kalau kita membaca artikel dibawah ini
apa yang harus kita lakukan?
  menurut saya nih:
  1. inventarisasi karya-karya para kiai.
2. Proses terjemahkan karya-karya kiai. 
   karena biasanya karya beliau ditulis dalam 
   bahasa arab atau arab pego.
3. Biasanya kalau sudah bisa menterjemahkan,
   maka akan terjadi proses pengembangan.
4. Mengembangkan budaya santri menulis di pondok 
   pesantren, jadi bukan kiainya saja yang 
   hobi menulis, santrinya pun diajak untuk 
   mulai belajar menulis.
5. Untuk Alumni Timur Tengah, memang pada awalnya
   orang harus belajar menterjemahkan, tetapi
   pada tataran berikutnya akan bisa mencipta
   karya sendiri dan itu adalah suatu proses
   pembelajaran yang wajar.
   
  salam
  
Jumat, 24 Nopember 2006
> 
> Menghidupkan Tradisi Menulis di Kalangan Kiai 
> 
> Ahmad Faqih
> Koordinator Majlis Tarbiyah Watta'lim Pesantren
> Mahasiswa Al Aqobah Jombang
> 
> Tak seperti dipahami orang awam yang kadang
> membatasi kiai sekadar sebagai agamawan, mereka
> ternyata juga penulis andal dan bahkan mampu
> melahirkan karya-karya yang monumental. Tidak hanya
> tentang agama, tapi juga mahir menulis tentang
> sastra, anekdot, cerita dan persoalan-persoalan
> sosial budaya.
> 
> Jangan tanya soal shalawat dan madaih nabawiyah
> (pujian kepada nabi), mereka gudangnya. Dari
> Qashidah Al Burdah karya Al Bushiri yang sangat
> imajinatif dan puitis, hingga beraneka prosa dan
> puisi maulid, terutama karya Ja'far Al Barzanji.
> Malah ada karya genuine yang mereka gubah sendiri,
> seperti Shalawat Badar karya Kiai Ali Mansur Tuban
> yang amat populer dan menjadi shalawat wajib bagi
> kaum sarungan.
> 
> Tentu saja tak boleh dilewatkan karya berupa
> tembang, cerita, dan enekdot yang juga banyak
> ditulis oleh para kiai. Siapa yang tak kenal dengan
> syair 'Tombo Ati' yang amat populer itu. Begitu
> populernya karya ini nyaris jadi bacaan wajib di
> surau-surau di pedalaman jawa. Belum lagi lir-ilir
> gubahan Sunan Kalijogo yang tak kalah kesohor.
> 
> Belakangan, tidak sedikit para kiai yang biasa
> berceramah menyusun sendiri tembang Jawa yang
> dirangkaikan bacaan shalawat dan digunakan sebagai
> selingan dalam pengajian. Soal cerita dan anekdot,
> Kiai Bisri Musthofa mungkin biangnya. Ayah Kiai
> Mustofa Bisri ini mengumpulkan banyak sekali anekdot
> dalam buku berjudul Kasykul. Kiai Abdurrahman Ar
> Roisi juga menerbitkan belasan jilid kumpulan cerita
> yang diberi judul '30 Kisah Teladan'.
> 
> Keakraban dengan bahasa Arab, menyebabkan karya
> intelektual yang lahir dari tangan para kiai tak
> lepas dari rumpun bahasa semit ini. Dari sebelas
> judul karya Kiai Hasyim Asy'ari yang pernah saya
> baca, misalnya, hanya empat buah yang menggunakan
> bahasa Jawa bertulisan Arab Pego. Sisanya berbahasa
> Arab. Gus Ishom, Cucu Kiai Hasyim, menggubah doa
> sebelum belajar dalam bentuk 12 nadzam (sajak
> berirama) berbahasa Arab yang wajib dibaca santri
> Pondok Pesantren (Ponpes) Tebuireng Jombang.
> 
> Menantu Kiai Siddiq, yaitu Kiai Abdul Hamid
> Pasuruan, tak kalah kreatif. Ia mensyairkan Sullam
> At Taufiq --sebuah kitab fikih sufistik yang
> bercorak ghozalian dan menjadi maistream pemahaman
> Islam Sunni Indonesia-- dalam 553 bait. Selain itu,
> ia juga menyairkan 99 nama Allah yang dikenal dengan
> Al Asma' Al Husna. Masih banyak lagi contoh lain
> yang bila diungkap satu per satu, akan membuat
> tulisan ini jadi terlalu panjang. 
> 
> Makelar budaya
> Di sini, terbaca jelas bahwa para kiai terdahulu tak
> cuma agamawan, melainkan juga penulis handal di
> bidang sastra, budaya dan lainnya sehingga kiai
> dahulu juga disebut budayawan dan sastrawan. Tidak
> berlebihan jika Eric Wolf menyebut peran kiai
> sebagai cultural broker alias makelar budaya yang
> menjembatani perubahan akibat pengaruh luar terhadap
> dunia pesantren dan komunitas Muslim tradisional
> yang relatif tertutup.
> 
> Selain lewat pendidikan gaya pesantren, peran itu
> mereka implementasikan melaui proses kreatif di
> jalur budaya. Kiai dahulu memiliki apresiasi yang
> tinggi terhadap budaya serta mampu melahirkan
> karya-karya bermutu. Tradisi menulis seolah menjadi
> rutinitas sehari-hari setelah mengajar santri. Tiada
> hari tanpa mengajar dan menulis, mungkin itu motto
> hidup kiai di masa lalu.
> Tapi, sayangnya tradisi menulis dan kerja-kerja
> budaya kiai telah hilang dan tidak diwarisi oleh
> kiai-kiai sekarang. Apalagi, beberapa tahun
> belakangan, terlalu banyak aktivitas di luar yang
> mereka geluti, terutama di kancah politik. Sebagian
> besar potensi dan energi terkuras di medan perebutan
> kekuasaan. Proses kreatif yang dulu mampu
> menghasilkan karya-karya monumental tak ada lagi,
> sehingga tradisi menulis kiai mandek atau bahkan
> telah mati.
> 
> Kenyataan tersebut memunculkan ironi. Banyak kiai
> yang beralih profesi dari cultural broker menjadi
> political broker alias makelar politik yang
> ujung-ujungnya duit. Padahal, kekuasaan dan uang
> seringkali melenyapkan akal budi, menumpulkan hati
> nurani dan pada akhirnya menghentikan proses kreatif
> kiai.
> 
> Sebuah ironi
> Maka, tak mengherankan bila pesantren belakangan ini
> cenderung kering dari sentuhan buku atau tulisan,
> karena para kiai dan ustadz tidak lagi produktif
> menulis buku. Memang ada beberapa nama yang pantas
> disebut, tapi jumlahnya bisa dihitung dengan jari,
> jauh dibanding jumlah kiai yang jadi politisi.
> 
> Kini tak banyak lagi kiai atau gus yang memiliki
> malakah (naluri berekpresi), apalagi ikhtira' untuk
> menciptakan karya. Bahkan tingkat apresiasi mereka
> terhadap tradisi menulis bisa dibilang sangat
> rendah. Ini merupakan sebuah ironi, karena bila
> dibandingkan dengan generasi kiai terdahulu, mereka
> yang belajar di Timur Tengah kini jauh lebih banyak.
> Tapi intensitas menulis dan melahirkan karya tulis
> sangat kurang. Alumni Timur Tengah saat ini agaknya
> lebih suka menerjemahkan buku-buku berbahasa Arab ke
> bahasa Indonesia ketimbang melahirkan karya genuine.
> 
> Mungkin para kiai kini telah lupa, atau boleh jadi
> memang tak tahu akan ungkapan yang begitu populer
> dari mantan Presiden AS, John F Kennedy, "jika
> politik mengotori, maka buku mencucinya". Pergeseran
> kecenderungan kiai dari menulis buku ke politik ini
> merupakan kenyataan pahit yang patut disesali. 
   

       
---------------------------------
Ready for the edge of your seat? Check out tonight's top picks on Yahoo! TV. 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke