Ketika kita masih kecil, sering kali orang tua kita kalau menyuruh kita untuk
berbuat sesuatu, orang tua kita memberikan sesuatu iming-iming baik iming-iming
berupa hadiah atau suatu hukuman.
Seperti contoh ketika orang tua kita meminta tolong kepada kita untuk
membelikan sesuatu barang, maka kita sering diiming-imingi di beri hadiah uang,
kebanyakan kita pada saat itu akan mengikuti perintah karena ada iming-iming
hadiah, atau karena ada perasaan takut pada orang tua, demikian juga untuk
permintaan-permintaan yang lain seperti orang tua kita meminta kita untuk pergi
sekolah. Dan orang tua kita akan sangat marah sekali kalau kita tidak masuk
sekolah atau membolos.
Dan ketika sudah dewasa, kita sudah dapat berpikir lebih jernih, maka saat
ini kita tahu kedudukan orang tua terhadap kita, sehingga tanpa disuruhpun kita
membelikan barang yang dibutuhkan oleh orang tua (kalau punya uang tentunya) ,
demikian juga dalam hal yang lain.
Setelah dewasalah kita baru sadar bahwa apa-apa yang dulu diperintahkan dan
dilarang oleh orang tua kita itu sebenarnya untuk kepentingan kita juga, bukan
untuk kepentingan orang tua kita, orang tua kita saat ini hanya bisa melihat
dan berdoa tentang kita.
(dan kalau masih belum sadar sampai saat ini maka jiwa kita masih berjiwa
anak-anak)
Orang tua kita adalah wakil Tuhan dalam Rahman Rahim-Nya kepada kita
Analogi dari itu demikianlah Tuhan terhadap seluruh makhluk ciptaan-Nya
termasuk manusia didalamnya.
Sehingga kalau kita memandang bahwa perintah-perintah Tuhan (dalam hal ini
agama) itu adalah hanya merupakan tata tertib saja maka cara memandang kita itu
hanyalah seperti cara pandang anak-anak kecil yang belum dewasa.
Dan kalau kita menggunakan cara pandang orang dewasa maka kita akan
menjalankan perintah-perintah Tuhan dengan suka cita karena kita sadar bahwa
perintah-perintah itu untuk kebaikan diri kita sendiri juga.
Sesungguhnya manusia itu suka menganiaya dirinya sendiri Al-Ayat
Dan kalau dipandang lebih dalam lagi Agama adalah jalan Cinta Tuhan kepada
makhluk-Nya. Demikian juga sebaliknya.
Persoalannya sekarang terletak pada diimplementasi keber-agama-an
manusia-manusia yang merasa ber-agama dalam memahami dan menafsirkan Ayat-ayat
Cinta Tuhan dan ini tergantung pada kedewasaan berpikir, keluasan cakrawala
pandang manusianya itu sendiri.
Sehingga yang bermasalah sebenarnya adalah pada manusia-nya bukan Agama atau
Tuhan
Oleh karena itu mari kita gunakan cara berpikir dan cara pandang orang dewasa
dalam memahami dan menafsirkan Ayat-Ayat Cinta Tuhan
Salam
---------------------------------
Be a better Globetrotter. Get better travel answers from someone who knows.
Yahoo! Answers - Check it out.
[Non-text portions of this message have been removed]