ada buku yang menarik untuk itu
yaitu " Setan itu kawan atau lawan"
salam
amint - <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
kamu jangan zina ini dosa
kamu jangan korupsi ini dosa
jangan membuka aurat ini dosa
kira kira ini sama ngga ya dengan salah satu praturan sekolah seperti
hari senin harus pakai putih abu abu klo ngga dihukum
makanya mungkin kiranya agama bisa di pandang sebagai "tata tertib" / "pedoman
hidup"
dengan tanda petik sehingga persepsinya bisa berbeda
gini bro sebenarnya ini saya baca di salah satu forum spiritual komunitas di
indonesia
jadi sepertinya ini forum lintas agama
berikut saya kopikan tulisan lengkapnya
kiranya bisa di bahas monggo di bahas, kiranya ada yg salah mari di luruskan
siapa tau saya ini salah, wong saya ini manusia
jika manusia itu salah sekiranya jangan di benci manusianya tapi SIFATnya
karena iri ,dengki dsb hanya sifat .
berikut teks lengkapnya
[sharing] Tuhan itu Netral, Agama itu Hanya tata tertib
Tuhan itu Netral, dan tiada sekalipun ia berpihak, agama itu hanyalah tata
tertib, hanya sebagai pedoman hidup.
bukan sok tahu, bukan sok pinter, ini hanya apa yang ada di pikiran saya saat
ini setelah membaca beberapa thread paling hot di FS. mari kita sharing dengan
kepala dingin.
Tuhan... menjadi momok yang selalu di perdebatkan, yang selalu direbutkan, yang
selalu di anggap berpihak...
apa sebenarnya tuhan itu, dialah sang maha..
dia adalah yang tidak berpihak, dia yang telah menciptakan apa yang di bumi,
dilangit dan di antaranya. baik dan buruk telah dia ciptakan, tanpa sedikitpun
dia berpihak atas keduanya, dia memberikan semua kepada manusia untuk dipilih,
tanpa sedikitpun dia marah...
tak sedikit manusia yang memperebutkannya, merasa tuhannya yang paling benar,
merasa tuhannya yang paling maha...
tuhan telah memberikan semua berpasang pasangan... untuk saling mengenal,
namun, manusia, dengan semakin mengenal, maka semakin mudah menimbulkan
konflik.. menciptakan kelompok satu dengan kelompok lain, kelompoknya, bahkan
dirinya yang paling benar.
manusia hanya bisa beranggapan bahwa tuhan itu seperti ini, tuhan ini seperti
itu.. tapi apa hanya segitu esensi akan tuhan? tidak, dia yang maha segalanya,
bahkan lautan pun dijadikan tinta, tidak akan sanggup untuk menuliskan kalimat
kalimat / esensi DIA.
Jadi buat apa saling bertengkar, buat apa saling menghujat, buat apa saling
menyindir, buat apa saling merasa benar..
tanpa disadari, label label agama menjadi barrier, menjadi jarak akan hablum
minannas... bukankah agama itu hanya menjadi pedoman hidup?? menjadi tuntunan
dalam menuju kearah dia?
bahkan pernah menjadi dilema bagi saya, ketika acara idul adha, dan idul fitri,
dimana saat pembagian jatah hak hak yang barhak...
ada salah satu warga di wilayah saya yang beragama selain I.S.L.A.M namun dia
termasuk orang tidak mampu, orang yang berhak menerima bantuan. namun sayang...
sekali lagi agama menjadi halangan didalam hablum minannass.. ketika
didaftarkan namanya sebagai orang yang berhak menerima, namun mendapat hambatan
oleh sesepuh agama di kampung saya... (kalo kata kang ino, oleh sang dukun).
beliau berkata: "Ukhies... Elu udah Gila... itu orang bukan orang islam... masa
lo mo kasih daging qurban!!!" tersentak mendengarnya...
lalu saya jawab "lha, tapi dia kan termasuk golongan Fakir, kenapa harus kita
bedakan"
beliau kembali... menjawab.. "Muke gila lu! tetep aja kaga boleh, ini kan hari
raya qurban, hari rayanya orang islam, yang berhak menerima hanyalah orang
islam"
Kembali saya bertanya " Lalu bagaimana dengan nabi ibrahim?? apakah saat itu
beliau sudah memegang syariat islam yang diterima oleh nabi muhammad?, dimana
syariat islam tersebut bahkan baru diterima oleh nabi 13 tahun setelah beliau
menerima kenabiannya"
Sebelum beliau kembali menjawab...... saya langsung berlalu (kira kira apa yah
jawabannya?)
sambil berlalu, terbesit dalam hati saya... Idul adha dan idul fitri,
sebenernya sekarang hanya menjadi pesta rakyat, bahkan mereka yang di tua kan,
terlena oleh pesta rakyat tersebut. esensi qurban dan kembali ke fitrah sering
di lupakan, yang ada hanyalah... : pas idul adha, kita akan merasakan makan
daging kambing, sapi secara gratis, namun pihak yang lainnya akan tetap seperti
apa adanya. dan idul fitri, adalah pesta rakyat yang wajib dilakukan setahun
sekali, berlomba lomba akan keindahan, berlomba lomba akan menyediakan makanan,
berlomba lomba akan silaturahmi... namun.. semua itu hanya sekali setahun,
cukupkah silaturahmi hanya setahun sekali? dan kemana 364 hari sebelumnya??????
satu hari yang numpang lewat. 1 bulan sebelumnya berpuasa hanyalah menahan
lapar tanpa mengambil makna dari berpuasa.. bahkan tidak sedikit yang
menjadikan waktu berbuka sebagai waktu pembalasan. itulah agama... yang
dibangga banggakan, tapi hanya menjadi buku pedoman, tidak menjadi
tuntunan serta pedoman hidup.
begitu mudah manusia terpancing, terprovokasi bila membahas masalah agama...
untuk apa di permasalahkan? itulah tuntunan hidup masing masing, bila tuntunan
hidup ku islam, maka jalanilah sesuai tuntunannya, bila tuntunan hidup ku
kristen, maka jalanilah sesuai tuntunannya, bila tuntunan hidup ku kejawen,
maka jalanilah sesuai tuntunannya... untuk apa merasa paling benar? untuk apa
merasa kelompok lain yang berbeda tuntunannya itu sesat??
begitu mudah mengambil dalil dalam kitab suci maupun kitab pendukung lainnya
untuk mengatakan bahwa ajarannya ku paling benar, tapi apakah itu cukup untuk
menjelaskan seluruh esensi akan hidupnya yang Satu? Hidup nya Yang Esa?
Hidupnya yang Maha Segalanya??
kalau kamu beribadah, maka beribadah lah kamu tanpa merasa kamu paling mulia
dibanding dengan yang tidak beribadah, bila kamu merasa agama A, maka jalanilah
tuntunannya tanpa merendahkan tuntunan yang lain.
apapun agamanya minumnya Tehbotol Sosro
Saya bukan kelompok Suni, saya bukan kelompok syiah.
saya bukan kelompok syariat, saya bukan kelompok tarekat.
saya bukan kelompok hakekat, saya bukan kelompok makrifat..
saya malu berkelompok.....
dan kebetulan, di katepe saya terpampang stempel islam, tapi apa benar saya
sudah islam???
apa benar saya sudah selamat? selamat mulut ku, selamat telinga ku, selamat
mata ku, pikiran ku, selamat jiwa ku, selamat raga ku?
saya pun tidak tahu...
pantas kah saya hidup menyandang islam sebagai stempel ku? padahal mulut ini
masih belum selamat? mata ini masih belum selamat? semua yang di raga ini belum
selamat?
Label label lah yang menjadikan manusia menjadi lebih supperior, menjadi paling
hebat...
jangan percaya iklan sebelum mencicipi apa yang di iklankan
hebat sang saudara tua memancing, sehingga tanpa disadari saya menjadi
budaknya.. begitu mudah emosi, begitu mudah tersinggung, begitu mudah menjudge
seseorang sesat bila ia bersebrangan dengan pendapatku.
hal yang diatas hanyalah apa yang aku pahami, yang baik datang dari tuhan, yang
buruk pun datang dari tuhan..
Khoirihi wasyarihi mina Allah.
Bila ada yang tidak terima, mohon maaf sebesar besarnya, semoga sharing ini
tidak menjadikan kita sebagai budak syetan..
tapi... seingat saya, sepengetahuan saya... tanpa adanya syetan.... Hidup ini
tidak akan berwarna, tidak akan rame....
[end]
---------------------------------
Luggage? GPS? Comic books?
Check out fitting gifts for grads at Yahoo! Search.
[Non-text portions of this message have been removed]
---------------------------------
Shape Yahoo! in your own image. Join our Network Research Panel today!
[Non-text portions of this message have been removed]