROTECTED]>
Reply-To: [email protected]
To: [email protected]
Subject: Re: [kmnu2000] Tulisan Mbah Faqih
Date: Mon, 9 Apr 2007 00:26:12 -0700 (PDT)


 



sekadar tambahan :
maaf sebelumnya bila ada hilaf dalam tulisan ini.
menurut pandangan saya, gusdur itu benar.
dan perlu ingat ....
kyai mana saja bila di sebut namanya oleh gusdur bakal masyhur.
sama ada kyai pengasuh pondok, atau tidak.
atau kyai yang alim atau tidak.
yang terkenal atau tidak.
yang penting disebut oleh gusdur saja maka bakal masyhur,
sila anda baca koran ....

dulu kyai khos langitan tidak terkenal,
disebut oleh gusdur, maka jadi terkenal. 
dan lain- lain.

termasuk ilmuwan, politikus atau lain.
contohnya ANDA PASTI sudah tahu ...
berapa politikus yang dinaikan oleh gusdur secara Free, tapi apa balasannya 
kepada gusdur ..
wajar kalau mereka kualat ....

semoga Allah sentiasa membantu Gusdur, 
membela yang benar, maju tak gentar
Tkaseh.
Mas Amin Pranotoprojo. 

----- Original Message 
----
From: maskur hafid <maskurudin98@ yahoo.com>
To: [EMAIL PROTECTED] s.com
Sent: Monday, April 9, 2007 12:53:14 PM
Subject: Re: [kmnu2000] Tulisan Mbah Faqih

BETAPA "MULIANYA" MBAH FAQIH KETIKA "DIPERALAT" PARA POLITIKUS ITU........ 

Pradhita al-Rasyid <[EMAIL PROTECTED] com> wrote: Mungkin ada baikknya NU atau 
ulama Suni meniru kaum
syiah dalam masalah hierarki ulama. Dalam syiah ada
ulama biasa, hujatullah, ayatollah, lalu ayatollah
uzma kemudian imam. Mendapatkan gelar ayatollah tidak
mudah, karena konon mereka harus menguasai
filsafat-hikmah nya Mulla Sadra terlebih dahulu.
Seorang ayatullah uzma atau imam adalah otoritas ilmu
dan pandangan2 ilmu-nya selalu menjadi rujukan umat,
bisanya tidak ada yg berani ulama2 level 
bawah
menentang mereka.

Hierarki keilmuan seperti itu juga lumrah dalam dunia
akademis modern. Misalnya kalau di amerika, kita
mengenal level assistant professor, associate
professor, kemudian baru full professor. Untuk dapat
associate, apalagi level full professor tidak mudah,
karena mereka harus menghasilkan karya original dan
harus dipublish dalam jurnal kelas dunia. Level yg
lebih tinggi adalah distinguised professor, yg
diberikan kepada segelintir orang saja. Mereka adalah
leader dibidangnya masing2. Pendapat atau pandangan2
keilmuan distinguished professor punya pengaruh besar,
dan biasanya selalu manjadi rujukan nomer satu dalam
bidang-nya masing2. 

Saya banyangkan, kalau NU memiliki tradisi dan konsep
tentang hierarki keulama-an seperti ini, kyai faqih
tidak perlu menuliskan artikel menggelikan dibawah
ini...
(btw, 
kalau ulamanya saja sulit untuk bersatu, mana
mungkin kita mengharapkan mereka untuk dapat
menyatukan umat ?? mau pake logika apa ?).

------------ --------- --
Jawa Pos
Senin, 02 Apr 2007,
Menolak Istilah Kiai Khas dan Kiai Kampung

Oleh Abdullah Faqih 

Dulu, kiai-kiai yang sejalan dengan pemikiran dan
langkah politik Gus Dur sering disebut-sebut dan
dipopulerkan sebagai kiai khas. Meski tidak diketahui
persis siapa yang memulai dan memunculkan istilah itu,
sebenarnya risi juga mendengar dan menyandang sebutan 
itu. Sebab, para kiai yang disebut khas tersebut tidak
merasa ada yang perlu dilebih-lebihkan menyangkut
status atau strata sosial. Meski, keberadaannya mampu
dimanfaatkan sebagai justifikasi dan legitimasi
kelompok dan kepentingan tertentu.

Belakangan setelah para kiai itu mengambil sikap dan
langkah kritis, 
dimunculkan istilah kiai kampung.
Adalah KH Abdurrahman Wahid yang memulai dan
memunculkan istilah tersebut. Dalam tulisannya,
Hakikat Kiai Kampung (www.gusdur. net), Gus Dur
membagi kiai dalam dua kelompok, kiai sepuh dan kiai
kampung. 

Menurut Gus Dur, kiai sepuh adalah mereka yang menjadi
pengasuh pesantren-pesantren besar. Kiai kampung
adalah tokoh-tokoh agama di desa-desa yang biasanya
menjadi guru ngaji, memiliki surau/langgar/ musala,
pengurus takmir masjid, atau memiliki pesantren yang
kecil.

Sesungguhnya harus dikatakan di sini bahwa penamaan
dan pemilahan kiai khas dan kiai kampung sebagaimana
dimaksud adalah sangat tidak mendasar dan terkesan
mengada-ada. Boleh jadi, itu hanya dimanfaatkan untuk
mencapai tujuan tertentu karena pada hakikatnya, 
tidak ada istilah kiai khas dan kiai kampung. Jika ada
kiai khas, 
berarti ada kiai awam. Padahal, penyebutan
kata khas dan awam itu sebenarnya untuk membedakan
antara orang yang pandai (alim) dan orang yang bodoh
(awam) dalam hal keagamaan.

Kata kiai itu sebenarnya sinonim dari kata sheikh
dalam bahasa Arab. Secara terminologi (istilahi), arti
kata sheikh itu sebagaimana disebutkan dalam kitab al
Bajuri adalah man balagha rutbatal fadli, yaitu
orang-orang yang telah sampai pada derajat keutamaan
karena 
selain pandai (alim) dalam masalah agama (sekalipun
tidak allamah atau sangat alim), mereka mengamalkan
ilmu itu untuk dirinya sendiri dan mengajarkan kepada
murid-muridnya. Penyebutan kiai itu berasal dari
inisiatif masyarakat, bukan dari dirinya sendiri atau
media massa.

Sementara itu, makna kiai atau sheikh dalam pengertian
etimologi (lughotan) adalah man balagha sinnal arbain,
yaitu 
orang-orang yang sudah tua umurnya atau
orang-orang yang mempunyai kelebihan, misalnya dalam
hal berbicara atau mengobati orang (nyuwuk), tapi
tidak pandai dalam masalah agama.

Dengan demikian, kalau ada orang yang disebut kiai
tapi tidak alim dalam masalah agama atau alim dan
pandai berbicara tapi tidak bisa mengamalkan ilmunya,
orang itu termasuk kiai dalam pengertian bahasa 
(lughotan).

Patut dicermati bahwa penyebutan kiai khas yang
diidentikkan dengan kiai yang dekat dan mendukung Gus
Dur saat itu sangat dimungkinkan sarat dengan
kepentingan dalam rangka menjustifikasi langkah-
langkahnya yang kontroversi, terutama hal-hal
berkaitan dengan ajaran dan nilai-nilai ahlusunah
waljamaah, seperti sikapnya terhadap pencabutan TAP
MPR tentang paham komunisme, penolakannya 
terhadap RUU APP, dukungannya terhadap aliran
Ahmadiyah, 
liberalisme, sekularisme dan pluralisme.
Terbukti, saat ini begitu mudahnya para kiai itu
ditinggalkan Gus Dur setelah mereka bersikap 
kritis terhadap langkah-langkahnya. Beruntung, para
kiai sudah berani mengambil sikap tegas dengan
mufaroqoh dari barisan Gus Dur.

Penamaan istilah kiai kampung tersebut juga sarat
dengan upaya untuk membenturkan antara para kiai
pondok pesantren dan para kiai di desa-desa yang
notabene adalah murid kiai pondok pesantren. Padahal, 
pembenturan itu dapat memudarkan ghirah dan pemahaman
para kiai di desa terhadap ajaran-ajaran gurunya di
pesantren hanya karena pengultusan terhadap individu.
Memang, fanatisme dan kecintaan yang berlebihan
cenderung menafikan dan menutupi kesalahan,sebagaima na

kebencian itu juga sering mencari-cari keburukan.
(waainurridlaan kulli aibin kalilatun kamaa anna 
ainas
sukhthi tubdil masawiyaa). Ketika ada sebagian kiai
yang terlibat dalam politik praktis, serta-merta
banyak orang yang menuduh para kiai itu telah
terkontaminasi dan dianggap telah berpaling dari tugas
keulamaan. Mereka menuduh para kiai yang terlibat
dalam politik tidak lagi mampu mengemban gerak sosial
dan keagamaan. Lebih dari itu, para kiai tersebut 
dianggap menjadi pendorong perpecahan (Muhyiddin
Arubusman, Politik Kebangsaan Kiai Kampung, Jawa Pos,
17/2/2007). 

Bahkan, Gus Dur mengatakan, banyak kiai sepuh yang
berkenalan dengan uang, kekuasaan, dan jabatan (Jawa
Pos, 15/2/2007). Sebenarnya, sebagai pewaris para nabi
(waratsatul anbiya), keterlibatan kiai dalam dunia
politik merupakan sebuah keharusan. 

Peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke
Madinah, selain dipahami sebagai peristiwa keagamaan,
juga 
merupakan peristiwa politik dalam rangka
membangun masyarakat dan pemerintah kota Madinah yang
damai, tenteram, tenang, adil, dan makmur. Peran Nabi 
Muhammad SAW waktu itu, selain sebagai seorang Nabi,
beliau menjadi seorang kepala negara. 

Selain menjalankan tugas mengajar (talim) para
sahabat, sewaktu-waktu beliau terjun ke medan laga
untuk memimpin pasukan Islam dalam menumpas
musuh-musuhnya. Peran kiai hendaknya juga demikian.
Selain 
menjalankan tugas mengajar (talim) santri-santrinya,
suatu saat para kiai harus ikut membantu urusan negara
(politik) sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Jika para kiai hanya mengurusi pesantrennya dan tidak
tahu-menahu soal urusan negara (politik), pada
akhirnya pemerintah dikuasai orang-orang yang
anti-Islam, antipesantren, dan anti-ajaran ahlusunah
waljamaah. 

Siapa yang harus 
menanggung akibatnya? Jadi,
sebenarnya keterlibatan kiai dalam politik itu
bertujuan menyelamatkan peran kiai itu sendiri.

KH Abdullah Faqih, pengasuh Pondok Pesantren Langitan
dan Mustasyar Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU)

Send instant messages to your online friends http://uk.messenger .yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

____________ _________ _________ _________ _________ _________ _
Finding fabulous fares is fun. 
Let Yahoo! FareChase search your favorite travel sites to find flight and hotel 
bargains.
http://farechase. yahoo.com/ promo-generic- 14795097

[Non-text portions of this message have been removed]





#ygrp-mlmsg
{font-size:13px;font-family:arial, helvetica, clean, sans-serif;}
#ygrp-mlmsg table
{font-size:inherit;font:100%;}
#ygrp-mlmsg select, input, textarea
{font:99% arial, helvetica, clean, sans-serif;}
#ygrp-mlmsg pre, code
{font:115% monospace;}
#ygrp-mlmsg *
{line-height:1.22em;}
#ygrp-text
{font-family:Georgia;}
#ygrp-text p
{margin:0 0 1em 0;}
#ygrp-tpmsgs
{font-family:Arial;clear:both;}
#ygrp-vitnav
{padding-top:10px;font-family:Verdana;font-size:77%;margin:0;}
#ygrp-vitnav a
{padding:0 1px;}
#ygrp-actbar
{clear:both;margin:25px 0;white-space:nowrap;color:#666;text-align:right;}
#ygrp-actbar .left
{float:left;white-space:nowrap;}
.bld
{font-weight:bold;}
#ygrp-grft
{font-family:Verdana;font-size:77%;padding:15px 0;}
#ygrp-ft
{font-family:verdana;font-size:77%;border-top:1px solid #666;padding:5px 0;}
#ygrp-mlmsg #logo
{padding-bottom:10px;}
#ygrp-vital
{background-color:#e0ecee;margin-bottom:20px;padding:2px 0 8px 8px;}
#ygrp-vital #vithd
{font-size:77%;font-family:Verdana;font-weight:bold;color:#333;text-transform:uppercase;}
#ygrp-vital ul
{padding:0;margin:2px 0;}
#ygrp-vital ul li
{list-style-type:none;clear:both;border:1px solid #e0ecee;}
#ygrp-vital ul li .ct
{font-weight:bold;color:#ff7900;float:right;width:2em;text-align:right;padding-right:.5em;}
#ygrp-vital ul li .cat
{font-weight:bold;}
#ygrp-vital a
{text-decoration:none;}
#ygrp-vital a:hover
{text-decoration:underline;}
#ygrp-sponsor #hd
{color:#999;font-size:77%;}
#ygrp-sponsor #ov
{padding:6px 13px;background-color:#e0ecee;margin-bottom:20px;}
#ygrp-sponsor #ov ul
{padding:0 0 0 8px;margin:0;}
#ygrp-sponsor #ov li
{list-style-type:square;padding:6px 0;font-size:77%;}
#ygrp-sponsor #ov li a
{text-decoration:none;font-size:130%;}
#ygrp-sponsor #nc
{background-color:#eee;margin-bottom:20px;padding:0 8px;}
#ygrp-sponsor .ad
{padding:8px 0;}
#ygrp-sponsor .ad #hd1
{font-family:Arial;font-weight:bold;color:#628c2a;font-size:100%;line-height:122%;}
#ygrp-sponsor .ad a
{text-decoration:none;}
#ygrp-sponsor .ad a:hover
{text-decoration:underline;}
#ygrp-sponsor .ad p
{margin:0;}
o
{font-size:0;}
.MsoNormal
{margin:0 0 0 0;}
#ygrp-text tt
{font-size:120%;}
blockquote
{margin:0 0 0 4px;}
.replbq
{margin:4;}





Solve the Conspiracy and win fantastic prizes.  Play Conspiracy now! 





                
___________________________________________________________ 
Web email has come of age. Don't settle for less than the All New Yahoo! Mail 
http://uk.docs.yahoo.com/nowyoucan.html

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke