baguslah,
  kita memang perlu berlatih dengan mereka
  paling tidak kita menemukan sparing partner yang baik
  untuk berlatih berdiskusi melalui media
  untuk menumbuhkan budaya dialog yang santun
  untuk menumbuhkan logika berpikir yang logis
  untuk menumbuhkan analisis yang kuat
   
  ayo
   
  semangat semangat semangat
   
  salam
  
Jamaluddin Mohammad <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Ini baru polemik lewat media massa. Kalau sudah kuat HTI siap 
ber-jihad lawan NU.


Mokhamad_Nur <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Wah kayaknya perdebatan ideologi transnasional ga akan selesai. Karena
kelihatannya kalangan HTI juga mulai sikap pertahanan.
Ada yang berpendapat?
Maaf kalau masalah ini berlanjut.... Supaya kita, nahliyin, bisa lebih
"tegar" ;)

Ini adalah petikan dari Jawa Pos, Mei 2007

M.Nur
Dept. of Food Tech. Unibraw
Malang

Moqshid Memprovokasi Konflik

Oleh
Muhammad Ismail Yusanto
juru bicara Hizbut Tahrir Indonesia

Esai yang ditulis Moqshid Ghazali di rubrik kajian (4/5/2007) banyak
mengandung klaim dan penyesatan. Oleh karena itu, tulisan tersebut
harus ditanggapi dan diluruskan.

Pertama, penggunaan istilah "Islam transnasional" yang dialamatkan
kepada sejumlah kelompok disertai dengan melekatkan tuduhan-tuduhan
tertentu yang tidak pernah bisa diverifikasi kebenarannya. Artinya,
hal itu menimbulkan generalisasi penyesatan.

Seperti kasus perebutan masjid dan menghujat kebiasaan
amaliah-ritualistik warga NU, yang tidak jelas di mana kasusnya, oleh
siapa, kapan, dan bagaimana kejadiannya?

Tetapi, ketika pertanyaan-pertanyaan itu tidak pernah dijawab, karena
memang tidak bisa diverifikasi, tiba-tiba fitnah tersebut sudah
tersebar ke mana-mana. Celakanya, "Islam transnasional" yang dijadikan
kambing hitam fitnah jahat itu. Celakanya lagi, fitnah itu terus
diulang-ulang, seolah-olah memang benar.

Padahal, tidak pernah ada klarifikasi. Jika fitnah seperti itu
diteruskan, justru itulah yang akan memicu konflik horizontal di
tengah umat. Apakah memang itu yang menjadi tujuannya?

Kalau memang benar begitu, lalu siapakah yang paling bertanggung jawab
jika terjadi konflik horizontal akibat fitnah seperti itu? Karena itu,
menurut saya, klaim dan penyesatan seperti itu harus segera dihentikan.

Kedua, istilah "Islam transnasional" lawan dari "Islam nasional" atau
"Islam keindonesiaan" itu sendiri sebenarnya tidak ada. Sebab, Islam
hanya satu. Sumber Islam juga satu, yaitu Nabi Muhammad SAW, yang
ternyata bukan orang Indonesia.

Islam juga bukan agama asli Indonesia, tetapi dibawa masuk dari Arab
ke Indonesia. Karena memang Islam bukan hanya agama orang Arab, tetapi
juga agama semua bangsa, baik Arab maupun non-Arab ('ajam).

Karena itu, tidak ada Islam Arab atau Islam Indonesia. Maka, klaim
seperti ini justru bertentangan dengan nash Alquran, wamaa arsalnaka
illa kaffat[an] li an-nas (Kami tidak mengutusmu [dengan membawa
ajaran Islam], kecuali untuk seluruh manusia) (Qs 34: 28).

Kalau memang Islam bukan agama transnasional, tentu tidak ada ibadah
yang dilakukan lintas negara, seperti haji, umrah, dan jihad. Kalau
Islam bukan agama transnasional, pasti praktik ibadah kaum muslim di
Indonesia berbeda dengan kaum muslim di Saudi, Iran, Iraq, Kuwait, dan
sebagainya. Tapi, nyatanya tidak. Maka, semuanya itu membuktikan bahwa
Islam adalah agama transnasional. Jadi, "Islam transnasional" ini bisa
menyesatkan.

Ketiga, jika mencermati uraian Moqshid, seolah-olah NU menolak
formalisasi syariah. Terlebih, ketika formalisasi itu dihubungkan
dengan ancaman bubarnya Indonesia. Ini tentu menyesatkan.

Dan, penyesatan seperti itu pernah dijawab oleh Ketua PB NU KH A.
Wahid Hasyim sendiri, "Pernyataan bahwa pemerintahan Islam tidak akan
dapat memelihara persatuan bangsa, dan akan menjauhkan Irian menurut
pandangan hukum Islam, adalah merupakan perbuatan munkar yang tidak
dibenarkan syariat Islam, dan wajib tiap-tiap orang muslim menyatakan
inkar atau tidak menyetujui.." untuk merespons pidato Soekarno
(27/1/1953) di Amuntai, yang menuduh kalau Islam digunakan untuk
memerintah negara, maka banyak daerah akan lepas.

Bukan hanya itu, AD/ART NU juga menyatakan komitmen NU, "Menegakkan
syariat Islam menurut haluan Aswaja (Ahlu Sunnah wal Jama'ah)."
Sementara syariat Islam menurut Aswaja itu bukan hanya 'ubudiyah
(ritual), tetapi juga munakahat, mu'amalat, jinayat, jihad, termasuk
ahkam sulthaniyyah.

Keempat, perjuangan khilafah akan bertubrukan dengan sikap para kiai
NU. Saya kira ini juga klaim yang menyesatkan. Sebab, kitab-kitab yang
membahas wajibnya mengangkat khilafah (imamah) juga dibahas di pesantren.

Pendapat ini juga bukan hanya pendapat Hizbut Tahrir, tetapi pendapat
seluruh ulama kaum muslim. Sebut saja kitab al-Hushun al-Hamidiyah,
yang menjadi buku wajib di pesantren, juga kitab al-Ahkam as-Sulthaniyyah.

Jadi, tuduhan Moqshid itu jelas mengada-ada. Kecuali kalau dia memang
berniat menubruk-nubrukkan para kiai dengan kelompok lain, termasuk
Hizbut Tahrir. Wallahu a'lam.

---------------------------------
Building a website is a piece of cake. 
Yahoo! Small Business gives you all the tools to get online.

[Non-text portions of this message have been removed]



         

       
---------------------------------
Shape Yahoo! in your own image.  Join our Network Research Panel today!

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke