Dear All, Ini ada satu tanggapan lagi atas tulisan Yudi Latif dalam jurnal Reform Review itu. Mohon maaf bagi yang tak berkenan. Luthfi
---------- Forwarded message ---------- From: muna panggabean <[EMAIL PROTECTED]> Date: Jun 11, 2007 7:13 AM Subject: <JIL> catatan atas catatan yudi latif To: [EMAIL PROTECTED] Saya terkesima pada sebuah kekenesan. itulah ingatan paling mudah yang saya dapat sewaktu menengok rekaman-ulang atas apa yang saya alami di 5 menit pertama pembacaan tulisan yudi latif. betapa tidak. alinea pertama tulisan yudi latif, mau-tidak-mau, menempatkan saya di bangku-taman taman ismail marzuki, untuk menikmati pembacaan puisi putri saya, talita, yang begitu yakin bahwa puisi karyanya sudah mampu menantang rendra. ya, putri saya itu sangat rajin berlatih menulis. setiap hari dia berupaya menghadirkan metaphor-metaphor baru: kadang menarik, kadang ngawur. karenanya, saya menduga bahwa setiap kali dia berhasil memukau saya dengan metaphor baru maka itu cuma sebuah kebetulan semata. ya, itu juga yang terjadi dengan yudi latif. apa yang bisa kita maknakan dan harapkan dari kutipan berikut ini: =============Bersama keruntuhan 'galaksi politik' Orde Baru, bulan sabit baru muncul memancarkan bias sinar yang rekah. Seperti bersimbur dari bekaman sang waktu, kebebasan ruang publik melepas dahaga ekspresi dalam kegaduhan euforia. Daur sejarah pun kembali menampilkan normalitas heteroglossia artikulasi politik Islam Indonesia=========== saya pusing karena berupaya keras membayangkan galaksi akan runtuh, seolah galaksi memiliki pijakan, atau fondasi, yang, karenanya, membuatnya berkemungkinan runtuh. rontok, barangkali, adalah sebutan yang lebih cocok. lalu, jika galaxi hancur, bulan-sabit mana yang muncul? bukankah bulan adalah bagian dari galaksi? lalu, tengoklah kutipan berikut ini: =====Bersamaan dengan polarisasi eksternal dan fragmentasi internal ini, satu generasi inteligensia Muslim muncul membawa diskursus dan gerakan sosial yang berifat polifonik====== polifonik adalah penyelenggaraan bunyi dalam musik yang memadukan 2 atau lebih jalinan melodi dalam sebuah harmoni yang disusun sedemikian dan dimainkan secara bersamaan, bersahutan, berkejaran, untuk memperkuat pesan dan, atau, kesan yang ingin dihadirkan. dalam polifonik terdapat kanon, kontrapung, dan lain-lain. sebanyak apapun jalinan melodi yang dihadirkan kesemuanya bertujuan menyuarakan pesan yang satu. nah, apa yang kemudian ditulis yudi dalam bagian berikutnya adalah kepelbagaian yang saling bertentangan dan tak menyatu. jelaslah, itu bukan polifonik. ada banyak lagi contoh serupa, seperti :jaringan memori kepedihan:, normalitas hetereglosia, dan lain-lain. anda akan mendiagnosis saya sebagai psycopath kelas wahid jika mendedelnya satu-per-satu. yang mau saya katakan adalah bahwa dengan menulis seperti itu yudi latif, sebetulnya, telah terlebih dahulu gemetar saat berhadapan dengan obyek tulisannya: jil. dia merasa perlu untuk tampil kenes. saya membayangkan dia berdiri di depan kelas, mengajar, memainkan alis-mata dan kernyit di dahi sebagai aksen atas kalimat-kalimatnya, sembari menggenggam kaca-mata alan-mikli, dan, lalu menggigit ujung gagangnya. saya menduga, yudi latif adalah pribadi yang membosankan. perhatikan kalimat pembuka dari 3 alinea pertamanya. ===Bersama keruntuhan 'galaksi politik'.... ===Digosok oleh peluang politik...... ===Di bawah terpaan globalisasi.... semuanya pasive. yudi tidak berani langsung berdiri tegak dan berkata tegas. sekali lagi, dia memang kadung gemetar. celakanya, ae priyono tak segera melihat ini untuk menolong yudi menampilkan diri seutuhnya. catatan berikutnya, yudi sejak semula telah menempatkan jil sebagai :mereka: (lihatlah penggunaan kata :mereka: yang bertebaran di sekujur tulisan sebagai pengganti jil). yudi dengan terang-terangan telah mengajak pembaca untuk berpihak padanya dan menjauhi, bahkan, meninggalkan jil. sekarang, mari kita telaah bagian isi. inilah bagian yang membuat saya sungguh-sungguh meragukan keseriusan, atau, barangkali, netralitas ioanes rakhmat. saya tidak sama-sekali mengejek ioanes, tapi, mengomentari kecakapannya. apa yang ditulis yudi sebetulnya adalah soal sekularisme: apakah agama perlu dibekam di ruang privat, atau dibiarkan berkembang di ranah publik dengan negara sebagai penata dan pengawasnya. yudi, bahkan, di beberapa bagian cenderung menggoda pemerintah republik indonesia untuk memberikan privilege tertentu kepada islam, sebagaimana inggris dan italia melakukannya untuk kristen. yudi memberi sejumlah alasan, dan, saya tidak melihat satupun ketidakwajaran di sana, terlepas apakah saya setuju atau tidak dengannya. yudi, dengan cukup cerdas, mengajak agama memainkan peranan yang lebih luas dalam ruang publik sebagai perwujudan tanggungjawab ekonomi, sosial, dan budaya. karenanya, hemat saya, yudi harus mengeksplorasi wilayah permasalahan ini sedalam-dalamnya, dan, lalu menyodorkan beberapa contoh dari varian yang terdapat di sana. tentu saja, yudi berkewajiban untuk mampu menyodor lebih dari sekedar jil sebagai contoh bagi aliran fundamentalisme liberal. jika tidak, yudi harus memberi bukti kuat bahwa jil adalah cuma satu-satunya organisasi yang tersedia sebagai contoh. tapi, apa yang terjadi? entah kenapa, dari sejak awal yudi sudah berucap terus-terang bahwa dia ingin berbicara mengenai jil. sehingga, ketika dia kemudian berbicara mengenai sekularisme, atau liberal vs literal, maka dia mempercakapkannya dalam konteks jil. alangkah luar-biasa tendensiusnya! yudi memainkan sensitivitas isyu barat vs islam dengan mengetengahkan pertemuan antara liberalisme islam dan demokrasi barat sebagai penyengajaan ataupun ketertundukan, dan sama sekali abai mempertimbangkan pertemuan tersebut sebagai keniscayaan. yudi juga abai terhadap adanya kemungkinan bahwa jil, sesungguhnya, menyediakan dirinya sebagai laboratorium bagi percobaan dan pemutakhiran islam liberal, sehingga, karenanya, seluruh event yang ada di dalamnya adalah sebuah proses untuk :menjadi:. pertanyaan berikutnya, jika memang sedang membincangkan fundamentalisme literal vs fundamentalisme liberal serta kemungkinan hadirnya varian ketiga, apa perlunya yudi bercerita tentang riwayat jil, kegiatannya, serta bagaimana jil menyebarluaskan gagasannya, sembari cemberut mengadukan soal pelayanan mewah yang diberikan berbagai publikasi kepada jil? saya harus mati-matian meyakinkan diri sendiri bahwa yudi sedang menulis sebuah artikel ilimiah untuk sebuah jurnal, dan karenanya tidak sedang bergunjing tentang dasi baru penghuni rumah sebelah, ataupun mercedez baru yang masuk ke garasi mereka kemarin sore. satu-satunya butir yang masuk akal dalam konteks ini, walau bukan berarti benar, adalah saat yudi mengaitkan keberpihakan aktivis jil pada peristiwa kenaikan bbm tahun lalu sebagai konsekwensi dari fundamentalisme liberal yang, menurut yudi, memang tidak berkewajiban untuk bertanggungjawab dalam mengatasi persoalan sosial, ekonomi, dan budaya. namun, mentah-mentah membenarkan asosiasi yang dilakukan yudi membuat kita semua harus terbelalak heran jika mendapati para vegetarian menenteng barang-belanjaannya dengan kantong plastik. semua vegetarian menentang daging karena faktor kesehatan. sebagian darinya juga karena urusan spiritualitas. tapi, cuma sebagian dari keduanya yang bervegetarian karena bertujuan menjaga keberlangsungan ekosistem. lalu, apa pendapat saya tentang varian ketiga yang disodorkan yudi latif: agama publik? agama publik? agama mana dan dari aliran apa? o, masing-masing agama akan direpresentasikan oleh sebuah dirjen. apakah, dengan demikian, berarti akan ada dirjen bimas ahmadiyah? jika kemudian muncul aliran kriten baru yang berdoa dengan sapa pembuka: o, bunda yang mencipta alam-semesta: siapakah yang akan merepresentasikannya di departemen agama? siapa yang akan memastikan nilai-nilai kristen tercermin sepenuhnya dalam legislasi dan kebijakan publik? akankah dengan agama publik ini kepercayaan parmalim yang hidup di sebagian kecil masyarakat batak tidak semakin punah? yudi lupa bahwa indonesia bukan sekedar pertarungan antara islam literal dan islam liberal. di sini ada beberapa agama lain dan lebih dari sesengah gross kepercayaan. tidak hanya kepada jil, tulisannya yang tampil sebagai artikel perdana dari jurnal yang dipimpinnya sungguh-sungguh menihilkan para non-muslim. sebab, menarik vatikan dan anglican sebagai contoh (italia dan inggris) sama saja ingin mengatakan bahwa pada mulanya, di indonesia, adalah islam. bukankah ini benih tindakan subversif? namun, dalam ketersinggungan semacam itu, saya masih belum juga menemukan jawaban dari pertanyaan: kenapa yudi menaruh semua ini di atas 3 huruf: j i l. untuk mencegah munculnya pertanyaan lebih lanjut saya terpaksa hanya memberlakukan tulisan yudi sebagai sebuah catatan. dan atasnya, saya buat catatan ini. salam, muna -- http://www.assyaukanie.com [Non-text portions of this message have been removed]
