Sisi Kusut Demokrasi

Oleh Mulyo Sunyoto

Jakarta (ANTARA News) - Demokrasi, dalam teorinya, mudah dipahami dan
dicerna. Tapi dalam praktiknya, pemerintahan berdasar mayoritas itu
sering rumit bak benang kusut.

Mahasiswa yang pernah belajar mengenai prinsip demokrasi pasti paham
bahwa demokrasi ditegakkan di atas tatanan hukum yang disepakati
bersama. Semua orang sama posisinya di hadapan hukum.

Hukum adalah mahkota bagi demokrasi. Nyatanya, demokrasi bisa juga
ditegakkan oleh modal. Mereka yang menyimak lahirnya undang-undang di
parlemen akan tahu bahwa siapa yang mampu membayar lebih banyak pada
legislator akan mereguk keuntungan lewat pasal-pasal yang diloloskan
oleh politisi yang duduk di lembaga legislatif itu.

Benang ruwet demokrasi kini juga sedang dipertontonkan warga Turki
yang dalam waktu dekat ini akan memilih calon presiden.

Turki yang menerapkan demokrasi dengan menegakkan sekularisme itu saat
ini sedang diguncang wacana yang bagi orang Indonesia mungkin terasa
muskil.

Betapa tidak. Para warga Turki yang pembela sekularisme itu berang
ketika Partai Pembangunan dan Keadilan (AKP) Turki yang berkuasa
menyebut Menlu Abdullah Gul, politisi yang di masa lalu berhaluan
Islamis, sebagai calon presiden dari AKP.

Keberatan para sekularis itu bukan pada sepak terjang Gul sendiri
yang, misalnya, dinilai antidemokratis atau otoriter. Tapi karena
kebiasaan sang istri mengenakan kerudung.

Kerudung yang dikenakan istri Gul sebenarnya tidak seeksklusif macam
jilbab yang biasa dikenakan kaum hawa Taliban, tapi kerudung ala
aktris Inneke Koesherawati atau model Ratih Sanggarwati yang modis.

Meski begitu, warga prosekularis Turki berteriak memprotes pencalonan
Gul. Mereka punya prasangka bahwa jika Gul menjadi presiden, busana
kerudung yang mencitrakan wanita muslim itu akan dijadikan imperatif
berbusana bagi warga perempuan Turki.

Burcu Asli, yang unjuk rasa menentang pencalonan Gul, meneriakkan
keberatannya sebagai berikut: "Kami tak punya masalah dengan jilbab.
Tapi tidaklah tepat jika istri presiden mengenakan jilbab itu. Ini
bukan soal politis. Kami cuma tak ingin melihat Turki menjadi Iran
kedua," katanya.

Alangkah muskilnya suara Burcu Asli, yang mahasiswa Universitas Bosphorus itu.

Jika opini Burcu itu ditiru warga Indonesia saat kejatuhan Soeharto
sembilan tahun silam, Gus Dur mungkin menuai protes karena sang istri,
Shinta Nuriah, mengenakan kerudung yang biasa dikenakan kaum muslimat
Nahdlatul Ulama.

Sejauh ini belum ada jawaban dari Gul atau sang istri atas keberatan
Burcu itu. Sebetulnya banyak alasan wanita mengenakan kerudung. Bisa
jadi orang itu memang taat menjalankan aturan agamanya. Tapi ada juga
yang punya alasan lain seperti merasa lebih nyaman atau lebih anggun
mengenakan jilbab.

Terlepas dari alasan-alasan itu, keberatan Burcu jelas beraroma
prejudis. Burcu berhak protes jika setelah terpilih jadi presiden, Gul
memaksakan kehendak untuk mewajibkan perempuan Turki berkerudung.

Selama Gul tidak memaksakan kehendak itu, keberatan Burcu tak lebih
dari sebuah kecemasan khayali semata. Itu sama saja memprotes calon
presiden yang istrinya suka merokok.

Protes Burcu terhadap jilbab istri presiden bisa juga dicurigai
sebagai bagian dari konspirasi para industrialis di bidang kosmetika
khusus perawatan rambut. Dengan mengenakan kerudung, istri Gul tak
perlu pergi ke salon untuk menata rambutnya. Ia juga tak perlu
mengecat warna rambutnya atau menghiasi rambutnya dengan aksesoris.

Kapitalis kosmetika rambut yang bervisi jauh ke depan pasti cemas
dengan gaya dandanan "first lady" yang berkerudung itu. Siapa tahu
akan banyak wanita Turki yang meniru dandanan ibu negara.

Mestinya, kapitalis bidang tekstil mendukung istri Gul karena industri
jilbab akan meroket jika istri presiden mengenakan jilbab sehingga ada
kemungkinan dia menjadi trendsetter busana.

Pada akhirnya, ada ideologi kapitalis yang melandasi debat politik di
Turki menyongsong pemilihan presiden.

Turki yang mayoritas penduduknya Muslim telah memilih jalan
sekularisme sejak Mustafa Kemal Ataturk yang berkuasa pada 1923,
meneladani Swiss Civil Code sebagai konstitusi negara.

Negara dan agama dipisah. Rintisan Ataturk itu cukup berhasil
mengarahkan pikiran warga Turki hingga kini untuk konsisten di jalan
sekularisme. Dalam jajak pendapat tahun lalu, sebanyak 76,2 persen
warga Turki menentang keras ide pemerintahan theokratik berdasar hukum
Islam.

Borcu Asli adalah salah satu prototipe orang yang cemas jika Turki
menapak jalan sebagaimana dilewati oleh Iran, yang memproklamirkan
diri sebagai Republik Islam.(*)


****************************************************************************************
---tiyang njawi ngimpi bolak-balik kertosono--bogor sak kedepan mripat---
****************************************************************************************

Kirim email ke