Saya tidak terlalu memilih-milih mesjid. Mesjid yang biasa saya 
gunakan untuk jumatan selama di pulau bali ini, bisalah digolongkan 
mesjid kelompok 'modern'. Hanya saja, jumatan terakhir minggu kemarin 
secara tak sengaja saya mendengar para pengurusnya lagi rembuk soal 
kesalahan arah kiblat. Memang, sebelumnya saya melihat ada satu dua 
orang yang kalapun shalat jemaah bersama, posisi berdirinya pasti 
agak miring beberapa derajat ke kanan. Ada perbedaan soal kiblat, 
duga saya. Hanya saja, karena yang saya lihat hanya satu dua orang 
saja, anggaplah itu pendapat pribadi, toh imam dan jemaah lain tetap 
mengarah seperti biasa. Namun, setelah mendengar sendiri pembicaraan 
di majelis pengurus itu dan untuk menghindari syak, saya lalu 
memutuskan untuk jumatan berikut di tempat lain saja, setidaknya 
setelah pengurus mesjid tersebut sepakat soal arahnya.

Kebetulan, agak jauh ke arah pusat kota, ada sebuah mesjid yang 
setahu saya sebelumnya, mengamalkan azan dua kali dan ada ngaji-ngaji 
sebelum memulai prosesi jumatnya. Ke sanalah saya meluncur siang 
jumat tadi (1/6/2007).

Tak diduga, di luar perkiraan saya, kali ini bilal di mesjid 
yang 'tradisional' ini hanya azan sekali. Meskipun sebelumnya sempat 
memutar kaset pengajian seperti biasa. Ada beberapa jemaah kecele dan 
telanjur berdiri lalu mengamalkan salat qabliyah.

Mungkin ini pesanan imam jumat kali ini, batin saya.

Ternyata khatib khutbah kali ini (yang nampaknya pengurus takmir 
juga) memang sedikit lain. Dengan lugas di awal khutbahnya imam 
mengatakan akan menyampaikan koreksi atas sejumlah kesalahan yang 
sering dilakukan terkait dengan ibadah hari jumat. Wah, koq 
topik 'basi' ini lagi. Eh, kayak di milis-milis saja, batin saya. 
Ternyata tidak tanggung-tanggung, dalam kesempatan itu khatib 
sekalian mengumumkan, mulai saat ini proses jumat dirubah. Yang 
bidaah-bidah dan salah kaprah mengikuti sahabat akan di hapus dan 
untuk selanjutnya jumatan akan mengikuti tata cara rasulullah. Putar 
kaset pengajian akan dihentikan (karena mengganggu yang shalat 
sunnah --  ini sih, bisa saya setujui). Tidak hanya itu, azan dua 
kali dan shalat qabliyah juga akan dihentikan. Sejumlah hadis (hanya 
yang) sahih saja diutarakan dengan cukup fasih.di jelang penutup 
khutbahnya, sang khatib menyatakan, hadis yang menjadi 
landasan 'bidah' itu sudah dilemahkan oleh Syekh Albani (oh, pantas, 
batin saya. Hanya apakah pak khatib juga sudah baca kitab tentang 
hadis-hadits sahih yang dilemahkan oleh albani?). 

Tak urung perasaan saya bergolak selama khutbah. Haruskah masalah 
seperti ini diungkit lagi dan laghi di hadapan majelis yang majemuk 
ini. Saya sendiri, meski hanya lewat sejumlah buku terjemahan, sudah 
membaca dalil dan dalih kedua belah pihak, hingga akhirnya memutuskan 
mengikuti amalan yang disebut secara sopan sebagai 'tradisional' atau 
secara tidak sopan 'bidah' tersebut. Meski hati saya masih terus 
bergolak, menjelang doa khutbah kedua dan berdiri untuk shalat, saya 
terus mencoba menata hati, agar tidak ada rasa tidak suka kepada imam 
dan tetap memperoleh penuh fadhilah jemaah. Mungkin inilah yang benar 
menurut ilmu yang dia pelajari dan toh, niatnya juga bagus untuk 
menyampaikan apa yang (dianggapnya) sebagai benar, toh itu hak dan 
tanggungjawab khatib.

Setelah shalat, saya sebenarnya ingin melanjutkan wiridan yasin. Tapi 
koq perasaan masih gak karuan, bahkan ada ayat terlompat dibaca. 
Ternyata di belakang ada jemaah yang kurang puas dan mengajak khatib 
duduk berdiskusi. Mending menghentikan ngaji dan ikut gabung dengan 
lingkaran kecil itu.

Ternyata, sekitar delapan jemaah yang mengajak khatib dialog itu 
semuanya muda-muda. Belakangan, salah seorang ju-bir dadakan kelompok 
jemaah itu memperkenalkan dirinya dari PMII.

Perdebatan berjalan cukup sopan dan masih saling menghargai, walaupun 
si anak muda nampak berusaha keras menahan gejolak emosinya dan si 
khatib juga berupaya mengendalikan dirinya. Maklum, diskusi anak 
duapuluhan awal dengan veteran dakwah berusia lebih separuh baya.

Intinya: si anak muda menghimbau khatib untuk tidak mengangkat tema 
yang sensitif dan diperdebatkan dalammateri jumat. Bahwa si anak muda 
tidak bisa memilih mana yang harus dipilih dan yang harus 
ditinggalkan dari teladan nabi dan sahabat. Si khatib juga 
menyampaikan, bahwa ia tidak mewakili salah satu golongan(dengan kata 
lain, ia mewakili golongan yang tidak-bergolongan). Sebutlah saya 
muhammadnu, tamsil khatib. Bahwa ia hanya menyampaikan kebenaran dan 
hal yang sama juga sudah ditanyakannya kepada salah satu ustad 
yang 'berjenggot panjang': jadi dua khutbah it bidah, ustad/ iya, 
bidah! Astagfirullah!.

Saya sendiri, berhubung sedikit lebih tua, dan juga sedikit ilmu, 
mencoba hanya jadi pendengar saja. Maklum meski sudah membaca 
beberapa kumpulan dalil amalan 'tradisional' seperti punya kyai raji 
jakarta, kyai muhyidin, dan terakhir yang dikatapengantari kyai 
mashdar, saya tidak punya nyali untuk ikutan berdalil dalam majelis. 
Maklum santri sekuler murni yang tidak begitu alim. Hehehe.

Di penghujung diskusi, tak ayal saya tergelitik untuk sedikit usil 
berkomentar, berhubung si khatib terus menekankan bidah yang 
dipelopori khalifah usman radhiyallahu anhi itu. Maaf ustad, khutbah 
ustad tadi tentu maksudnya baik. Hanya saja, kalau begitu apakah kita 
juga perlu tidak usah lagi mengadakan tarawihan karena tarawihan 
jemaah rutin itu ijtihad sahabat umar? Koq, gak usah tarawih; 
rasulullah tarawih tiga malam kan, bantah ustad. Saya tidak ingin 
mendebat lagi, meski ujung maksud sentilansaya itu, kalau begitu 
apakah kita perlu hanya mengadakan jemaah tarawih hanya tiga malam 
selama bulan ramadhan. Lagipula, wajah khatib yang tegas itu seperti 
paras pensiunan tni dan polri. Cari aman ahhhhh.

Hikmah cerita:
1)Untuk khatib dan orang yang berilmu, sebaik-baiknya jauhilah debat, 
apalagi dalam topik yang sudah puluhan bahkan ratusan tahun tak 
pernah ada titik temunya. Ingat, tokok-tokoh yang berdebat dahulu pun 
jauh lebih berilmu dan berahlak dari kita sekarang, tetapi toh tetap 
berbeda pendapat.
2)Bila anda terlanjur bergabung dalam salah satu firqah, sebaiknya: 
a) baca sumber primer dari masing-masing golongan terlebih dulu 
sehingga memperluas wawasan, b) hindari ujub, sehingga merasa anda 
yang lebih mengikuti sunnah, lebih moderat, atau lainnya, c) hindari 
takabur dengan menganggap pihak diseberang anda penganut bidah atau 
ekstrim, d) tetap miliki prasangka baik kepada sesama muslim bahwa 
yang bersangkutan berpendapat sesuatu sekedar berdasar apa yang telah 
ia ketahui dan niat dia sebenarnya baik untuk mengajak kita menuju 
jalan yang 'dianggapnya' benar
3)saya sendiri, jumat depan mesti cari mesjid lain. Tidak masalah 
apakah itu satu azan atau dua azan (meskipun lebih suka kalau itu dua 
kali azan biar bisa shalat qabliyah dulu). Yang penting, khatibnya 
bisa membawa kesejukan ibarat telaga dari riuh pikuknya urusan dunia 
sehari-hari.


Kirim email ke