kalau boleh aku tersenyum
maka senyumku adalah kepahitan
kalau boleh aku menangis
maka tangisku adalah kesedihan
kalau boleh aku tertawa
maka tawaku adalah kepedihan
salam
NB:
"depatemen of nelongso Brebes mili university"
ide yang sangat bagus
wiramandiri <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Jumat, 25 Mei 2007,
www.jawapos.co.id
Bolehkah Ulama Berpolitik?
Oleh Salahuddin Wahid
Pengasuh Pesantren Tebuireng Jombang
Di depan pertemuan nasional RMI (perkumpulan pesantren dikalangan NU)
pada 18 Mei 2007, menteri agama mengkritik banyaknya ulama atau kiai
yang lebih suka menekuni dunia politik ketimbang mengurusi pondok
pesantren. Para kiai yang sekarang berada di luar khitahnya sebagai
pendidik karena kilauan dunia lain diimbau untuk kembali ke dunia
pesantren. Dengan lebih banyak berada di pesantren, menurut menteri
agama, peran pondok pesantren selaku kekuatan moral dapat meningkat kembali.
Ketua PB NU Said Aqil Siradj mengatakan, selama peran itu masih
proporsional dan profesional, tidak menjadi masalah para kiai berkiprah
dalam dunia politik. Dia mengemukakan, sebagai contoh, dahulu KH Hasyim
Asy'ari dan KHA Wahid Hasyim serta yang lain. Selain dikenal sebagai
ulama yang hebat, mereka sebagai politisi yang ulung. Ketua Umum PB NU
Hasyim Muzadi mengatakan bahwa terjun ke dunia politik bukan kesalahan,
apalagi kejahatan. Tetapi, mereka harus kompeten dan punya kemampuan
dalam politik. Kalau tidak, mereka hanya politicking atau mencari
kekuasaan semata.
Kritik terhadap maraknya kiai yang terjun ke dunia politik dilontarkan
juga oleh banyak pihak. Salah seorang di antara mereka adalah Komaruddin
Hidayat, dalam buku Manuver Politik Ulama (2004) yang ditulis bersama M
Yudhie Haryono. Yang lain ialah buku Politik Kiai, Polemik Keterlibatan
Kiai dalam Politik Praktis (2005), dengan penyunting Abdullah Yazid.
***
Kita perlu menanggapi pendapat Said Aqil Siradj bahwa kiai boleh
berpolitik (praktis) sejauh dilakukan secara profesional dan
proporsional. Profesional mengandung pengertian kemampuan dan etika.
Proporsional saya tafsirkan kalau si kiai menjadi politisi dan tetap
memimpin pesantren, yang bersangkutan bisa membagi waktu dengan baik dan
menghindari terjadinya konflik kepentingan.
Seperti dikatakan Hasyim Muzadi, kiai -dan siapa pun- yang berpolitik
tentu harus menguasai ilmu yang dibutuhkan untuk bisa menjalankan tugas
dengan baik. Selain itu, memahami etika yang lazim berlaku bagi profesi
apa pun. Tampaknya, ekspektasi (harapan, tuntutan) terhadap para kiai
lebih tinggi dibandingkan terhadap politisi dengan latar belakang lain.
Bisa kita bandingkan dengan tuntutan tinggi terhadap para intelektual
(cendekiawan) seperti yang ditulis oleh Julien Benda.
KH Hasyim Asy'ari berpolitik tanpa meninggalkan peran beliau di
Pesantren Tebuireng. Ketika beliau diminta untuk menduduki jabatan
pemerintahan di Jakarta (1944), tugas itu diwakili putra beliau KHA
Wahid Hasyim.
Setelah KH Hasyim Asy'ari wafat, jabatan pengasuh Pesantren Tebuireng
dipegang KHA Wahid Hasyim. Saat beliau diminta untuk menjabat menteri
agama, tugas sebagai pengasuh Pesantren Tebuireng diserahkan kepada
kakak ipar beliau, KH Ahmad Baidhowi, seorang ulama yang amat mumpuni.
Kedua tokoh itu telah meninggalkan uswah hasanah kepada kita. KH Hasyim
Asy'ari tidak mau meninggalkan pesantren untuk menjadi pejabat negara.
KHA Wahid Hasyim memilih menjadi pejabat negara. Beliau sadar bahwa
kedua jabatan itu penting, tetapi harus dipilih salah satu.
KHA Wahab Hasbullah menjadi anggota DPA sehingga tidak terlalu sulit
untuk mengatur waktu. Beliaulah yang menjadi motor penggerak Partai NU.
Untung, di Pesantren Tambakberas sudah ada KH A. Fattah Hasyim (kiainya
Gus Dur) yang menjadi pengganti. KH Bisri Syansuri menjadi anggota DPR
pada usia yang amat lanjut, saat sudah ada putra dan cucu beliau (ayah
dari Muhaimin Iskandar) yang menggantikan beliau mengajar.
Beliaulah yang berhasil meyakinkan Pak Harto untuk menyetujui pasal 1 UU
Perkawinan yang intinya berbunyi bahwa perkawinan itu sah apabila
dilakukan sesuai dengan ketentuan agama. UU itulah yang menjadi awal
dari konvergensi Islam dan Indonesia yang dilanjutkan dengan
diluncurkannya dokumen antara Islam dan Pancasila.
Semua contoh tersebut menunjukkan bahwa para kiai utama NU pada masa
lalu mampu menunjukkan perilaku terpuji. Profesional dan proporsional
sesuai dengan pendapat Said Aqil Siradj dan punya kompetensi atau
kemampuan sesuai pendapat Hasyim Muzadi. Mereka tidak mengejar jabatan,
tetapi diminta dan tidak menimbulkan problem sampingan. Walaupun para
kiai itu adalah tokoh Partai NU, nuansa politik kebangsaan amat terasa
di dalam langkah politik mereka.
***
Kita melihat suasana dan situasi saat ini amat berbeda dengan era ketika
para kiai utama NU itu masih sugeng. Keikhlasan secara umum sudah
menurun. Kalau dulu para kiai NU kompak, kini banyak yang terlibat
konflik, bahkan secara terbuka. Silaturahmi yang sering dianjurkan para
kiai itu menjadi hampa karena yang menganjurkan ternyata sulit
menjalankannya. Yang dikuatirkan ialah konflik itu merembet kebawah.
Persatuan internal NU bisa terganggu oleh kepentingan partai.
Sering dikatakan bahwa politisi adalah "profesi kotor" dan kiai adalah
"profesi putih". Amat kontras. Masalahnya ialah apakah yang putih akan
bisa membersihkan yang kotor atau sebaliknya? Atau, lebih banyak mana
bidang putihnya ketimbang bidang hitam? Mempertimbangkan pertanyaan di
atas, yang ideal memang kiai tidak berpolitik praktis. Atau, lebih
sedikit yang terlibat akan lebih baik.
Tetapi, faktanya, PDIP mendekati pimpinan puncak Muhammadiyah dan NU
dalam langkah mendirikan Baitul Muslimin. Kecenderungannya akan lebih
banyak ulama yang menjadi politisi. Itulah realitas yang harus kita
hadapi. Yang mengatakan sebaiknya ulama tidak berpolitik, mungkin akan
berpendapat lain apabila dia terjun ke dunia politik. Dan, kita tahu
bahwa tidak ada UU yang melarang hal itu.
Jadi, tidak mungkin kita melarang para kiai untuk menjadi politisi.
Menteri agama pun hanya mengimbau.
Jombang, 21 Mei 2007
Salahuddin Wahid, pengasuh Pesantren Tebuireng Jombang
Tri
Department of Nelongso
Mbrebes Mili University
[Non-text portions of this message have been removed]
---------------------------------
Take the Internet to Go: Yahoo!Go puts the Internet in your pocket: mail, news,
photos & more.
[Non-text portions of this message have been removed]