lucu sekali ya?
sahabat aja dibilang bidah!!! padahal mereka kan pernah hidup dengan 
rasul...
fi 'aqlihim syai` aw syai HAHAHHAHA
kalo sahabat dah dibidahin gitu terus ngapain imam ahmad ngambil qaul 
sahabat...
ga lucu!!
sahabat aja ga dipercaya nagapain percaya ma alalbani?
Non SENSE!!
--- In [email protected], "hendra_gst" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Saya tidak terlalu memilih-milih mesjid. Mesjid yang biasa saya 
> gunakan untuk jumatan selama di pulau bali ini, bisalah digolongkan 
> mesjid kelompok 'modern'. Hanya saja, jumatan terakhir minggu 
kemarin 
> secara tak sengaja saya mendengar para pengurusnya lagi rembuk soal 
> kesalahan arah kiblat. Memang, sebelumnya saya melihat ada satu dua 
> orang yang kalapun shalat jemaah bersama, posisi berdirinya pasti 
> agak miring beberapa derajat ke kanan. Ada perbedaan soal kiblat, 
> duga saya. Hanya saja, karena yang saya lihat hanya satu dua orang 
> saja, anggaplah itu pendapat pribadi, toh imam dan jemaah lain 
tetap 
> mengarah seperti biasa. Namun, setelah mendengar sendiri 
pembicaraan 
> di majelis pengurus itu dan untuk menghindari syak, saya lalu 
> memutuskan untuk jumatan berikut di tempat lain saja, setidaknya 
> setelah pengurus mesjid tersebut sepakat soal arahnya.
> 
> Kebetulan, agak jauh ke arah pusat kota, ada sebuah mesjid yang 
> setahu saya sebelumnya, mengamalkan azan dua kali dan ada ngaji-
ngaji 
> sebelum memulai prosesi jumatnya. Ke sanalah saya meluncur siang 
> jumat tadi (1/6/2007).
> 
> Tak diduga, di luar perkiraan saya, kali ini bilal di mesjid 
> yang 'tradisional' ini hanya azan sekali. Meskipun sebelumnya 
sempat 
> memutar kaset pengajian seperti biasa. Ada beberapa jemaah kecele 
dan 
> telanjur berdiri lalu mengamalkan salat qabliyah.
> 
> Mungkin ini pesanan imam jumat kali ini, batin saya.
> 
> Ternyata khatib khutbah kali ini (yang nampaknya pengurus takmir 
> juga) memang sedikit lain. Dengan lugas di awal khutbahnya imam 
> mengatakan akan menyampaikan koreksi atas sejumlah kesalahan yang 
> sering dilakukan terkait dengan ibadah hari jumat. Wah, koq 
> topik 'basi' ini lagi. Eh, kayak di milis-milis saja, batin saya. 
> Ternyata tidak tanggung-tanggung, dalam kesempatan itu khatib 
> sekalian mengumumkan, mulai saat ini proses jumat dirubah. Yang 
> bidaah-bidah dan salah kaprah mengikuti sahabat akan di hapus dan 
> untuk selanjutnya jumatan akan mengikuti tata cara rasulullah. 
Putar 
> kaset pengajian akan dihentikan (karena mengganggu yang shalat 
> sunnah --  ini sih, bisa saya setujui). Tidak hanya itu, azan dua 
> kali dan shalat qabliyah juga akan dihentikan. Sejumlah hadis 
(hanya 
> yang) sahih saja diutarakan dengan cukup fasih.di jelang penutup 
> khutbahnya, sang khatib menyatakan, hadis yang menjadi 
> landasan 'bidah' itu sudah dilemahkan oleh Syekh Albani (oh, 
pantas, 
> batin saya. Hanya apakah pak khatib juga sudah baca kitab tentang 
> hadis-hadits sahih yang dilemahkan oleh albani?). 
> 
> Tak urung perasaan saya bergolak selama khutbah. Haruskah masalah 
> seperti ini diungkit lagi dan laghi di hadapan majelis yang majemuk 
> ini. Saya sendiri, meski hanya lewat sejumlah buku terjemahan, 
sudah 
> membaca dalil dan dalih kedua belah pihak, hingga akhirnya 
memutuskan 
> mengikuti amalan yang disebut secara sopan sebagai 'tradisional' 
atau 
> secara tidak sopan 'bidah' tersebut. Meski hati saya masih terus 
> bergolak, menjelang doa khutbah kedua dan berdiri untuk shalat, 
saya 
> terus mencoba menata hati, agar tidak ada rasa tidak suka kepada 
imam 
> dan tetap memperoleh penuh fadhilah jemaah. Mungkin inilah yang 
benar 
> menurut ilmu yang dia pelajari dan toh, niatnya juga bagus untuk 
> menyampaikan apa yang (dianggapnya) sebagai benar, toh itu hak dan 
> tanggungjawab khatib.
> 
> Setelah shalat, saya sebenarnya ingin melanjutkan wiridan yasin. 
Tapi 
> koq perasaan masih gak karuan, bahkan ada ayat terlompat dibaca. 
> Ternyata di belakang ada jemaah yang kurang puas dan mengajak 
khatib 
> duduk berdiskusi. Mending menghentikan ngaji dan ikut gabung dengan 
> lingkaran kecil itu.
> 
> Ternyata, sekitar delapan jemaah yang mengajak khatib dialog itu 
> semuanya muda-muda. Belakangan, salah seorang ju-bir dadakan 
kelompok 
> jemaah itu memperkenalkan dirinya dari PMII.
> 
> Perdebatan berjalan cukup sopan dan masih saling menghargai, 
walaupun 
> si anak muda nampak berusaha keras menahan gejolak emosinya dan si 
> khatib juga berupaya mengendalikan dirinya. Maklum, diskusi anak 
> duapuluhan awal dengan veteran dakwah berusia lebih separuh baya.
> 
> Intinya: si anak muda menghimbau khatib untuk tidak mengangkat tema 
> yang sensitif dan diperdebatkan dalammateri jumat. Bahwa si anak 
muda 
> tidak bisa memilih mana yang harus dipilih dan yang harus 
> ditinggalkan dari teladan nabi dan sahabat. Si khatib juga 
> menyampaikan, bahwa ia tidak mewakili salah satu golongan(dengan 
kata 
> lain, ia mewakili golongan yang tidak-bergolongan). Sebutlah saya 
> muhammadnu, tamsil khatib. Bahwa ia hanya menyampaikan kebenaran 
dan 
> hal yang sama juga sudah ditanyakannya kepada salah satu ustad 
> yang 'berjenggot panjang': jadi dua khutbah it bidah, ustad/ iya, 
> bidah! Astagfirullah!.
> 
> Saya sendiri, berhubung sedikit lebih tua, dan juga sedikit ilmu, 
> mencoba hanya jadi pendengar saja. Maklum meski sudah membaca 
> beberapa kumpulan dalil amalan 'tradisional' seperti punya kyai 
raji 
> jakarta, kyai muhyidin, dan terakhir yang dikatapengantari kyai 
> mashdar, saya tidak punya nyali untuk ikutan berdalil dalam 
majelis. 
> Maklum santri sekuler murni yang tidak begitu alim. Hehehe.
> 
> Di penghujung diskusi, tak ayal saya tergelitik untuk sedikit usil 
> berkomentar, berhubung si khatib terus menekankan bidah yang 
> dipelopori khalifah usman radhiyallahu anhi itu. Maaf ustad, 
khutbah 
> ustad tadi tentu maksudnya baik. Hanya saja, kalau begitu apakah 
kita 
> juga perlu tidak usah lagi mengadakan tarawihan karena tarawihan 
> jemaah rutin itu ijtihad sahabat umar? Koq, gak usah tarawih; 
> rasulullah tarawih tiga malam kan, bantah ustad. Saya tidak ingin 
> mendebat lagi, meski ujung maksud sentilansaya itu, kalau begitu 
> apakah kita perlu hanya mengadakan jemaah tarawih hanya tiga malam 
> selama bulan ramadhan. Lagipula, wajah khatib yang tegas itu 
seperti 
> paras pensiunan tni dan polri. Cari aman ahhhhh.
> 
> Hikmah cerita:
> 1)Untuk khatib dan orang yang berilmu, sebaik-baiknya jauhilah 
debat, 
> apalagi dalam topik yang sudah puluhan bahkan ratusan tahun tak 
> pernah ada titik temunya. Ingat, tokok-tokoh yang berdebat dahulu 
pun 
> jauh lebih berilmu dan berahlak dari kita sekarang, tetapi toh 
tetap 
> berbeda pendapat.
> 2)Bila anda terlanjur bergabung dalam salah satu firqah, sebaiknya: 
> a) baca sumber primer dari masing-masing golongan terlebih dulu 
> sehingga memperluas wawasan, b) hindari ujub, sehingga merasa anda 
> yang lebih mengikuti sunnah, lebih moderat, atau lainnya, c) 
hindari 
> takabur dengan menganggap pihak diseberang anda penganut bidah atau 
> ekstrim, d) tetap miliki prasangka baik kepada sesama muslim bahwa 
> yang bersangkutan berpendapat sesuatu sekedar berdasar apa yang 
telah 
> ia ketahui dan niat dia sebenarnya baik untuk mengajak kita menuju 
> jalan yang 'dianggapnya' benar
> 3)saya sendiri, jumat depan mesti cari mesjid lain. Tidak masalah 
> apakah itu satu azan atau dua azan (meskipun lebih suka kalau itu 
dua 
> kali azan biar bisa shalat qabliyah dulu). Yang penting, khatibnya 
> bisa membawa kesejukan ibarat telaga dari riuh pikuknya urusan 
dunia 
> sehari-hari.
>


Kirim email ke