wheladalah...koq militansinya udah kayak milan vs manchester, pandawa 
vs kurawa

militansi seperti ini bagusnya ditujukan ke musuh bersama umat tho, 
ya kemiskinan, pendidikan rendah, aparat yang aniaya.

begini, mas-mas yang alim nan budiman. peta gerakan islam indonesia 
itu ibarat buku terbukla udah khatam dibaca ama agen-agen cia, mi6, 
mossad, dan ekstrimis misionaris-evangelis. ini juga berkat studi-
studi gerakan islam oleh cendikiawan kita...jadi sudah terang blang 
buat mereka kalo cap bidah, pemuja kubur, penuhan kyai itu bakal 
biking merah kuping para tradisionalis....dan cap transnasional neo 
khawarij-wahabi-salafi itu bakal biking kesetrum orang hti

dengan demikian tanpa diobok-obok sesama islam toh sudah saling 
tonjok-tonjokan sendiri, tanpa dihambat-hambat sesama muslim sudah 
saling menjegal-jatuh sendiri

yah...yang untung mereka yang memang dari dulu tidak senang lihat 
agama Allah ini tegak dan tidak rela kalau kita masih bersikukuh pada 
identitas kemusliman

beda ya beda...tapi jangan gelap mata head to head yahhhh


-- In [email protected], nagan singosari <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> ini pesan dari mas Syamsuddin
>    
>   selamat menikmati
>    
>   :)
>   
> syamsuddin <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>       waduh postinganku ndak masuk
>   tlng dikirimno ke kmnu
>    
>   ----- Original Message -----   From: syamsuddin 
>   To: [email protected] 
>   Sent: Friday, June 01, 2007 8:51 PM
>   Subject: Re: [kmnu2000] HT I Menanggapi Transnasional ala Bang 
Moqshid, Any comment?
> 
>   
> 
>   mosok mas?temen tha?
>   jare sopo sampean?
>   lek tak prasaku kalau hti besar.... pemerintah ndak bisa menumpas,
>   apalagi nu, kalau sudah tambah besar lagi dia akan merangkul 
seluruh komponen umat islam (ahmadiyah syiah jil ... gak melok, lek 
nunut yo sak karepe)
>   termasuk merangkul kyai kyai nu yg masih berpegang pada kitab 
kuning (fathul wahab, asnal matholib,
> tuhfatul muhtaj syarhul minhaj, mughnil muhtaj dan nihayatul muhtaj 
dll yg menfardlukan khilafah).
>   poro kyai kyai meniko mboten perlu mlebet hti, cukup mengamini 
dan mengiyakan "khilafah fardlu" poro sederek...
>   kalau sudah begitu ... warga nu akan ikut kyainya.
>   cuman masalae warga nu saiki gak podo ambek biyen
>   kalai ada kyai yg ngomong masalah berat lan angel ... ditinggal 
ae nggolek kyai seng gampang ..
>   wallahu a'lam bissowaab
>   alfaatihah 
>    
>     ----- Original Message ----- 
>   From: Jamaluddin Mohammad 
>   To: [email protected] 
>   Sent: Thursday, May 31, 2007 12:23 AM
>   Subject: Re: [kmnu2000] HT I Menanggapi Transnasional ala Bang 
Moqshid, Any comment?
>   
> 
>         Ini baru polemik lewat media massa. Kalau sudah kuat HTI 
siap ber-jihad lawan NU.
> 
> 
> Mokhamad_Nur <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Wah kayaknya perdebatan ideologi transnasional ga akan selesai. 
Karena
> kelihatannya kalangan HTI juga mulai sikap pertahanan.
> Ada yang berpendapat?
> Maaf kalau masalah ini berlanjut.... Supaya kita, nahliyin, bisa 
lebih
> "tegar" ;)
> 
> Ini adalah petikan dari Jawa Pos, Mei 2007
> 
> M.Nur
> Dept. of Food Tech. Unibraw
> Malang
> 
> Moqshid Memprovokasi Konflik
> 
> Oleh
> Muhammad Ismail Yusanto
> juru bicara Hizbut Tahrir Indonesia
> 
> Esai yang ditulis Moqshid Ghazali di rubrik kajian (4/5/2007) banyak
> mengandung klaim dan penyesatan. Oleh karena itu, tulisan tersebut
> harus ditanggapi dan diluruskan.
> 
> Pertama, penggunaan istilah "Islam transnasional" yang dialamatkan
> kepada sejumlah kelompok disertai dengan melekatkan tuduhan-tuduhan
> tertentu yang tidak pernah bisa diverifikasi kebenarannya. Artinya,
> hal itu menimbulkan generalisasi penyesatan.
> 
> Seperti kasus perebutan masjid dan menghujat kebiasaan
> amaliah-ritualistik warga NU, yang tidak jelas di mana kasusnya, 
oleh
> siapa, kapan, dan bagaimana kejadiannya?
> 
> Tetapi, ketika pertanyaan-pertanyaan itu tidak pernah dijawab, 
karena
> memang tidak bisa diverifikasi, tiba-tiba fitnah tersebut sudah
> tersebar ke mana-mana. Celakanya, "Islam transnasional" yang 
dijadikan
> kambing hitam fitnah jahat itu. Celakanya lagi, fitnah itu terus
> diulang-ulang, seolah-olah memang benar.
> 
> Padahal, tidak pernah ada klarifikasi. Jika fitnah seperti itu
> diteruskan, justru itulah yang akan memicu konflik horizontal di
> tengah umat. Apakah memang itu yang menjadi tujuannya?
> 
> Kalau memang benar begitu, lalu siapakah yang paling bertanggung 
jawab
> jika terjadi konflik horizontal akibat fitnah seperti itu? Karena 
itu,
> menurut saya, klaim dan penyesatan seperti itu harus segera 
dihentikan.
> 
> Kedua, istilah "Islam transnasional" lawan dari "Islam nasional" 
atau
> "Islam keindonesiaan" itu sendiri sebenarnya tidak ada. Sebab, Islam
> hanya satu. Sumber Islam juga satu, yaitu Nabi Muhammad SAW, yang
> ternyata bukan orang Indonesia.
> 
> Islam juga bukan agama asli Indonesia, tetapi dibawa masuk dari Arab
> ke Indonesia. Karena memang Islam bukan hanya agama orang Arab, 
tetapi
> juga agama semua bangsa, baik Arab maupun non-Arab ('ajam).
> 
> Karena itu, tidak ada Islam Arab atau Islam Indonesia. Maka, klaim
> seperti ini justru bertentangan dengan nash Alquran, wamaa arsalnaka
> illa kaffat[an] li an-nas (Kami tidak mengutusmu [dengan membawa
> ajaran Islam], kecuali untuk seluruh manusia) (Qs 34: 28).
> 
> Kalau memang Islam bukan agama transnasional, tentu tidak ada ibadah
> yang dilakukan lintas negara, seperti haji, umrah, dan jihad. Kalau
> Islam bukan agama transnasional, pasti praktik ibadah kaum muslim di
> Indonesia berbeda dengan kaum muslim di Saudi, Iran, Iraq, Kuwait, 
dan
> sebagainya. Tapi, nyatanya tidak. Maka, semuanya itu membuktikan 
bahwa
> Islam adalah agama transnasional. Jadi, "Islam transnasional" ini 
bisa
> menyesatkan.
> 
> Ketiga, jika mencermati uraian Moqshid, seolah-olah NU menolak
> formalisasi syariah. Terlebih, ketika formalisasi itu dihubungkan
> dengan ancaman bubarnya Indonesia. Ini tentu menyesatkan.
> 
> Dan, penyesatan seperti itu pernah dijawab oleh Ketua PB NU KH A.
> Wahid Hasyim sendiri, "Pernyataan bahwa pemerintahan Islam tidak 
akan
> dapat memelihara persatuan bangsa, dan akan menjauhkan Irian menurut
> pandangan hukum Islam, adalah merupakan perbuatan munkar yang tidak
> dibenarkan syariat Islam, dan wajib tiap-tiap orang muslim 
menyatakan
> inkar atau tidak menyetujui.." untuk merespons pidato Soekarno
> (27/1/1953) di Amuntai, yang menuduh kalau Islam digunakan untuk
> memerintah negara, maka banyak daerah akan lepas.
> 
> Bukan hanya itu, AD/ART NU juga menyatakan komitmen NU, "Menegakkan
> syariat Islam menurut haluan Aswaja (Ahlu Sunnah wal Jama'ah)."
> Sementara syariat Islam menurut Aswaja itu bukan hanya 'ubudiyah
> (ritual), tetapi juga munakahat, mu'amalat, jinayat, jihad, termasuk
> ahkam sulthaniyyah.
> 
> Keempat, perjuangan khilafah akan bertubrukan dengan sikap para kiai
> NU. Saya kira ini juga klaim yang menyesatkan. Sebab, kitab-kitab 
yang
> membahas wajibnya mengangkat khilafah (imamah) juga dibahas di 
pesantren.
> 
> Pendapat ini juga bukan hanya pendapat Hizbut Tahrir, tetapi 
pendapat
> seluruh ulama kaum muslim. Sebut saja kitab al-Hushun al-Hamidiyah,
> yang menjadi buku wajib di pesantren, juga kitab al-Ahkam as-
Sulthaniyyah.
> 
> Jadi, tuduhan Moqshid itu jelas mengada-ada. Kecuali kalau dia 
memang
> berniat menubruk-nubrukkan para kiai dengan kelompok lain, termasuk
> Hizbut Tahrir. Wallahu a'lam.
> 
> ---------------------------------
> Building a website is a piece of cake. 
> Yahoo! Small Business gives you all the tools to get online.
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
> 
> 
> 
>    #ygrp-mlmsg {   FONT-SIZE: small; FONT-FAMILY: 
arial,helvetica,clean,sans-serif  }  #ygrp-mlmsg TABLE {     }  #ygrp-
mlmsg SELECT {   FONT: 99% arial,helvetica,clean,sans-serif  }  INPUT 
{   FONT: 99% arial,helvetica,clean,sans-serif  }  TEXTAREA {   FONT: 
99% arial,helvetica,clean,sans-serif  }  #ygrp-mlmsg PRE {   FONT: 
100% monospace  }  CODE {   FONT: 100% monospace  }  #ygrp-mlmsg {   
LINE-HEIGHT: 1.22em  }  #ygrp-text {   FONT-FAMILY: Georgia  }  #ygrp-
text P {   MARGIN: 0px 0px 1em  }  #ygrp-tpmsgs {   CLEAR: both; FONT-
FAMILY: Arial  }  #ygrp-vitnav {   FONT-SIZE: 77%; MARGIN: 0px; 
PADDING-TOP: 10px; FONT-FAMILY: Verdana  }  #ygrp-vitnav A {   
PADDING-RIGHT: 1px; PADDING-LEFT: 1px; PADDING-BOTTOM: 0px; PADDING-
TOP: 0px  }  #ygrp-actbar {   CLEAR: both; MARGIN: 25px 0px; COLOR: 
#666; WHITE-SPACE: nowrap; TEXT-ALIGN: right  }  #ygrp-actbar .left 
{   FLOAT: left; WHITE-SPACE: nowrap  }  .bld {   FONT-WEIGHT: 
bold  }  #ygrp-grft {   PADDING-RIGHT: 0px;
>  PADDING-LEFT: 0px; FONT-SIZE: 77%; PADDING-BOTTOM: 15px; PADDING-
TOP: 15px; FONT-FAMILY: Verdana  }  #ygrp-ft {   PADDING-RIGHT: 0px; 
BORDER-TOP: #666 1px solid; PADDING-LEFT: 0px; FONT-SIZE: 77%; 
PADDING-BOTTOM: 5px; PADDING-TOP: 5px; FONT-FAMILY: verdana  }  #ygrp-
mlmsg #logo {   PADDING-BOTTOM: 10px  }  #ygrp-vital {   PADDING-
RIGHT: 0px; PADDING-LEFT: 8px; MARGIN-BOTTOM: 20px; PADDING-BOTTOM: 
8px; PADDING-TOP: 2px; BACKGROUND-COLOR: #e0ecee  }  #ygrp-vital 
#vithd {   FONT-WEIGHT: bold; FONT-SIZE: 77%; TEXT-TRANSFORM: 
uppercase; COLOR: #333; FONT-FAMILY: Verdana  }  #ygrp-vital UL {   
PADDING-RIGHT: 0px; PADDING-LEFT: 0px; PADDING-BOTTOM: 0px; MARGIN: 
2px 0px; PADDING-TOP: 0px  }  #ygrp-vital UL LI {   CLEAR: both; 
BORDER-RIGHT: #e0ecee 1px solid; BORDER-TOP: #e0ecee 1px solid; 
BORDER-LEFT: #e0ecee 1px solid; BORDER-BOTTOM: #e0ecee 1px solid; 
LIST-STYLE-TYPE: none  }  #ygrp-vital UL LI .ct {   PADDING-RIGHT: 
0.5em; FONT-WEIGHT: bold; FLOAT: right; WIDTH: 2em; COLOR:
>  #ff7900; TEXT-ALIGN: right  }  #ygrp-vital UL LI .cat {   FONT-
WEIGHT: bold  }  #ygrp-vital A {   TEXT-DECORATION: none  }  #ygrp-
vital A:hover {   TEXT-DECORATION: underline  }  #ygrp-sponsor #hd 
{   FONT-SIZE: 77%; COLOR: #999  }  #ygrp-sponsor #ov {   PADDING-
RIGHT: 13px; PADDING-LEFT: 13px; MARGIN-BOTTOM: 20px; PADDING-BOTTOM: 
6px; PADDING-TOP: 6px; BACKGROUND-COLOR: #e0ecee  }  #ygrp-sponsor 
#ov UL {   PADDING-RIGHT: 0px; PADDING-LEFT: 8px; PADDING-BOTTOM: 
0px; MARGIN: 0px; PADDING-TOP: 0px  }  #ygrp-sponsor #ov LI {   
PADDING-RIGHT: 0px; PADDING-LEFT: 0px; FONT-SIZE: 77%; PADDING-
BOTTOM: 6px; PADDING-TOP: 6px; LIST-STYLE-TYPE: square  }  #ygrp-
sponsor #ov LI A {   FONT-SIZE: 130%; TEXT-DECORATION: none  }  #ygrp-
sponsor #nc {   PADDING-RIGHT: 8px; PADDING-LEFT: 8px; MARGIN-BOTTOM: 
20px; PADDING-BOTTOM: 0px; PADDING-TOP: 0px; BACKGROUND-COLOR: 
#eee  }  #ygrp-sponsor .ad {   PADDING-RIGHT: 0px; PADDING-LEFT: 0px; 
PADDING-BOTTOM: 8px; PADDING-TOP: 8px  }  #ygrp-sponsor
>  .ad #hd1 {   FONT-WEIGHT: bold; FONT-SIZE: 100%; COLOR: #628c2a; 
LINE-HEIGHT: 122%; FONT-FAMILY: Arial  }  #ygrp-sponsor .ad A {   
TEXT-DECORATION: none  }  #ygrp-sponsor .ad A:hover {   TEXT-
DECORATION: underline  }  #ygrp-sponsor .ad P {   MARGIN: 0px  }  o 
{   FONT-SIZE: 0px  }  .MsoNormal {   MARGIN: 0px  }  #ygrp-text TT 
{   FONT-SIZE: 120%  }  BLOCKQUOTE {   MARGIN: 0px 0px 0px 
4px  }  .replbq {     }    
> 
>        
> ---------------------------------
> Get the Yahoo! toolbar and be alerted to new email wherever you're 
surfing. 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke