Salamualaikum Bos..

Pandangan sekilas saya, anda kayaknya dekontruktif alias anti kemapanan dan 
kestabilan, kalau bahasa Indramayu mah "tukang ngurak-ngurak" sebagaimana 
pemahaman anda bahwa semua pandangan fiqih adalah nisbi. 

Menurut saya fiqih itu valid atau menurut bahasa fiqih, "sedikit" Qot'i. Jika 
tidak valid, maka shalat kita gonta-ganti donk tata cara dan aturannya. Membaca 
Al-Fatihah  dalam memulai shalat adalah rukun shalat, kemudian jika anda 
menjadikannya sekeder sunnah, jadi bagaimana. Rubah lagi cara shalat.. dan 
seterusnya.

Saya lebih berpatokan pada bahwa fiqih Ibadah adalah Qot'i. Lah barangkali yang 
nisbi itu fiqih siyasah. Maklum politik itu abu-abu, kadang putih, kadang 
hitam. Malah bisa juga hitam putih.

Ibn Taimiyah jelas Ahlu Sunnah, wong dia lebih condong pada naql daripada aql. 
Nah.. barangkali mengenai sikap tidak hormat dan tolerannya terhadap Syiah, itu 
lebih dipengaruhi oleh mainstrem politik dia. Ya begitulah politik, kalau sudah 
menjadi lawan politiknya, bener atau salah. ya jadinya salah.

Jangan asal ngomong kalau Ahlu Sunnah itu produk dari Muawiyah... mohon 
tunjukkan rujukannya dari kitab-kitab sirah, seperti Al-Umam Wal Muluk punya 
At-Thabari, Al-Ibar punya Ibnu Khaldun, ataupun Thabaqat punya Ibn Sa'ad. 

Murtadla Mutahhari adalah orang hebat.. so pasti.. Cuma sayang kehebatan 
kalangan syiah disponsori oleh penerbit MIZAN, semua pemikir Iran dari yang 
ecek-ecek sampai yang kaliber internasional, semuanya dilambungkan, dikenalkan, 
dan "dipaksa dihebatkan" oleh MIZAN, seperti Soruoush, maklum MIZAN kan 
disponsori oleh pihak yang lagi puyeng mikiran isu nuklirnya saat ini. 


   
Suprayadi
Wong Dermayu




Anis Masduki <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Salam,

Mas, saya pikir semua padangan fikih itu sangat nisbi. Kalangan yang
berbeda pendapat semua mempunyai rujukan teks maupun rasio yang mampu
diuji kebenarannya saat itu. Karena semua tokoh madzhab itu
kepiawaiannya tidak main-main, termasuk Ibn Taymiah. Tidak ada yang
bisa menyangkal kecerdasan dan sumbangsihnya bagi pemikiran hukum
Islam.

Ibn Taymiah mau digolongkan Ahlussunnah atau tidak tetap tidak akan
mengurangi wibawa tokoh ini. Seperti semua kritik yang ditujukan
kepada Imam Syafi'i akhir-akhir ini seputar metodologi penyimpulan
hukumnya tidak akan mengurangi kharisma Imam Syafi'i. Dan memang
tidak dimaksudkan untuk itu. Semua pakar hukum Islam klasik mengakui
kenisbiannya, temporeritas metodologinya, termasuk Imam Syafi'i saya
pikir.

Oya, dan jika Ibn Taymiah sering dikatakan anti ziarah kubur apa ya
benar klaim itu? Adakah rujukan teksnya? ;)

Saya tidak mbelain Ibn Taymiah atau siapa, saling membela yang ujung-
ujungnya hanya fanatisme itu sudah kuno. Apalagi sudah banyak
sejawaran yang sudah sampai pada sebuah kesimpulan bahwa Ahulussunnah
tidak lebih dari produk politik, atau minimal sangat bau politik
Muawiyah. Sedangkan Syiah juga tidak beda, mereka orang-orang yang
dipinggirkan secara politik oleh Ahlussunnah.

Jadi jika kita mendukung Ahlussunnah dan dalam satu waktu mengumpati
Syiah secara tidak sadar kita sedang menyokong Muawiyyah yang lalim
itu. Jujur, jika kita memang mau kembali kepada Ahlussunnah yang
sebenar-benarnya, semua golongan Islam yang berpijak pada Quran dan
Hadits termasuk dalam kategori ini termasuk Mu'tazilah!!

Wah, kalau kita anggap Ahlussuunnah hanya monopoli sekte tertentu,
orang-orang hebat seperti Ibn Sina, Farabi (?) dan lain sebagainya
akan tidak termasuk kategori golongan ini. Bagaimana sekarang
Murtadla Mutahhari, Ali Khumaini yang hebat-hebat itu? :)


Salam,
am









--- In [email protected], suprayadi kay  wrote:
>
> salamualaikum.
>
> Kalau menurut saya mah..
> Ibnu Taimiyah itu ya Ahlu Sunnah, cuma barangkali perbedaannya
adalah apa sih yang dimaksud dengan ahlu sunnah.
>
> Kalau definisinya Ahlu Sunnah adalah orang yang berpegang pada
sunnah. Maka ya jelas dong ibnu taimiyah masuk dalam kategori ahlu
sunnah. ya nggak?
>
> Meskipun sekarang kalangan PKS, kalau ditanya madzhabnya apa? pasti
serempak jawabnya: madzhab salafi, bukan ahlu sunnah.
>
> Jadi Ahlu sunnah bukan?
>
>
> Kupretist  wrote:
http://arabic.islamicweb.com/Books/taimiya.asp?book=365
>    Disamping ketidakjujurannya dalam mengutip rujukan, bagaimana
bahasa Ibnu Taymiyah yang kasar, ketika berdialog dengan lawan-nya.
saya rasa tidak pantas seorang ulama memakai bahasa yang kasar.
(seperti najis, keledai dll). Jangankan kepada sesama muslim,
terhadap orang kafir-pun jika dakwah kita seperti itu siapa yang akan
mendengarkan dakwah kita. bukankah di al-Qur'an kita dianjurkan agar
berdakwah dengan lemah lembut dan ahklak yang baik? mungkin ayat ini
terlalaikan oleh mereka!
>    pantesan pengikut Syekh Ibnu Taymiyah mewarisi bahasa yang kasar
ini
>    Siapa Bilang Ibnu Taimiyah Ahlusunah? (Bag-I)
>    Ali bin Abi Thalib adalah satu sosok sahabat terkemuka
Rasulullah saw. Terlampau banyak keutamaan yang disematkan pada diri
Ali, baik melalui wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah, maupun
melalui hadis yang secara langsung disampaikan oleh Rasul. Keutamaan
Ali dapat dilihat dari banyak sudut pandang. Dilihat dari proses
kelahiran[2] hingga kesyahidannya.[3] Dari kedekatannya dengan
Rasulullah, hingga kecerdasannya dalam menyerap semua ilmu yang
diajarkan oleh Rasul kepadanya. Dari situlah akhirnya ia mendapat
banyak kepercayaan dari Rasul dalam melaksanakan beberapa tugas-tugas
ritual maupun sosial keagamaan.
>    Dengan menilik berbagai keutamaan Ali[4], maka sudah menjadi
kesepakatan kaum muslimin bahwa Ali bin Abi Thalib adalah salah satu
khalifah pasca Rasulullah.[5] Walaupun terdapat perbedaan pendapat
antara Ahlussunah dan Syiah tentang urutan kekhilafahan pasca Rasul,
tetapi yang jelas mereka sepakat bahwa Ali termasuk salah satu
jajaran khalifah Rasul. Tentu, kecintaan terhadap Ali bukan hanya
dominasi Syiah. Kaum Ahlusunah pun meyakini keutamaan Ali sebagai
Sahabat dan khalifah pasca Rasul.
>    Pada tulisan ringkas ini akan dibahas perihal pendapat Ibnu
Taimiyah tentang keutamaan Ali, yang berlanjut pada pendapatnya
tentang kekhalifahan beliau.
>    Kelemahan Ali di Mata Ibnu Timiyah:
>    Di sini akan disebutkan beberapa pendapat Ibnu Taimiyah dalam
melihat kekurangan pada pribadi Ali:
>    Disebutkan dalam kitab Minhaj as-Sunnah karya Ibnu Taimiyah,
bahwa Ibnu Taimiyah meremehkan kemampuan Ali bin Abi Thalib dalam
permasalahan fikih (hukum agama). Ia mengatakan: "Ali memiliki banyak
fatwa yang bertentangan dengan teks-teks agama (nash)". Bahkan Ibnu
Taimiyah dalam rangka menguatkan pendapatnya tersebut, ia tidak segan-
segan untuk mengatasnamakan beberapa ulama Ahlusunnah yang
disangkanya dapat sesuai dengan pernyataannya itu. Lantas dia
mengatakan: "As-Syafi'i dan Muhammad bin Nasr al-Maruzi telah
mengumpulkan dalam satu kitab besar berkaitan dengan hukum yang
dipegang oleh kaum muslimin yang tidak diambil dari ungkapan Ali. Hal
itu dikarenakan ungkapan sahabat-sahabat selainnya (Ali), lebih
sesuai dengan al-Kitab (al-Quran) dan as-Sunnah"[6].
>    Berkenaan dengan ungkapan Ibnu Taimiyah yang menyatakan bahwa
banyak ungkapan Ali yang bertentangan dengan nash (teks agama), hal
itu sangatlah mengherankan, betapa tidak? Apakah mungkin orang yang
disebut-sebut sebagai `syeikh Islam' seperti Ibnu Taimiyah tidak
mengetahui banyaknya hadis dan ungkapan para salaf saleh yang
disebutkan dalam kitab-kitab standar Ahlusunnah sendiri perihal
keutamaan Ali dari berbagai sisinya, termasuk sisi keilmuannya. Jika
benar bahwa ia tidak tahu, maka layakkah gelar syeikh Islam tadi
baginya? Padahal hadis-hadis tentang keutamaan Ali sebegitu banyak
jumlahnya. Jika ia tahu, tetapi tetap bersikeras untuk menentangnya-
padahal keutamaan Ali banyak tercantum dalam kitab-kitab standar
Ahlusunnah yang memiliki sanad hadis yang begitu kuat sehingga tidak
lagi dapat diingkarinya- maka terserah Anda untuk menyikapinya!
Lantas, apa kira-kira maksud dibalik pengingkaran tersebut? Karena
kebodohan Ibnu Taimiyah? Ataukah karena kebencian Ibnu Taimiyah
>   atas Ali? Ataukah karena kedua-duanya? Bukankah Ali termasuk
salah satu Ahlul Bait Nabi,[7] dimana sudah menjadi kesepakatan
antara Sunnah-Syiah bahwa pembenci Ahlul-Bait Nabi dapat
dikategorikan Nashibi atau Nawashib? Lantas manakah bukti bahwa Ibnu
Taimiyah adalah pribadi yang getol menghidupkan kembali ajaran salaf
saleh, sedang ungkapannya banyak bertentangan dengan ungkapan salaf
saleh?
>    Sebagai contoh dapat disebutkan beberapa hadis yang membahas
tentang keilmuan Ali sesuai dengan pengakuan para salaf saleh yang
diakui sebagai panutan oleh Ibnu Taimiyah:
>    Sabda Rasulullah saw: "Telah kunikahkan engkau –wahai Fathimah-
dengan sebaik-baik umatku yang paling tinggi dari sisi keilmuan dan
paling utama dari sisi kebijakan…".[8]
>    1. Sabda Rasulullah saw: "Ali adalah gerbang ilmuku dan penjelas
bagi umatku atas segala hal yang karenanya aku diutus setelahku".[9]
>    2. Sabda Rasulullah saw: "Hikmah (pengetahuan) terbagi menjadi
sepuluh bagian, maka dianugerahkan kepada Ali sembilan bagian, sedang
segenap manusia satu bagian (saja)".[10]
>    3. Berkata ummulmukminin Aisyah: "Ali adalah pribadi yang paling
mengetahui dari semua orang tentang as-Sunnah".[11]
>    4. Berkata Umar bin Khattab: "Ya Allah, jangan Engkau biarkan
aku dalam kesulitan tanpa putera Abi Thalib (di sisiku)".[12]
>    5. Berkata Ibnu Abbas: "Demi Allah, telah dianugerahkan kepada
Ali sembilan dari sepuluh bagian ilmu. Dan demi Allah, ia (Ali) telah
ikut andil dari satu bagian yang kalian miliki".[13] Dalam nukilan
kitab lain ia berkata: "Tidaklah ilmuku dan ilmu para sahabat
Muhammad saw sebanding dengan ilmu Ali, sebagaimana setetes air
dibanding tujuh samudera".[14]
>    6. Berkata Ibnu Mas'ud: "Sesungguhnya al-Quran turun dalam tujuh
huruf. Tiada satupun dari huruf-huruf tadi kecuali didalamnya
terdapat zahir dan batin. Dan sesungguhnya Ali bin Abi Thalib
memiliki ilmu tentang zahir dan batin tersebut".[15]
>    7. Berkata `Adi bin Hatim: "Demi Allah, jika dilihat dari sisi
pengetahuan terhadap al-Quran dan as-Sunnah, maka dia –yaitu Ali-
adalah pribadi yang paling mengetahui tentang dua hal tadi. Jika dari
sisi keislamannya, maka ia adalah saudara Rasul dan memiliki
senioritas dalam keislaman. Jika dari sisi kezuhudan dan ibadah, maka
ia adalah pribadi yang paling nampak zuhud dan paling baik ibadahnya".
[16]
>    8. Berkata al-Hasan: "Telah meninggalkan kalian, pribadi yang
kemarin tiada satupun dari pribadi terdahulu dan akan datang yang
bisa mengalahi keilmuannya".[17]
>   Dan masih banyak lagi hadis-hadis pengakuan Nabi beserta para
sahabatnya yang menyatakan akan keluasan ilmu Ali dalam kitab-kitab
standar Ahlusunnah.
>    Adapun tentang ungkapan Ibnu Taimiyah yang menukil pendapat
orang lain perihal Ali tersebut merupakan kebohongan atas pribadi
yang dinukil tadi. Karena maksud al-Maruzi yang menulis karya besar
tadi, ialah dalam rangka mengumpulkan fatwa-fatwa Abu Hanifah –
pendiri mazhab Hanafi- yang bertentangan dengan pendapat sahabat Ali
dan Ibnu Mas'ud. Jadi topik utama pembahasan kitab tersebut adalah
fatwa Abu Hanifah dan ungkapan sahabat, yang dalam hal ini berkaitan
dengan Ali dan Ibnu Mas'ud. Tampak, betapa terburu-burunya Ibnu
Taimiyah dalam membidik Ali dengan menukil pendapat orang lain, tanpa
membaca lebih lanjut dan teliti tujuan penulisan buku tersebut. Ini
merupakan salah satu contoh pengkhianatan Ibnu Taimiyah atas beberapa
pemuka Ahlussunah.
>    Dalam kitab yang sama, Ibnu Taimiyah ternyata bukan hanya
meragukan akan kemampuan Ali dari sisi keilmuan, bahkan ia juga
mengingkari banyak hal yang berkaitan dengan keutamaan Ali.[18] Di
sini akan disebutkan beberapa contoh ungkapan Ibnu Taimiyah perihal
masalah tersebut:
>    1. Kebencian terhadap Ali: "Ungkapan yang menyatakan bahwa
membenci Ali merupakan kekufuran, adalah sesuatu yang tidak diketahui
(asalnya)".[19]
>    2. Pengingkaran hadis Rasul: "Hadis ana madinatul ilmi (Aku
adalah kota ilmu…) adalah tergolong hadis yang dibikin (maudhu')".[20]
>    3. Kemampuan Ali dalam memutuskan hukum: "Hadis "aqdhakum Ali"
(paling baik dalam pemberian hukum diantara kalian adalah Ali) belum
dapat ditetapkan (kebenarannya)".[21]
>    4. Keilmuan Ali: "Pernyataan bahwa Ibnu Abbas adalah murid Ali,
merupakan ungkapan batil".[22] Sehingga dari pengingkaran itu ia
kembali mengatakan: "Yang lebih terkenal adalah bahwa Ali telah
belajar dari Abu Bakar".[23]
>    5. Keadilan Ali: "Sebagian umatnya mengingkari keadilannya. Para
kelompok Khawarij pun akhirnya mengkafirkannya. Sedang selain
Khawarij, baik dari keluarganya maupun selain keluarganya mengatakan:
ia tidak melakukan keadilan. Para pengikut Usman mengatakan: ia
tergolong orang yang menzalimi Usman…secara global, tidak tampak
keadilan pada diri Ali, padahal ia memiliki banyak tanggungjawab
dalam penyebarannya, sebagaimana yang pernah terlihat pada (masa)
Umar, dan tidak sedikitpun mendekati (apa yang telah dicapai oleh
Umar)".[24]
>    Dari pengingkaran-pengingkaran tersebut akhirnya Ibnu Taimiyah
menyatakan: "Adapun Ali, banyak pihak dari pendahulu tidak mengikuti
dan membaiatnya. Dan banyak dari sahabat dan tabi'in yang
memeranginya".[25]
>    Bisa dilihat, betapa Ibnu Taimiyah telah memiliki kesinisan
tersendiri atas pribadi Ali sehingga membuat mata hatinya buta dan
tidak lagi melihat hakikat kebenaran, walaupun hal itu bersumber dari
syeikh yang menjadi panutannya, Ahmad bin Hambal. Padahal, imam Ahmad
bin Hambal -sebagai pendiri mazhab Ahlul-Hadis yang diakui sebagai
panutan Ibnu Taimiyah dari berbagai ajaran dan metode mazhabnya- juga
beberapa imam ahli hadis lain –seperti Ismail al-Qodhi, an-Nasa'i,
Abu Ali an-Naisaburi- telah mengatakan: "Tiada datang dengan
menggunakan sanad yang terbaik berkaitan dengan pribadi satu sahabat
pun, kecuali yang terbanyak berkaitan dengan pribadi Ali. Ali tetap
bersama kebenaran, dan kebenaran bersamanya sebagaimana ia berada".
[26]
>    Dalam masalah kekhilafahan Ali, Ibnu Taimiyah pun dalam beberapa
hal meragukan, dan bahkan melecehkannya. Di sini dapat disebutkan
contoh dari ungkapan Ibnu Taimiyah tentang kekhalifahan Ali:
>    1. "Kekhilafahan Ali tidak menjadi rahmat bagi segenap kaum
mukmin, tidak seperti (yang terjadi pada) kekhilafahan Abu Bakar dan
Umar".[27]
>    2. "Ali berperang (bertujuan) untuk ditaati dan untuk menguasai
atas umat, juga (karena) harta. Lantas, bagaimana mungkin ia (Ali)
menjadikan dasar peperangan tersebut untuk agama? Sedangkan jika ia
menghendaki kemuliaan di dunia dan kerusakan (fasad), niscaya tiada
akan menjadi pribadi yang mendapat kemuliaan di akherat".[28]
>    3. "Adapun peperangan Jamal dan Shiffin telah dinyatakan bahwa,
tiada nash dari Rasul.[29] Semua itu hanya didasari oleh pendapat
pribadi. Sedangkan mayoritas sahabat tidak menyepakati peperangan
itu. Peperangan itu, tidak lebih merupakan peperangan fitnah atas
takwil. Peperangan itu tidak masuk kategori jihad yang diwajibkan,
ataupun yang disunahkah. Peperangan yang menyebabkan terbunuhnya
banyak pribadi muslim, para penegak shalat, pembayar zakar dan
pelaksana puasa".[30]
>    Untuk menjawab pernyataan Ibnu Taimiyah tadi, cukuplah dinukil
pernyataan beberapa ulama Ahlusunnah saja, guna mempersingkat
pembahasan.
>    Al-Manawi dalam kitab Faidh al-Qadir dalam menukil ungkapan al-
Jurjani dan al-Qurthubi menyatakan: "Dalam kitab al-Imamah, al-
Jurjani mengatakan: "Telah sepakat (ijma') ulama ahli fikih (faqih)
Hijaz dan Iraq, baik dari kelompok ahli hadis maupun ahli ra'yi
semisal imam Malik, Syafi'i, Abu Hanifah dan Auza'i dan mayoritas
para teolog (mutakallim) dan kaum muslimin, bahwa Ali dapat
dibenarkan dalam peperangannya melawan pasukan (musuhnya dalam)
perang jamal. Dan musuhnya (Ali) dapat dikelompokkan sebagai para
penentang yang zalim". Kemudian dalam menukil ungkapan al-Qurthubi,
dia mengatakan: "Telah menjadi kejelasan bagi ulama Islam berdasar
argumen-argumen agama, bahwa Ali adalah imam. Oleh karenanya, setiap
pribadi yang keluar dari (kepemimpinan)-nya, niscaya dihukumi sebagai
penentang yang berarti memeranginya adalah suatu kewajiban hingga
mereka kembali kepada kebenaran, atau tertolong dengan melakukan
perdamaian".[31]
>    Rujukan:
>    [2] Dalam kitab Mustadrak as-Shohihain Jil:3 Hal:483 karya Hakim
an-Naisaburi atau kitab Nuur al-Abshar Hal:69 karya as-Syablanji
disebutkan, bahwa Ali adalah satu-satunya orang yang dilahirkan dalam
Baitullah Ka'bah. Maryam ketika hendak melahirkan Isa al-Masih, ia
diperintahkan oleh Allah untuk menjauhi tempat ibadah, sedang Fatimah
binti Asad ketika hendak melahirkan Ali, justru diperintahkan masuk
ke tempat ibadah, Baitullah Ka'bah. Ini merupakan bukti, bahwa Ali
memiliki kemuliaan tersendiri di mata Allah. Oleh karenanya, dalam
hadis yang dinukil oleh Ibnu Atsir dalam kitab Usud al-Ghabah Jil:4
Hal:31 dinyatakan, Rasul bersabda: "Engkau (Ali) sebagaimana Ka'bah,
didatangi dan tidak mendatangi".
>    [3] Pembunuh Ali, Abdurrahman bin Muljam al-Muradi, dalam banyak
kitab disebutkan sebagai paling celakanya manusia di muka bumi. Lihat
kitab-kitab semisal Thobaqoot Jil:3 Hal:21 karya Ibnu Sa'ad, Tarikh
al-Baghdadi Jil:1 Hal:135, Usud al-Ghabah Jil:4 Hal:24 karya Ibnu
Atsir, Qoshos al-Ambiya' Hal:100 karya ats-Tsa'labi.
>    [4] Dalam kitab Fathul-Bari disebutkan bahwa pribadi-pribadi
seperti imam Ahmad bin Hambal, imam Nasa'i, imam an-Naisaburi dan
sebagainya mengakui bahwa hadis-hadis tentang keutamaan Ali lebih
banyak dibanding dengan keutamaan para sahabat lainnya.
>    [5] Lihat Tarikh at-Tabari Jil:2 Hal:62
>    [6] Minhaj as-Sunnah Jil:8 Hal:281, karya Ibnu Taimiyah al-
Harrani
>    [7] Lihat Shohih Muslim Kitab: Fadho'il as-Shohabah Bab:Fadhoil
Ahlul Bait an-Nabi, Shohih at-Turmudzi Jil:2 Hal:209/319, Tafsir ad-
Dur al-Mantsur karya as-Suyuthi dalam menafsirakan surat 33:33 Jil:5
Hal:198-199, Musnad Ahmad bin Hambal Jil:1 Hal:330 atau Jil:6
Hal:292, Usud al-Ghabah karya Ibnu al-Atsir Jil:2 Hal:20 atau Jil:3
Hal:413, Tarikh al-Baghdadi Jil:10 Hal:278…dsb
>    [8] Jamii' al-Jawami' Jil:6 Hal:398, karya as-Suyuthi
>    [9] Kanz al-Ummal Jil:6 Hal:156, karya al-Muttaqi al-Hindi
>    [10] Hilliyah al-Auliya' Jil:1 Hal:65, karya Abu Na'im al-
Ishbahani
>    [11] al-Istii'ab Jil:3 Hal:40, karya al-Qurthubi, atau Tarikh al-
Khulafa' Hal:115 karya as-Suyuthi
>    [12] Tadzkirah al-Khawash Hal:87, karya Sibth Ibn al-Jauzi
>    [13] al-Istii'ab Jil:3 Hal:40
>    [14] Al-Ishobah Jil:2 Hal:509, karya Ibnu Hajar al-Asqolani,
atau Hilliyah al-Auliya' Jil:1 Hal:65
>    [15] Miftah as-Sa'adah, Jil:1 Hal:400
>    [16] Siar A'lam an-Nubala' (khulafa') Hal:239, karya adz-Dzahabi
>    [17] Al-Bidayah wa an-Nihayah Jil:7 Hal:332
>    [18] Minhaj as-Sunnah Jil:7 Hal:511 & 461
>    [19] Ibid Jil:8 Hal:97
>    [20] Ibid Jil:7 Hal:515
>    [21] Ibid Jil:7 Hal:512
>    [22] Ibid Jil:7 Hal: 535
>    [23] Ibid Jil:5 Hal:513
>    [24] Ibid Jil:6 Hal:18
>    [25] Ibid Jil:8 Hal:234
>    [26] Dinukil dari Fathul Bari Jil:7 Hal:89 karya Ibnu Hajar al-
Asqolani, Tarikh Ibnu Asakir Jil:3 Hal:83, Siar A'lam an-Nubala' (al-
Khulafa') Hal:239
>    [27] Minhaj as-Sunnah Jil:4 Hal:485
>    [28] Ibid Jil:8 Hal:329 atau Jil:4 Hal:500
>    [29] Pernyataan aneh yang terlontar dari Ibnu Taimiyah. Apakah
dia tidak pernah menelaah hadis yang tercantum dalam kitab Mustadrak
as-Shahihain Jil:3 Hal:139 dimana Abu Ayub berkata pada waktu
kekhilafahan Umar bin Khatab dengan ungkapan; "Rasulullah telah
memerintahkan Ali bin Abi Thalib untuk memerangi kaum Nakitsin
(Jamal), Qosithin (Shiffin) dan Mariqin (Nahrawan)". Begitu pula yang
tercantum dalam kitabTarikh al-Baghdadi Jil:8 Hal:340, Usud al-Ghabah
karya Ibnu Atsir Jil:4 Hal:32, Majma' az-Zawa'id karya al-Haitsami
Jil:9 Hal:235, ad-Dur al-Mantsur karya as-Suyuthi dalam menafsirkan
ayat ke-41 dari surat az-Zukhruf, dsb? Ataukah Ibnu Taimiyah sudah
tidak percaya lagi kepada para sahabat yang merawikan hadis tersebut?
Bukankah ia telah terlanjur menyatakan bahwa sahabat adalah Salaf
Saleh yang ajarannya hendak ia tegakkan?
>    [30] Ibid Jil:6 Hal:356
>    [31] Faidh al-Qodir Jil:6 Hal:336
>    Siapa Bilang Ibnu Taimiyah Ahlusunah? (Bag-II)
>    Jelas bahwa pernyataan Ibnu Taimiyah dengan mengatasnamakan
salaf saleh tidaklah memiliki dasar sedikitpun, apalagi jika ia
mengatasnamakan para imam mazhab Ahlusunnah. Lantas, bagaimana
mungkin pribadi seperti Ibnu Taimiyah dapat mewakili pemikiran
Ahlusunnah, padahal begitu banyak pandangan ulama Ahlusunnah sediri
yang secara jelas bertentangan dengan pendapat Ibnu Taimiyah? Lebih-
lebih pendapat Ibnu Taimiyah tadi hanya sebatas pengakuan saja, tanpa
memberikan argumen maupun rujukan yang jelas, baik yang berkaitan
dengan hadis (Rasul saw), maupun ungkapan para salaf saleh (dari
sahabat, tabi'in dan tabi' tabi'in) termasuk nukilan pendapat para
imam mazhab empat secara cermat, apalagi bukti ayat al-Quran.
>    Yang lebih parah lagi, setelah ia meragukan semua keutamaan Ali
bin Abi Thalib, dari seluruh ungkapannya tersebut, akhirnya ia pun
meragukan Ali sebagai khalifah. Hal itu merupakan konsekuensi dari
semua pernyataan yang pernah ia lontarkan sebelumnya. Mengingat,
dalam banyak kesempatan Ibnu Taimiyah selalu meragukan kemampuan Ali
dalam memimpin umat. Oleh karenanya, dalam banyak kesempatan pula ia
menyebarkan keragu-keraguan atas kekhalifahan Ali. Tentu saja, metode
yang dipakainya dalam masalah inipun sama sebagaimana yang ia
terapkan sebelumnya -seperti yang telah disinggung di atas, yaitu;
dengan cara menukil beberapa pendapat yang sangat tidak mendasar, dan
tidak jujur sembari mengajukan pendapat pribadinya sebagai pendapat
tokoh-tokoh salaf saleh.
>    Berikut ini adalah beberapa contoh dari ungkapan Ibnu Taimiyah
dalam masalah tersebut:
>    1. "Diriwayatkan dari Syafi'i dan pribadi-pribadi selainnya,
bahwa khalifah ada tiga; Abu Bakar, Umar dan Usman".[32]
>    2. "Manusia telah bingung dalam masalah kekhilafan Ali (karena
itu mereka berpecah atas) beberapa pendapat; Sebagian berpendapat

=== message truncated ===

       
---------------------------------
Ready for the edge of your seat? Check out tonight's top picks on Yahoo! TV. 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke