Pertemuan Syaikh Abdul Qodir Jailani & Syaikh Yusuf al-Hamadani ( Mursyid ke 9, 
Tariqah Naqshbandi Haqqani) 
Mawlana Syaikh Hisyam Kabbani ar-Rabbani
Dari Buku Encyclopaedia of Islamic Doctrine Vol.5: Tazkiyatun-Nafs/Tasawwuf, 
Ihsan
www.mevlanasufi.blogspot.com
   
  
Bismillah hirRohman nirRohim
  Cerita pertemuan pertama al-Jailani dengan al-Hamadani berikut ini 
diriwayatkan oleh al-Haitsami dalam kitabnya, Fatâwâ Hadîtsiyyah:
   
bu Sa‘id Abdullah ibn Abi Asrun (w. 585 H.), seorang imam dari Mazhab Syafi’i, 
berkata, “Di awal perjalananku mencari ilmu agama, aku bergabung dengan Ibn 
al-Saqa, seorang pelajar di Madrasah Nizamiyyah, dan kami sering mengunjungi 
orang-orang saleh. Aku mendengar bahwa di Baghdad ada orang bernama Yusuf 
al-Hamadani yang dikenal dengan sebutan al-Ghawts. 
   
  Ia bisa muncul dan menghilang kapan saja sesuka hatinya. Maka aku memutuskan 
untuk mengunjunginya bersama Ibn al-Saqa dan Syekh Abdul Qadir al-Jailani, yang 
pada waktu itu masih muda. Ibn al-Saqa berkata, “Apabila bertemu dengan Yusuf 
al-Hamadani, aku akan menanyakan suatu pertanyaan yang jawabannya tak akan ia 
ketahui.” Aku menimpali, “Aku juga akan menanyakan satu pertanyaan dan aku 
ingin tahu apa yang akan ia katakan.” Sementara Syekh Abdu-Qadir al-Jailani 
berkata, “Ya Allah, lindungilah aku dari menanyakan suatu pertanyaan kepada 
seorang suci seperti Yusuf al-Hamadani Aku akan menghadap kepadanya untuk 
meminta berkah dan ilmu ketuhanannya.”
   
  Maka kami pun memasuki majelisnya. Ia sendiri terus menutup diri dari kami 
dan kami tidak melihatnya hingga beberapa lama. Saat bertemu, ia memandang 
kepada Ibn al-Saqa dengan marah dan berkata, tanpa ada yang memberitahu namanya 
sebelumnya, “Wahai Ibn al-Saqa, bagaimana kamu berani menanyakan pertanyaan 
kepadaku dengan niat merendahkanku? Pertanyaanmu itu adalah ini dan jawabannya 
adalah ini!” dan ia melanjutkan, “Aku melihat api kekufuran menyala di hatimu.” 
Kemudian ia melihat kepadaku dan berkata, Wahai hamba Allah, apakah kamu 
menanyakan satu pertanyaan kepadaku dan menunggu jawabanku? 
   
  Pertanyaanmu itu adalah ini dan jawabannya adalah ini. Biarlah orang-orang 
bersedih karena tersesat akibat ketidaksopananmu kepadaku.” Kemudian ia 
memandang kepada Syekh Abdul Qadir al-Jailani, mendudukkannya bersebelahan 
dengannya, dan menunjukkan rasa hormatnya. Ia berkata, “Wahai Abdul Qadir, kau 
telah menyenangkan Allah dan Nabi-Nya dengan rasa hormatmu yang tulus kepadaku. 
Aku melihatmu kelak akan menduduki tempat yang tinggi di kota Baghdad. Kau akan 
berbicara, memberi petunjuk kepada orang-orang, dan mengatakan kepada mereka 
bahwa kedua kakimu berada di atas leher setiap wali. Dan aku hampir melihat di 
hadapanku setiap wali pada masamu memberimu hak lebih tinggi karena keagungan 
kedudukan spiritualmu dan kehormatanmu.”
   
  Ibn Abi Asrun melanjutkan, “Kemasyhuran Abdul Qadir makin meluas dan semua 
ucapan Syekh al-Hamadani tentangnya menjadi kenyataan hingga tiba waktunya 
ketika ia mengatakan, ‘Kedua kakiku berada di atas leher semua wali.’ Syekh 
Abdul Qadir menjadi rujukan dan lampu penerang yang memberi petunjuk kepada 
setiap orang pada masanya menuju tujuan akhir mereka. Berbeda keadaannya dengan 
Ibn Saqa. Ia menjadi ahli  hukum yang menonjol. Ia mengungguli semua ulama pada 
masanya. Ia sangat suka berdebat dengan para ulama dan mengalahkan mereka 
hingga Khalifah memanggilnya ke lingkungan istana. Suatu hari Khalifah mengutus 
Ibn Saqa kepada Raja Bizantium, yang kemudian memanggil semua pendeta dan pakar 
agama Nasrani untuk berdebat dengannya. Ibn al-Saqa sanggup mengalahkan mereka 
semua. Mereka tidak berdaya memberi jawaban di hadapannya. Ia mengungkapkan 
berbagai argumen yang membuat mereka tampak seperti anak-anak sekolahan.
   
  Kepandaiannya memesona Raja Bizantium itu yang kemudian mengundangnya ke 
dalam pertemuan pribadi keluarga Raja. Pada saat itulah ia melihat putri raja. 
Ia jatuh cinta kepadanya, dan ia pun melamar sang putri untuk dinikahinya. Sang 
putri menolak kecuali dengan satu syarat, yaitu Ibn Saqa harus menerima 
agamanya. Ia menerima syarat itu dan meninggalkan Islam untuk memeluk agama 
sang putri, yaitu Nasrani. Setelah menikah, ia menderita sakit parah sehingga 
mereka melemparkannya ke luar istana. Jadilah ia peminta-minta di dalam kota, 
meminta makanan kepada setiap orang meski tak seorang pun memberinya. Kegelapan 
menutupi mukanya.
   
  Suatu hari ia melihat seseorang yang ia kenal. Orang yang bertemu dengan Ibn 
al-Saqa itu menceritakan bahwa ia bertanya kepadanya, “Apa yang terjadi 
kepadamu?” Ibn al-Saqa menjawab, “Aku terperosok ke dalam godaan.” Orang itu 
bertanya lagi, “Adakah yang kau ingat dari Alquran Suci?” Ia menjawab, “Aku 
ingat ayat yang berbunyi, ‘Sering kali orang-orang kafir itu menginginkan 
sekiranya saja dulu mereka itu menjadi orang Islam’ (Q.S. al-Hijr [15]: 2).”
   
  Ia gemetar seakan-akan sedang meregang nyawa. Aku  berusaha memalingkan 
wajahnya ke Kakbah, tetapi ia terus saja menghadap ke timur. Sekali lagi aku 
berusaha mengarahkannya ke Kakbah, tetapi ia kembali menghadap ke timur. Hingga 
tiga kali aku berusaha, namun ia tetap menghadapkan wajahnya ke timur. 
Kemudian, bersamaan dengan keluarnya ruh dari jasadnya, ia berkata, “Ya Allah, 
inilah akibat ketidakhormatanku kepada wali-Mu, Yusuf al-Hamadani.” Ibn Abi 
Asrun melanjutkan, “Sementara aku sendiri mengalami kehidupan yang berbeda. Aku 
datang ke Damaskus dan raja di sana, Nuruddin al-Syahid, memintaku untuk 
mengurusi bidang agama, dan aku menerima tugas itu. Sebagai hasilnya, dunia 
datang dari setiap penjuru: kekayaan, makanan, kemasyhuran, uang, dan kedudukan 
selama sisa hidupku. Itulah apa yang diramalkan oleh al-Ghawts Yusuf 
al-Hamadani untukku.”
   
Dikutip dari Encyclopaedia of Islamic Doctrine Vol.5: Tazkiyatun-Nafs/Tasawwuf, 
Ihsan karya Syekh Muhammad Hisyam Kabbani ar-Rabbani
  
Wa min Allah at Tawfiq
  Wasalam, arief hamdani   
 
Note : Telah terbit tiga buku Mawlana Syaikh Hisyam Kabbani ar-Rabbani yang 
membahas tuntas tentang Dalil Mawlid :
   
  1. Mawlid Bukan Bid'ah Rp. 20.000,- Bisa didapatkan dgn biaya kirim Rp. 5000 
untuk Jakarta e-mail [EMAIL PROTECTED] com, sms HP. 0888 133 5003, 0816 830 
748. Buku-buku menarik dari Mawlana Syaikh Hisyam Kabbani ar-Rabbani ( Islamnya 
Pangeran Charles, Perlunya Guru Ruhani Sejati 1, 2 - Servanthood dll) dari 
Tariqah  Sufi Naqshbandi Haqqqani bisa didapatkan & di down load gratis 
www.mevlanasufi.blogspot.com 
   
  2. Mawlid & Ziarahj Ke makam Nabi saw Rp. 37.500.  Bisa didapatkan di Gunung 
Agung, Gramedia
   
  3. Energi Zikir & Salawat Rp. 37.500 Bisa didapatkan di Gunung Agung, Gramedia
   
  Wasalam, arief hamdani
President Rabbani Sufi Institute of Indonesia
www.mevlanasufi.blogspot.com
HP. 0888 133 5003, 0816 830 748, 021-7255508 Fax. 021-7255508


       
---------------------------------
Need a vacation? Get great deals to amazing places on Yahoo! Travel. 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke