http://www.dutamasyarakat.com/rubrik.php?id=14962&kat=Nahdliyin 20 Juni 2007 Berikan Kesejukan dalam Kehidupan
Imbauan PBNU pada Umat Beragama JAKARTA - Pengamalan ajaran Islam tidak cukup dilakukan seorang Muslim hanya dengan mengenakan atribut, seperti memakai surban, menggunakan celana panjang dengan tinggi sebatas tumit, atau menenteng tasbih k emana pun dia pergi. Karena, ajaran Islam cukup luas dan tidak dapat terwakilkan hanya dengan simbol. "Jenggot panjang dan memakai surban itu bagus. Tapi hal-hal yang bersifat simbolik itu tidak cukup untuk dinilai mengamalkan ajaran Islam. Seorang Muslim atau Muslimah yang baik adalah yang mampu memberikan kesejukan, kedamaian, keindahan, serta keramahtamanan, kepada seluruh saudaranya di Indonesia yang beraneka ragam suku, agama, dan budaya. PBNU akan terus-menerus mengajak umat agar mampu memberikan kesejukan, kedamaian dan ketenteraman dalam berbangsa dan bernegara," ujar Ketua PBNU KH Prof Dr Said Aqil Sirad di Masjid At-Tin, di Kompleks Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, pekan lalu. Pernyataan Kang Said, demikian ia akrab disapa, itu merupakan tanggapan terhadap wacana kembali kepada mazhab Salafy yang dimunculkan sejumlah kelompok di Indonesia. Namun, ia menegaskan, penerapan mazhab Salafy tidak cukup dengan pelaksanaan hal-hal yang simbolik. "Ulama terdahulu, seperti Ibnu Sina, Imam Al-Ghozali, dan sejumlah tokoh Islam lain itu juga punya jenggot yang panjang dan juga pakai surban. Namun, sekali lagi, Islam tidak cukup dengan jenggot dan surban saja," tuturnya. Orang yang sudah beriman saja, ujar Kang Said, masih belum cukup. Sebab, orang yang telah beriman harus disempurnakan dengan amal dan ibadah yang baik, serta perilaku yang terpuji. "Iman saja juga belum cukup. Iman masih harus ditopang dengan moral dan perilaku yang baik," jelas doktor lulus Universitas Umul Quro Mekkah, Arab Saudi itu. Tali Persatuan PBNU, lanjutnya, tidak akan pernah berhenti mengajak umat Islam agar senantiasa menjaga tali persatuan dan kesatuan bangsa, serta menyadari bahwa di sekelilingnya terdapat saudara sebangsa dan setanah air, namun berbeda suku, agama, ras, kebudayaan dan golongan. Secara terpisah, Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi menegaskan adanya peran penting para ulama dalam menggerakkan dan mendorong perekonomian umat karena mereka langsung dekat dengan masyarakat serta mampu membangun paradigma berpikir untuk meningkatkan ekonomi. "Para ulama diharapkan mampu memberikan terobosan kepada masyarakat dalam mendorong pertumbuhan perekonomiannya. Semakin kuat perekonomian, maka umat semakin cerdas, kritis, dan memegang teguh ajaran agamanya secara baik dan tepat," katanya. Upaya menggerakkan perekonomian masyarakat berpeluang besar membantu pengentasan orang miskin, sehingga umat tidak perlu menjual akidah karena kelaparan. Disebutkan, terkadang banyak ulama tidak menyadari kebutuhan umat, dengan hanya memberikan ceramah tanpa mengerti sebenarnya apa yang dibutuhkan umat. "Orang sedang lapar kemudian diceramahi, mana mungkin masuk," ujarnya. Terkait kondisi itu, sebuah organisasi keagamaan harus membentuk usaha bersama guna menyejahterakan seluruh anggota. Jika hal tersebut dapat terwujud, maka pendanaan sebuah organisasi keagamaan, seperti NU, tidak perlu terlalu bergantung pada dana pemerintah maupun anggota, namun dapat diperoleh dari kegiatan perekonomian yang dilakukan sendiri. (amh) [Non-text portions of this message have been removed]
