gus luthfi, ya sudah datang aja ikut bahtsul masailnya dengan baik, menjadi pendengar yg baik kecuali kalau ada yg nanya baru dijawab. nahdliyin yg ahli nuklir juga sudah ada dan lumayan banyak cuma memang masih belum menjadi decision maker. yg jelas teknologi nuklir tidak bisa cuma diputuskan dengan fatwa ada banyak hal yg harus dibahas, apalagi cuma dukung-mendukung atau tolak-menolak.yg jelas kalau sekarang ini memang belum waktunya ada PLTN. dmk. salam, syaikhul
-----Original Message----- From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] Behalf Of [EMAIL PROTECTED] Sent: Friday, August 31, 2007 10:26 AM To: [EMAIL PROTECTED] Cc: [email protected] Subject: [kmnu2000] Re: Soal PLTN Yang bikin saya malas main dukung-dukungan adalah kalau jumpa segala proyek yang nuansa imperialisme besar, atau dibesar-besarkan. Memang, sedikit bisa diakui bahwa bangsa kita masih belum bisa men-sapih-kan diri dari ketergantungan dengan asing. Bangsa kita belum bisa berbuat apa-apa. Ngurusi kereta api atau pesawat aja celaka terus. Sudah lah, saya cuman penggembira saja. Beberapa kali diundang ikut bahtsul masail pwnu tidak pernah bisa datang (soale model 'istidlal'-nya masih ndeso ya burhan ya..!). Kali ini saya mau setor muka aja ah... Luthfi ahsanul minan writes: > Om Luthfi, > > > Isu PLTN Muria ini sebenarnya isu lama. Tahun 1996 isu ini pernah menguat. > Saat itu, aku jadi sekretaris PC PMII Solo. Aku menggalang solidaritas temen2 > PMII se-Jawa Tengah, dan emmbentuk Jama'ah Anti Nuklir. Saat itu, komitmen > temen2 PMII hanya didasari oleh satu pemikiran bahwa Indonesia belum siap > dengan hi-tech ini, apalagi dibanding dengan Rusia yang meskipun cukup melek > teknologi masih kecolongan dengan tragedi chernobyl. Itulah mengapa kami > menolak saat itu. > Saat ini, aku masih dengan komitmen yang sama, MENOLAK PLTN Muria. ALasannya > tidak hanya masalah under-estimate thd potensi dan kemampuan anak bangsa, > tetapi aku justru melihat bahwa meskipun PLTN merupakan alternatif bagi > disersifikasi energi yang murah dan efektif, tetapi aku melihat bahwa proyek > PLTN ini tidak mampu menjawab atau memupus ketergantungan bangsa ini terhadap > kekuatan asing. Setahuku, pengelolan PLTN ini nantinya dari Amerika, dan > teknologi pengelolaan limbah diambil dari Korea/Jepang. So, proyek ini hanya > akan semakin melanggengkan neo-imperialisme di Indonesia. > Jadi, menurut saya, apa arti efektifitas dan efisiensi PLTN, kalo semua > teknologinya kita ambil dari luar ? Added valuenya tetap aja dinikmati oleh > bukan kita kan. > Kalau kita berpegang pada kaidah ushul fiqh, dar'ul mafasid muqoddamun 'ala > jalbil masholih, ya sebaiknya kita tolak, sampai kita mampu secara mandiri > mengelola PLTN. Toh pada saat yang sama kita masih memiliki berbagai > alternatif sumber energi yang aman dan berlimpah, misalnya energi angin, air, > ombak, matahari, dll. > > Nuwun > > > Minan > > [Non-text portions of this message have been removed]
