di suatu jumat, di sebuahkota yang terik, seorang khatib dengan gelar 
SE dan MBA (sarjana ekonomi dan master of business administration) 
tampil memberikan ceramahnya yang cukup panjang. khatib ini 
menyampaikan khutbah dengan tema dan gaya yang mutakhir lengkap 
dengan prumusan masalah, latar belakang, data dan fakta, serta 
analisis dan kesimpulan tentang masalah kemungkinan krisis moneter 
kedua yang akan melanda seiring dengan membaiknya indikator ekonomi.

dahulu, sekitar tahun 80-an, memang pernah ada kritikan kepada 
sejumlah katib jumat. yang "dengan berkerudung putih, suaranya 
rendah, mengutip al-ghazali dan melulu bicara tentang mati". katib 
kontempoirer kita ini tentulah jauh dari kriteria "katib jaman dulu" 
ini.

sayangnya, saya koq merasa ada yang hilang. atau mungkin memang 
persiapan batin saya jumat itu kurang matang sehingga 
kehilangan 'roso' nya. soalnya saya tiba-tiba teringat: headline 
koran-koran, kolom opini pakar, talk-show dan debat-show di layar-
layar televisi, atau suasana di tengah arena seminar.

dan tiba-tiba saya rindukan sosok khatib yang "ja-dul" itu, biar 
dikata selera saya kampungan...

Kirim email ke