Islam, Iman, Ihsan.
Mawlana Shaykh Muhammad Hisham Kabbani ar-Rabbani
Michigan, USA 24 May 2007
 
   
  A`udzu billahi min asy-syaitaan ir-rajiim 
Bismillahi 'r-Rahmani 'r-Rahiim. Nawaytu'l-arba` iin, nawaytu'l-`itikaaf, 
nawaytu'l-khalwah, nawaytu'l-riyaadhah , nawaytu's-suluuk, nawaytu'l-`uzlah 
lillahi ta`ala fii hadza'l-masjid 
   
  Insya-Allah ...  beberapa patah kata dan kemudian dzikir. Beberapa patah 
kata, jika kau suka. Dia menanyakan sebuah perrtanyaan sebelum aku memintanya 
ketika semua orang disana. Dr. Anwar bertanya kepada Mawlana Syaikh Hisyam,  
"Berapakah umur anda ketika pertama kali bertemu dengan Shaykh Nazim?". "Berapa 
yang kau inginkan aku katakan? Menurutmu berapa?," jawab Syaikh Hisyam
 
Setiap tempat saat kau membuat niat Nawaitu Arbain..dst ini ketika kau sedang 
duduk dan mengingat Allah swt, maka ketika kalian pikir bahwa seakan-akan rumah 
itu sebuah mushalla atau sebuah masjid, maka kemudian itu akan diubah menjadi 
seperti itu, karena Allah akan mengubahnya dari sebuah rumah menjadi sebuah 
tempat beribadah. Kini tempat ini dipakai sebagai tempat ibadah, sehingga itu 
berpahala. Ketika kau shalat dalam sebuah masjid atau berjamaah kemudian kau 
diberi pahala lebih dibandingkan kau shalat seorang diri. Jadi, kini berubah 
menjadi sebuah mushalla, selama kita mempunyai niat itu maka Allah akan 
memanifestasikan tajalli-tajalli ibadah atas tempat itu.
   
  Seperti ketika Sayyida Maryam, dia bukanlah seorang Nabi tapi tempatnya 
menjadi sebuah tempat suci karena shalat dan ibadahnya. Bayangkan jika kalian 
memasukkan hati/qalbumu ke sebuah tempat ibadah, atau jika kalian memasukkan 
hati/qalbu ke sebuah mushalla. Apa yang terjadi? Kita katakan ini sebuah rumah 
dan inilah sebuat tempat yang kita datangi dan duduk dan mengingat Allah dan 
Nabi-Nya dan kita mengucap Nawaytu'l-arba` iin, nawaytu'l-`itikaaf, 
nawaytu'l-khalwah, nawaytu'l-riyaadah, nawaytu's-suluuk, nawaytu'l-`uzlah 
lillahi ta`ala fii hadza'l-masjid. "Dalam masjid ini."
   
  Pastinya tempat itu akan berubah menjadi sebuah masjid. Jika hati diubah 
menjadi sebuah masjid dengan menjadikan tempat tersebut sebagai tempat 
mengingat Allah, lalu kita akan dibawah naungan manifestasi hadist Sang Nabi, " 
maa wasi`anii sama'ii wa laa ardhi wa laakin wasi`annii qalbi `abdii al-mu'min 
–baik surga mau pun bumi tidak bisa menampung-Ku, sebagaimana Allah tidak bisa 
ditampung, kecuali hati/qalbu orang-orang yang beriman kepada-Ku." 
   
  Surga dan bumi jelaslah tidak bisa menampung Sang Pencipta. Tapi Allah 
berfirman, Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi." [An Nuur [24]:35]  
Allah swt akan menjadikan hati/qalbumu sebagai sebuah wadah yang dapat menerima 
manifestas-manifestasi ini. Seperti sebuah penerima gelombang saat ini jika 
kalian ingin membuatnya lebih ilmiah, maka Hati/qalbu akan menjadi seperti 
sebuah piringan satelit yang mengirim informasi ke penerima gelombang ( 
receiver) dan akan merekam saluran-saluran ini. 
   
  Kemudian setiap saat kalian membukanya maka saluran-saluran itu akan muncul. 
Kalian pikir jika kalian memutar hati atau qalbumu mak tidak bisa menangkap 
saluran-saluran yang beliau kirimkan. Dalam hadits qudsi dikatakan, "kalau 
saluran-saluran surgawi yang Allah swt kirimkan ke qalbu orang-orang beriman 
dapat diamati; maka kalian dapat mendengarnya, dapat melihatnya dan dapat 
merasakannya". 
   
  Tapi apa yang kalian butuhkan? Kalian membutuhkan sebuah TV. Dimanakah TV 
itu? TV adalah suatu alat dimana semua saluran ilahiayh ini bisa diproyeksikan. 
Dimanakah mereka harus diproyeksikan kepada kita agar bisa melihat mereka? 
Secara ilmiah? Di TV. Jadi, TV adalah otak. Ketika qalbu menerima dan 
memutuskan, dan niat muncul, otak segera melaksanakan, otak memberi perintah ke 
sistim syaraf ke setiap bagian tubuh sesuai fungsinya.  Inilah bagaimana fungsi 
Awliya Allah para Saints. Sayyidina 'Umar ra berteriak dari Madinah kepada 
jenderalnya di Syam (Damascus),  "Lihat dibalik  gunung itu." Sariyya mendengar 
teriakan Umar ra tapi tidak melihat Sayyidina 'Umar. Sayyidina 'Umar ra melihat 
dan mendengar  pasukannya yang sedang berperang di wilayah yang jaug dari 
Madinah, tetapi karena beliau menggunakan TV-nya dengan sangat baik maka beliau 
bisa melihat danmemberi peringatan
   
  Kepada kaum Mu'min, Allah memberikan mereka pusaka para Sahaabat. Bagi muslim 
dibutuhkan beberapa perkembangan spiritual kita agar bisa memperoleh tingkat 
imaan. Kita masih berada didasar; kita masih dalam tingkat dasar, yaitu 
mengerjakan 5 rukun Islam. Padahal sesunggunya kita harus melampaui imaan dan 
Ihsan. Mengapa kita tidak pergi ke tingkat-tingkat itu, padahal tingkat itu 
merupakan tingkat-tingkat yang sangat penting.
  Seperti seorang anak yang bernagkat ke sekolah, belajar di kelas 1,2,3, lalu 
4,5,6 SD lalu berubah menjadi murid SMP kemudian SMA. Kemudian Universitas dan 
menjadi dokter.
   
  Saat ini kita masih ditaman kanak-kanak tetapi kita meminta untuk melihat apa 
yang Awliya/Para Wali atau Saints lihat. Itulah masalah pada setiap masa, dalam 
setiap periode zaman. Mengapa mereka menentang Sang Nabi Muhammad salallahu 
alyhi wasalam. Mengapa suku beliau, suku Quraysh menentang beliau saw. Mereka 
bahkan tidak berada ditaman kanak-kanak; mereka tidak ada ditingkat manapun. 
Mereka liar seperti binatang, maka bagaimana mereka bisa percaya pesan surgawi 
ketika mereka tidak melihat apa pun. 
   
  Tetapi ada sedikit manusia yang Allah telah bukakan kepada mereka cahayaNYA. 
Siapakah yang pertama menerima Islam dari kalangan mereka? Sayyidina Abu Bakr 
ra dan Sayyidina 'Ali ra. Dan dari kaum wanita adalah istri beliau Sayyidina 
Khadija ra. Dan dari sanalah semua dibangun. Ini tidak lebih lama dari masa 
taman kanak-kanak. Itulah mengapa Sang Nabi (saw) berkata "Sahabatku bagaikan 
bintang-bintang dikegelapan malam." Dalam setiap masa, ada banyak orang yang 
tidak bisa melihat, karena mereka berada di tingkat-tingkat rendah, mereka 
tidak bisa melihat melampaui hal itu. Mereka tidak bisa menerimanya dalam 
pikiran mereka. 
   
  Mari kita ucapkan  bersama bahwa kita masih berada di tingkat paling rendah 
itu atau beberapa berada ditingkat sekolah menengah dan Dr. Anwar yang 
berbicara kepada kita mengenai qalbu manusia. Dia merupakan seorang ahli 
jantung; dia dapat bicara tanpa henti hingga pagi hari mengenai jantung 
manusia. Tapi bagi kita yang berada dalam sekolah menengah tidak mengerti dan 
memahami apa yang dia katakan.  
   
  Kini kebanyakan manusia mereka sepert itu , mereka masih berenang ditepi 
pantai dari 5 kewajiban Syariat. Sementara Maqaam al-imaan adalah Samudera. 
Pada sisi lain, maqaam al-Islam hanyalah sebuah pantai. Dan disisi lain laut 
lepasa adalah Maqaam al-Ihsan. Jadi itulah apa yang agama-agama jelaskan 
sebagai 3 sisi berlainan. Itu artinya setiap orang yang mencapai maqaam 
al-imaan dan maqaam al-Ihsan akan mulai untuk menerima pengetahuan luar biasa, 
yaitu pengetahuan surgawi.
   
  Sebagaimana Sang Nabi (saw) ucapkan, A`udzu billahi min `alimin bil-lisan 
jahlan bil qalb . "Aku mencari perlindungan kepada Allah dari seorang ulama 
yang berilmu di lidahnya tapi tidak berpengetahuan dalam qalbu." Ulama seperti 
ini adalah Ulama yang jahuula fil qalb yang Hati dan qalbunya kering, 
benar-benar tidak berpengetahuan disana serta tidak ada cahaya, dia hanya 
mengingat beberapa kata. Dia berkata-kata yang baik tapi membawa orang ke arah 
yang salah. Itulah sebuah penjelasan tentang seorang  munaafiq. 
   
  Ada orang-orang yang berbicara begitu baik secara Islami tapi mereka tidak 
melaksanakan apa yang mereka ucapkan. Mereka bukanlah seseorang yang memaksa 
kepada munaafiq tapi mereka tidak bertingkah laku seperti apa yang mereka 
katakan untuk dilakukan. Jadi inilah masalah antara kaum Muslim saat ini bahwa  
kita tidak membangun dari dalam diri kita sendiri dahulu. Kita melihat jam kita 
tapi tidak ada baterai didalamnya. Seperti seseorang dengan janggut yang bagus, 
mata berwarna tapi tidak ada cahaya bagai, sebuah jam mati yang baterainya 
butuh untuk di charge. Semua dari kita, baterainya mulai melemah dan melemah 
dan melemah, tanpa di charge. Itulah mengapa tafakkur atau mencharge baterai 
iman ini penting, sebagaimana Sang Nabi (saw) sebutkan dan ketika beliau 
meneruskan kepada Sayyidina Abu Hurayrah dan Sayyidina ibn Abbas dan Sayyidina 
Abu Bakr. Beliau meminta mereka "Apa yang kalian pikirkan tentang ayat Al 
Qur'an, "Alladziina yadzkuruuna Allaha qiyaamaw wa qu`uudaw wa
 `alaa junuubihim wa yatafakkaruuna fii khalqis samaawati wal ardhi rabbanaa 
maa khalaqta haadzaa baathilan subhaanaka fa qinaa `adzaaban naar". 
   
  Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam 
keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi 
(seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan semua ini dengan 
sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. Ali 'Imran 
[3]:191]
   
  Beliau Muhammad saw meminta mereka "Apa yang kalian pikirkan tentang ayat 
ini. Barang siapa yang mengingat dan menyebutkan Allah saat berdiri, duduk dan 
berbaring. Barang siapa yang berada dalam keadaan seperti itu dalam setiap 
kesempatan pada kehidupan mereka, tidak hanya mengingat tafakur dalam setengah 
jam, walau pun itu baik, tapi setengah jam merupakan waktu yang sangat sedikit 
karena ada sebagian orang yang mengingat sepanjang waktu. 
   
  Beliau saw berkata kepada Sayyidina Abu Hurayrah ra,"kau akan diberi pahala 
ibadah satu bulan dengan bertafakur selama satu jam." Kemudian beliau berkata 
kepada ibn `Abbas, caramu bertafakur sebanding dengan  pahala ibadah selama 
satu tahun." Kemudian beliau saw memberitahukan Abu Bakr ash-Shiddiq ra bahwa 
"caramu bertafakur adalah sebanding dengan ibadah 70 tahun."  
   
  Ketika Nabi Muhammad saw bertanya kepada Sayyidina Abu Hurayrah ra bagaimana 
caramu mengngat Allah, maka ding dijawab, "Aku memuji Allah atas Kebesaran-Nya 
–alam semesta amatlah besar." Beliau (saw) berkata "cara mengingatmu seperti 
ini adalah setara ibadah selama satu bulan. Beliau (saw) bertanya kepada 
Sayyidina ibn Abbas. Dia (r.a) menjawab, "Ketika aku mulai memikirkan ayat itu 
aku mulai melihat Ke-Esa-an Allah pada setiap bintang, dibulan, dimatahari, di 
susunan bintang." Aku melihat Kebesaran Allah disana dan dia berbicara tentang 
hal-hal kecil dengan detil. Beliau (saw) berkata "itu bentuk mengingat setara 
satu tahun." Kemudian beliau bertanya kepada Sayyidina Abu Bakr (r.a), dan 
dijawab, "Aku menjadi benar-benar takut kepada Sang Maha Esa yang menciptakan 
semua bintang ini, bahwa akulah satu-satunya yang melakukan dosa, aku takut 
melakukan dosa dan aku merasa kehilangan kalau aku tidak melakukan apa yang 
Allah ingin aku lakukan. Meski pun Allah menyebutnya
 ash-Shiddiq  tetapi Abu Bakar ra adalah orang yang sangat rendah hati dan 
tawadu.
   
  Abu bakar ra kemudian melanjutkan, "Bagaimana bisa aku datang dan punya 
kekuatan untuk datang dan melakukan dosa yang melanggar Kehendak Allah? Aku 
merasa tidak enak pada diriku sendiri, aku merasa sangat buruk terhadap semua 
Ummah. Jadi, aku berkata "Ya Allah biarkan api neraka datang kepadaku dan 
biarkan yang lain tidak tersentuh api neraka". Maka setelah Abu Bakar ra 
berkata demikian, Rasulullah kemudian mengucapkan "Itulah tafakur dengan pahala 
setara 70 tahun beribadah."
   
  Saat ini kita menghabiskan seluruh hidup kita dalam ibadah, tetapi kita lupa 
untuk bertafakur atau mengingat segala diri kita dan mengingat kebesaran Allah 
swt. Kita tidak bisa hanya melakukan 5 rukun Islam tetapi kita melaupakan untuk 
bertafakur, meskipun hanya sejam saja, tetapi bisa saja hal itu merupakan 
ibadah yang setara dengan 70 tahun ibadah. Itulah mengapa saat ini kita 
kehilangan. 
   
  Orang-orang baru non muslim datang kemarin ketika saya memberikan sebuah 
ceramah dalam masjid. Mereka datang, dan saya terkejut dan dalam hatiku selalu 
berkata dan masih berkata dan akan terus berkata, bahwa orang-orang yang 
bertobat jauh lebih baik dari diri kita, karena tobat adalah sebuah tanda kalau 
Allah mencintai mereka dan membimbing mereka ke hidayahNYA dan mereka disana 
jauh lebih baik dari kita. 
   
  Ketika saya berceramah seperti itu dan mereka non muslim mendengarkannya. 
Kemudian sesudahnya dua orang dari mereka datang menangis kepadaku. Mereka 
berkata kami orang-orang jahat dan kami tidak cukup baik berbuat. Saya sangat 
terkejut melihat mereka berkeluh kesah seperti itu melawan diri mereka sendiri. 
Mereka berpikir dengan sebuah cara yang tidak pernah terlintas dalam pikiran 
kita, saya berumur 65 tahun dan saya tidak pernah berpikir seperti itu. Mereka 
pikir diri mereka buruk dan mereka kemudian pindah ke Islam. Mereka tidak 
pernah meninggalkan satu shalat pun. Itulah kenapa kita tidak bisa menghakimi 
semua orang yang tidak seiman dengan kita. Tinggalkan semua orang kepada Allah 
swt, Allah akan menghakimi semua orang dengan cara yang Dia sukai. Dan lihatlah 
mereka yang baru masuk islam itu bahkan jauh lebih baik dari kita semua yang 
telah islam semenjak lahir.
   
  Dr. Anwar bertanya sebuah pertanyaan: "pada umur berapa anda kenal Shaykh 
Nazim?" 
  Pertama saya kenal beliau ketika saya berumur sekitar 11 tahun, dan pamanku 
adalah pemimpin urusan keagamaan di Lebanon dan dia biasanya shalat dzuhur dan 
'ashar di sebuah masjid besar di Beirut. Dan satu hari aku bersama saudara 
laki-lakiku shalat dibelakangnya dan seorang syaikh muda datang berjanggut 
hitam dan duduk dan berdo'a. Aku tidak mengenalnya. Ketika beliau selesai 
beliau melihat kakak laki-lakiku yang saat itu berusia sekitar 22 dan beliau 
menyebutkan namanya dan beliau melihat ke saudara laki-lakiku yang lain, dan 
beliau menyebutkan namanya dan beliau melihatku dan menyebutkan namaku dan 
berkata, "Syaikhku memanggilmu menghadapnya. " 
   
  Beliau menyebutkan nama-nama kami dan beliau tidak tahu itu tapi bagi kakak 
laki-laki dan kami sendiri dan itu suatu keajaiban, karomah, yang menghubungkan 
kami ke syaikh beliau, Grandshaykh kami. Dan aku berusia 12 tahun saat 
mengunjungi Grandshaykh ketika kami pergi ke Damaskus. Dari waktu itu hingga 
kini. 50 tahun hingga 2007, Lima puluh tahun aku mengenal Mawlana Shaykh Nazim 
dan aku mengenal Grandshaykh Abdullah Faiz almarhum. 
   
  Dan selama 50 tahun ini Mawlana Syaikh Nazim telah membawa non muslim menjadi 
Islam. Lebih dari 100 ribu orang dan sebagaian besar dari orang-orang Mualaf 
itu kemudian membawa lagi teman-teman mereka yang non muslim menjadi Islam, 
bahkan mereka mempunyai banyak murid Muslim. Itulah lingkungan dimana aku 
tumbuh besar dan Alhamdulillah kami meraih apa yang kami raih sekarang ini dan 
kami berharap bahwa Allah swt akan menyempurnakan kami semua dan menyembuhkan 
kita semua penyakit-penyakit fisik dan spiritual. 
   
  Sebagaimana disebutkan ada penyakit fisik dan ada penyakit spiritual. Ada 500 
perintah yang Allah perintahkan kita untuk kita kerjakan dan ada 800 larangan 
yang dilarang untuk dikerjakan. Maka kini ada 800 yang dilarang Allah yang 
menyebabkan ada 800 penyakit dan setiap penyakit adalah penyakit utama, bukan 
sesuatu yang kecil. Setiap larangan adalah seperti sebuah penyakit fisik utama. 
   
  Aku pernah mendengarnya berkali-kali dari Grandshaykh Abdullah bahwa Allah 
swt dan Nabi saw, lebih bahagia ketika kalian berhenti melakukan satu dosa. 
Jika kalian banyak melakukan shalat nafil atau salat sunah dibanding dengan 
kalian berhenti melakukan satu dosa  maka lebih berpahala dibandingkan seluruh 
shalat nafl-mu. Karena itu sangatlah sulit bagi kalian untuk menghentikan 
dirimu dari melakukan dosa tapi sangatlah mudah untuk melakukan ibadah2 shalat. 
   
  Pada masa Bayazid al-Bistami qs, yaitu sekitar 1.000 tahun yang lalu. Ini 
sebuah cerita yang terkenal. Ada seorang pemabuk disebuah dusun dalam kota 
dimana beliau tinggal. Disana tidak ada panen dan makanan dan kau mendapati 
semua anak-anak sekarat karena kelaparan seperti di Afrika sekarang ini. Jadi 
inilah hadist Sayyidina Muhammad (saw) ketika ada musim kemarau lakukan Shalaat 
al-istasqaa –shalat untuk mendatangkan hujan. Biasanya mereka lakukan dibanyak 
negara inilah Sunnah Sang Nabi (saw).
   
  Mereka kemudian memanggil Bayazid al-Bistami untuk melaksanakan Shalaat 
al-istasqaa. Pada masa itu Bayazid Bistami qs sedang duduk khalwah menyendiri 
dalam sebuah sumur, dan beliau tidak mau diganggu dengan apapun. Mereka datang 
kepada beliau dan bertanya, "Kami tahu kaulah seseorang yang alim diantara 
kami, dapatkah anda melakukan Shalaat al-istasqaa untuk menurunkan hujan." 
Kemudian beliau menjawab, "Tinggalkan aku sendiri, aku sibuk."
   
  Mereka berkata, "Anda sibuk dengan apa? Anda berada dalam sumur." Aba Yazid 
qs sibuk mengingat Allah swt. Mereka tidak mengerti apa yang beliau ucapkan 
sehingga mereka datang dilain waktu. Jadi beliau berkata, "Ya, aku akan berdo'a 
tapi aku butuh seseorang untuk mengucap 'amiin'. Jadi siapa yang akan berkata 
amiin?" Mereka menjawab, "Kami semua dapat berkata  'amiin'." 
   
  [Beliau berkata] "Tidak, aku butuh seseorang yang dapat menyakinkan aku kalau 
dia tidak pernah melakukan satu dosa pun dalam hidupnya." Dimana mereka dapat 
mencari orang itu? Mungkin seorang yang baru bertobat, segera mengucap syahadat 
dan mereka membawa kepadanya.  Mereka mencari, mereka mencari dan mereka 
mencari. Akhirnya seorang bapak tua berkata, "Ok, aku akan datang." Bapak itu 
mempunyai satu mata dan mata lainnya buta. Dia berkata, "Aku akan datang 
denganmu."
  
Dia datang ke "kubur", sumur dan dia berkata, " Ya Abayazid aku disini untuk 
mengucap 'amiin'."  Beliau menjawab. "Siapakah kamu yang ingin mengucap 
'amiin'? Aku membutuhkan seseorang yang tidak pernah melakukan hal salah dalam 
hidupnya." 
  Karena kita melakukan dosa dan kemudian bertaubat dan kemudian bertaubat dan 
lalu melakukan dosa lagi. Kau tidak bisa berkata, "Aku tidak melakukan dosa." 
Hanya Sang Nabi (saw) [tidak mempunya dosa]. Ini tidak mungkin. Hanya para 
nabi. Yang lainnya, mereka melakukan dosa. Jadi, ketika laki-laki itu datang 
dan berkata, "Aku dapat berkata 'amiin'." Beliau bertanya, "Apakah kau yakin 
tidak melakukan hal yang salah?" Dia menjawab, "Aku sudah bertaubat."
   
  Beliau bertanya, "Kesalahan apakah yang telah engkau lakukan?" Orang tua itu 
menjawab, "Aku pernah melakukan satu kali tapi setelahnya aku bertaubat." 
Beliau bertanya, "Apakah itu?" Dia menjawab, "Satu hari aku akan pergi ke 
masjid, sebagaimana aku biasa pergi ke masjid,"Ya Abayazid. Aku sedang berjalan 
dan tiba-tiba mataku, kau tahu rumah didesa satu rumah disini, satu rumah 
disana. Tidak seperti saat ini dan sesuatu hal menarik mataku untuk melihat ke 
salah satu rumah petani dan aku melihat pakaian sedang dijemur. Mataku, nafsuku 
pergi lebih jauh lagi dan aku melihat pakaian dalam seorang wanita. Aku tahu 
aku melakukan hal yang salah. Aku kembali ke rumah, aku membawa sebuah obeng; 
aku masukkan ke dalam api sampai menjadi sangat panas dan kemudian aku masukkan 
ke dalam mataku. Itulah mengapa aku jadi  setengah buta."
  
Beliau berkata, "Kau bertindak benar [untuk itu], mari kesini dan ucapkan   
'amiin'." Jadi Sayyidina Bayazid mengucapkan do'a dan orang itu meng-'amiin' 
nya dan itulah cerita yang sesungguhnya dan menyebabkan turunnya hujan. Waktu 
itu tahun 1978, aku bersama Mawlana Shaykh Nazim berhaji. Dan kami berkeliling, 
bukan itu bukan pada saat haji, tapi itu umrah   dan beliau bersama kami di 
Jeddah. Kami pergi pada hari Jum'at, ini hanya berjarak 80 km dari rumah kami, 
kami pergi  Makkah dan melaksanakan umrah, thawaaf pertama, thawaaf kedua, 
thawaaf ketiga dan kami tiba di Bab al-Multazam dan Mawlana Shaykh Nazim 
berhenti. Beliau menengadah dan berkata, "Ya Rabbii, kami semua datang kesini, 
dan kami membutuhkan berkah dan rahmat-Mu. Hujani kami sehingga kami dapat 
memperoleh rahmat dan berkah dalam Ka'bah." 
   
  Beliau berdo'a selama 5 menit, "Ya Allah, kirimi para malaikat [hujan]-Mu 
demi kepentingan Sang Nabi."  Disana tidak ada hujan, langit berwarna biru 
cerah. Beliau menyelesaikan do'a beliau dan kami meneruskan thawaaf keempat. 
Segera kami menyelesaikan thawaaf keempat dan mendung dan hujan turun, dan ini 
terkenal dalam sejarah Arab Saudi sekarang pada waktu itu air naik hingga ke 
pinggang. Mobil-mobil! Tidak ada mobil dijalan-jalan. Ketika seorang waliullah 
akan memohon dan Allah akan mengabulkan.
   
  Allah menyabutkan dalam Al Qur'an Suci: Mina al-muminiina rijaalun sadaquu ma 
`ahaduu Allaha `alayhi.  Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang 
menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. [Al Ahzab [33]:23] Mereka 
adalah orang-orang yang menepati Janji dengan Tuhan mereka. Dan mereka tidak 
pernah mengingkarinya dan beberapa berhasil dan beberapa masih menunggu. Kita 
memohon kepada Allah mengirimkan Rahmat-Nya atas kita dan kita adalah 
hamba-hamba yang membutuhkan pertolongan; dan hamba-hamba penuh dosa , semoga 
Allah mengampuni kita.
   
  Wa min Allah at Tawfiq
   
  wasalam, arief hamdani
www.mevlanasufi.blogspot.com
( Dapatkan berbagai artikel sufi yang sangat memikat, penuh kedalaman rahasia 
dalam web ini. Silahkan sebarkan pesan2 ini keberbagai milist yang anda ikuti, 
Insya Allah barakah )


       
---------------------------------
Got a little couch potato? 
Check out fun summer activities for kids.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke