Salamualaikum Bos.. Pandangan sekilas saya, anda kayaknya dekontruktif alias anti kemapanan dan kestabilan, kalau bahasa Indramayu mah "tukang ngurak-ngurak" sebagaimana pemahaman anda bahwa semua pandangan fiqih adalah nisbi.
Menurut saya fiqih itu valid atau menurut bahasa fiqih, "sedikit" Qot'i. Jika tidak valid, maka shalat kita gonta-ganti donk tata cara dan aturannya. Membaca Al-Fatihah dalam memulai shalat adalah rukun shalat, kemudian jika anda menjadikannya sekeder sunnah, jadi bagaimana. Rubah lagi cara shalat.. dan seterusnya. Saya lebih berpatokan pada bahwa fiqih Ibadah adalah Qot'i. Lah barangkali yang nisbi itu fiqih siyasah. Maklum politik itu abu-abu, kadang putih, kadang hitam. Malah bisa juga hitam putih. Ibn Taimiyah jelas Ahlu Sunnah, wong dia lebih condong pada naql daripada aql. Nah.. barangkali mengenai sikap tidak hormat dan tolerannya terhadap Syiah, itu lebih dipengaruhi oleh mainstrem politik dia. Ya begitulah politik, kalau sudah menjadi lawan politiknya, bener atau salah. ya jadinya salah. Jangan asal ngomong kalau Ahlu Sunnah itu produk dari Muawiyah... mohon tunjukkan rujukannya dari kitab-kitab sirah, seperti Al-Umam Wal Muluk punya At-Thabari, Al-Ibar punya Ibnu Khaldun, ataupun Thabaqat punya Ibn Sa'ad. Murtadla Mutahhari adalah orang hebat.. so pasti.. Cuma sayang kehebatan kalangan syiah disponsori oleh penerbit MIZAN, semua pemikir Iran dari yang ecek-ecek sampai yang kaliber internasional, semuanya dilambungkan, dikenalkan, dan "dipaksa dihebatkan" oleh MIZAN, seperti Soruoush, maklum MIZAN kan disponsori oleh pihak yang lagi puyeng mikiran isu nuklirnya saat ini. Suprayadi Wong Dermayu Anis Masduki <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Salam, Mas, saya pikir semua padangan fikih itu sangat nisbi. Kalangan yang berbeda pendapat semua mempunyai rujukan teks maupun rasio yang mampu diuji kebenarannya saat itu. Karena semua tokoh madzhab itu kepiawaiannya tidak main-main, termasuk Ibn Taymiah. Tidak ada yang bisa menyangkal kecerdasan dan sumbangsihnya bagi pemikiran hukum Islam. Ibn Taymiah mau digolongkan Ahlussunnah atau tidak tetap tidak akan mengurangi wibawa tokoh ini. Seperti semua kritik yang ditujukan kepada Imam Syafi'i akhir-akhir ini seputar metodologi penyimpulan hukumnya tidak akan mengurangi kharisma Imam Syafi'i. Dan memang tidak dimaksudkan untuk itu. Semua pakar hukum Islam klasik mengakui kenisbiannya, temporeritas metodologinya, termasuk Imam Syafi'i saya pikir. Oya, dan jika Ibn Taymiah sering dikatakan anti ziarah kubur apa ya benar klaim itu? Adakah rujukan teksnya? ;) Saya tidak mbelain Ibn Taymiah atau siapa, saling membela yang ujung- ujungnya hanya fanatisme itu sudah kuno. Apalagi sudah banyak sejawaran yang sudah sampai pada sebuah kesimpulan bahwa Ahulussunnah tidak lebih dari produk politik, atau minimal sangat bau politik Muawiyah. Sedangkan Syiah juga tidak beda, mereka orang-orang yang dipinggirkan secara politik oleh Ahlussunnah. Jadi jika kita mendukung Ahlussunnah dan dalam satu waktu mengumpati Syiah secara tidak sadar kita sedang menyokong Muawiyyah yang lalim itu. Jujur, jika kita memang mau kembali kepada Ahlussunnah yang sebenar-benarnya, semua golongan Islam yang berpijak pada Quran dan Hadits termasuk dalam kategori ini termasuk Mu'tazilah!! Wah, kalau kita anggap Ahlussuunnah hanya monopoli sekte tertentu, orang-orang hebat seperti Ibn Sina, Farabi (?) dan lain sebagainya akan tidak termasuk kategori golongan ini. Bagaimana sekarang Murtadla Mutahhari, Ali Khumaini yang hebat-hebat itu? :) Salam, am --- In [email protected], suprayadi kay wrote: > > salamualaikum. > > Kalau menurut saya mah.. > Ibnu Taimiyah itu ya Ahlu Sunnah, cuma barangkali perbedaannya adalah apa sih yang dimaksud dengan ahlu sunnah. > > Kalau definisinya Ahlu Sunnah adalah orang yang berpegang pada sunnah. Maka ya jelas dong ibnu taimiyah masuk dalam kategori ahlu sunnah. ya nggak? > > Meskipun sekarang kalangan PKS, kalau ditanya madzhabnya apa? pasti serempak jawabnya: madzhab salafi, bukan ahlu sunnah. > > Jadi Ahlu sunnah bukan? > > > Kupretist wrote: http://arabic.islamicweb.com/Books/taimiya.asp?book=365 > Disamping ketidakjujurannya dalam mengutip rujukan, bagaimana bahasa Ibnu Taymiyah yang kasar, ketika berdialog dengan lawan-nya. saya rasa tidak pantas seorang ulama memakai bahasa yang kasar. (seperti najis, keledai dll). Jangankan kepada sesama muslim, terhadap orang kafir-pun jika dakwah kita seperti itu siapa yang akan mendengarkan dakwah kita. bukankah di al-Qur'an kita dianjurkan agar berdakwah dengan lemah lembut dan ahklak yang baik? mungkin ayat ini terlalaikan oleh mereka! > pantesan pengikut Syekh Ibnu Taymiyah mewarisi bahasa yang kasar ini > Siapa Bilang Ibnu Taimiyah Ahlusunah? (Bag-I) > Ali bin Abi Thalib adalah satu sosok sahabat terkemuka Rasulullah saw. Terlampau banyak keutamaan yang disematkan pada diri Ali, baik melalui wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah, maupun melalui hadis yang secara langsung disampaikan oleh Rasul. Keutamaan Ali dapat dilihat dari banyak sudut pandang. Dilihat dari proses kelahiran[2] hingga kesyahidannya.[3] Dari kedekatannya dengan Rasulullah, hingga kecerdasannya dalam menyerap semua ilmu yang diajarkan oleh Rasul kepadanya. Dari situlah akhirnya ia mendapat banyak kepercayaan dari Rasul dalam melaksanakan beberapa tugas-tugas ritual maupun sosial keagamaan. > Dengan menilik berbagai keutamaan Ali[4], maka sudah menjadi kesepakatan kaum muslimin bahwa Ali bin Abi Thalib adalah salah satu khalifah pasca Rasulullah.[5] Walaupun terdapat perbedaan pendapat antara Ahlussunah dan Syiah tentang urutan kekhilafahan pasca Rasul, tetapi yang jelas mereka sepakat bahwa Ali termasuk salah satu jajaran khalifah Rasul. Tentu, kecintaan terhadap Ali bukan hanya dominasi Syiah. Kaum Ahlusunah pun meyakini keutamaan Ali sebagai Sahabat dan khalifah pasca Rasul. > Pada tulisan ringkas ini akan dibahas perihal pendapat Ibnu Taimiyah tentang keutamaan Ali, yang berlanjut pada pendapatnya tentang kekhalifahan beliau. > Kelemahan Ali di Mata Ibnu Timiyah: > Di sini akan disebutkan beberapa pendapat Ibnu Taimiyah dalam melihat kekurangan pada pribadi Ali: > Disebutkan dalam kitab Minhaj as-Sunnah karya Ibnu Taimiyah, bahwa Ibnu Taimiyah meremehkan kemampuan Ali bin Abi Thalib dalam permasalahan fikih (hukum agama). Ia mengatakan: "Ali memiliki banyak fatwa yang bertentangan dengan teks-teks agama (nash)". Bahkan Ibnu Taimiyah dalam rangka menguatkan pendapatnya tersebut, ia tidak segan- segan untuk mengatasnamakan beberapa ulama Ahlusunnah yang disangkanya dapat sesuai dengan pernyataannya itu. Lantas dia mengatakan: "As-Syafi'i dan Muhammad bin Nasr al-Maruzi telah mengumpulkan dalam satu kitab besar berkaitan dengan hukum yang dipegang oleh kaum muslimin yang tidak diambil dari ungkapan Ali. Hal itu dikarenakan ungkapan sahabat-sahabat selainnya (Ali), lebih sesuai dengan al-Kitab (al-Quran) dan as-Sunnah"[6]. > Berkenaan dengan ungkapan Ibnu Taimiyah yang menyatakan bahwa banyak ungkapan Ali yang bertentangan dengan nash (teks agama), hal itu sangatlah mengherankan, betapa tidak? Apakah mungkin orang yang disebut-sebut sebagai `syeikh Islam' seperti Ibnu Taimiyah tidak mengetahui banyaknya hadis dan ungkapan para salaf saleh yang disebutkan dalam kitab-kitab standar Ahlusunnah sendiri perihal keutamaan Ali dari berbagai sisinya, termasuk sisi keilmuannya. Jika benar bahwa ia tidak tahu, maka layakkah gelar syeikh Islam tadi baginya? Padahal hadis-hadis tentang keutamaan Ali sebegitu banyak jumlahnya. Jika ia tahu, tetapi tetap bersikeras untuk menentangnya- padahal keutamaan Ali banyak tercantum dalam kitab-kitab standar Ahlusunnah yang memiliki sanad hadis yang begitu kuat sehingga tidak lagi dapat diingkarinya- maka terserah Anda untuk menyikapinya! Lantas, apa kira-kira maksud dibalik pengingkaran tersebut? Karena kebodohan Ibnu Taimiyah? Ataukah karena kebencian Ibnu Taimiyah > atas Ali? Ataukah karena kedua-duanya? Bukankah Ali termasuk salah satu Ahlul Bait Nabi,[7] dimana sudah menjadi kesepakatan antara Sunnah-Syiah bahwa pembenci Ahlul-Bait Nabi dapat dikategorikan Nashibi atau Nawashib? Lantas manakah bukti bahwa Ibnu Taimiyah adalah pribadi yang getol menghidupkan kembali ajaran salaf saleh, sedang ungkapannya banyak bertentangan dengan ungkapan salaf saleh? > Sebagai contoh dapat disebutkan beberapa hadis yang membahas tentang keilmuan Ali sesuai dengan pengakuan para salaf saleh yang diakui sebagai panutan oleh Ibnu Taimiyah: > Sabda Rasulullah saw: "Telah kunikahkan engkau wahai Fathimah- dengan sebaik-baik umatku yang paling tinggi dari sisi keilmuan dan paling utama dari sisi kebijakan ".[8] > 1. Sabda Rasulullah saw: "Ali adalah gerbang ilmuku dan penjelas bagi umatku atas segala hal yang karenanya aku diutus setelahku".[9] > 2. Sabda Rasulullah saw: "Hikmah (pengetahuan) terbagi menjadi sepuluh bagian, maka dianugerahkan kepada Ali sembilan bagian, sedang segenap manusia satu bagian (saja)".[10] > 3. Berkata ummulmukminin Aisyah: "Ali adalah pribadi yang paling mengetahui dari semua orang tentang as-Sunnah".[11] > 4. Berkata Umar bin Khattab: "Ya Allah, jangan Engkau biarkan aku dalam kesulitan tanpa putera Abi Thalib (di sisiku)".[12] > 5. Berkata Ibnu Abbas: "Demi Allah, telah dianugerahkan kepada Ali sembilan dari sepuluh bagian ilmu. Dan demi Allah, ia (Ali) telah ikut andil dari satu bagian yang kalian miliki".[13] Dalam nukilan kitab lain ia berkata: "Tidaklah ilmuku dan ilmu para sahabat Muhammad saw sebanding dengan ilmu Ali, sebagaimana setetes air dibanding tujuh samudera".[14] > 6. Berkata Ibnu Mas'ud: "Sesungguhnya al-Quran turun dalam tujuh huruf. Tiada satupun dari huruf-huruf tadi kecuali didalamnya terdapat zahir dan batin. Dan sesungguhnya Ali bin Abi Thalib memiliki ilmu tentang zahir dan batin tersebut".[15] > 7. Berkata `Adi bin Hatim: "Demi Allah, jika dilihat dari sisi pengetahuan terhadap al-Quran dan as-Sunnah, maka dia yaitu Ali- adalah pribadi yang paling mengetahui tentang dua hal tadi. Jika dari sisi keislamannya, maka ia adalah saudara Rasul dan memiliki senioritas dalam keislaman. Jika dari sisi kezuhudan dan ibadah, maka ia adalah pribadi yang paling nampak zuhud dan paling baik ibadahnya". [16] > 8. Berkata al-Hasan: "Telah meninggalkan kalian, pribadi yang kemarin tiada satupun dari pribadi terdahulu dan akan datang yang bisa mengalahi keilmuannya".[17] > Dan masih banyak lagi hadis-hadis pengakuan Nabi beserta para sahabatnya yang menyatakan akan keluasan ilmu Ali dalam kitab-kitab standar Ahlusunnah. > Adapun tentang ungkapan Ibnu Taimiyah yang menukil pendapat orang lain perihal Ali tersebut merupakan kebohongan atas pribadi yang dinukil tadi. Karena maksud al-Maruzi yang menulis karya besar tadi, ialah dalam rangka mengumpulkan fatwa-fatwa Abu Hanifah pendiri mazhab Hanafi- yang bertentangan dengan pendapat sahabat Ali dan Ibnu Mas'ud. Jadi topik utama pembahasan kitab tersebut adalah fatwa Abu Hanifah dan ungkapan sahabat, yang dalam hal ini berkaitan dengan Ali dan Ibnu Mas'ud. Tampak, betapa terburu-burunya Ibnu Taimiyah dalam membidik Ali dengan menukil pendapat orang lain, tanpa membaca lebih lanjut dan teliti tujuan penulisan buku tersebut. Ini merupakan salah satu contoh pengkhianatan Ibnu Taimiyah atas beberapa pemuka Ahlussunah. > Dalam kitab yang sama, Ibnu Taimiyah ternyata bukan hanya meragukan akan kemampuan Ali dari sisi keilmuan, bahkan ia juga mengingkari banyak hal yang berkaitan dengan keutamaan Ali.[18] Di sini akan disebutkan beberapa contoh ungkapan Ibnu Taimiyah perihal masalah tersebut: > 1. Kebencian terhadap Ali: "Ungkapan yang menyatakan bahwa membenci Ali merupakan kekufuran, adalah sesuatu yang tidak diketahui (asalnya)".[19] > 2. Pengingkaran hadis Rasul: "Hadis ana madinatul ilmi (Aku adalah kota ilmu ) adalah tergolong hadis yang dibikin (maudhu')".[20] > 3. Kemampuan Ali dalam memutuskan hukum: "Hadis "aqdhakum Ali" (paling baik dalam pemberian hukum diantara kalian adalah Ali) belum dapat ditetapkan (kebenarannya)".[21] > 4. Keilmuan Ali: "Pernyataan bahwa Ibnu Abbas adalah murid Ali, merupakan ungkapan batil".[22] Sehingga dari pengingkaran itu ia kembali mengatakan: "Yang lebih terkenal adalah bahwa Ali telah belajar dari Abu Bakar".[23] > 5. Keadilan Ali: "Sebagian umatnya mengingkari keadilannya. Para kelompok Khawarij pun akhirnya mengkafirkannya. Sedang selain Khawarij, baik dari keluarganya maupun selain keluarganya mengatakan: ia tidak melakukan keadilan. Para pengikut Usman mengatakan: ia tergolong orang yang menzalimi Usman secara global, tidak tampak keadilan pada diri Ali, padahal ia memiliki banyak tanggungjawab dalam penyebarannya, sebagaimana yang pernah terlihat pada (masa) Umar, dan tidak sedikitpun mendekati (apa yang telah dicapai oleh Umar)".[24] > Dari pengingkaran-pengingkaran tersebut akhirnya Ibnu Taimiyah menyatakan: "Adapun Ali, banyak pihak dari pendahulu tidak mengikuti dan membaiatnya. Dan banyak dari sahabat dan tabi'in yang memeranginya".[25] > Bisa dilihat, betapa Ibnu Taimiyah telah memiliki kesinisan tersendiri atas pribadi Ali sehingga membuat mata hatinya buta dan tidak lagi melihat hakikat kebenaran, walaupun hal itu bersumber dari syeikh yang menjadi panutannya, Ahmad bin Hambal. Padahal, imam Ahmad bin Hambal -sebagai pendiri mazhab Ahlul-Hadis yang diakui sebagai panutan Ibnu Taimiyah dari berbagai ajaran dan metode mazhabnya- juga beberapa imam ahli hadis lain seperti Ismail al-Qodhi, an-Nasa'i, Abu Ali an-Naisaburi- telah mengatakan: "Tiada datang dengan menggunakan sanad yang terbaik berkaitan dengan pribadi satu sahabat pun, kecuali yang terbanyak berkaitan dengan pribadi Ali. Ali tetap bersama kebenaran, dan kebenaran bersamanya sebagaimana ia berada". [26] > Dalam masalah kekhilafahan Ali, Ibnu Taimiyah pun dalam beberapa hal meragukan, dan bahkan melecehkannya. Di sini dapat disebutkan contoh dari ungkapan Ibnu Taimiyah tentang kekhalifahan Ali: > 1. "Kekhilafahan Ali tidak menjadi rahmat bagi segenap kaum mukmin, tidak seperti (yang terjadi pada) kekhilafahan Abu Bakar dan Umar".[27] > 2. "Ali berperang (bertujuan) untuk ditaati dan untuk menguasai atas umat, juga (karena) harta. Lantas, bagaimana mungkin ia (Ali) menjadikan dasar peperangan tersebut untuk agama? Sedangkan jika ia menghendaki kemuliaan di dunia dan kerusakan (fasad), niscaya tiada akan menjadi pribadi yang mendapat kemuliaan di akherat".[28] > 3. "Adapun peperangan Jamal dan Shiffin telah dinyatakan bahwa, tiada nash dari Rasul.[29] Semua itu hanya didasari oleh pendapat pribadi. Sedangkan mayoritas sahabat tidak menyepakati peperangan itu. Peperangan itu, tidak lebih merupakan peperangan fitnah atas takwil. Peperangan itu tidak masuk kategori jihad yang diwajibkan, ataupun yang disunahkah. Peperangan yang menyebabkan terbunuhnya banyak pribadi muslim, para penegak shalat, pembayar zakar dan pelaksana puasa".[30] > Untuk menjawab pernyataan Ibnu Taimiyah tadi, cukuplah dinukil pernyataan beberapa ulama Ahlusunnah saja, guna mempersingkat pembahasan. > Al-Manawi dalam kitab Faidh al-Qadir dalam menukil ungkapan al- Jurjani dan al-Qurthubi menyatakan: "Dalam kitab al-Imamah, al- Jurjani mengatakan: "Telah sepakat (ijma') ulama ahli fikih (faqih) Hijaz dan Iraq, baik dari kelompok ahli hadis maupun ahli ra'yi semisal imam Malik, Syafi'i, Abu Hanifah dan Auza'i dan mayoritas para teolog (mutakallim) dan kaum muslimin, bahwa Ali dapat dibenarkan dalam peperangannya melawan pasukan (musuhnya dalam) perang jamal. Dan musuhnya (Ali) dapat dikelompokkan sebagai para penentang yang zalim". Kemudian dalam menukil ungkapan al-Qurthubi, dia mengatakan: "Telah menjadi kejelasan bagi ulama Islam berdasar argumen-argumen agama, bahwa Ali adalah imam. Oleh karenanya, setiap pribadi yang keluar dari (kepemimpinan)-nya, niscaya dihukumi sebagai penentang yang berarti memeranginya adalah suatu kewajiban hingga mereka kembali kepada kebenaran, atau tertolong dengan melakukan perdamaian".[31] > Rujukan: > [2] Dalam kitab Mustadrak as-Shohihain Jil:3 Hal:483 karya Hakim an-Naisaburi atau kitab Nuur al-Abshar Hal:69 karya as-Syablanji disebutkan, bahwa Ali adalah satu-satunya orang yang dilahirkan dalam Baitullah Ka'bah. Maryam ketika hendak melahirkan Isa al-Masih, ia diperintahkan oleh Allah untuk menjauhi tempat ibadah, sedang Fatimah binti Asad ketika hendak melahirkan Ali, justru diperintahkan masuk ke tempat ibadah, Baitullah Ka'bah. Ini merupakan bukti, bahwa Ali memiliki kemuliaan tersendiri di mata Allah. Oleh karenanya, dalam hadis yang dinukil oleh Ibnu Atsir dalam kitab Usud al-Ghabah Jil:4 Hal:31 dinyatakan, Rasul bersabda: "Engkau (Ali) sebagaimana Ka'bah, didatangi dan tidak mendatangi". > [3] Pembunuh Ali, Abdurrahman bin Muljam al-Muradi, dalam banyak kitab disebutkan sebagai paling celakanya manusia di muka bumi. Lihat kitab-kitab semisal Thobaqoot Jil:3 Hal:21 karya Ibnu Sa'ad, Tarikh al-Baghdadi Jil:1 Hal:135, Usud al-Ghabah Jil:4 Hal:24 karya Ibnu Atsir, Qoshos al-Ambiya' Hal:100 karya ats-Tsa'labi. > [4] Dalam kitab Fathul-Bari disebutkan bahwa pribadi-pribadi seperti imam Ahmad bin Hambal, imam Nasa'i, imam an-Naisaburi dan sebagainya mengakui bahwa hadis-hadis tentang keutamaan Ali lebih banyak dibanding dengan keutamaan para sahabat lainnya. > [5] Lihat Tarikh at-Tabari Jil:2 Hal:62 > [6] Minhaj as-Sunnah Jil:8 Hal:281, karya Ibnu Taimiyah al- Harrani > [7] Lihat Shohih Muslim Kitab: Fadho'il as-Shohabah Bab:Fadhoil Ahlul Bait an-Nabi, Shohih at-Turmudzi Jil:2 Hal:209/319, Tafsir ad- Dur al-Mantsur karya as-Suyuthi dalam menafsirakan surat 33:33 Jil:5 Hal:198-199, Musnad Ahmad bin Hambal Jil:1 Hal:330 atau Jil:6 Hal:292, Usud al-Ghabah karya Ibnu al-Atsir Jil:2 Hal:20 atau Jil:3 Hal:413, Tarikh al-Baghdadi Jil:10 Hal:278 dsb > [8] Jamii' al-Jawami' Jil:6 Hal:398, karya as-Suyuthi > [9] Kanz al-Ummal Jil:6 Hal:156, karya al-Muttaqi al-Hindi > [10] Hilliyah al-Auliya' Jil:1 Hal:65, karya Abu Na'im al- Ishbahani > [11] al-Istii'ab Jil:3 Hal:40, karya al-Qurthubi, atau Tarikh al- Khulafa' Hal:115 karya as-Suyuthi > [12] Tadzkirah al-Khawash Hal:87, karya Sibth Ibn al-Jauzi > [13] al-Istii'ab Jil:3 Hal:40 > [14] Al-Ishobah Jil:2 Hal:509, karya Ibnu Hajar al-Asqolani, atau Hilliyah al-Auliya' Jil:1 Hal:65 > [15] Miftah as-Sa'adah, Jil:1 Hal:400 > [16] Siar A'lam an-Nubala' (khulafa') Hal:239, karya adz-Dzahabi > [17] Al-Bidayah wa an-Nihayah Jil:7 Hal:332 > [18] Minhaj as-Sunnah Jil:7 Hal:511 & 461 > [19] Ibid Jil:8 Hal:97 > [20] Ibid Jil:7 Hal:515 > [21] Ibid Jil:7 Hal:512 > [22] Ibid Jil:7 Hal: 535 > [23] Ibid Jil:5 Hal:513 > [24] Ibid Jil:6 Hal:18 > [25] Ibid Jil:8 Hal:234 > [26] Dinukil dari Fathul Bari Jil:7 Hal:89 karya Ibnu Hajar al- Asqolani, Tarikh Ibnu Asakir Jil:3 Hal:83, Siar A'lam an-Nubala' (al- Khulafa') Hal:239 > [27] Minhaj as-Sunnah Jil:4 Hal:485 > [28] Ibid Jil:8 Hal:329 atau Jil:4 Hal:500 > [29] Pernyataan aneh yang terlontar dari Ibnu Taimiyah. Apakah dia tidak pernah menelaah hadis yang tercantum dalam kitab Mustadrak as-Shahihain Jil:3 Hal:139 dimana Abu Ayub berkata pada waktu kekhilafahan Umar bin Khatab dengan ungkapan; "Rasulullah telah memerintahkan Ali bin Abi Thalib untuk memerangi kaum Nakitsin (Jamal), Qosithin (Shiffin) dan Mariqin (Nahrawan)". Begitu pula yang tercantum dalam kitabTarikh al-Baghdadi Jil:8 Hal:340, Usud al-Ghabah karya Ibnu Atsir Jil:4 Hal:32, Majma' az-Zawa'id karya al-Haitsami Jil:9 Hal:235, ad-Dur al-Mantsur karya as-Suyuthi dalam menafsirkan ayat ke-41 dari surat az-Zukhruf, dsb? Ataukah Ibnu Taimiyah sudah tidak percaya lagi kepada para sahabat yang merawikan hadis tersebut? Bukankah ia telah terlanjur menyatakan bahwa sahabat adalah Salaf Saleh yang ajarannya hendak ia tegakkan? > [30] Ibid Jil:6 Hal:356 > [31] Faidh al-Qodir Jil:6 Hal:336 > Siapa Bilang Ibnu Taimiyah Ahlusunah? (Bag-II) > Jelas bahwa pernyataan Ibnu Taimiyah dengan mengatasnamakan salaf saleh tidaklah memiliki dasar sedikitpun, apalagi jika ia mengatasnamakan para imam mazhab Ahlusunnah. Lantas, bagaimana mungkin pribadi seperti Ibnu Taimiyah dapat mewakili pemikiran Ahlusunnah, padahal begitu banyak pandangan ulama Ahlusunnah sediri yang secara jelas bertentangan dengan pendapat Ibnu Taimiyah? Lebih- lebih pendapat Ibnu Taimiyah tadi hanya sebatas pengakuan saja, tanpa memberikan argumen maupun rujukan yang jelas, baik yang berkaitan dengan hadis (Rasul saw), maupun ungkapan para salaf saleh (dari sahabat, tabi'in dan tabi' tabi'in) termasuk nukilan pendapat para imam mazhab empat secara cermat, apalagi bukti ayat al-Quran. > Yang lebih parah lagi, setelah ia meragukan semua keutamaan Ali bin Abi Thalib, dari seluruh ungkapannya tersebut, akhirnya ia pun meragukan Ali sebagai khalifah. Hal itu merupakan konsekuensi dari semua pernyataan yang pernah ia lontarkan sebelumnya. Mengingat, dalam banyak kesempatan Ibnu Taimiyah selalu meragukan kemampuan Ali dalam memimpin umat. Oleh karenanya, dalam banyak kesempatan pula ia menyebarkan keragu-keraguan atas kekhalifahan Ali. Tentu saja, metode yang dipakainya dalam masalah inipun sama sebagaimana yang ia terapkan sebelumnya -seperti yang telah disinggung di atas, yaitu; dengan cara menukil beberapa pendapat yang sangat tidak mendasar, dan tidak jujur sembari mengajukan pendapat pribadinya sebagai pendapat tokoh-tokoh salaf saleh. > Berikut ini adalah beberapa contoh dari ungkapan Ibnu Taimiyah dalam masalah tersebut: > 1. "Diriwayatkan dari Syafi'i dan pribadi-pribadi selainnya, bahwa khalifah ada tiga; Abu Bakar, Umar dan Usman".[32] > 2. "Manusia telah bingung dalam masalah kekhilafan Ali (karena itu mereka berpecah atas) beberapa pendapat; Sebagian berpendapat === message truncated === --------------------------------- Ready for the edge of your seat? Check out tonight's top picks on Yahoo! TV. [Non-text portions of this message have been removed]
