MAULID Nabi Saw Menurut Para Sahabat RA
  Dari buku An Nikmatul Kubro oleh Al Imam 'Alim Al 'Alamah Shabuddin Ahmad 
Ibnu Hajar al Haitami Asy Syafie 


  
Bismillah hirRohman nirRohim
   
  Apakah kata-kata Sahabat-sahabat ra dan tabi'in-tabi'in tentang amalan-amalan 
Maulid ini. Untuk itu kita lihat di dalam kitab An Nikmatul Kubro Alal'Alami 
yang ditulis oleh Al Imam 'Alim Al 'Alamah Shabuddin Ahmad ibnu Hajar AlHaitami 
Asy Syafie pada muka surat ketujuh :
  
Telah berkata Sayidina Abu Bakar As Siddiq ra Barangsiapa membelanjakan satu 
dirham atas membaca Maulidin Nabi SAW, maka dia adalah sahabatku di dalam 
Syurga." 
  
Saiyidina Umar r.a. pula berkata, "Barangsiapa membesar-besarkan Maulidin Nabi 
SAW maka sesungguhnya dia menghidupkan Islam." 

Saiyidina Usman r.a. menyebut, "Barangsiapa membelanjakan satu dirham ke atas 
Maulidin Nabi maka seolah-olahnya dia telah syahid di dalam peperangan Badar 
dan Hunain." 
  
Dan Saiyidina Ali karamawlahu wajhah. berkata pula, "Barangsiapa 
membesar-besarkan Maulid Nabi SAW, maka sebagai sebab bagi bacaannya itu, dia 
tidak akan keluar dari dunia ini melainkan dengan iman dan masuk ke syurga 
tanpa hisab (perhitungan). 

Hassan Al Basri r.a. berkata, "Jikalau diriku memiliki  seumpama gunung Uhud 
dari emas, maka niscaya aku akan membelanjakan nya ke atas bacaan Maulid Nabi 
SAW." 
  
Junaid Al Baghdadi qs  menyebut pula, "Barangsiapa hadir di dalam majlis 
Maulidin Nabi SAW dan membesar-besarkan nilainya, maka sesungguhnya ia telah 
berjaya dengan iman."

Berkata pula Ma'aruf Al Khurkhi qs, Barangsiapa mendatangkan makanan bagi 
tujuan bacaan maulidin Nabi SAW dan mengumpulkan saudara-saudara dan 
menghidupkan pelita dan memakai pakaian baru dan berwangi-wangian sebagai 
membesarkan bagi Maulidin Nabi SAW itu, Allah SWT membangkitkannya di hari 
kiamat, di firqah yang pertama bersama Nabi-Nabi. Dan tempatnya adalah di 
tempat yang tertinggi."
  
Dan telah berkata Fakhruddin Ar Razi, "Barangsiapa yang membaca Maulid Nabi SAW 
 kemudian membelanjakan atas garam, beras atau sesuatu yang lain untuk 
memeriahkan Mawlid Nabi saw, maka akan tampak padanya berkat daripada benda 
itu." Selanjutnya, siapapun yang memakan makanan tadi, maka Allah SWT 
menyempurnakan dan menghilangkan kegelisahan darinya. 
   
  Dan jika dibacakan Maulidin Nabi SAW ke atas air minum, maka sesiapa yang 
minum air tersebut telah masuk ke dalam hatinya seribu cahaya dan rahmat, dan 
telah keluar daripadanya seribu kesusahan dan penyakit. Dan tidak mati hati itu 
ketika hari matinya hati-hati." (  Fakhruddin Ar Razi adalah pengarang besar 
Tafsir Ar Razi ).
  
Al Imam Asy-Syafie Rahimahullahu Taala menyatakan, “Barangsiapa berkumpul 
karena majlis Maulidin Nabi SAW dengan mendatangkan makanan dan menyediakan 
tempat serta membuatnya menjadi kebaikan, maka sebagai sebab bacaan itu, Allah 
SWT membangkitkannya pada hari kiamat kelak berserta para siddiqin dan syuhada, 
para solehin dan adalah dia di dalam syurga An Na'im."
   
  As Sariyus Saqatti pula berkata, "Barangsiapa yang menyediakan tempat 
dibacakan Maulidin Nabi SAW maka sesungguhnya dia berkehendak "raudhah" (taman 
daripada taman-taman syurga), kerana sesungguhnya, tidaklah dia berkehendakkan 
tempat itu melainkan cintanya kepada Nabi SAW."  Rasulullah SAW bersabda : 
"Barangsiapa mencintaiku, maka dia akan bersama-sama denganku di dalam syurga."
  
Al Fadhil Jalaluddin Abdur Rahman Abu Bakar As Sayuti berkata, "Dan akan 
bercahaya-cahaya kubur dari siapapun yang membaca Maulid Nabi SAW."  
   
  Kitab Al Wasail Fis Syarhi Syamail juga ada menyebut, "Tidaklah satu tempat 
dibacakan Maulid Nabi SAW melainkan dipenuhi oleh para malaikat di tempat itu 
dan malaikat-malaikat telah bersalawat atas orang-orang yang ada di tempat 
tersebut. Allah SWT juga telah memberikan rahmat dan keredhaan-Nya dan yang 
memberikan cahaya itu ialah malaikat Jibrail,Mikail, Israfil dan Izrail.  Maka 
sesungguhnya mereka itulah yang menselawatkan ke atas orang-orang yang 
membacakan Maulid Nabi SAW itu."
  
Imam Suyuti berkata: "Menurut saya asal perayaan maulid Nabi SAW, yaitu manusia 
berkumpul, membaca al-Qur'an dan kisah-kisah teladan Nabi SAW sejak 
kelahirannya sampai perjalanan hidupnya. Kemudian dihidangkan makanan yang 
dinikmati bersama, setelah itu mereka pulang. Hanya itu yang dilakukan, tidak 
lebih. Semua itu tergolong bid'ah hasanah. Orang yang melakukannya diberi 
pahala karena mengagungkan derajat Nabi SAW, menampakkan suka cita dan 
kegembiraan atas kelahiran
Nabi Muhamad SAW yang mulia". 
   
  Kata Imam As Sayuti lagi, "Tidak adalah daripada muslim itu yang membaca 
Maulidin Nabi SAW itu di dalam rumahnya melainkan Allah SWT akan mengangkat 
wabah kemarau, kebakaran, karam, kebinasaan, kecelakaan, kebencian, hasad dan 
pendengaran yang jahat dan pencuri daripada ahli-ahli rumah itu. Maka apabila 
mati, Allah SWT memudahkan ke atasnya menjawab segala pertanyaan  dari malaikat 
Munkar dan Nakir. 
  
Dan mereka akan  ditempatkan di dalam tempat para siddiqin dan di sisi 
raja-raja yang berkuasa. Maka barangsiapa hendak membesarkan Maulidin Nabi SAW 
cukup memadai dengan kadar kemuliaan ini. Dan barangsiapa tidak membesarkan 
Maulid Nabi SAW, jikalau engkau telah memenuhi baginya dunia ini bagi 
memujinya, maka hatinya tidak digerakkan untuk mencintai Nabi SAW."

Berkata Ibnu Hajar al-Haithami: "Bid'ah yang baik itu sunnah untuk dilakukan, 
begitu juga memperingati hari Maulid Nabi  sallallahu alayhi wasalam adalah 
baik untuk  dilakukan".
  
Pendapat Abu Shamah (guru Imam Nawawi): "Termasuk hal baru yang baik dilakukan 
pada zaman ini adalah apa yang dilakukan tiap tahun bertepatan pada hari 
kelahiran Rasulullah saw ( Mawlid Nabi saw)  dengan memberikan sedekah dan 
kebaikan, menunjukkan rasa gembira dan bahagia, sesungguhnya itu semua berikut 
menyantuni fakir miskin adalah tanda kecintaan kepada Rasulullah saw dan 
penghormatan kepada beliau, begitu juga merupakan bentuk syukur kepada Allah 
atas diutusnya Rasulullah
saw kepada seluruh alam semesta".
  
Ibnu Hajar al-Asqolani dalam Kitab Fatawa Kubro menjelaskan: "Asal  melakukan 
maulid adalah bid'ah, tidak diriwayatkan dari ulama salaf dalam tiga abad 
pertama, akan tetapi didalamnya terkandung kebaikan-kebaikan dan juga 
kesalahan-kesalahan. Barangsiapa melakukan kebaikan di dalamnya dan menjauhi 
kesalahan-kesalahan, maka ia telah melakukan  Bid’ah yang baik (bid'ah 
hasanah).  
   
  Saya telah melihat landasan yang kuat dalam hadist sahih Bukhari dan Muslim 
bahwa Rasulullah saw datang ke Madina, beliau menemukan orang Yahudi berpuasa 
pada haru Asyura, maka Beliau saw bertanya kepada mereka, dan mereka menjawab: 
"Hari Puasa itu adalah  hari dimana Allah menenggelamkan Firaun,
menyelamatkan Musa as, maka kami berpuasa untuk mensyukuri itu semua. Dari situ 
dapat diambil kesimpulan bahwa boleh melakukan syukur pada hari tertentu di 
situ terjadi nikmat yang besar atau terjadi penyelamatan dari mara bahaya, dan 
dilakukan itu tiap bertepatan pada hari itu.
  
Syukur bisa dilakukan dengan berbagai macam ibadah, seperti sujud, puasa, 
sedekah, membaca al-Qur'an dll. Apa nikmat paling besar selain kehadiran 
Rasulullah s.a.w. di muka bumi ini. Maka sebaiknya merayakan Maulid Nabi saw 
dengan melakukan syukur berupa membaca Qur'an, memberi makan fakir miskin, 
menceritakan keutamaan dan kebaikan Rauslullah yang bisa
menggerakkan hati untuk berbuat baik dan amal sholih. 
   
  Al-Hafidz al-Iraqi dalam kitab Syarh Mawahib Ladunniyah
mengatakan : "Melakukan perayaan, memberi makan orang disunnahkan tiap waktu, 
apalagi kalau itu disertai dengan rasa gembira dan senang dengan kahadiran 
Rasulullah saw pada hari dan bulan itu, tidaklah sesuatu yang bid'ah selalu 
makruh dan dilarang, banyak sekali bid'ah yang disunnahkan dan bahkan 
diwajibkan".

Syeh Azhar Husnain Muhammad Makhluf  mengatakan: "Menghidupkan malam Maulid 
Nabi saw dan malam-malam bulan Rabiul Awal ini adalah dengan memperbanyak 
dzikir kepada Allah, memperbanyak syukur dengan nikmat-nikmat yang diturunkan 
termasuk nikmat dilahirkannya Rasulullah saw di alam dunia ini.  
Memperingatinya sebaiknya dengan cara yang santun dan khusu' dan menjauhi 
hal-hal yang dilarang agama seperti
amalan-amalan bid'ah dan kemungkaran. 
   
  Dan termasuk cara bersyukur adalah menyantuni orang-orang susah, menjalin 
silaturrahmi. Cara itu meskipun tidak dilakukan pada zaman Rasulullah saw dan 
tidak juga pada masa salaf terdahulu namun baik untuk dilakukan termasuk sunnah 
hasanah".

Seorang ulama Turkmenistan Mubasshir al-Thirazi mengatakan: "Mengadakan 
perayaan Maulid Nabi Muhammad saw saat ini bisa jadi merupakan kewajiban yang 
harus kita laksanakan, untuk melawan perayaan-perayaan kotor yang sekarang ini 
sangat banyak kita temukan di masyarakat"
  
Pendapat Imam Al Hafidh Jalaluddin Assuyuthi rahimahullah :
Telah jelas padaku bahwa telah muncul riwayat Baihaqi bahwa Rasul saw ber 
akikah untuk dirinya setelah beliau saw menjadi Nabi (Ahaditsulmukhtarah hadis 
no.1832 dengan sanad shahih dan Sunan Imam Baihaqi Alkubra Juz 9 hal.300, dan 
telah diriwayatkan bahwa telah ber Akikah untuknya kakeknya Abdulmuttalib saat 
usia beliau saw tujuh tahun, dan akikah tak mungkin diperbuat dua kali.
   
  Maka jelaslah bahwa akikah Beliau saw yang kedua atas dirinya adalah sebagai 
tanda syukur beliau saw kepada Allah swt yang telah membangkitkan Nabi Muhammad 
 saw sebagai Rahmatan lil'aalamiin dan membawa Syariah untuk ummatnya, maka 
sebaiknya bagi kita juga untuk menunjukkan tasyakkuran dengan Maulid beliau saw 
dengan mengumpulkan teman-teman dan saudara-saudara, menjamu dengan 
makanan-makanan dan yang serupa itu untuk mendekatkan diri kepada Allah dan 
kebahagiaan.  Bahkan Imam Assuyuthiy mengarang sebuah buku khusus mengenai 
perayaan mauled dengan nama : "Husnulmaqshad fii 'amal ilmaulid".
  
Pendapat Imam Al hafidh Abu Syaamah rahimahullah (Guru imam Nawawi) : Merupakan 
Bid'ah hasanah yang mulia dizaman kita ini adalah perbuatan yang diperbuat 
setiap tahunnya di hari kelahiran Rasul saw dengan banyak bersedekah, dan 
kegembiraan, menjamu para fuqara, seraya menjadikan hal itu memuliakan Rasul 
saw dan membangkitkan rasa cinta pada beliau saw, dan bersyukur kepada Allah 
dengan kelahiran Nabi saw.
  
Pendapat Imamul Qurra' Alhafidh Syamsuddin Aljazriy rahimahullah dalam kitabnya 
'Urif bitta'rif Maulidissyariif :
Telah diriwayatkan Abu Lahab diperlihatkan dalam mimpi dan ditanya apa 
keadaanmu?, ia menjawab : "di neraka, tapi aku mendapat keringanan setiap malam 
senin, itu semua sebab aku membebaskan budakku Tsuwaibah demi kegembiraanku 
atas kelahiran Nabi (saw) dan karena Tsuwaibah menyusuinya (saw)" (shahih 
Bukhari hadits no.4813). 
   
  Apabila Abu Lahab Kafir yg Alqur'an turun mengatakannya di
neraka mendapat keringanan sebab ia gembira dengan kelahiran Nabi saw, maka 
bagaimana dg muslim ummat Muhammad saw yang gembira atas kelahiran Nabi saw?, 
maka demi usiaku, sungguh balasan dari Tuhan Yang Maha Pemurah sungguh-sungguh 
ia akan dimasukkan ke sorga kenikmatan Nya dengan sebab anugerah Nya.
  
Pendapat Imam Al Hafidh Syamsuddin bin Nashiruddin Addimasyqiy dalam kitabnya 
Mauridusshaadiy fii maulidil Haadiy : Serupa dengan ucapan Imamul Qurra' 
Alhafidh Syamsuddin Aljuzri, yaitu menukil hadits Abu Lahab.
  
Pendapat Imam Al Hafidh Assakhawiy dalam kitab Sirah Al Halabiyah berkata 
"tidak dilaksanakan maulid oleh salaf hingga abad ke tiga, tapi dilaksanakan 
setelahnya, dan tetap  melaksanakannya umat islam di seluruh pelosok dunia dan 
bersedekah pada malamnya dengan berbagai macam sedekah dan memperhatikan 
pembacaan maulid, dan berlimpah terhadap mereka keberkahan yang sangat besar".
  
Imam Al hafidh Ibn Abidin rahimahullah dalam syarahnya maulid ibn hajar berkata 
: "ketahuilah salah satu bid'ah hasanah adalah pelaksanaan maulid di bulan 
kelahiran nabi saw"
  
Imam Al Hafidh Ibnul Jauzi rahimahullah dengan karangan maulidnya yang terkenal 
"al aruus" juga beliau berkata tentang pembacaan maulid, "Sesungguhnya membawa 
keselamatan
tahun itu, dan berita gembira dengan tercapai semua maksud dan
keinginan bagi siapa yang membacanya serta merayakannya".

Imam Al Hafidh Al Qasthalaniy rahimahullah dalam kitabnya Al 
Mawahibulladunniyyah juz 1 hal 148 cetakan al-maktab al islami berkata: "Maka 
Allah akan menurukan rahmat Nya kepada orang yang menjadikan hari kelahiran 
Nabi saw sebagai hari besar".
  
Imam Al hafidh Al Muhaddis Abulkhattab Umar bin Ali bin Muhammad yang terkenal 
dengan Ibn Dihyah alkalbi dengan karangan maulidnya yg bernama "Attanwir fi 
maulid basyir an nadzir".

Imam Al Hafidh Al Muhaddits Syamsuddin Muhammad bin Abdullah Aljuzri dengan 
Maulidnya "urfu at ta'rif bi maulid assyarif"

Imam al Hafidh Ibn Katsir yang mendukung Mawlid dengan karangan Kitab Maulidnya 
dikenal dengan nama : "Maulid ibn Katsir"

Imam Al Hafidh Al 'Iraqy mendukung Mawlid Nabi saw dengan kitab maulidnya 
"Maurid al hana fi maulid assana"
   
  Imam Al Hafidh Nasruddin Addimasyqiy telah mengarang beberapa kitab maulid : 
Jaami' al astar fi maulid nabi al mukhtar 3 jilid, Al lafad arra'iq fi maulid 
khair al khalaiq, Maurud asshadi fi maulid al hadi.
  
Imam as-Syakhawiy mengarang kebaikan Mawlid dengan Kitab Maulidnya al-Fajr al 
Ulwi fi Maulid an Nabawi”.
  
Al allamah al faqih Ali zainal Abidin As syamhudi dengan
Kitab Maulidnya “al-Mawarid al haniah fi maulid khairil bariyyah

Al Imam Hafidz Wajihuddin Abdurrahman bin Ali bin Muhammad As syaibaniy yang 
terkenal dengan ibn diba' dengan Kitab Maulidnya “ad-Diba'I”.
  
Imam ibn Hajar al Haitsami dengan kitab maulidnya “Itmam An-Ni'mah alal Alam bi 
Maulid Sayid Waladu Adam”
  
Imam Ibrahim Baajuri mengarang hasiah atas maulid ibn hajar
dengan nama “Tuhfa al Basyar ala Maulid ibn Hajar
  
Al Allamah Ali Al Qari' dengan Kitab Maulidnya “Maurud Ar-Rowi fi Mauled 
Nabawi”.
  
Al Allamah al Muhaddits Ja'far bin Hasan Al-Barzanji dengan
Kitab maulidnya yang terkenal “Maulid Barzanji”.
  
Al Imam Al Muhaddis Muhammad bin Jakfar al Kattani dengan Kitab Maulid “Al 
Yaman wal Is'ad bi Maulid Khair al Ibad”.


  Wa min Allah at Tawfiq

   
  Mawlid & Khatam Kwajagan Sabtu 28 April 07, Pk. 16.00 di Masjid Ahmad Yani, 
Jl. Lembang 56, Menteng
   
  HADIRI  MAWLID NABI SAW, DZIKIR ASMAUL HUSNA & SHOLAWAT
  SABTU , 28 APRIL 2007, BADA ASHAR, JAM 16.000. DIMASJID AHMAD YANI JL. 
LEMBANG 56, MENTENG, JAKARTA PUSAT.
   
   
  ACARA       :  MAWLID NABI SAW,  DZIKIR  KHATAM  KWAJAGAN, 
                          RABBANI  SHALAWAT   HADRAH
  HARI / TGL : SABTU, 28 APRIL, JAM 16.00 S/D SELESAI
  DIPIMPIN OLEH :  SYAIKH BARKAH, USTAD ARIEF ( SHALAWAT HADRAH)
  TEMPAT      :  MASJID AHMAD YANI, JL. LEMBANG 56, MENTENG JAKARTA 
   
  Contact Acara  : 
  -         Arief Hamdani : 0888 133 5003, 0816 830 748
   
  Wasalam, arief hamdani
  www.mevlanasufi.blogspot.com
  hp. 0888 133 5003

       
---------------------------------
Ahhh...imagining that irresistible "new car" smell?
 Check outnew cars at Yahoo! Autos.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke